Jumat, 04 Maret 2022

Ibadah Vigil/ Berjaga-Jaga /Ibadah Kawal Malam


Ibadah Vigil/ Berjaga-Jaga /Ibadah Kawal Malam

Perayaan Gereja pada hari Minggu, Hari Tuhan, hari Kebangkitan, dimulai setiap minggunya pada hari Sabtu malam dengan perayaan Ibadah Kawal Malam.  Meskipun dalam pikiran Gereja, ibadah ini merupakan bagian penting dari penyembahan kita kepada Allah dan persiapan kita untuk mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah Kristus, dalam pikiran banyak orang di Gereja, dilihat sebagai kehadiran biasa, itu dianggap sebagai opsional (pilihan), bahkan sebagai gangguan yang tidak perlu.  dan memaksakan terhadap jadwal sibuk seseorang.  Untuk memperbaiki pandangan yang salah ini dan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada semua orang tentang arti dan pentingnya Vigil/ ibadah kawal malam Kebangkitan, kita akan menghabiskan beberapa bulan ke depan untuk memeriksa Malam Kebangkitan secara rinci sehingga kita dapat lebih siap dan termotivasi untuk membuatnya  menjadi bagian rutin dari ibadah kita, sebagaimana mestinya.

Vigil/ Ibadah Kawal Malam terdiri dari ibadah harian sembahyang Senja Agung, Sembahyang singsing fajar, dan sembahyang Jam Pertama.  Ditetapkan pada malam sebelum setiap Pesta Besar dan setiap hari Minggu (yang sebenarnya adalah hari Paskah Kecil).  Pesta orang-orang kudus tertentu juga menyerukan ibadah berjaga-jaga.  Disebut “sepanjang malam/ Kawal Malam” karena pada zaman kuno di Palestina tempat pertama kali kekristenan berkembang, ibadah itu dimulai saat matahari terbenam dan berlanjut sepanjang malam hingga fajar.  Kemudian, ketika ibadah menyebar ke seluruh Gereja, karena mempertimbangkan kelemahan umat beriman, ibadah itu disingkat menjadi larut malam (tetapi sebelum tengah malam) dan berlangsung sampai pagi.  Sekarang dalam penggunaan normal paroki, ibadah ini lebih disingkat lagi, dimulai lebih awal di malam hari dan berlangsung sekitar dua atau tiga jam.  Di paroki kami, biasanya berlangsung dua sampai dua seperempat jam. 

Hari Minggu bagi orang Kristen adalah hari Kebangkitan Tuhan, hari Ekaristi, dan hari Kerajaan Tuhan (hari ke-8).  Ibadah hari Minggu mengomunikasikan tema-tema ini.  Perhatikan, kita mengatakan ibadah hari Minggu.  Liturgi Ilahi bukan satu-satunya ibadah hari Minggu.  Sejak hari Liturgi dimulai yaitu saat matahari terbenam, setiap hari Minggu memiliki Sembahyang Senja dan Sembahyang Singsing Fajar sebelum Liturgi Ilahi.  Ibadah ini penting, karena  mempersiapkan kita untuk Liturgi.  Memang, Liturgi tidak boleh dilakukan jika Sembahyang Senja atau Sembahyang Singsing Fajar belum dilakukan, atau setidaknya dibacakan secara pribadi oleh klerus.  Berpegang teguh pada gagasan Orthodoks tentang persiapan dan penggenapan, kita melihat bahwa persiapan Vigil/ Ibadah kawal malam digenapi dalam Ekaristi Liturgi. 

Meskipun kita mungkin tergoda untuk memikirkan ibadah berjaga-jaga “Sepanjang Malam” dalam hal jumlah waktu yang dihabiskan dalam ibadah, konsep utama waktu yang terkandung dalam istilah “vigil” adalah kualitatif.  Di zaman kuno, "berjaga-jaga" mengacu pada waktu yang dihabiskan untuk tugas jaga, atau 'berjaga-jaga'.  Di Gereja, itu berarti waktu yang dihabiskan dalam persiapan penuh perhatian dan 'Menunggu Kedatangan Allah.  Kehidupan rohani membutuhkan waktu untuk bertumbuh.  Tidak ada yang bisa mencapai hasil dalam kehidupan spiritual seseorang tanpa waktu.  Kehidupan spiritual manusia modern berada dalam keadaan runtuh karena ketidaksabarannya untuk mencapai hasil.  Vigil / ibadah berjaga-jaga mengambil waktu dengan serius.  Ini berhubungan sepanjang waktu dengan sejarah, khususnya dengan sejarah keselamatan.  Ketika Allah menjadi manusia, Kerajaan Allah muncul di zaman dunia ini.  Vigil menjadi waktu proklamasi kerajaan itu.  Vigil membawa kita kembali ke awal waktu dan mempersiapkan kita untuk akhir zaman, ketika segala sesuatu akan digenapi dalam kepenuhan kerajaan Kristus. 

Selain itu, Kristus memerintahkan murid-murid-Nya untuk “berjaga-jaga dan berdoa” sehingga, karena mereka tidak mengetahui jam kedatangan-Nya, agar mereka siap untuk itu.  Berjaga-jaga dalam arti historis dan asketis berarti menjauhkan diri dari ukuran tidur yang biasa untuk berjaga-jaga, menunggu dalam kesiapan akan kedatangan Anak Manusia di tengah malam, melatih diri untuk menjalani hidup dalam pengharapan akan kedatangan Kristus: pertama, dalam Misteri Kudus di Setiap Liturgi, dan kedua, dalam kemuliaan akan penghakiman dunia dan meresmikan Kerajaan-Nya.  Sampai hari ini di tempat-tempat seperti Gunung Athos, Vigil/ ibadah Kawal Malam/ Ibadah berjaga-jaga dilakukan sepanjang malam (hingga delapan jam), melestarikan upaya asketis dan antisipasi eskatologis dari ibadah tersebut. 

Dalam praktik paroki, dua sampai tiga jam ibadah masih merupakan upaya asketik yang signifikan bagi kita, saat kita berdiri dalam kesiapan, menunggu Tuhan dan merenungkan dalam kidung dan mazmur segala hal yang telah Dia lakukan untuk kita, terutama Inkarnasi, Kematian  di atas Salib, dan Kebangkitan-Nya. Setelah berdiri melewati Vigil/ibadah berjaga-jaga, tubuh kita memberi tahu kita dengan jelas bahwa kita telah berjaga-jaga di gereja, fokus pada 'satu hal yang diperlukan' untuk hidup kita.  Mungkin tidak nyaman dan membutuhkan upaya lebih, tetapi itu juga menawarkan pelatihan yang sangat diperlukan dalam menunggu kedatangan Tuhan dan menjadikan Dia prioritas kita di atas segalanya dalam hidup. 

Vigil/Ibadah berjaga-jaga juga memberi kita waktu yang sangat dibutuhkan untuk pembersihan dan pembaruan spiritual setelah semua perhatian, perjuangan, dan tindakan dosa dalam seminggu.  Ini memberi kita waktu untuk mengembalikan pikiran kita kepada Tuhan, untuk menghormati Dia dan mengucapkan syukur, untuk mempersiapkan diri kita sendiri dalam partisipasi yang layak dalam Misteri Kudus.  Ibadah ini memberi kita waktu untuk melembutkan dan menghangatkan hati kita di hadapan Allah jika hati kita telah mendingin atau mengeras selama seminggu.  Saat hidup di dunia, kita merasakan tekanan yang diberikan dunia pada kita untuk menyerupai dengan dunia.  Setiap minggu, ibadah berjaga-jaga/Vigil menolong kita mengurangi tekanan agar menyerupai dunia dan untuk kembali mempersembahkan diri kita kepada Kristus.  Hal ini memungkinkan kita untuk membebaskan pikiran kita dari kekhawatiran dan godaan minggu ini, untuk mencuci "debu dosa" yang telah mengotori jiwa kita dalam persinggahan kita di dunia, sehingga kita dapat menampilkan diri kita pada Liturgi pagi dengan hati yang bersih,  bersemangat dan siap menerima Tuhan. 

Karena layanan Ibadah berjaga-jaga/ Vigil terdiri dari Sembahyang Singsing Fajar/ Matin dan Sembahyang Senja/ Vesper, awal dan akhir dari ibadah harian, Ibadah berjaga-jaga/ Vigil menjadi ibadah yang mencakup seluruh waktu. Ibadah berjaga-jaga/ Vigil mengubah seluruh waktu menjadi waktu persiapan.  Sabtu malam bukan hanya merupakan persiapan khusyuk untuk Ekaristi Minggu pagi, tetapi juga merupakan persiapan khusyuk hidup kita bagi kedatangan Kerajaan Allah di akhir zaman.  Ibadah berjaga-jaga/ Vigil memberi kita waktu untuk meningkatkan rentang perhatian kita untuk meditasi doa mengenai hal-hal yang paling penting bagi kita, dan untuk menyingkirkan semua kekhawatiran dan kekhawatiran hidup yang akan menghambat pertumbuhan kerajaan di dalam kita. 

Elemen Liturgis dalam Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil 

Seringkali kita memikirkan makna sebuah ibadah gereja secara eksklusif dalam konteks teks ibadah, tetapi dalam ibadah Orthodoks, banyak elemen lain bekerja sama dengan teks untuk menyampaikan makna dan untuk memperkuat apa yang dikatakan dalam teks.  Ibadah berjaga-jaga/ Vigil menggunakan elemen-elemen lain ini secara ekstensif.  Dari jumlah tersebut, kita akan menyaksikan gerakan, nyanyian, terang dan gelap, dan lonceng, serta cara di mana beberapa ibadah digabungkan untuk membentuk Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil dan apa artinya. 

Pergerakan 

Ibadah Orthodoks selalu melibatkan gerakan.  Umat ​​beriman menggerakkan tubuh mereka dalam menanggapi apa yang terjadi dalam ibadah, biasanya dalam membuat tanda salib dan ruku atau sujud.  Namun di luar ini, Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil melibatkan jenis gerakan lain.  Pertama, ada lebih banyak prosesi daripada yang terjadi dalam Sembahyang Senja/ Vesper atau Sembahyang Singsing Fajar/ Matin harian.  Sembahyang senja/ Vesper tidak memiliki arak-arakan Terang Gembira, misalnya, sedangkan Ibadah berjaga-jaga/ Vigil memilikinya.  Ibadah Berjaga-jaga/ Vigili dibuka dengan pendupaan besar-besaran di seluruh gereja, yang tidak dilakukan pada Sembahyang Senja/ Vesper Harian.  Sembahyang Singsing Fajar/ Matins juga memiliki dua kali pendupaan besar gereja: yaiti selama Evlogitaria ('Terpujilah Engkau Tuhan, ajarlah aku dengam perintah- perintahMu ...') dan di Magnificat selama pembacaan kanon.  Selama Sembahyang Singsing Fajar/ Matins, Injil dibacakan, dan umat beriman maju ke depan untuk memuliakannya dan menerima berkat imam.  Jika Litia disajikan selama Sembahyang Senja/ Vesper, ada prosesi tambahan dari semua orang dan imam ke narthex (atau ke belakang gereja jika tidak ada narthex yang memadai).  Dengan demikian, Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil adalah ibadah yang dinamis.  Pergerakan umat dan klerus pada momen ini mengungkapkan pergerakan Tubuh Kristus menuju Kerajaan Allah.  Ini dengan jelas mengingat akan sejarah keselamatan. 

Nyanyian 

Apakah bagian dari sebuah ibadah dinyanyikan atau hanya sekedar dilagukan bukanlah masalah kenyamanan tetapi ekspresi dari ide theologis tertentu.  Bernyanyi selalu merupakan tindakan yang meriah.  Ini paling jelas pada Hari Raya, Paskah, ketika Sembahyang Singsing Fajar/ Matin dan Sembahyang Rajani/ Hours, bersama dengan Sembahyang Senja/ Vesper Paskah, dinyanyikan secara keseluruhan – tidak ada yang dibaca oleh Reader.  Hal ini juga terlihat pada Liturgi Ilahi, yang sifatnya selalu meriah dan dinyanyikan.  Reader hanya membaca Sembahyang Rajani/ hours sebelum Liturgi, Prokiemenon dan Epistel, dan Doa Syukur sesudahnya.  Bagian lain dari ibadah yang biasanya dibacakan oleh Reader di Sembahyang Senja/Vesper, Sembahyang Purna Bujana/ Compline, dan Sembahyang Singsing Fajar/ Matins—“Allah Maha Kudus,” Doa Bapa Kami, antifon, Pengakuan Iman —dinyanyikan oleh semua orang alih-alih dibacakan oleh Reader.

 Sesuai dengan prinsip ini, menyanyi juga merupakan bagian penting dari Ibadah Kawal Malam/ Vigil.  Mazmur pembuka Sembahyang Senja/ Vesper, Mazmur Penciptaan (104), Mazmur kathisma (1-8) Diberkatilah Sang Manusia, dan Doa Js. Symeon, yang semuanya dibaca oleh Reader pada Sembahyang Senja/ Vesper harian dinyanyikan di Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil.  Sepuluh kidung untuk hari Minggu dan bukan enam kidung khas hari kerja dimasukkan dan dinyanyikan di Ya Tuhan kuberseru padaMu.  Di Sembahyang singsing fajar/ Matins, Polyeleos dan Evlogitaria, bukan bagian dari Sembahyang Singsing Fajar harian, dimasukkan dan dinyanyikan, seperti kidung Setelah Melihat Kebangkitan Kristus pada Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil kebangkitan, dan Magnification dinyanyikan pada Pesta Agung dan untuk orang-orang kudus yang penting. Doxology Agung dinyanyikan, menggantikan bacaan Doxology sembahyang singsing fajar harian yang lebih kecil, dan Pujian dinyanyikan dengan memasukkan delapan kidung. 

Manusia yang dipulihkan, Adam yang baru tidak berbicara kepada Allah.  Dia bernyanyi bagi Allah, bergabung dengan paduan suara malaikat di surga.  Seperti yang ditulis Js. Paulus, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.

Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” (Efesus 5:18-20).  Bernyanyi adalah ekspresi liturgi dari pesta dan kegembiraannya: seperti yang dikatakan Js. Yakobus, “ Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! (Yakobus 5:13).  Bernyanyi secara musik mengubah bahasa ibadah.  Hari Tuhan adalah lagu baru, dan nyanyian di ibadah berjaga-jaga/Vigil adalah awal dari hari itu dan persiapan untuk pemenuhannya di Liturgi.  Karena ibadah nerjaga-jaga/ Vigil dirayakan hanya untuk hari Minggu, dua belas Hari Raya Besar, dan hari raya orang-orang kudus tertentu yang penting, itu dicadangkan untuk acara-acara khusus, dan jumlah nyanyian di ibadah berjaga-jaga/ Vigil berbeda dengan ibadah harian yang mencirikan perayaan itu. 

Terang & Gelap 

Simbolisme terang dan gelap adalah salah satu gagasan Kristen paling awal dan paling sentral.  Terang melambangkan waktu baru yang diantarkan oleh Kristus, Kerajaan, penggenapan, Perjanjian Baru, dan, tentu saja, Kristus sendiri yang adalah Terang dunia.  Kegelapan, di sisi lain, mewakili waktu lama, yaitu dunia ini, penyesalan, harapan, dan Perjanjian Lama.  Pada ibadah berjaga-jaga/ Vigil, cahaya biasanya bertambah dan berkurang pada waktu-waktu tertentu selama ibadah untuk menunjukkan apakah tindakan yang akan datang mewakili Kerajaan Allah atau dunia ini, Perjanjian Baru atau Lama.  Dengan demikian, terang dalam gereja selalu ditingkatkan untuk pembacaan Injil, yang mewakili Kerajaan Allah, Perjanjian Baru, dan Kristus sendiri yang adalah Terang dan Kebenaran.  Di sisi lain, hampir semua cahaya padam selama pembacaan Enam Mazmur Sembahyang Singsing Fajar/ Matins, yang bersifat pertobatan. 

Lonceng Gereja 

Secara theologis, bel adalah suara waktu.  Lonceng memanggil umat beriman ke ibadah ('bel awal' lima belas menit sebelum mulai).  Mereka mengungkapkan sukacita kemenangan Gereja dan pelayanan Ilahi-Nya.  Mereka juga mengumumkan kepada mereka yang tidak hadir di Gereja saat-saat penting dalam ibadah, sehingga mereka yang berada di rumah “karena suatu tujuan yang layak ikut mendapat berkat” dapat bersatu dalam doa dengan mereka yang berada dalam ibadah Ilahi. 

Di Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil, lonceng dibunyikan beberapa kali secara berbeda.  Selain "bel awal" yang umum untuk sebagian besar ibadah, "Gelombang Kabar Baik" atau blagovest, dengan pemukulan yang terukur dari satu bel, dibunyikan tepat saat ibadah dimulai.  Ini segera diikuti oleh "Treble Peal" atau trezvon yang merupakan dering semua lonceng gereja secara bersamaan tiga kali.  "Lonceng kedua" dari Ibadah berjaha-jaga/ Vigil terjadi pada awal pembacaan Enam Mazmur sembahyang singsing fajar/ Matins, yang menunjukkan awal dari sembahyang Singsing fajar/ Matins.  Saat Reader melantunkan doksologi malaikat di hadapan para gembala di Betlehem “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai di atas bumi bagi orang yang berkenan kepadaNya,” semua lonceng dibunyikan secara bersamaan dua kali, dalam dua pengulangan, yang disebut druzvon, hal ini mengumumkan sukacita Inkarnasi.  "Lonceng ketiga" Vigil, sebuah trezvon, dibunyikan selama Polyeleon (ó...") dan juga dikenal sebagai lonceng sebelum pembacaan Injil.  Itu mengungkapkan sukacita dan perayaan kebangkitan Kristus.  "Lonceng keempat" ibadah berjaga-jaga/ Vigil dibunyikan di awal Magnificat ("Jiwaku memuliakan Tuhan").  Ini adalah "kabar baik" singkat dari sembilan pukulan lonceng besar.  Atau, tradisi lain memiliki satu lonceng kecil yang dibunyikan tiga kali di akhir setiap pengulangan ("Sungguhlah patut dam benar memberkatimu ya Sang Theotokos, ").  Terakhir, trezvon dibunyikan lagi di akhir ibadah berjaga-jaga/ Vigil pesta (tetapi bukan kebangkitan). 

Bagian dari Keseluruhan 

Ibadah berjaga-jaga/ Vigil adalah kombinasi dari ibadah harian tertentu, tetapi dalam bentuk yang lebih rumit daripada yang mereka lakukan sendiri.  Untuk memasukkan dalam Vigil gagasan bahwa Vigil mewakili semua waktu, ibadah terdiri dari kebaktian awal hari liturgi (Vesper) dan kebaktian penutup hari itu (Matin).  Dengan cara ini, Gereja menguduskan sepanjang waktu. 

Ibadah berjaga-jaga/ Vigil dengan benar mencakup Sembahyang Senja/ Vesper, Sembahyang Singsing Fajar/ Matin, dan Sembahyang Jam Pertama.  Pembacaan Sembahyang Jam Ketiga dan Keenam sebelum Liturgi Ilahi dapat dianggap sebagai kelanjutan dari Ibadah berjaga-jaga/ Vigili.  Ini berarti bahwa seluruh Sabtu malam, bagian pertama dari minggu baru, dianggap suci dan disucikan.  Memang, dalam perayaan Sabtu malam yang paling penuh, Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil akan berlangsung sepanjang malam sampai terang pertama, menguduskan sepanjang malam, waktu kegelapan, kematian, tidur, dan kejahatan, dan berjaga-jaga untuk kembalinya Sang mempelai pria dan terang yang Dia  bawa. 

Vigil setelah Vigil 

Setelah “Ibadah Berjaga-jaga Sepanjang Malam” Sabtu berakhir, kita pulang dengan damai ke rumah kita.  Setelah menyelesaikan kesibukan seminggu kita di dunia, kita telah memasuki Hari Tuhan yang diberkati dan suci.  Waktu telah dikuduskan melalui persembahan bagian pertama minggu baru kita kepada Tuhan dalam melakukan ibadah berjaga-jaga/ Vigil, dan kita telah mulai mempersiapkan diri kita untuk pengudusan yang akan datang melalui Ekaristi Kudus.  Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil adalah Persiapan.  Liturgi adalah Pemenuhan/ penggenapan. 

Sekembalinya ke rumah, kita terus menjaga suasana waspada.  Hiburan, televisi, pesta, film, dll., meskipun tidak selalu salah, tidak sesuai dengan kegiatan mempersiapkan Liturgi Ilahi dan khususnya Perjamuan Kudus.  Inilah sebabnya mengapa disiplin gereja kita melarang pernikahan pada hari Sabtu dan acara sosial pada malam Hari Tuhan.  Demikian juga, kita berpantang dari hubungan perkawinan untuk mempersiapkan diri menyambut Komuni Kudus. 

Di rumah, kita mengadakan malam persiapan yang tenang.  Ini adalah waktu untuk membaca Kitab Suci dan Kehidupan Orang-Orang Suci, terutama jika kita belum melakukannya selama seminggu.  Inilah saatnya untuk menelepon atau menulis surat kepada seseorang yang terluka, membutuhkan, atau dengan siapa kita perlu berdamai.  Inilah saatnya untuk memeriksa hati nurani kita dan membuat tekad untuk memulai “Hari Baru”, “Minggu Baru”, bersama Tuhan dalam segala hal. 

Pendupaan Agung & Mazmur Pembukaan 

Setelah lonceng trezvon dibunyikan untuk menandai dimulainya Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil, tirai dan Pintu Kerajaan dibuka, dan penerangan gereja ditingkatkan.  Ibadah Berjaga-jaga/ Vigili dimulai dalam keheningan, keheningan dan hanya suara pendupaan.  Ini mewakili kita gerakan awal Roh Allah atas kekosongan di awal dunia.  Jadi Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil membawa kita kembali ke awal waktu, ke penciptaan dunia sebelum pemberontakan manusia. 

Imam dan Diakon keduanya membawa lilin saat Imam mendupai meja altar, tempat kudus, ikonostasis, seluruh gereja, dan umat beriman berkumpul di gereja.  Imam memakai phelonion (pakaian terbesar dan terluar yang dikenakan oleh Imam).  Ketika phelonion dipakai, itu adalah tanda bahwa bagian dari ibadah tersebut menunuk pada ciptaan baru. 

Diakon memecah kesunyian dengan seruan, “Hilmat tegak, ya Baginda sampaikanlah berkat!”  Seruan ini adalah undangan dari Allah kepada satu-satunya makhluk yang berdiri tegak – manusia.  Kita berdoa kepada Tuhan dengan cara yang khas di mana Dia menciptakan kita—berdiri dengan dua kaki.  Kita berdiri di hadirat Allah Pencipta kita yang membawa kita dari ketiadaan dan ketidakberadaan ke dalam dunia yang Dia ciptakan untuk kita.  Tanggapan manusia kepada Penciptanya adalah mengakui Dia sebagai Allah dan bersyukur kepada-Nya atas keberadaannya dan untuk semua hal baik yang telah diberikan Sang Pencipta kepadanya.  Namun seperti yang ditunjukkan Rasul Paulus dalam Kitab Roma pasal pertama, manusia gagal mengakui Allah sebagai Allah dan mengucap syukur kepada-Nya.  Sebaliknya, ia berusaha menjadi allah tanpa Allah, untuk menggantikan Penciptanya; dan semua kejahatan dunia mengalir dari kegagalan mendasar ini untuk menyembah dan bersyukur kepada Allah.  Kristus telah datang untuk memanggil manusia kembali ke panggilan aslinya, untuk berhasil di mana Adam telah gagal.

Membuat tanda salib dengan pedupaan yang ditinggikan di depan meja altar, Imam berseru, “Kemuliaan bagi Sang Tritunggal Mahakudus, satu dalam dzat-hakekat, dan yang memberi hidup serta tak terpisah-pisahkan, sekarang dan selalu, serta sepanjang segala abad....” Demikianlah kita memuji Satu Allah yang benar dalam Tiga Pribadi yang  menciptakan dunia.  Segera, Imam menyanyikan seruan untuk menyembah, "Mari kita menyembah kepada Tuhan Raja dan Allah kita ..." Manusia, yang baru diciptakan, bangkit dari ketiadaan, segera diundang untuk hidup dengan menyembah Pencipta-Nya dalam ketergantungan yang rendah hati kepada-Nya.  Manusia diciptakan untuk memuliakan dan menyembah Allah! 

Paduan suara dan umat mulai menyanyikan Mazmur 104, mazmur penciptaan, yang selalu mengawali Sembahyang Senja/ Vesper.  Mazmur dinyanyikan bukan dibacakan di Ibadah Berjaga-jaga/ Vigil karena sifat ibadah yang meriah (walaupun biasanya dalam bentuk singkat).  Imam dan Diakon terus mendupai gereja selama nyanyian.  Sementara itu, gereja diterangi dengan terang dan Pintu Kerajaan terbuka, mewakili cahaya dan kemuliaan ciptaan dan takdir manusia untuk hidup di Firdaus dengan jalan menuju Tuhan yang terbuka.  Pendupaan ikon dan umat beriman yang berkumpul menunjukkan tidak ada pemisahan antara umat beriman di Surga dan di bumi: semua berkumpul di hadirat Allah dan diberi kehormatan yang sama sesuai dengan gambar Allah yang tak terhapuskan di masing-masing dan sejauh mana masing-masing  memperoleh rupa Allah. 

Di akhir pendupaan, Pintu Kerajaan ditutup dan lampu meredup secara dramatis.  Ketika Pintu Kerajaan ditutup selama ibadah, itu menandakan Gereja sebagai puasa atau persiapan untuk kerajaan, karena pintu yang tertutup menunjukkan pemisahan orang-orang yang hidup di dunia yang jatuh dari Kerajaan yang diwakili dalam arsitektur gereja oleh altar atau tempat kudus.  Ketika Pintu Kerajaan dibuka, itu menandakan Gereja sebagai pesta atau pemenuhan Kerajaan.  Ibadah Berjaga-jaga/ Vigili dilakukan di kedua tingkat ini: Gereja pada tingkat ciptaan yang jatuh di pengasingan, orang asing yang melewati dunia untuk berziarah menuju Kerajaan, dan Gereja dipulihkan ke tingkat Kerajaan. 

Setelah pintu ditutup, imam mengeluarkan phelonionnya dan keluar dari Pintu Diakon Utara (di sebelah kiri menghadap ikonostasis) untuk berdiri tanpa penutup kepala dalam kerendahan hati di depan Pintu Kerajaan yang sekarang ditutup untuk berdoa dalam hati atas nama dirinya dan umat.  Tujuh doa terang sebanyak yang mungkin Adam serukan kepada Tuhan di depan gerbang surga yang tertutup.  Setelah nyanyian Mazmur berakhir, diakon akan keluar dan mendaraskan Litani Agung. 

Litani Agung 

Setelah nyanyian pembukaan Mazmur, Pintu Kerajaan ditutup dan lampu diredupkan, mencerminkan kejatuhan manusia ke dalam dosa dan ditutupnya Firdaus bagi manusia.

Diakon (atau Imam) menuju ke depan Pintu Kerajaan yang tertutup untuk melantunkan Litani Agung.  Dia menghadap ke timur, mewakili Adam yang jatuh yang berseru kepada Allah dalam kesusahannya setelah diusir dari surga.  Semua litani diucapkan menghadap ke timur dengan Diakon (atau Imam) memimpin umat (tetapi masih sebagai salah satu umat) dalam mempersembahkan doa kepada Allah.  Gereja yang berkumpul dalam ibadah bukanlah lingkaran tertutup yang merenungkan dirinya sendiri, tetapi memandang melampaui dirinya sendiri kepada Allah.  Sejak awal, Gereja telah berdoa menghadap ke timur setidaknya untuk tiga alasan:

  1.  Timur adalah arah terbitnya matahari, dan Kristus adalah Matahari kebenaran yang membawa terang ke dunia yang gelap; 
  2. Firdaus, atau Eden, terletak di timur, dan manusia mencari untuk mendapatkan kembali apa yang hilang; 
  3. Kedatangan kembali Kristus dalam kemuliaan akan “seperti kilat menyambar dari timur ke barat” dan dengan demikian melihat ke timur dalam doa berarti mencari kedatangan Kristus kembali. 

Litani Agung adalah awal dari doa resmi Gereja dan memulai semua ibadah-nya.  Dalam litani ini, Gereja mempersembahkan doa atas nama seluruh dunia dalam hierarki dengan nilai yang menurun, dimulai dengan apa yang paling penting.  Ketika Litani Agung diambil dalam ibadah, Litani yang Diperbesar juga harus diambil (dengan tiga kali lipat "Tuhan kasihanilah").  Di awal, Gereja berdoa secara universal untuk dunia, tetapi yang kedua, Gereja berdoa untuk tempat khusus di mana Dia berkumpul dan untuk orang-orang tertentu di tempat itu. 

Penjelasan mengenai permohonan- permohonan dalam Litani berikut ini terutama disampaikan (tetapi tidak eksklusif) oleh Romo Alexander Schmemann.

 “Dalam damai sejahtera mari kita berdoa kepada Tuhan.”  Doa Gereja adalah doa baru, yang dimungkinkan oleh damai sejahtera Kristus yang melampaui segala akal.  Dia adalah damai sejahtera kita (Efesus 2:14) dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri kita sendiri, dan karena itu kita berdoa di dalam Dia, dalam kepastian yang luar biasa bahwa doa kita diterima oleh Allah karena Dia. 

“Bagi damai yang dari atas dan bagi keselamatan jiwa kita...” Dunia tidak dapat memberikan kedamaian itu;  itu adalah pemberian dari atas (Yohanes 14:27).  Menerimanya adalah tujuan pertama dan terpenting kita bersama dengan keselamatan jiwa kita.  Sebelum kita berdoa untuk hal lain, kita harus berdoa bagi 'objek nomor satu' setiap orang Kristen: keselamatan kekal.

 “Bagi perdamaian seluruh dunia, bagi kesejahteraan Gereja-Gereja Kudus Allah dan bagi persatuan semua ...” Kita berdoa agar damai Kristus dapat diberikan di mana-mana, agar Gereja dapat memenuhi misinya  mewartakan Kristus dan menjadikan Dia hadir di seluruh dunia, dan agar semua orang dapat dipersatukan dalam Kristus dengan Tubuh-Nya, Gereja.  Kristus menyediakan satu-satunya dasar bagi kesatuan manusia;  Dia adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengatasi hambatan yang memisahkan manusia dari sesamanya. 

“Bagi rumah kudus ini, dan bagi mereka yang dengan iman, hormat dan takut akan Allah masuk ke dalamnya …” Kita berdoa untuk paroki khusus kita, yang harus memanifestasikan Kristus dan Kerajaan-Nya kepada komunitas sekitarnya, agar kita dapat beribadah di tempat yang tepat.  semangat iman, hormat, dan takut akan Allah. 

“Bagi [uskup] kita, presbiter [imam] yang terhormat, kediakonan dalam Kristus, dan bagi semua rohaniwan dan segenap kaum awam...” Kita berdoa bagi mereka yang telah dipercayakan Allah untuk mengurus Gereja-Nya, untuk membimbing dan membangunnya, terutama uskup diosesan.  Mereka memikul tanggung jawab yang berat dan membutuhkan doa kita yang sering.  Kami juga berdoa untuk semua orang yang merupakan bagian dari Tubuh Kristus dan juga bertanggung jawab atas kesejahteraannya. 

“Bagi perlindungan Allah atas negara kita ini, presidennya, semua otoritas sipil, dan bagi mereka yang bertugas di angkatan bersenjata...” Orang Kristen adalah warga Surga dan anggota masyarakat sipil yang bertanggung jawab di bumi.  Kita setia kepada Negara dan otoritas yang mapan, tetapi hanya sejauh kesetiaan ini sesuai dengan kesetiaan tertinggi kita kepada Kristus.  Kita harus memberikan kesaksian tentang Kristus di dalam masyarakat kita dan berdoa agar dapat menerima bimbingan dari Tuhan.  Apakah kita suka atau setuju dengan mereka yang berkuasa, mereka membutuhkan doa kita hanya karena mereka memiliki kuasa dan harus menggunakannya dengan bijaksana. 

“Bagi kota ini, bagi setiap kota dan desa, dan bagi mereka yang tinggal di dalamnya dengan iman...” Kristus mengajar kita bahwa kita “adalah garam dunia.”  Kita memiliki tanggung jawab rohani bagi tempat kita tinggal, dan kita juga bergabung dengan semua orang Kristen di mana pun dalam berdoa untuk komunitas sipil mereka dan untuk umat beriman yang tinggal di dalamnya. 

“Bagi cuaca-ciaca yang baik, bagi berlimpahnya hasil bumi, dan bagi masa-masa tenteram …” Doa Gereja mencakup seluruh alam.  Kita memohon pada Tuhan untuk menyediakan bagi kita apa yang kita butuhkan untuk hidup, dan bahwa kita dapat hidup dalam damai bukan dalam situasi anarki atau kerusuhan.  Kita mengakui ketergantungan kita pada Allah untuk hal-hal baik ini, meskipun manusia modern cenderung menganggapnya remeh. 

“Bagi mereka yang melakukan perjalanan melalui darat, laut, dan udara, bagi yang sakit dan yang menderita;  bagi para tawanan, dan bagi keselamatan mereka...” Gereja mengingat semua yang berada dalam bahaya dan kesulitan, berdoa untuk keselamatan dan perlindungan mereka.  Kita menjangkau dalam kasih kepada mereka yang menderita di mana-mana untuk memenuhi perintah kasih Kristus.  “Tawanan” di masa lalu secara khusus merujuk pada orang-orang Kristen yang telah ditangkap oleh perampok Muslim dan dijual sebagai budak. 

“Bagi pelepasan kita dari semua kesengsaraan, murka, bahaya, dan kebutuhan...” Hal-hal ini berpotensi menguasai iman dan kehidupan kita, jadi kita bersyafaat agar kita dibebaskan dari bahaya yang mengancam olehnya.  'Kebutuhan' adalah situasi ekstrem di mana kurangnya kebutuhan dasar hidup dapat membawa kita ke dalam dosa untuk mendapatkannya. 

“Tolonglah, selamatkanlah, kasihanilah, dan peliharalah kami, ya Allah, dengan rahmat-Mu.”  Permohonan terakhir mendengarkan kata-kata Kristus, “Tanpa Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”  Iman mengungkapkan kepada kita ketergantungan total kita pada kasih karunia, belas kasihan, dan pertolongan Allah dalam segala hal. 

“Dengan mengenang Ibu kita, yang tersuci, murni, terberkati, mulia dan yang selalu perawan Maria dengan segenap Orang Suci, marilah kita menyerahkan diri kita sendiri seorang dengan yang lain, serta seluruh hidup kita kepada Kristus, Allah kita.”  Dengan mengenang Sang Theotokos dan segenap Orang Suci, kita menegaskan kesatuan kita dengan Gereja di Surga saat kita mempercayakan diri kita sendiri, satu sama lain, dan seluruh hidup kita pada pemeliharaan dan penyelenggaraan Allah yang penuh kasih daripada bergantung pada kebijaksanaan dan upaya kita sendiri. 

Dalam Litani Agung, kita bersatu dalam mempersembahkan doa Gereja Kristus bagi dunia.  Imam atau diakon meminta kita untuk berdoa bàgi hal-hal tersebut, dan karena setiap masalah terbentang di hadapan kita, kita memohon pada Allah untuk “mengasihani”.  Partisipasi penuh perhatian kita diperlukan; kita harus menyatukan hati kita dengan permohonan ini dan membawanya kepada Allah agar kita benar-benar berdoa dan tidak hanya mengucapkan kata-kata. 

Bacaan Mazmur &  Kidung 'Ya Tuhan ku berseru \' 

Setelah Litani Agung, kita tiba pada kathisma pertama dari Mazmur, Mazmur 1-8.  Mazmur dibagi menjadi dua puluh bagian yang disebut kathisma.  Nama ini berasal dari kata kerja Yunani “duduk”, dan seseorang dapat duduk selama membaca Mazmur kathisma.  (Perhatikan bahwa kata Akathist berasal dari akar kata Yunani yang sama, tetapi berarti “tanpa duduk.”) 

Biasanya satu kathisma dibacakan pada setiap Sembahyang Senja/ Vesper harian kecuali pada hari Minggu malam, dan dua kathisma dibacakan pada setiap Sembahyang Singsing Fajar/ Matin.  Dengan cara ini, seluruh Mazmur dibacakan di Gereja setiap minggunya. 

Biasanya, kathisma dilantunkan oleh Reader tetapi pada acara-acara perayaan, seperti Ibadah berjaga-jaga/Vigil Kebangkitan setiap Sabtu malam, kathisma Sembahyang Senja/ Vesper dinyanyikan.  Meskipun kathisma pertama yang penuh diangkat, biasanya hanya syair-syair terpilih yang dinyanyikan, umumnya dikenal sebagai “Diberkatilah orang yang….”. 

Sejak awal, Mazmur telah menjadi kidung utama Gereja. Sehingga karena begitu pentingnya Mazmur, maka  sebuah kanon telah menetapkan bahwa jika seseorang tidak tahu seluruh mazmur dengan hatinya maka dia tidak bisa diangkat sebagai uskup. Meskipun kanon tersebut tidak diberlakukan saat ini, Kanon ini menggarisbawahi sentralitas Mazmur pada penyembahan gereja mula-mula. Banyak kidung telah tersusun sejak saat itu untuk melengkapi mazmur, namun mazmur tetap menjadi dasar untuk doa dan penyembahan gereja. 

Kata-kata pembukaan karakteristik kathisma pertama, "diberkatilah orang yang berjalan menurut  nasihat orang bijak ..." terutama merujuk pada Kristus, tapi juga ditetapkan sebagai standar untuk kita capai. 

Saat Kathisma, entah dilagukan atau dinyanyikan, diakhiri dan diikuti oleh litani kecil. Litani kecil sering dilakukan dalam ibadah gereja. Ini terdiri dari permohonan pertama dan terakhir dari litani agung. Beberapa mungkin menemukan frekuensinya berulang atau berlebihan, tapi sebenarnya, tidak begitu. Manusia dipanggil untuk berdoa "tanpa henti." Selain itu, di gereja kita sering berjuang untuk memberikan perhatian penuh kepada Tuhan, untuk menyembah, dan untuk berdoa. Kita datang ke ibadah dari dunia dengan hati yang dingin, dan butuh waktu untuk mencurahkan dan menghangatkannya. Pengulangan litani kecil berfungsi untuk memanggil kita kembali ke doa dan memberi kesempatan lain untuk masuk ke dalam doa gereja jika kita melewatkannya untuk pertama kalinya. Bahkan, dan terutama, di gereja, kita membutuhkan Allah untuk "menolong kita, menyelamatkan kita, menyampaikan rahmat pada kita, dan menjaga kita" oleh anugerah-Nya. Mempersembahkan doa dan penyembahan yang pantas kepada Allah di luar kemampuan kita, dan kita memerlukan pertolongannya untuk berdoa seperti yang seharusnya dan untuk diselamatkan dari banyaknya pikiran yang mengganggu yang berkeliaran di dalam pikiran kita ketika kita di gereja.

 

Setelah Litani Kecil dan seruannya, dilanjutkan dengan nyanyian mazmur sembahyang senja (141, 142, 131, 118), yang paling dikenal dengan baris pembuka, "Ya Tuhan ku berseru pada-Mu, dengarkanlah aku!"  Di sini, tema besar kedua dari Sembahyang Senja diumumkan.  Ibadah berjaga-jaga dimulai dengan tema penciptaan dan kemuliaannya, yang nyatakan dengan Pintu Kerajaan yang terbuka, lampu-lampu, dan Imam yang mengenakan phelonionnya.  Sekarang ibadah beralih ke tema pertobatan.  Pencahayaan telah dikurangi sejak Mazmur pembukaan, Pintu Kerajaan telah ditutup, dan Imam telah melepaskan phelonionnya lebih jauh untuk menggambarkan bagi kita kegelapan keadaan kejatuhan kita di dunia yang jatuh.  Dan dalam keadaan kejatuhan kita, satu-satunya harapan kita adalah berseru kepada Tuhan. 

Dua bait pertama dari kumpulan Mazmur dinyanyikan dengan irama yang telah ditentukan, kemudian Reader mengambil alih, melantunkan sisanya.  Menjelang akhir, stikhera, atau bait-bait komposisi dari Oktoekhos, Menaion, Triodion atau Pentekostarion disisipkan di antara bait-bait Mazmur dan dinyanyikan.  Stikhera ini mengungkapkan makna dari hari tertentu dalam kalender Gereja.  Semakin besar pestanya, semakin banyak stikhera yang dinyanyikan.  Irama stikhera pertama yang dinyanyikan menentukan irama di mana bait pertama "Ya Tuhan berseru padaMu..." dinyanyikan.  Pada Malam Kebangkitan, sepuluh stikhera dinyanyikan.  Biasanya tujuh stikhera berasal dari Oktoekhos (buku 8 irama) dengan tema kebangkitan, dan tiga sisanya berasal dari Menaion (buku yang berisi semua ibadah harian untuk orang-orang kudus) yang diperuntukkan bagi orang kudus hari itu. 

Saat ayat-ayat Mazmur pembukaan dinyanyikan, Diakon (atau Imam jika ia melayani sendiri) mengambil pedupaan dan melakukan pendupaan besar-besaran di Gereja.  Arti dari pedupaan ini diungkapkan dengan kata-kata “Biarlah doaku seperti dupa ukupan di hadirat-Mu.”  Doa orang percaya yang benar disamakan dengan dupa di hadapan Allah (Wahyu 8:3-4).  Dalam keadaan gelap, kita berseru kepada Allah dan Dia mendengar kita, dan doa-doa kita berkenan kepada-Nya.  Romo Alexander Schmemann mengungkapkan perbedaan antara tema pembukaan Penciptaan dan tema kedua Pertobatan di ibadah berjaga-jaga: 

Karena kita pertama kali melihat keindahan dunia, sekarang kita dapat melihat keburukannya, menyadari apa yang telah hilang dari kita, memahami bagaimana seluruh hidup kita (dan bukan hanya beberapa pelanggaran) telah menjadi dosa, dan kita dapat bertobat karenanya.  Pada momen ini lampu dipadamkan.  Pintu Kerajaan ditutup.  Imam Selebran telah menanggalkan jubahnya.  Yang menjadi gambaran orang telanjang dan menderita di luar Firdaus, yang dengan kesadaran penuh akan pengasingannya, akan pengkhianatannya, akan kegelapannya, dan dia berseru kepada Allah: "Dari lubuk hatiku aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan."  Di hadapan keagungan ciptaanMu, pasti ada kesedihan yang luar biasa.  Allah telah memberi kita hari lain;  dan kita dapat melihat bagaimana kita telah menghancurkan karunia-Nya ini.’ 

Dogmatikon, Arak-arakan, Terang gembira…

Pada saat "Kemuliaan bagi Sang Bapa Sang Putra serta Sang Roh Kudus" Ya Tuhan, kuberseru, imam, yang telah mengenakan pakaian phelonian, bersiap untuk arak-arakan.  Pintu Kerajaan dibuka saat lampu dinyalakan.  (Secara tradisional, orang-orang mempersembahkan lilin yang tidak menyala di awal ibadah yang kemudian dinyalakan dengan korek api sebagai persiapan untuk arak-arakan dan "Terang gembira….) Pada saat "Sekarang dan selalu serta....." imam dan pelayan melakukan arak-arakan.  Diakon membawa pedupaan "di tempat tinggi" (diangkat), pelayan membawa lilin, dan Imam mengikuti, dengan tenang ['mistis'] berdoa di pintu masuk.  Diakon mendupai, dan Imam memberkati pintu masuk dan kemudian mereka berdiri di tempat mereka menunggu selesainya nyanyian stikheron terakhir. 

Kidung terakhir yang dinyanyikan di “Ya Tuhan, kuberseru” adalah Theotokion khusus (sebuah kidung untuk menghormati Sang Theotokos) yang disebut Dogmatikon.  Dogmatikon mengungkapkan Dogma Sang Sabda inkarnasi Allah melalui Sang Theotokos, yang merupakan jantung dari iman Kristen.  “Prinsip theandrik”, bahwa Kristus adalah Allah (Theos) dan manusia (anthropos)—didefinisikan pada Konsili Ekumenis Keempat di Kalsedon pada tahun 451—sekarang diungkapkan dan diproklamirkan dalam sebuah kidung.  Masing-masing dari delapan irama memiliki Dogmatikonnya sendiri untuk mengagungkan Misteri Inkarnasi Kristus dan peran Sang Perawan Maria sebagai Bunda Allah, atau Sang Theotokos.  Banyak dari umat beriman yang hafal Dogmatika ini. 

Misalnya, dogmatikon untuk irama 8 berbunyi: Raja Surga, karena kasihnya pada manusia, datang di dunia dan tinggal bersama manusia. Dia mengambil daging dari Sang Perawan murni; Dan setelah mengandungNya, Dia lahir dari Sang Perawan. Sang Putra adalah satu: dalam dua kodrat, namun satu pribadi. Menyatakannya sebagai Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna, kita mengakui Kristus Tuhan kita! Bermohonlah PadaNya, Ya  Bunda yang tak kenal nikah, agar berbelas kasihan pada jiwa kami. 

Pertimbangkan ajaran kidung ini. Kristus adalah Raja Surga, tempat yang tepat. Karena kasihNya pada manusia, dia merendahkan dirinya untuk datang ke Bumi dan menjadi Emmanuel, "Allah beserta kita." Dia mengambil kemanusiaannya di rahim Sang Perawan Maria dan kemudian dilahirkan ke dunia sebagai seorang anak manusia seperti yang lainnya. Dia adalah satu pribadi, bukan dua, tapi memiliki dua sifat yang lengkap, satu manusia, satu ilahi (pengajaran Konsili Ekumenis keempat di Kalsedon). Sebagai orang Kristen, kita mengakui Yesus Kristus adalah Allah Manusia dan sempurna yang sempurna dalam satu pribadi. Dia bukan seorang nabi atau guru yang baik saja, tapi Allah yang kekal yang menjadi manusia bagi kita. Kita meminta ibuNya untuk berdoa kepada Dia untuk kita. Inilah esensi iman Kristen yang terkandung dalam satu nyanyian pendek ini. 

Dogmatikon menggambarkan karakter pengajaran Umum penyembahan orthodoks. Ibadah itu tidak terpisah dari dogma atau kepercayaan dasar. Ibadah sejati harus 'Di dalam Roh, tapi juga harus 'Di dalam Kebenaran. Kidung-kidung Gereja harus mengajarkan iman, mengekspresikan iman dengan jelas dan dengan bahasa yang puitis yang berirama. Disajikan dengan cara ini, ajaran Gereja lebih mudah dipahami oleh sebagian besar dari umat beriman daripada bentuk ceramah akademis. Ajaran tokoh-tokoh tekemuka telah memberi bahan meditasi kepada Allah dan apa yang telah Dia lakukan bagi keselamatan dan persatuan kita denganNya, tetapi karena kidung itu dinyanyikan, maka lebih mudah untuk diingat. Tentu saja, untuk mendapatkan keuntungan dari kidung-kidung tersebut, seseorang harus menghadiri ibadah untuk mendengarnya. 

Pada akhir Dogmatikon. Diakon menaikkan pedupaan lebih tinggi dan mendupai dengan membentuk tanda salib dengan langsung di depan pintu kerajaan saat dia menyeru, "Hikmat! Mari memperhatikan! " Lalu diakon dan imam memasuki tempat kudus melalui pintu kerajaan dan paduan suara menyanyikan kidung malam "Terang Gembira." 

"Terang Gembira", atau lampu terang, ini disebutkan pada awal abad ketiga dalam dokumen Kristen, namun mungkin bisa lebih tua. Kidung ini menyampaikan kabar bahwa Kristus datang sebagai terang dunia dan mengenalkan tema ketiga ke sembahyang senja. Romo Alexander Schmemann menulis:

Sekarang tiba pada tema ketiga sembahyang senja, yaitu tema penebusan. Ke dunia dosa dan kegelapan ini, cahaya telah datang: "Terang Gembira kemuliaan suci dari Bapa yang kekal, surgawi, suci, terberkati Yesus Kristus!" Dunia sudah tiba pada malam harinya karena Dia yang membawa makna final ke dunia telah datang; Dalam kegelapan dunia ini, cahaya Kristus menyatakan diri lagi sifat sejatinya. Ini bukan dunia sebelum Kristus datang: kedatanganNya sekarang milik dunia. Peristiwa yang menentukan dari kosmos telah terjadi. Kita tahu sekarang bahwa karya Kristus harus mengubah segala sesuatu untuk dilakukan dengan kehidupan kita. Hanya karena Kristuslah kita memiliki hati untuk memuliakan penciptaan pada awal sembahyang senja, hanya karena dia memberi kita mata untuk "menyaksikan tangan kemurahan Allah di semua karyaNya." 

Sekarang dalam waktu di mana kita dapat bersyukur kepada Allah karena Kristus, kita mulai memahami bahwa segala sesuatu diubah di dalam Kristus menjadi keajaibannya yang sejati.  Dalam pancaran cahaya-Nya, dunia bukanlah tempat biasa.  Lantai tempat kita berdiri adalah keajaiban atom yang mendesing di luar angkasa.  Kegelapan dosa dibuat menjadi terang, dan bebannya dipikul.  Kematian dirampas dari keberadaannya, diinjak-injak oleh kematian Kristus.  Di dunia di mana segala sesuatu yang tampaknya hadir segera berlalu, semuanya ada di dalam Kristus yang dapat berpartisipasi dalam hadirat Allah yang kekal.  Malam ini adalah waktu sejati dalam hidup kita. 

Sulit bagi kita yang hidup di dunia yang diterangi secara semu sepanjang waktu untuk menghargai betapa berharganya terang bagi manusia di masa lalu.  Malam adalah penutup yang efektif untuk perbuatan jahat, dan tidak ada terang yang tersedia saat itu bagi manusia yang dapat berbuat banyak untuk menghilangkannya.  Pada titik inilah dalam ibadah, setelah matahari terbenam, lilin dinyalakan dan hubungan antara cahaya lilin dan cahaya Kristus datang ke dunia untuk menghilangkan malam dosa dan kejahatan.  Cahaya ini memang menyebabkan suka cita! 

Damai, Prokeimenon, Paroemia, Litani tambahan 

Saat kidung “Terang Gembira” dinyanyikan, para imam (dan pelayan) memasuki tempat kudus dan bersiap untuk prokeimenon dengan memuliakan altar dan pergi ke tempat tinggi di ujung timur Ruang Kudus. 

Namun, sebelum prokeimenon dinyanyikan, imam mengucapkan, “Damai sejahtera bagi semua.”  Di sini, berdiri menghadap orang-orang, imam (atau uskup) adalah ikon hidup Kristus karena melalui dia dan kata-katanya Kristus menawarkan damai sejahtera-Nya kepada umat-Nya.  Setelah Kebangkitan, Yesus sering berbicara kepada murid-murid-Nya dengan kata-kata ini.  Itu bukan hanya salam, tetapi penyampaian sesuatu yang penting bagi kita.  Saat kita hidup di dunia yang memusuhi iman Kristen dalam banyak hal, terutama dalam pencobaan dan penganiayaan, kita mungkin tergoda untuk khawatir dan resah.  Sebaliknya, kita harus mengingat kata-kata yang diucapkan Kristus kepada murid-murid-Nya pada malam Dia dikhianati: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14:27).  Setiap kali imam menyampaikan damai sejahtera, kita harus mengakui bahwa melalui dia kita mendengar Kristus sendiri berbicara tentang damai sejahtera kepada kita. 

Kata "prokeimenon" berasal dari bahasa Yunani yang berarti "apa yang ditetapkan," yaitu, apa yang ditetapkan untuk dibaca.  Sebuah prokeimenon (jamak "prokeimena") terdiri dari ayat-ayat yang dipilih dari Mazmur yang dinyanyikan sebelum pembacaan dari Kitab Suci.  Prokeimena dilakukan pertama, pada sembahyang setelah “Terang Gembira”, kedua, pada Sembahyang Singsing Fajar pada hari Minggu dan hari raya sebelum pembacaan Injil, dan ketiga, pada Liturgi Ilahi sebelum pembacaan Epistel. 

Pada suatu waktu, seluruh Mazmur dari mana prokeimenon diambil dinyanyikan, tetapi secara bertahap Mazmur dikurangi menjadi ayat kunci (reff) dan ayat pertama, yang mengidentifikasi Mazmur.  Karena banyak orang Kristen hafal Mazmur, mereka dengan mudah mengenali Mazmur dari mana prokeimenon diambil.  Karena setiap hari Minggu adalah hari raya besar Kebangkitan dan prokeimenon untuk hari Sabtu mengacu pada hari Minggu, prokeimenon di Sembahyang Senja adalah "prokeimon Agung," yang berarti bahwa lebih banyak ayat menyertainya.  Prokeimenonnya adalah Mazmur 9 yang dimulai: " TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan." 

Pada Sembahyang Senja, prokeimenon berfungsi sebagai titik balik ibadah: secara liturgis, hari lama (Sabtu) berakhir, dan hari baru (Minggu) dimulai.  Titik balik ini terlihat jelas pada Sembahyang Senja Pengampunan, di mana para imam memulai ibadah dengan jubah cerah untuk hari Minggu, tetapi setelah prokeimenon, mereka mengenakan jubah puasa yang lebih gelap dan paduan suara mulai menyanyikan melodi prapaskah. 

"Paroemia" adalah bacaan Kitab Suci atau pelajaran yang ditetapkan untuk Sembahyang Senja.  Bacaan tersebut sebagian besar telah menghilang kecuali untuk Pesta Besar dan perayaan Orang Suci yang dilayani dengan ibadah berjaga-jaga atau Polyeleon sembahyang singsing fajar.  Bacaan-bacaan itu terkait dengan pesta atau perayaan orang suci dalam beberapa cara, dan pada sembahyang senja, bacaan-bacaan itu terutama dari Perjanjian Lama.  Biasanya ada tiga bacaan untuk melambangkan tiga bagian dari Perjanjian Lama (Hukum, Nabi, Tulisan), dan jika bacaan tersebut berasal dari Perjanjian Lama, Pintu Kerajaan ditutup dan gereja digelapkan.  Jika bacaan diambil dari Perjanjian Baru, lampu tetap menyala dan pintu terbuka.  Perbedaan ini, tentu saja, menunjukkan bahwa apa yang sebelumnya terlihat gelap dalam tanda, lambang, dan bayangan dalam Perjanjian Lama, sekarang dinyatakan dengan jelas di dalam Kristus.  Inilah salah satu alasan mengapa Perjanjian Lama tidak dibacakan dalam Liturgi Ilahi: Liturgi melambangkan Kerajaan, Perjanjian Baru, Gereja, dan penggenapan Perjanjian Lama, dan pembacaan dari Perjanjian Lama (terlepas dari Mazmur) tidak  sesuai dengan hakekat Liturgi Ilahi.  Tetapi pada malam hari raya dalam waktu dan ibadah persiapan, pembacaan Perjanjian Lama ditetapkan sesuai dengan sifat persiapannya. 

Setelah pembacaan di sembahyang senja, Diakon (atau Imam) keluar dari altar untuk berdiri di depan pintu kerajaan yang tertutup di gereja yang gelap untuk melantunkan Litani Tambahan, yang juga dikenal sebagai Litani Permohonan yang bersemangat.  Tanggapan paduan suara dan jemaat adalah "Tuhan, kasihanilah" tiga kali lipat daripada yang biasa. 

Kedatangan Kristus ke dunia telah digambarkan di arak-arakan, dan Dia telah berbicara melalui Firman-Nya.  Sebagai tanggapan, umat beriman dipanggil untuk meningkatkan persekutuan doa mereka dengan Tuhan melalui permohonan dari Litani tambahan. 

Jika Litani Agung adalah doa Gereja untuk seluruh Gereja dan seluruh dunia, Litani Tambahan menyampaikan syafaat bagi gereja lokal dan kebutuhan lokal.  Hal ini ditunjukkan dengan penyebutan nama-nama dari mereka yang membutuhkan dan yang telah meninggalkan kehidupan ini.  Gereja berdoa secara khusus menyebut namanya dalam ibadah Gereja hanya bagi mereka yang telah dipersatukan dengannya melalui Pembaptisan.  Gereja berdoa bagi mereka yang tidak bergabung dengan Gereja secara umum (bukan dengan menyebut nama) dalam ibadah dan bisa secara khusus dengan menyebut nama dalam doa-doa pribadi umat beriman. 

Dua permohonan pertama dari litani, yang hanya memiliki satu "Tuhan, kasihanilah" sebagai tanggapan, diucapkan hanya pada ibadah berjaga-jaga atau sembahyang senja Agung.  Pada sembahyang senja Harian, litani ini dipindahkan ke akhir, tepat setelah troparion dan sebelum pembubaran, dan dua permohonan pertama dihilangkan.  Selama Prapaskah sembahyang senja Harian, itu dihilangkan seluruhnya dan diganti dengan empat puluh "Tuhan kasihanilah". 

Dalam litani, kita berdoa untuk diri kita sendiri, untuk "orang Kristen Orthodoks yang saleh," untuk hierarki kita, untuk otoritas sipil, dan semua rohaniwan.  Meskipun ini bukan hanya masalah lokal, mereka peduli dan mempengaruhi komunitas lokal.  Kemudian kita berdoa untuk mereka yang telah meninggal, mereka yang telah mewariskan iman kepada kita dan mereka yang baru saja meninggalkan kita.  Kita berdoa untuk semua yang telah meninggal karena Gereja adalah satu.  Kita disatukan oleh Pembaptisan ke dalam satu Tubuh Kristus, sehingga kematian setiap orang percaya di mana pun di dunia mempengaruhi kita meskipun kita tidak mengenalnya secara pribadi.  Kita kemudian berdoa untuk apa yang dibutuhkan setiap orang percaya: “rahmat, kehidupan, kedamaian, kesehatan, keselamatan, kunjungan, maaf, dan pengampunan dosa hamba-hamba Allah.  .  .”  yang kemudian dapat disebutkan namanya, “saudara-saudara di bait suci ini.”  Di sini kita dipanggil untuk bersyafaat bagi mereka yang kita kenal, dengan siapa kita menjalani hidup kita dan mengerjakan keselamatan kita.  Akhirnya, “kita berdoa untuk mereka yang menghasilkan buah dan melakukan pekerjaan baik di bait suci yang dihormati ini, untuk mereka yang bekerja dan mereka yang bernyanyi, dan untuk orang-orang yang hadir yang memohon rahmat-Mu yang besar dan kaya.”  Kadang-kadang, tampaknya pelayanan kita di Gereja tanpa dihargai, namun Allah tidak hanya melihat semua tetapi menghargai apa yang dilakukan secara rahasia juga, demikian juga Gereja menyampaikan doa untuk semua yang melayani secara lokal dan bahkan bagi mereka yang hanya hadir. 

Sebuah seruan (vozglas) dari imam mengakhiri setiap litani.  Itu berbeda dari litani ke litani, dan masing-masing mengajarkan kita sesuatu tentang Allah dan karakter-Nya.  Seruan untuk Litany tambahan adalah "Karena Engkau adalah Allah yang penuh belas kasihan yang mengasihi manusia, dan kepada-Mu kami sampaikan kemuliaan ..." kita dapat berdoa secara efektif untuk orang lain dan diri kita sendiri karena sifat Allah adalah berbelas kasih.  Kita hanya perlu membaca kisah-kisah tentang Abraham yang bersyafaat untuk Sodom dan Gomora, atau Musa berulang kali bersyafaat bagi Israel yang tidak taat untuk menemukan dasar Alkitab untuk permohonan ini. 

Ketika Israel tersandung untuk pertama kalinya dengan Anak Sapi Emas (Keluaran 32), Lagi firman TUHAN kepada Musa: "Telah Kulihat bangsa ini dan sesungguhnya mereka adalah suatu bangsa yang tegar tengkuk. Oleh sebab itu biarkanlah Aku, supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." (Kel 32:8-9). Musa membela orang-orang Israel:”TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu (Bilangan 14:18-19).  Dan Allah menjawab doanya.  (Mereka yang mengatakan bahwa Allah di Perjanjian Lama adalah “Allah yang penuh dengan Amarah” belum membacanya dengan pemahaman rohani.) Karena Allah itu penuh belas kasih, kita dapat memanjatkan doa untuk orang lain dan diri kita sendiri. 

Jagailah & Litani Malam

Setelah Litani yang Ditambahkan, Diakon menyingkir dari depan Pintu Kerajaan sementara imam melantunkan seruan. Kemudian Reader berdoa, “Jagailah ya Tuhan, peliharalah kami hari ini agar tanpa dosa.”, sebuah doa pendek yang berasal dari Doksologi Agung yang lebih panjang. Itu selalu dibaca oleh Reader kecuali selama masa Minggu Gemilang, kidung ini dinyanyikan.

Setelah doa “Jagailah”, Diakon, kembali ke tempatnya di depan pintu kerajaan, melantunkan Litani Sore, juga dikenal sebagai Litani Permohonan. Biasanya setiap ibadah Gereja diakhiri dengan doa atau litani permohonan. Di Sembahyang senja, ini adalah Litani Sore, dan di Sembahyang Singsing Fajar, ini disebut Litani Pagi. Litani ini langsung diketahui dari permohonan pertamanya, “Mari kita selesaikan doa senja/singsing fajar kita kepada Tuhan.” Hal ini juga dibedakan dengan tanggapan orang-orang, “Kabulkan ya Tuhan,” menyampaikan permohonan pada Tuhan yang lebih berani daripada menyampaikan tanggapan yang lebih penuh penyesalan dan biasa, “Tuhan, kasihanilah.” Litani Sore, dengan tanggapannya “kabulkanlah ya Tuhan,” mengajukan permohonan untuk beberapa hal yang belum kita minta selama  ibadah berjaga-jaga. 

ISembahyang ini dimulai dengan permohonan terakhir dari Litani Agung dan Kecil: " Tolonglah, selamatkanlah, kasihanilah, dan lindungilah kami, ya Allah, dengan rahmatMu," dan tanggapan yang biasa, "Tuhan, kasihanilah." Jadi litani dimulai di mana litani lainnya berhenti. 

Semua permohonan bersifat pribadi, berkaitan dengan setiap orang percaya. Di sini tidak ada doa untuk hierarki atau pejabat pemerintah, tetapi untuk kesejahteraan spiritual kita, umat beriman. Kita berdoa dalam bentuk orang pertama jamak “kita”, seperti yang diajarkan Kristus kepada kita untuk berdoa, karena kita dihubungkan oleh Pembaptisan dalam satu Tubuh satu sama lain dan kita tidak dapat menemukan keselamatan untuk diri kita sendiri jika kita tidak peduli pada keselamatan orang lain. Kita berdoa untuk kebutuhan spiritual esensial kita sendiri yang merupakan kebutuhan semua orang Kristen Orthodoks. 

Kita berdoa agar waktu tertentu dalam hari yang kitai masuki kita tidak berbuat dosa: “Supaya sepanjang malam itu sempurna, kudus, damai, dan tanpa dosa...” Perjuangan kita melawan dosa terus berlanjut, dan betapa jarangnya saat-saat itu terjadi. tidak kehilangan kemuliaan Allah dalam beberapa hal! Tetapi kita tidak pernah berhenti mencari kemenangan atas dosa itu. Perhatikan bahwa kita meminta ketidakberdosaan hanya untuk waktu dekat, untuk beberapa jam ke depan. Jika seseorang dapat pergi satu jam tanpa dosa, seseorang dapat pergi dua jam; jika bisa dua jam, seseorang bisa pergi empat jam, dan seterusnya. Jika kita melihat jauh ke masa depan, pikiran tentang betapa sulitnya menjaga terus-menerus dari tindakan dosa akan menguasai kita. Kita lebih suka meminta kekuatan hanya untuk hari ini di mana kita hidup. Ketika hari esok telah menjadi hari ini, barulah kita akan menyibukkan diri dengan perjuangan hari esok. 

Kita meminta kepada Tuhan akan:“malaikat damai, pembimbing yang setia dan penjaga jiwa dan tubuh kita” Permohonan ini mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian dalam perjuangan spiritual kita, tetapi para malaikat Tuhan juga menolong kita, khususnya malaikat pelindung kita, yang selalu bekerja untuk keselamatan dan pembebasan kita dan melihat semua yang kita lakukan. Kita perlu bekerja sama dengan para malaikat daripada melawan mereka dengan perbuatan dan kata-kata jahat. 

Kita memohon “pengampunan yaitu pengampunan atas dosa dan pelanggaran kita.” Sampai sekarang di litani, kita belum meminta ini secara spesifik, begitu konkret untuk diri kita sendiri. Litani tambahan memohon “pengampunan yaitu pengampunan dosa para hamba Allah, [sebutkan namanya], saudara-saudara di gereja suci ini,” tetapi kita belum memintanya sendiri sampai sekarang. Karena kita tidak diselamatkan sendirian, kita memintanya untuk "kita", Gereja berkumpul secara lokal. 

Permohonan berikutnya berbunyi, “Bagi segala yang baik dan berguna, bagi jiwa kita dan bagi perdamaian dunia, mari kita memohon kepada Tuhan.” Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Di sini, kita meminta agar Dia memberi kita hanya apa yang akan bermanfaat bagi jiwa kita, dan bukan hanya setiap permintaan yang mungkin kita sampaikan. Ketika kita berdoa untuk hal-hal tertentu, terkadang kita meminta sesuatu yang berbahaya bagi kita tanpa sepengetahuan kita. Dengan demikian, permohonan ini mengajarkan kita untuk hanya mencari apa yang bermanfaat secara rohani, sesuai dengan kehendak Tuhan bagi kita. Kita juga memohon perdamaian bagi dunia dalam permohonan. Ini dapat diartikan sebagai berhentinya perang dan berlakunya masa damai untuk mewujudkan keselamatan kita, tetapi untuk mengeluarkan permohonan lain yang dianggap tidak pada tempatnya dari permohonan-permohonan lain. Sebaliknya, nabi Yesaya berkata, “Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang, dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur. 21 Tiada damai bagi orang-orang fasik itu," firman Allahku. (Yesaya 57:20-21). Saat kita berdoa untuk kebaikan rohani kita, kita tidak melupakan dunia, mereka yang masih berada di luar Gereja, dan kita berdoa untuk kedamaian mereka, karena damai hanya datang dari Kristus. 

Litani Malam diakhiri dengan permohonan untuk “Agar akhir hidup kita secara Kristen, tanpa siksaan, tanpa cela, dan damai-sejahtera, serta bagi  suatu pertanggungan-jawab yang baik di hadapan tahta pengadilan Kristus yang menakutkan itu, mari kita memohon kepada Tuhan” Sebagai orang Kristen, kita tidak dapat hanya memulai dengan baik dalam kehidupan rohani kita, tetapi harus diselesaikan dengan baik, dan permohonan ini berusaha agar kita dapat bertahan dengan setia sampai akhir tanpa ada rasa malu pada saat kematian dan tidak ada yang perlu ditakuti di hadapan penghakiman Kristus. Baptisan tidak banyak bermanfaat bagi kita jika kita jatuh sebelum akhir hidup kita. Selain itu, kita diingatkan bahwa kematian akan datang kepada kita masing-masing dan akan mengantarkan kita ke penghakiman. Masing-masing dari kita akan memberikan pertanggungjawaban tentang hidupnya di hadapan Kristus—pemikiran yang serius. Jadi kita berdoa agar pada akhirnya kitai tidak dihukum di hadapan Kristus sebagai hamba yang tidak berguna. 

Di akhir setiap litani, kita mengenang Sang Theotokos dan semua orang kudus dan “kita menyerahkan diri kita sendiri, seorang kepada yang lain, dan segenap hidup kita, kepada Kristus, Allah kita.” Beberapa kelompok Kristen akan memiliki panggilan berkala untuk “mendedikasikan kembalai”, di mana orang-orang dipanggil untuk memperbarui iman dan komitmen mereka kepada Kristus. Dalam ibadah Orthdoks, kesempatan itu diberikan pada akhir setiap litani. Kita mempersembahkan diri kita, tubuh dan jiwa kita kepada Kristus sebagai korban yang hidup, mempercayakan diri kita kepada pemeliharaan dan perlindungan-Nya. 

Seruan untuk Litani Sore sedikit berbeda dari Litani Tambahan sebelumnya: “Karena Engkau ya Allah adalah baik dan mengasihi manusia, …” Tuhan tidak hanya pengasih tetapi juga baik. Karena Dia baik, Dia hanya bekerja baik demi kita, meskipun karena definisi kita tentang "baik" biasanya miring, kita terkadang berjuang untuk melihat yang baik dalam situasi sulit yang datang kepada kita. Tuhan kita yang baik hanya memberikan pemberian yang baik (Yakobus 1:17; Mat 7:7-11), dan karena Dia baik, kita mungkin berani menyerahkan diri kita kepada pemeliharaan-Nya dan memohon kepada-Nya “apa yang baik dan berguna bagi jiwa kita. ” 

Setelah seruan Litani Sore, Imam menghadap ke umat dan memberkati mereka, “Damai sejahtera bagi semua,” dan kemudian berbalik ke arah timur dan berkata, “Mari kita menundukkan kepala kepada Tuhan.” Saat paduan suara menyanyikan "kepadaMu, ya Tuhan," imam secara mistika berdoa bagi mereka yang telah menundukkan kepala mereka: "... Ya Tuhan Allah kami, yang menekukkan langit dan turun bagi keselamatan manusia, tengoklah atas para hambaMu dan warisan milikMu. Karena kepadaMulah para hambaMu telah menundukkan kepala dan dengan penuh penyerahan telah menekukkan leher mereka, Hakim yang menakutkan namun mengasihi manusia; menunggu pertolongan bukan dari manusia, namun memohon belas-kasihMu dan melihat dengan keyakinan akan keselamatanMu. Jagailah mereka disetiap waktu, baik pada sore hari ini maupun sepanjang malam nanti dari setiap musuh, dari serangan setiap kuasa neraka, dari angan-angan yang sia-sia, serta dari pikiran-pikiran yang jahat.” Alih-alih menjadi penentang Allah yang tegar tengkuk seperti Israel kuno, umat beriman dipanggil untuk menundukkan kepala mereka dan menundukkan leher mereka kepada Kristus, tunduk kepada-Nya sebagai Raja daripada diatur oleh keinginan diri mereka sendiri, dan atas dasar penyerahan itu kepada Tuhan. penguasa yang sah, mereka dapat mengharapkan belas kasihan dan perlindungan-Nya. 

Di sini adalah bagian dari berkat bagi yang hadir dalam ibadah apa pun: imam berdoa secara mistika bagi mereka yang hadir, menjadi syafaat bagi umat beriman yang hadir (dan mereka yang tidak hadir karena alasan yang layak). Meskipun doa-doa ini biasanya tidak dibacakan, umat beriman harus tahu bahwa pada setiap ibadah, imam mempersembahkan doa atas nama mereka. 

Doa Litia & Doa St. Symeon

Pada Ibadah berjaga-jaga untuk Perayaan Agung atau orang-orang kudus tingkat tinggi, Litani Malam diikuti oleh "Litia," juga ditulis "Lity." Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani dan berarti “doa” atau “permohonan”. (Jika Litia tidak dirayakan sebagai bagian dari Ibadah berjaga-jaga, klerus tetap berada di altar, dan ibadah berlanjut dengan stichera Aposticha.) 

Litia dimulai dengan paduan suara menyanyikan stichera (syair) khusus untuk menghormati pesta atau orang kudus. Saat mereka bernyanyi, Imam dan pelayan keluar dari Utara ke narthex Gereja (Pintu Kerajaan tetap tertutup). Ada alasan khusus untuk lokasi bagian ibadah ini. Bagian tengah Gereja melambangkan Gereja di dunia, tetapi narthex melambangkan mereka yang belum bersatu dengan Gereja. Seorang ahli liturgi Rusia pra-revolusioner menulis, “Dalam Litia, Gereja melangkah keluar dari lingkungan yang diberkati dan, dengan tujuan misi ke dunia, ke dunia luar atau ke narthex, bagian dari gereja yang berbatasan dengan dunia ini. bagian yang terbuka untuk semua, termasuk mereka yang belum menjadi bagian dari Gereja atau dikecualikan dari Gereja. Dari sini muncul karakter universal doa Litia, merangkul semua orang.” Di beberapa waktu dan tempat, Litia bahkan dirayakan di luar Gereja. Benar, semua umat beriman akan keluar dengan Imam ke narthex atau di luar, tetapi karena kurangnya ruang di sebagian besar narthex modern, maka prosesi ini jarang dilakukan — hanya Imam yang meninggalkan Ruang Bahtera. 

Ketika paduan suara menyelesaikan stichera untuk Litia, Diakon melantunkan litani khusus lima permohonan yang lebih panjang dari biasanya, dimulai dengan doa panjang, “Ya Tuhan, Selamatkanlah Umat-Mu.” Di permohonan pertama ini, kita memohon agar Tuhan memandang dunia-Nya dengan belas kasihan dan welas asih, meninggikan tanduk (simbol kuasa dan kekuatan dalam Kitab Suci) orang-orang Kristen Orthodoks, dan mengirimkan kepada mereka rahmat-Nya yang melimpah melalui permohonan pada Theotokos dan daftar panjang orang-orang kudus. Ini mengingatkan kita bahwa Gereja terdiri dari orang-orang dari segala waktu dan tempat, bukan hanya mereka yang kebetulan hidup sekarang. Selain itu, kami menyeru mereka yang telah berhasil menyelesaikan perjalanan duniawi mereka untuk berdoa bagi kita, banyak saksi bagaikan awan yang Paulus tulis dalam surat kepada orang Ibrani. 

Dalam empat permohonan yang tersisa, kita berdoa untuk hierarki, seluruh Gereja dan Gereja lokal, bagi yang meninggal, dan otoritas sipil. Kita berdoa untuk dilindungi dari "murka, wabah penyakit, kelaparan, gempa bumi, banjir, api, perang, invasi asing, dan dari perang saudara, dan dari kematian mendadak ..." dan kita berdoa agar Tuhan mendengar kita orang berdosa dan mengasihani kita.

“Tuhan, kasihanilah” dinyanyikan berkali-kali setelah setiap permohonan ini (awalnya 40, 50, dan 30 kali untuk tiga petisi pertama, sekarang biasanya dikurangi menjadi 12 kali). Setelah seruan imam, ia kemudian mempersembahkan doa kepada Kristus melalui perantaraan Sang Theotokos dan daftar panjang orang-orang kudus (kadang-kadang dihilangkan): “...terimalah doa kami, ampunilah pengampunan-pelanggaran kami, lindungilah kami di bawah naungan dari sayap-Mu, usir setiap musuh dan lawan-lawan kami, berikan kedamaian dalam hidup kami, ya Tuhan. Kasihanilah kami dan dunia-Mu dan selamatkanlah jiwa kami, karena Engkau adalah maha baik dan maha mengasihi manusia.” 

Setelah doa ini, umat dan imam kembali ke ruang Bahtera sementara paduan suara menyanyikan stichera dari Aposticha memperingati hari raya atau orang suci, bergantian dengan ayat mazmur yang dilantunkan oleh reader. Imam berdiri di depan meja di mana lima roti (menggambarkan lima roti yang digunakan Kristus untuk memberi makan 5000 orang), gandum, anggur, dan minyak ditempatkan. Semuanya itu tetap di sana sampai setelah "Doa Bapa Kami" dibacakan dan troparia pembubaran telah dinyanyikan, dan kemudian imam memberkati roti, gandum, anggur, dan minyak. Kebiasaan kuno kemudian membagikan anggur dan roti untuk memperkuat umat beriman agar tetap menjalankan ibadah berjaga-jaga sepanjang malam ke depannya. Sekarang, roti yang dicelupkan ke dalam anggur dibagikan selama sembahyang singsing fajar ketika umat beriman datang untuk menghormati Injil atau ikon perayaan dan diurapi dengan minyak yang diberkati. 

Setelah Litia dan Aposticha adalah Doa St. Symeon, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan FirmanMu…” yang mengungkapkan tema terakhir dari sembahyang senja: akhir. Pada sembahyang senja harian, doa dibaca oleh reader, tetapi pada sembahyang senja agung dinyanyikan. Kata-kata doa ini keluar dari bibir St. Symeon Sang Pengemban Allah (Lukas 2:22-35). St Symeon telah menghabiskan seluruh hidupnya dengan harapan terus-menerus akan kedatangan Mesias, karena dia telah diberitahu dalam sebuah penglihatan bahwa dia tidak akan mati sebelum dia melihat Yang Dijanjikan bagi Israel. Ketika Maria dan Yusuf membawa Kanak-kanak Yesus untuk dipersembahkan kepada Allah di Bait Allah, dia ada di sana dan menerima bayi Kristus ke dalam pelukannya, dan mengucapkan kata-kata yang sekarang kita nyanyikan di sembahyang senja:

Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan FirmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel. 

St. Symeon telah menunggu sepanjang hidupnya, dan kemudian, akhirnya, bayi Kristus diberikan kepadanya: dia memegang Sang Kehidupan dunia di tangannya. Dia berdiri untuk seluruh dunia dalam harapan dan kerinduannya, dan kata-kata yang dia gunakan untuk mengungkapkan rasa syukurnya telah menjadi milik kita. Dia dapat mengenali Tuhan karena dia telah mengharapkan Dia; dia memeluk-Nya karena itu wajar untuk membawa seseorang yang kita cintai ke dalam pelukan kita; dan kemudian hidupnya yang penuh penantian telah digenapi. Symeon telah melihat Dia yang dia rindukan. Dia telah menyelesaikan tujuan hidupnya dan siap untuk mati. 

Tapi kematian St. Symeon bukanlah malapetaka. Itu hanya ekspresi alami dari penggenapan penantiannya. Dia tidak menutup matanya terhadap Cahaya yang akhirnya dia lihat; kematiannya hanyalah awal dari penglihatan Cahaya yang lebih dalam. Dengan cara yang sama, sembahyang senja adalah pengakuan bahwa malam dunia ini telah tiba, yang mengumumkan hari yang tidak memiliki malam. Di dunia ini, setiap hari menghadapi malam; dunia itu sendiri menghadapi malam. Itu tidak bisa bertahan selamanya. Namun Gereja menegaskan bahwa suatu malam bukan hanya akhir, tetapi juga awal, sama seperti setiap malam juga merupakan awal dari hari lain. Di dalam Kristus dan melalui Kristus, itu bisa menjadi awal dari kehidupan baru, dari hari yang tidak memiliki petang. Karena mata kita telah melihat keselamatan dan terang yang tidak akan pernah padam. Dan karena ini, waktu dunia ini sekarang mengandung kehidupan baru. Kita datang ke hadirat Kristus untuk mempersembahkan waktu kita kepada-Nya, kita mengulurkan tangan untuk menerima Dia, dan Dia mengisi waktu ini dengan diri-Nya sendiri. Dia menyembuhkannya dan menjadikannya—berulang kali—di dalam waktu keselamatan. 

Setelah Doa St. Symeon, Reader melantunkan Doa Trisagion melalui "Doa Bapa Kami". Saat seruan, lampu dinyalakan dan Pintu Kerajaan dibuka. kidung “Lebih terhormat dari Kerubim …” dinyanyikan tiga kali. (Pada sembahyang senja Agung yang disajikan sendiri, kidung ini tidak digunakan, melainkan mengunakan troparion dan theotokion pembubaran sesai dengan iramanya.) Jika Litia dilakukan, Diakon sekarang mendupai roti, gandum, anggur, dan minyak dan Imam membacakan doa berkat . Dia kemudian melakukan pembubaran dan kembali ke altar. Pintu Kerajaan ditutup, Gereja digelapkan, dan bel berbunyi untuk mengumumkan dimulainya sembahyang singsing fajar.  

Sembahyang Singsing Fajar: Enam Mazmur

Setelah bagian Sembahyang Senja dari ibadah berjaga-jaga Sepanjang Malam (sekitar 40 menit dalam latihan paroki), bagian kedua dimulai: Sembahyang Singsing Fajar yang adalah ibadah harian Gereja untuk doa pagi. Ini menggabungkan dua tema: akhir malam, dan awal hari. Malam adalah gambaran kematian. Malam adalah ketika orang-orang Kristen mula-mula berdoa secara khusus dalam antisipasi eskatologis mereka tentang kembalinya Kristus dan Kerajaan Kekal. Malam telah ditaklukkan dan kematian digulingkan. Malam adalah realitas dunia tanpa Kristus; yang memberi manusia perasaan kacau, takut, tidak aman. 

Hanya Firman Tuhan yang membawa kita keluar dari malam. Cahaya hanya datang dari Tuhan. Terang selalu berasal dari Tuhan, karena tidak ada kegelapan di dalam Tuhan. Terang hari adalah kebangkitan setiap pagi. Sembahyang singsing fajar merayakan kemenangan atas malam ini—kebangkitan cahaya—dan kebaikan Tuhan karena tidak meninggalkan kita dalam kegelapan kekal. 

Pada ibadah berjaga-jaga Sepanjang Malam, sembahyang singsing fajar dimulai dengan Enam Mazmur, atau "Hexapsalms," seperti yang kadang-kadang disebut: lampu padam, lonceng berbunyi, dan reader berdiri di tengah-tengah gereja dengan lilin menyala untuk menerangi dalam membaca. Ketika lilin (kecuali kandili di depan ikon; di kebanyakan tempat, bagaimanapun, hanya lampu listrik yang diredupkan atau dimatikan) secara bertahap padam, kita mengalami dalam kegelapan malam yang gelap dimana Kristus masuk pada saat kedatangan-Nya. 

Rubrik mengarahkan agar Enam Mazmur dibaca perlahan, tanpa tergesa-gesa. Baik Reader maupun umat harus membaca dan mendengar kata-kata itu seolah-olah mereka sedang berdoa langsung kepada Tuhan sebagai doa. Ini adalah waktu untuk keheningan dan konsentrasi, dan setiap orang, jika memungkinkan, harus berdiri dengan penuh perhatian selama membaca mazmur. Rubrik bahkan mencatat bahwa membungkuk tidak boleh dilakukan setelah tiga mazmur pertama selama Kemuliaan…. Haleluya...Kemuliaan. Semuanya hening, gelap, dan tidak bergerak untuk memfasilitasi konsentrasi saat kita berusaha masuk ke dalam mazmur dan menjadikan doa Pemazmur milik kita sendiri. 

Enam Mazmur dimulai dengan pengulangan tiga kali lipat dari kidung paduan suara malaikat pada Kelahiran Kristus: " Kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi, dan damai di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.," diikuti oleh ayat yang diulang dari Mazmur 50: " Ya Tuhan, bukalah bibirku, dan mulutku akan mengucapkan pujian-Mu.” Kristus dilahirkan ke dalam dunia kita yang gelap dan jatuh untuk menunjukkan kepada kita jalan yang dengannya kita dapat kembali kepada Allah di tempat yang tinggi dan menemukan kedamaian dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain 

Enam Mazmur (3, 37(38), 62 (63), 87 (88), 102 (103), 142 (143)) mewakili sejarah pertentangan malam dengan siang. Mazmur ini mengungkapkan seluruh rentang pengalaman dan doa dalam kehidupan Kristen. Mereka bergantian antara keyakinan dan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan pembebasan-Nya, dan seruan putus asa kepada Tuhan dari mereka yang berada dalam kesusahan, kegelapan, perbudakan, dan penderitaan. Dengan demikian, tema-tema itu berganti-ganti antara keselamatan yang diaktualisasikan dan keselamatan potensial, dan suasana yang menyeluruh adalah pertobatan. 

Mazmur pertama dari Enam Mazmur yaitu Mazmur 3 mengungkapkan keyakinan kepada Tuhan ketika manusia berseru kepada Tuhan untuk meminta pertolongan melawan musuh yang jumlahnya berlipat ganda yang mengatakan bahwa Tuhan tidak dapat menyelamatkannya. Musuh-musuh ini pertama-tama adalah nafsu dosa dari jiwa kita dan iblis yang bekerja untuk menggerakkan mereka (hanya kedua adalah manusia yang mungkin menentang kita). “Tuhan tidak bisa menyelamatkanmu dari kami,” mereka mengejek. Tapi ini bohong, karena manusia telah berseru kepada Tuhan, yang mendengarnya, dan melindunginya sehingga dia bisa tidur dan bangun lagi. Dengan Tuhan di sisinya, dia tidak perlu takut terhadap sepuluh ribu musuh. Orang yang berbicara dalam Mazmur adalah Kristus pertama-tama, manusia-Allah, tetapi juga kita dalam peperangan rohani kita sendiri. Mendoakan Mazmur ini memungkinkan kita untuk berseru kepada Tuhan melawan kemungkinan besar tanpa putus asa, mengetahui bahwa Dia akan menyelamatkan kita. 

Di akhir setiap mazmur, satu atau dua ayat dari mazmur diulang untuk mengakhiri mazmur dan untuk meringkas isinya. Untuk Mazmur 3, ayat yang diulang adalah “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!” Kata kerja "menopang" secara harfiah berarti "berlari ke" atau "berlari untuk mendukung" dan karenanya memiliki arti yang lebih lengkap "untuk menolong atau meringankan ketika dalam kesulitan, kebutuhan atau kesusahan." Tidur itu sendiri adalah gambaran kematian; ketika kita tenggelam ke dalam tidur kematian rohani melalui dosa, ketika musuh rohani kita telah menang melawan kita dan berlipat ganda sehingga mereka terlalu banyak untuk dikalahkan, Tuhanlah yang membangkitkan kita kembali ke kehidupan dan kesadaran bahwa kita dapat melanjutkan pertarungan. 

Mazmur kedua dari Enam Mazmur adalah Mazmur 38 merupakan seruan pertobatan kepada Tuhan dalam menghadapi kesusahan, keletihan, dan penderitaan yang disebabkan oleh dosa-dosa kita, bahkan sampai kehilangan sumber pertolongan manusiawi kita yang biasa dari sesama dan sahabat-sahabat kita. Ayat yang diulang-ulang itu merangkum sikap kita terhadap Tuhan: “Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku! Segeralah menolong aku, ya Tuhan, keselamatanku! 

Mazmur ketiga adalah Mazmur 63 kembali ke tema keselamatan yang diwujudkan dan rasa syukur manusia untuk itu. Manusia bangun pagi-pagi (untuk sembahyang singsing fajar) untuk mencari Tuhan dalam kehausannya yang besar akan Dia. Apa yang Tuhan tawarkan kepadanya jauh lebih baik daripada kehidupan itu sendiri. Ayat yang diulang menyatakan: “Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, -- 7 (63-8) sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku..” 

Sekarang, di tengah-tengah Enam Mazmur, Reader mengucapkan, “Kemuliaan bagi Sang Bapa... sekarang dan selalu serta sepanjang segala abad... Haleluya, haleluya, haleluya, kemuliaan bagi-Mu, ya Allah [3X], Tuhan kasihanilah [3X], Kemuliaan ... sekarang dan selalu serta sepanjang segala abad...” dan tiga mazmur terakhir. Dalam tradisi Rusia, umat tidak membungkuk penuh selama jeda ini; seseorang hanya memnbuat tanda salib dan sedikit mencondongkan kepala. Dalam tradisi Yunani, umat tidak membungkuk atau membuat tanda salib sama sekali. 

Selama jeda ini, Presbiter keluar dari pintu selatan dan berdiri tanpa penutup kepala di depan Pintu Kerajaan, hanya mengenakan riasa dan epitrachelionnya, untuk melafalkan 12 doa sembahyang singsing fajar dengan suara pelan bagi mereka yang hadir, mewakili lagi manusia yang jatuh yang berdiri di luar Firdaus dalam kegelapan dunia yang jatuh, berseru kepada Satu-Satunya yang bisa membebaskannya. 

Mazmur keempat dari Enam Mazmur adalah Mazmur 88 mungkin yang paling gelap, menunjukkan manusia dalam keputusasaan dan kebutuhan terbesarnya. Manusia berseru “karena jiwaku dipenuhi dengan kejahatan dan hidupku hampir seperti neraka.” Manusia merasakan beratnya penolakan ketidaksenangan Allah atas dosa-dosanya, seperti apa yang Kristus alami ketika Dia berseru di kayu Salib, “AllahKu AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Namun dalam keputusasaan dan kelemahan terbesar kita, bahkan ketika tampaknya Allah telah menutup telinga-Nya kepada kita dan meninggalkan kita, kita masih berseru kepada Tuhan, seperti yang diungkapkan oleh ayat yang berulang: “TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau. Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;” 

Begitu manusia berada di kedalaman lubang, ketika keselamatan akhirnya datang, tanggapannya adalah sukacita, dan sukacita ini diungkapkan dalam Mazmur kelima yaitu Mazmur 103. Jika Mazmur keempat adalah yang paling gelap dari Enam Mazmur, maka yang kelima adalah yang paling menyenangkan; memang, itu adalah Mazmur pertama yang dinyanyikan selama Liturgi Ilahi (antifon pertama). “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! ” Bagaimana mungkin manusia tidak bersukacita ketika Tuhan telah menyembuhkan dia, memberinya segala hal yang baik, dan menghapus pelanggaran dari padanya "sejauh timur dari barat." Ayat yang diulang di akhir Mazmur menyatakan bagaimana seharusnya tanggapan kita terhadap kebaikan Tuhan: “Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!” 

Mazmur terakhir adalah Mazmur 143 kembali ke seruan manusia untuk memohon pertolongan bantuan kepada Tuhan, tetapi itu diwarnai dengan iman dan harapan. Musuh telah menganiayaku, merendahkanku, dan membuatku duduk dalam kegelapan. aku sedih. Jangan menghakimiku, karena tidak ada yang dapat berdiri dengan layak di hadapan Hakim yang adil. “Dengarkan aku dalam kebenaran-Mu, ya Tuhan, dan jangan mengukum hamba-Mu ini. Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku ke tanah kebenaran.” Seperti yang Yesus katakan kepada murid-murid-Nya, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33). Kehidupan Kristen berganti-ganti antara saat-saat kesulitan, kesengsaraan, dan kesusahan, dan saat-saat sukacita, kedamaian, dan kesejahteraan. Setiap kali kita melewati lembah, itu harus dengan iman yang lebih dalam kepada Kristus daripada yang kita miliki sebelumnya, dan meskipun kita menderita, penderitaan kita diringankan oleh pengalaman kita sebelumnya tentang kebaikan dan pembebasan Tuhan, karena kita tahu bahwa penderitaan dan kesengsaraan tidak dapat dihindari dalam hidup ini, tetapi Allah menebusnya untuk mengerjakan kebaikan-Nya dalam hidup kita melaluinya, agar Kristus dapat dibentuk di dalam kita. Demikianlah Enam Mazmur berisi rangkaian lengkap pengalaman dan doa bagi orang Kristen, itulah sebabnya kita dipanggil untuk memperhatikannya dengan cermat dan masuk ke dalamnya di sembahyang singsing fajar. 

Sembahyang Singsing Fajar: Litani Agung untuk Kidung Kathisma

Di akhir Enam Mazmur, Diakon keluar dari tempat kudus untuk melantunkan Litani Agung (dibahas sebelumnya pada Sembahyang Senja di atas) di depan Pintu Kerajaan, dan Imam memasuki kembali tempat kudus. Setelah Litani, Diakon membuat pernyataan khusyuk, “Allah itulah Tuhan dan telah menyatakan diri-Nya kepada kita. Terberkatilah Dia yang datang di dalam nama Tuhan.” Pada Ibadah Kawal Malam Kebangkitan, 'Allah itulah Tuhan' kemudian dinyanyikan oleh paduan suara dengan nada troparion minggu yang bersangkutan. 

Bagian pertama dari proklamasi ini diambil dari Mazmur 118, dan bagian kedua dari Injil (Mat 21:9; Luk 13:35). Semua ayat berasal dari mazmur. Dengan menggabungkan mazmur dengan Injil secara sengaja, nubuat dan penggenapannya menjadi jelas. "Tuhan" mengacu kepada untuk Kristus; Dia adalah Allah dan telah datang kepada kita dalam nama Sang Bapa untuk keselamatan kita. Tuhan, Allah Israel, telah menyatakan diri-Nya dan diam di antara kita dalam pribadi Putra-Nya, Yesus Kristus. 

Kata-kata ini sungguh-sungguh, tetapi paling menggembirakan. Dalam kata-kata anafora dari Liturgi Ilahi, Allah itu “tak terungkapkan, tak terbayangkan, tak terlihat, tak bisa dipahami, selalu ada, dan selalu sama selamanya.” Tetapi dalam pribadi Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah Allah, kepenuhan keilahian berdiam dan dinyatakan kepada kita. Demikianlah Kristus dapat berkata kepada Filipus, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” 

Pernyataan ini dibuat di Sembahyang Singsing Fajar, pada fajar hari baru, karena manifestasi Allah dalam daging membawa terang hari baru ke dunia yang gelap.

Troparion yang tepat yang mengikuti "Allah itulah Tuhan." Pada Ibadah Kawal Kebangkitan, biasanya troparion Kebangkitan dalam irama minggu akan dinyanyikan dua kali, diikuti oleh Kemuliaan..., troparion dari Menaion untuk orang suci, Sekarang dan selalu..., dan theotokion dalam irama minggu. 

Bacaan kathisma dari Mazmur mengikuti. Dua kathisma yang ditetapkan untuk Sembahyang Singsing Fajar Kebangkitan, yang kedua (Mazmur 9-16) dan yang ketiga (Mazmur 17-23). Praktek paroki lokal biasanya menyingkatnya atau menhilangkannya sama sekali. (Praktek lokal kita adalah membaca satu stasis, biasanya Mazmur 11-13). Setiap kathisma diikuti oleh sebuah Litani Kecil dan dua kidung kathisma, yang bertemakan Kebangkitan, dipisahkan oleh sebuah syair Mazmur, dan diikuti oleh Kemuliaan...sekarang dan selalu...dan sebuah Theotokion. Kidung kathisma (atau sesi) ini merenungkan makam kosong dari sudut pandang para prajurit, para wanita pembawa rempah wangi, Maria Magdalena, dan para Malaikat, dan juga pemandangan di Hades di bawah ketika Manusia-Allah turun ke tempat kematian itu. Kuburan kosong di permukaan bumi yang direnungkan oleh para pembawa rempah wangi dan para rasul tidak hanya mewartakan kebangkitan pribadi Kristus, tetapi juga menggambarkan Neraka (Hades) setelah dikunjungi oleh Kristus: telah dikosongkan dari setiap jiwa yang benar dan tidak memiliki sifat bawaan. hak atau kuasa untuk menahan jiwa apapun mulai sekarang. Setiap kuburan di bumi suatu hari nanti akan menyerupai kuburan Kristus: itu akan kosong, karena setiap manusia yang pernah hidup dibentuk kembali sebagai manusia melalui penyatuan jiwa dan tubuhnya sehingga ia dapat berdiri di hadapan takhta penghakiman Kristus yang menakutkan untuk memberikan tentang bagaimana dia hidup dalam tubuh di bumi. 

Polieleon & Pengagungan

The Polyeleon (berarti “belas kasihan yang banyak'), terdiri dari Mazmur 135 dan 136, adalah bagian paling meriah dari Sembahyang Singsing Fajar. Mazmur ini memuliakan Allah atas kebesaran belas kasihan-Nya yang ditunjukkan kepada umat-Nya di zaman dahulu ketika Dia membawa Israel keluar dari tanah Mesir dan masuk ke Tanah Perjanjian. Setiap umat Israel baru, setiap orang Kristen, mengidentifikasi dirinya dengan Keluarnya Israel dari perbudakan di Mesir dan perjalanan melalui Laut Merah sebagai tanda pembebasannya sendiri dari perbudakan dosa melalui Pembaptisan dan Krisma. 

“Pujilah nama Tuhan: pujilah Dia hai hamba-hamba Tuhan. Haleluya, haleluya, haleluya! Segala puji bagi Allah di Sion, Dia yang diam di Yerusalem. Haleluya, haleluya, haleluya! Mari kita mengaku kepada Tuhan, karena Dia itu baik, karena belas kasihan-Nya untuk selama-lamanya. Haleluya, haleluya, haleluya! Mari kita mengaku kepada Allah atas surga, karena belas kasihan-Nya untuk selama-lamanya. Haleluya, haleluya, haleluya!” 

Biasanya, hanya beberapa syair dari dua Mazmur yang dinyanyikan: mungkin paling sering (dan minimal) empat (pertama dan terakhir dari setiap mazmur), tetapi setiap syair diikuti oleh reff yang menggembirakan dari “Haleluya” tiga kali lipat. Secara lokal, kami menyanyikan versi yang lebih panjang untuk pesta perayaan dan versi lengkap ketika kami melakukan Ibadah berjaga-jaga Sepanjang Malam secara harfiah. 

Saat ayat-ayat ini dinyanyikan, semua lampu dan lilin di gereja dinyalakan, Pintu Kerajaan dibuka, dan jika itu adalah Pesta Besar, ikon pesta dibawa ke tengah gereja dimana Imam menempatkan pada analogion dan kemudian mendupainya. Jika bukan Pesta Besar, imam tetap melakukan pedupaan di depan altar. Pendupaan ini dilakukan dengan kedua Imam dan Diakon membawa lilin seperti pada awal Ibadah berjaga-jaga.

Jika Ibadah berjaga-jaga/Vigil adalah ibadah berjaga-jaga untuk Kebangkitan yang berlangsung dalam tiga minggu persiapan Prapaskah Agung (Minggu Anak yang Hilang melewati Minggu Selamat Tiggal Keju/ Cheesefare), Mazmur 137 (“Di Tep Sungai-sungai Babel”) ditambahkan.

Polyeleos tidak diwajibkan di setiap Ibadah berjaga-jaga/Vigil, meskipun biasanya selalu dilakukan. Jika tidak ditentukan, Mazmur 119—mazmur terpanjang—digantikan. Mazmur ini, yang memuji hukum Allah, menggambarkan Kristus sendiri dalam penyerahan total kepada kehendak Bapa-Nya, bahkan sampai mati. Nyanyian Mazmur 119 merupakan kehidupan nyata manusia di dalam Tuhan, yaitu ketaatan kepada ketetapan-Nya yang memberi kehidupan. Kematian Kristus dalam sejarah adalah tindakan hidup yang terbesar. Nyatanya, hidup adalah mengatakan, “Aku mencintai ketetapan-ketetapan-Mu.” 

Sangat disayangkan Mazmur yang memuji keagungan dan berkah hukum Tuhan ini seringkali disingkat atau bahkan dihilangkan dari ibadah kita, karena memberikan kita penilaian yang akurat tentang hukum Tuhan yang dapat menjadi penangkal sikap negatif terhadap hukum Tuhan yang menimpa kita. beberapa dari kita. 

Mazmur ini juga merupakan bagian penting dari upacara pemakaman, meskipun biasanya disingkat. Ini digunakan pada pemakaman karena merupakan himne Kebangkitan, yang merupakan tema utama pemakaman Kristen. 

Satu ayat dari Mazmur 119, “Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku,” terdiri dari refrein yang familiar di bagian berikutnya dari Sembahyang Singsing Fajar: Evlogitaria atau 'Troparia of the Undefiled.' Mereka mengambil nama mereka dari ayat pertama dari Mazmur 119: “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.” Sejumlah troparion bertema Kebangkitan dilantunkan, masing-masing dilanjutkan dengan refrein, “Blessed at Thou...” Misalnya, yang ketiga: 

“Pagi-pagi sekali para pembawa rempah-rempah wangi berlari dengan sedih ke makam-Mu. Tetapi seorang malaikat datang kepada mereka dan berkata: “Waktu untuk bersedih telah berakhir; jangan menangis tetapi sampaikan pada para Rasul akan kebangkitan. Mubaraklah Engkau Tuhan, ajarlah aku dengan perintah-perintahMu.” 

Saat Troparia bagi Yang terMurni dinyanyikan, Imam, ditemani oleh Diakon, mendupai seluruh ruangan Gereja dan umat.

Ada kehidupan dan berkat dalam memelihara hukum Tuhan, dan jalan ketetapan Tuhan membawa kita ke partisipasi kita dalam Kebangkitan. Mengabaikan kehendak Allah yang dinyatakan dalam hukum-Nya berarti bunuh diri. 

Jika Ibadah berjaga-jaga/Vigil sedang dilakukan untuk Pesta Perayaan Besar, Troparion bagi yang Termurni, yang memuliakan Kebangkitan, tidak diambil. Sebagai gantinya, sebuah himne yang memuliakan orang suci atau pesta yang dikenal sebagai Pengagungan diambil, yang dimulai dengan kata-kata, “Kami membesarkan, kami mengagungkan Engkau …” Praktek ini tidak ditemukan dalam penggunaan tradisi Yunani, tetapi hanya dalam tradisi Slavia. Imam mengucapkan ini di depan ikon yang sesuai. Dia kemudian melakukan pendupaan Gereja yang agung seperti di atas sementara paduan suara mengulangi Pengagungan dengan bait-bait mazmurnya beberapa kali. Jika seluruh mazmur yang ditentukan digunakan, Pengagungan bisa memakan waktu hampir setengah jam! Bagian dari SEmbahyang Singsing Fajar/Matin ini diikuti oleh Litani Kecil dengan seruannya. 

Kidung Arak-arakan Injil

Setelah menyanyikan “Mubaraklah Engkau Tuhan ajarlah aku dengan perintah-perintahMu” (atau Pengagungan saat Ibadah Berjaga-jaga), tibalah pada Kidung Arak-arakan Injil, atau dikenal sebagai Nyanyian Pendakian (Anabathmoi). Kidung-kidung ini (Mazmur 120-134) adalah bagian paling meriah dari liturgi Yahudi dan telah digunakan oleh Gereja sejak awal. Masing-masing dari delapan Irama untuk hari Minggu memiliki Kidung-arak-arakan yang berbeda. Yang paling terkenal adalah Hymn of Ascent yang meriah dengan irama keempat: "Dari masa mudaku, banyak nafsu telah berperang melawan aku ..." Kidung ini umumnya berpusat pada Roh Kudus dan mengacu pada kathisma kedelapan belas dari Mazmur, Psalms 120-134, untuk inspirasi tematik mereka. 

Dilanjutkan dengan Prokeimenon, diumumkan oleh Diakon. Ini adalah Mazmur pilihan yang tepat untuk memahami pesta atau bagian dari kebaktian itu. Tema utama prokeimenon Sembahyang Singsing Fajar MInggu adalah Kebangkitan, karena hari Minggu selalu merupakan hari Kebangkitan, sebuah “Paskah Kecil.” Saat ini, hanya ayat kunci dari Mazmur yang dinyanyikan, (dan yang lain dibaca oleh Reader) sebuah praktik yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap orang Kristen yang baik mengetahui Mazmur sedikit banyak di dalam hati dan dapat, setelah mendengar prokeimenon, mengingat seluruh Mazmur. ke pikiran. Prokeimenon Sembahyang Singsing Fajar juga merupakan persiapan untuk pembacaan Injil dan dinyanyikan dalam irama minggu ini. 

Irama 1: sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya. (Mzm. 12:5)

Irama 2: Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu, berdirilah menghadapi geram orang-orang yang melawan aku, bangunlah untukku, ya Engkau yang telah memerintahkan penghakiman! (Mzm. 7:6)

Irama 3: Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. (Mzm 96:10)

Irama 4: Bersiaplah menolong kami, bebaskanlah kami karena kasih setia-Mu! (Mzm. 44:26)

Irama 5: Bangkitlah, TUHAN! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu,, TUHAN adalah Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya.. (Mzm. 10)

Irama 6: Bangkitlah Ya Tuhan, di dalam kuasaMu dan selamatkanlah kami. (Mzm 21:13)

Irama 7: Bangkitlah, TUHAN! Ya Allah, ulurkanlah tangan-Mu, janganlah lupakan orang-orang yang tertindas. (Mzm. 10:12)

Irama 8: TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun (Mzm 146:10) 

Kata "prokeimenon" berasal dari bahasa Yunani, yang berarti, "apa yang telah ditetapkan," yaitu, apa yang ditetapkan untuk dibaca. Dan itu selalu diambil dari Mazmur. 

Seruan imam dan "Biarlah segala sesuatu yang bernafas memuji Tuhan" mengikuti prokeimenon. Kemudian Diakon berseru, “Agar kita terhitung layak untuk mendengarkan Injil Suci, mari kita memohon kepada Tuhan, Allah kita.” Mampu mendengar Injil, yang menyiratkan penerimaan dan ketaatan, adalah karunia yang tidak bisa dianggap enteng. Hal ini tidak otomatis. Oleh karena itu, sebelum kita mendengar Injil, kita berdoa agar Tuhan melayakkan kita untuk mendengarnya, memahaminya, dan melakukannya, daripada hanya mendengarkan kata-kata dan tidak menanggapinya. 

Siklus Sebelas Injil Kebangkitan dalam Sembahyang Singsisng Fajar, yang dibacakan setiap Sabtu malam di Vigil, memperpanjang perayaan Paskah sepanjang tahun. Injil Sembahyang Singsing Fajar dibaca dari Pintu Kerajaan ikonostasis, sebuah rubrik upacara yang mungkin berasal dari Gereja Yerusalem. Sudah sejak abad ke-4, Injil Kebangkitan tidak dibaca dari Ambo, tetapi dari Makam, seolah-olah selebran, yang berdiri di pintu masuk Makam, akan berpaling kepada umat beriman seperti Malaikat kepada para wanita: “Kamu datang untuk mencari Yesus, tetapi Dia tidak ada di sini, Dia telah bangkit!” Dalam tradisi Yunani, Injil Kebangkitan dibaca di altar (yang melambangkan makam), dari sisi kanan, karena catatan Injil memberi tahu kita bahwa Malaikat berdiri di sebelah kanan dan mengumumkan Kebangkitan. 

Penampakan berturut-turut dari Tuhan yang bangkit adalah pokok bahasan dari Sebelas Injil Sembahyang Singsing Fajar. Siklus reguler Injil Kebangkitan dimulai dengan hari Minggu pertama setelah Pentakosta; urutan tujuh hari Minggu Paskah sedikit berbeda. 

Pembacaan Injil bukan sekedar pembacaan suatu pelajaran, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan pemberitaan Injil. Setelah Injil dibacakan, Injil dibawa keluar untuk dihormati oleh umat beriman ke tengah gereja dalam prosesi khusyuk saat menyanyikan kidung “Setelah Melihat Kebangkitan Kristus.” Kami sendiri telah menjadi saksi mata Kebangkitan Tuhan. Khotbah membuat Kristus hadir, tetapi Sembahyang Singsing Fajar tidak memiliki khotbah karena seluruh kebaktian adalah khotbah. Semua mengarah pada Injil. Semua yang diikuti adalah dari Injil. Injil adalah Kehadiran Tuhan yang Bangkit. 

Peran Kitab Injil dalam Vigil Kebangkitan adalah peran Ikon Perayaan. (Memang, ikon kecil Kebangkitan ada di bagian depan Kitab Injil.) Penggunaan ikon secara liturgi berasal dari penggunaan liturgi akan Injil, karena ikon pertama Kristus Sang Sabda adalah Kitab Injil.

 Injil ke Kanon

Setelah pembacaan Injil pada Malam Kebangkitan, paduan suara memimpin umat dalam menyanyikan "Setelah melihat Kebangkitan Kristus" ketika imam berdiri di ambon, memegang Kitab Injil di depan wajahnya. Mendengar kata-kata, “Datanglah, kamu semua umat beriman,” dia turun dan membawa Injil ke tengah Ruang Bahtera untuk dimuliakan. 

Setelah menyanyikan kidung yang agung ini, salah satu momen paling meriah dari Sembahyang Singsing Fajar, pembaca melantunkan Mazmur 51. Jadi, di tengah merayakan “kegembiraan datang ke dunia”, kita menyadari betapa jauhnya kita kehilangan karunia yang membawa sukacita. Kita ingat bahwa tanggapan yang tepat terhadap pewartaan Injil adalah dengan pertobatan, seperti yang dikhotbahkan oleh Yohanes Pembaptis dan Kristus, “Bertobatlah, karena Kerajaan Allah sudah dekat.” Demikianlah kami berseru dalam kata-kata Daud, “Kasihanilah aku, ya Tuhan,” agar kami dapat lebih sepenuhnya menerima Kerajaan. 

Mazmur 51 diikuti dengan menyanyikan beberapa kidung singkat yang mengulangi doa Mazmur dan kemudian Doa Syafaat yang agung, yang dimulai dengan kata-kata, “Ya Tuhan, selamatkan umat-Mu.” Doa memohon Tuhan untuk memandang dunia-Nya "dalam belas kasihan dan welas asih," untuk menurunkan kepada kita "rahmat-Nya yang melimpah," dan untuk "meninggikan tanduk orang-orang Kristen Orthodoks." "Tanduk" adalah simbol kekuatan dan kemenangan Alkitab, jadi doa pada dasarnya memohon Tuhan untuk memberi kita kemenangan dalam perjuangan melawan dosa dan iblis. Permohonan ini dibuat "melalui syafaat kepada Sang Theotokos" dan daftar panjang orang-orang kudus, yang dapat bervariasi sesuai dengan kebiasaan setempat. Doa ini dengan jelas menunjukkan kesatuan Gereja. Kita yang masih di bumi bergabung dalam doa dengan mereka yang sudah ada di Surga. Mereka yang di Surga berdoa bersama dan bagi kita yang masih berjuang di bumi. Bersama orang-orang kudus di Surga dan di bumi, bersama dengan para Malaikat Suci, memuliakan Tuhan Yang Esa dalam Tiga Pribadi. 

Doa ini diikuti oleh kanon, di mana orang-orang biasanya datang untuk memuliakan Injil dan menerima berkat imam. 

Kanon pada dasarnya adalah komposisi musik. Itu diciptakan untuk menjadi semacam simfoni. Biasanya hari ini, hanya troparion pertama dari setiap Ode, yang dikenal sebagai Irmos, yang dinyanyikan, dan sisanya dilantunkan oleh pembaca, tetapi awalnya, semuanya dinyanyikan. 

Musik dalam ibadah itu penting. Bernyanyi adalah komunikasi nyata antara Allah dan Manusia. Kata-kata, di sisi lain, adalah fungsi manusia yang jatuh di dunia yang telah jatuh. Logos, Firman, dikombinasikan dengan musik, memiliki kekuatan yang besar. Musik instrumental tidak digunakan di Gereja karena instrumen membuat musik tanpa Firman, dan bahkan ketika Firman ditambahkan ke musik instrumental, instrumen cenderung menguasai Firman. Bagaimanapun, Gereja menganggap suara manusia sebagai instrumen tertinggi dan paling mulia untuk membuat musik. Semua ini menunjukkan mengapa Injil tidak dibaca dengan suara percakapan, dan, pada kenyataannya, mengapa semua kebaktian di Gereja dinyanyikan atau dikidungkan dan tidak diucapkan. Hanya khotbah yang diucapkan. Seluruh Liturgi Gereja bersifat musik secara alami, menggemakan paduan suara Malaikat Surgawi. 

Pada setiap ibadah sembahyang Singsing Fajar, beberapa kanon dinyanyikan. Pada sembahyang Singsing Fajar Kebangkitan, biasanya empat kanon ditetapkan: satu untuk Kebangkitan, satu untuk Salib dan Kebangkitan, satu untuk Theotokos, dan satu untuk Orang Suci pada hari itu. 

Setiap kanon terdiri dari sembilan “ode”. Setiap ode didasarkan pada bagian Alkitab dan berisi kidung tambahan yang disebut troparion di antaranya diselingi seruan yang sesuai dengan kanon, seperti "Kemuliaan bagi Kebangkitan-Mu, ya Tuhan!" " Sang Theotokos tersuci selamatkan kami!" atau “Bapa Maximus, doakanlah kami kepada Tuhan!” Ode kedua akhirnya dibatalkan karena panjangnya dan karena hanya penting ketika kanon dinyanyikan. Setelah ode ketiga dan keenam, Litani Kecil muncul dan kidung khusus. Antara ode kedelapan dan kesembilan, Magnificat dinyanyikan, yang sebenarnya adalah perikop Alkitab yang menjadi dasar ode kesembilan (Lukas 1:46-55, 68-79): Lagu sukacita Maria bagi Allah ketika dia bertemu sepupunya Elizabeth setelah Penyampaian Kabar Baik. Hal ini disertai dengan pendupaan agung gereja. Magnificat dinyanyikan di hampir setiap ibadah sembahyang Singsing Fajar kecuali di Dua Belas Pesta Perayaan Besar. 

Ode kesembilan dari setiap kanon selalu didedikasikan untuk Sang Theotokos. Ode lainnya didedikasikan untuk berbagai Orang Suci Perjanjian Lama, yang sering dijadikan rujukan dalam irmos ode tersebut. Ode pertama (Keluaran 15:1-9) didedikasikan untuk Musa dan penyeberangan Laut Merah; yang kedua, (bila digunakan: Ulangan 32:1-43)) juga untuk Musa; yang ketiga (I Raja-raja 2:1-10) untuk Hana, ibu dari Nabi Samuel, yang keempat (Habakuk 3:2-19) untuk Nabi Habakuk, yang kelima (Yesaya 26:9-20) untuk Nabi Yesaya, keenam (Yunus 2:3-10) kepada Nabi Yunus, ketujuh (Daniel 3:26-56 LXX) dan kedelapan (Daniel 3:57-88 LXX) kepada Tiga Pemuda Kudus, yang dikenal dengan nama Babilonia mereka: Sadrakh, Meshach, dan Abednego Meskipun beberapa tema dari Ode Biblikal terkandung di setiap irmos, Ode Biblikal sendiri sekarang tidak digunakan kecuali pada hari kerja selama Masa Prapaskah Agung. 

Kanon berisi materi theologis yang kaya yang mengungkapkan makna batin dari pesta-pesta Gereja dan kehidupan para Orang Suci. Troparion yang dinyanyikan dalam Liturgi yang diselingkan di antara Sabda Bahagia biasanya diambil dari ode ketiga dan keenam dari satu atau lebih kanon untuk Sembahyang Singsing Fajar

Kanon seringkali merupakan waktu yang sulit bagi mereka yang berada di Vigil. Tidak ada gerakan, Pintu Kerajaan ditutup, gereja dalam kegelapan, dan hanya paduan suara dan pembaca yang melakukan apa pun. Namun, ini adalah waktu bagi umat beriman untuk waspada dan berjaga-jaga dengan mendengarkan troparion dengan penuh perhatian dan menyanyikan seruan di antara mereka. Ada banyak interpretasi Alkitab yang disampaikan selama kanon kepada mereka yang mendengarkan. Adalah normal untuk berdiri selama kanon, tetapi penyakit atau kelelahan mungkin membuat kita melakukan sebaliknya. 

Komposer kanon yang paling terkenal adalah Js. Yohanes dari Damaskus, Js. Kosmas dari Maiouma, dan Js. Andreas dari Kreta, yang menulis Kanon Pertobatan Agung yang digunakan dalam Masa Prapaskah Agung. 

Exapostilarion ke Jam Pertama

Pada akhir kanon, sebuah Litani Kecil diambil, diikuti oleh "Kuduslah Tuhan Allah kita" dan Exapostilarion, juga dikenal sebagai "Nyanyian Terang". Ini adalah kidung pendek yang dinyanyikan setelah Kanon, dan namanya berarti “pengiriman.” Awalnya seorang pengidung dikirim dari paduan suara untuk menyanyikan solo di tengah bahtera yang berfungsi sebagai semacam kidung pembubaran. Sebuah exapostilarion tertentu ada untuk setiap pesta. Exapostilarion untuk hari Minggu adalah “Kuduslah Tuhan, Allah kita.” Sebuah exapostilarion tambahan untuk Sembahyang Singsing Fajar Minggu menjelaskan Injil Sembahyang Singsing Fajar. Oleh karena itu ada sebelas dari exapostilaria ini, satu untuk masing-masing dari sebelas Injil Kebangkitan Sembahyang Singsing Fajar. Exapostilarion paling terkenal sepanjang tahun adalah "Si Pencuri yang bijaksana," dinyanyikan di Sembahyang Singsing Fajar Jumat Agung dan Kudus. 

“The Praises,” yang mengikuti Exapostilarion, menandai awal dari bagian ketiga dan terakhir dari Sembahyang Singsing Fajar. Pujian terdiri dari Mazmur 149, 150, dan 151, meskipun sering disingkat. Bait-bait pertama dinyanyikan oleh paduan suara, lalu sisanya dibacakan oleh pembaca. Menjelang akhir, kidung yang disebut "stichera" diselingi di antara ayat-ayat mazmur, seperti yang dilakukan pada Sembahyang Senja di 'Ya Tuhan ku berseru ...'. Stichera ini menghormati acara atau jana suci hari itu. Oleh karena itu, untuk Malam Kebangkitan, stichera (dalam irama minggu ini) berbicara tentang Kebangkitan. 

Pada setiap Vigil Kebangkitan, Theotokion (kidung untuk Theotokos) yang sama mengakhiri Pujian. Kidung indah dalam irama 2 ini diketahui oleh semua orang, karena diulang setiap minggu:

Engkau paling diberkati, O Perawan Theotokos! Karena melalui Dia yang lahir darimu, Neraka telah ditangkap dan Adam dipanggil kembali! Kutukan telah dibatalkan dan Hawa dibebaskan! Kematian telah dibunuh, jadi kami diberi hidup: Terpujilah Kristus, Allah kami, yang kehendak-Nya adalah, kemuliaan bagi-Mu! 

Pada Kidung Theotokion, Pintu Kerajaan dibuka dan semua lampu di Gereja dinyalakan. Jika Sembahyang Sinsing Fajar telah dilakukan seperti semula, malam akan beranjak dan secercah fajar pertama akan muncul. Saat cahaya alami mulai muncul di langit timur, kita bersiap menyambut cahaya ini sebagai ikon Cahaya Sejati, yaitu Kristus, Allah kita. Sudah waktunya untuk Doksologi Agung. Imam, dengan tangan terentang terangkat ke langit berseru: "Kemuliaan bagi-Mu, yang telah menunjukkan kami Terang!" Dan dengan kidung tersebut, paduan suara dan jemaat menyanyikan Doksologi Agung. 

Doxologi dimulai, seperti yang dilakukan pada Sembahyang Sinsing Fajar, dengan Kidung Malaikat "Kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi dan damai di atas bumi bagi manusia yang berkenan kepadaNya," dan diakhiri dengan kidung Trisagion, "Allah Maha Kudus…." Doksologi Agung selalu dinyanyikan karena sifatnya yang meriah dan penuh suka cita. Itu harus dibedakan dari Doksologi Kecil, yang serupa (tetapi tidak identik), dan dinyanyikan oleh Reader di Sembahyang Purna Bujana dan Sembahyang Sinsing Fajar harian. 

Doksologi Agung sangat kuno, paling lambat berasal dari abad ketiga. Ini adalah kidung pagi yang sangat unggul Gereja. 

Setelah Doksologi, Troparion (Kebangkitan atau Perayaan) dinyanyikan, diikuti oleh Litani Tambahan, dan Litani Pagi. Isi litani ini sama dengan Litani di Sembahyang Senja mereka di Vesper dan telah dibahas. Hanya di sini Litani ini dilakukan di akhir ibadah. Lampu kemudian padam, dan Vigil Sepanjang Malam diakhiri dengan pembacaan Sembahyang Jam Pertama. 

Kesimpulan Makna tentang Vigil Sepanjang Malam

Kita telah menghabiskan banyak waktu membahas Ibadah Malam karena begitu pentingnya dalam kehidupan liturgi dan spiritual orang Kristen. Ini adalah bagian integral dari persiapan untuk bertemu Tuhan pada Hari Tuhan dan merupakan bagian yang sangat penting dari persiapannya untuk kehidupan Kristen di dunia ini dan juga di Kerajaan yang akan datang. 

Vigil Sepanjang Malam adalah ibadah "panjang". Dalam bentuk yang disingkat, biasanya berlangsung sekitar dua jam. Beberapa mungkin menolak untuk menghabiskan waktu ini di gereja. Tetapi karena kita menghabiskan sebagian besar waktu kita di dunia untuk terjebak dalam urusan kehidupan duniawi, kita membutuhkan waktu untuk “menyingkirkan semua kekhawatiran duniawi” dan datang ke hadirat Tuhan dengan perhatian yang tidak terganggu. Biasanya dibutuhkan setidaknya setengah jam untuk menghilangkan “kegaduhan” kehidupan dari kesadaran kita sehingga kita dapat membuka diri kita kepada Tuhan dan memberikan diri kita sepenuhnya pada penyembahan bersama. Untuk beberapa orang, mungkin diperlukan Ibadah penuh! Vigil menawarkan kita kemungkinan ini. 

Seperti atlet dalam olahraga, orang Kristen harus berlatih untuk kehidupan rohani. Kesuksesan dan kejayaan atletik tidak terjadi secara otomatis, dan seringkali melibatkan perjuangan dan pengorbanan yang besar. Tetapi ganjaran bagi atlet jauh lebih besar daripada ketidaknyamanan atau penderitaan apa pun. Demikian pula dalam kehidupan rohani: ' jikatidak ada rasa sakit, maka tidak ada keuntungan.' Untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan Kristus membutuhkan upaya dari pihak kita saat kita mati untuk diri kita sendiri dan belajar untuk menyerahkan diri kita pada kehendak Tuhan. Seperti yang dikatakan St. Paulus, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 5:18). Penderitaan kecil dan ketidaknyamanan dari Vigil membantu melatih kita untuk berpartisipasi dalam kemuliaan Tuhan. 

Vigil melambangkan penantian panjang dan kewaspadaan dari kehidupan Kristen yang normal untuk Kedatangan Kristus. Pengabaian Vigil membantu menjelaskan keruntuhan spiritual manusia modern, yang tidak meluangkan waktu untuk berdiam diri di hadapan Penciptanya dan menginginkan segalanya sekarang. Pembaruan kehidupan Kristen di dunia saat ini membutuhkan penolakan terhadap godaan duniawi, hiburan, dll., dan menemukan kembali kehidupan doa di Gereja. Dunia pagan menggunakan Sabtu malam bagi kesenangannya sendiri. Dunia Kristen menyediakan Sabtu malam bagi Ibadah Vigil. Ada perbedaan tajam antara dunia ini sebagai kesenangan yang sulit dipahami dan Kerajaan Allah sebagai Hadirat Tuhan yang penuh sukacita. 

Jika Saudara benar-benar ingin maju dalam kehidupan Kristen, belajarlah untuk "berjaga-jaga dan berdoa" sebagai bagian dari militansi Gereja dan menjadikan Vigil bagian dari persiapan Saudara untuk bertemu Kristus Tuhan dalam Perjamuan Kudus. 

Daftar Pustaka

Penjelasan tentang Vigil / Ibadah Kawal Malam ini telah berlangsung selama beberapa tahun. Awalnya didasarkan pada serangkaian artikel yang muncul di buletin paroki di St. Peter & Paul, Manville, NJ (ditulis pada dekade sebelumnya dan ditayangkan ulang pada akhir tahun 90-an), artikel ini dimodifikasi dan ditambahkan untuk diterbitkan dalam publikasi paroki di St. Katedral Seraphim, Dallas. Artikel ini dikerjakan ulang dan diperluas lagi untuk dimuat di The Confessor's Tongue, sebuah publikasi mingguan paroki di St. Maximus, Denton. Selain seri artikel asli yang penulisnya tidak diketahui, saya telah mengambil Hukum Allah, referensi standar lainnya, Penjelasan Victor Potapov yang tersedia di internet, dan refleksi saya sendiri tentang pengalaman saya dalam melayani Vigil setidaknya setiap minggu selama lebih dari 5 tahun dan menghadirinya setiap minggu selama bertahun-tahun sebelum itu. Saya hampir tidak bisa mengklaim sebagai penulis dalam arti asli apa pun, tetapi kesalahan apa pun di sini kemungkinan besar adalah kesalahan saya sendiri. Saya menawarkan ini hanya untuk meningkatkan minat, pengertian, dan kehadiran di Vigil / Ibadah Kawal Malam.

Imam Justin Frederick, 6 Juni 2007.

 https://www.stmaximus.org/liturgicalworship_vigil

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar