Jumat, 04 Maret 2022

Ajaran Gereja Orthodoks tentang Apakah Ada Bahaya Penyebaran Penyakit Melalui Perjamuan Kudus, Mencium Tangan Imam, atau Kehadiran Kita di Gereja Suci Tuhan


Ajaran Gereja Orthodoks tentang Apakah Ada Bahaya Penyebaran Penyakit Melalui Perjamuan Kudus, Mencium Tangan Imam, atau Kehadiran Kita di Gereja Suci Tuhan

Oleh Metropolitan Joel dari Edessa


Karena peristiwa setahun lebih ini setelah sempat terhentinya ibadah, yang disebabkan oleh virus baru Corona, kami ingin dengan rendah hati menyatakan posisi Gereja Suci tentang apakah ada penyakit yang dapat disebarkan melalui Sakramen Kudus, atau melalui sarana pengudusannya,  penghormatan Ikon Suci, mencium tangan para Presbiter, atau bahkan dengan hanya hadir dan tinggal di Gereja Suci.


1. Tentang Sakramen Perjamuan Kudus.  Secara umum diterima dari Gereja secara universal bahwa tidak mungkin Tubuh dan Darah Kristus dapat menularkan penyakit apa pun.  Inilah cara Gereja kita mengajar, dan itu dibuktikan dengan pengalaman;  Ada beberapa Presbiter yang melayani di rumah sakit yang melayani pasien yang terkena penyakit menular selama beberapa dekade, penyakit tersebut sangat mudah menular dan tidak dapat disembuhkan pada zaman mereka, namun para presbiter tersebut tidak pernah sakit.  Karena alasan ini maka adalah suatu kesalahan besar dilakukan oleh presbiter di keuskupan kita untuk memberikan komuni suci pada umat beriman dengan sendok sekali pakai.


2. Tentang mencium tangan para presbiter dan hadir serta tinggal di Gereja.  Waktu percakapan tentang topik ini sangat tidak disengaja.


a.  Pada hari Minggu kedua Prapaskah Agung kita merayakan kenangan Js. Gregorius Palamas yang dengan luar biasa berkhotbah bukan hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan tindakan akan kemungkinan manusia untuk ikut ambil bagian dalam energi ilahi yang tidak tercipta.  Sebaliknya, kita yang tidak ikut serta dalam ibadat hari Minggu praktis mengkhotbahkan bidat Barlaam yang menyangkal keikutsertaan manusia dalam energi ilahi yang tidak tercipta.


b.  Pastilah, presbiter adalah manusia, lemah, dan bisa jatuh, serta berjuang untuk memurnikan batinnya.  Namun, imam/ presbiter, “mengenakan pakaian rahmat imamat” berperan serta dan memancarkan energi ilahi yang tidak tercipta melalui jabatan imamatnya, terlepas dari kekudusan pribadinya.  Jelas, jika imam/ presbiter adalah orang suci, maka dia mengirimkan dua kali lipat rahmat.  Namun demikian, penting untuk menegaskan kembali bahwa ketika kita mencium tangan para imam/ presbiter, kita berpartisipasi dalam energi ilahi Allah yang tidak tercipta, dan kita menerima Rahmat Ilahi sesuai dengan ukuran iman dan kesalehan kita.


c.  Seperti yang biasa dikatakan oleh Js. Paisios dari Gunung Athos († 1994), yang selalu mencium dengan penuh kesalehan tangan imam yang memimpin Liturgi Ilahi setelah selesai Liturgi Ilahi, dan mengatakan  bahwa "tangan imam/ presbiter bukanlah milik imam itu sendiri."


d.  Jika kita percaya bahwa imam dapat menularkan penyakit maka kita menyangkal rahmat imamat suci, pada akhirnya menyangkal rahmat Tuhan.  Ketika dengan tindakan kita, kita meragukan atau menyangkal energi ilahi yang tidak tercipta, maka kita menciptakan allah lain, dan kita menolak Allah yang benar.


e.  Hal yang sama berlaku untuk Gereja suci.  Gereja suci adalah tubuh Allah kita yang hidup.  Dan ini bukan hanya simbolis.  Di Gereja kita, figur dan simbol melingkupi kualitas mendasar yaitu Kebenaran, dan inilah mengapa kita menghormati simbol-simbol ini.  Padahal sebenarnya Gereja Suci sebagai Tubuh Kristus tidak bisa menjadi tempat penularan penyakit.  Jika kita meragukan ini, maka kita meragukan bahwa ada kasih karunia di dalam diri mereka.  Kita menyamakan Gereja dengan aula pertemuan biasa.


3. Semua percakapan sedih ini diakhiri dengan pertanyaan serius dan pengamatan yang menyedihkan.


a.  Pertanyaannya adalah: Apakah kita benar-benar percaya pada Allah?  Dan jika percaya, Allah yang mana?  Apakah percaya pada dewa Barlaam yang dibuat oleh penalaran kita sendiri?  Apakah percaya dalam allah yang kita cirikan dengan kasih karunia sebanyak yang otak kita bisa muat saja?


b.  Kenyataan pahitnya adalah bahwa kita secara tidak sengaja menghujat Roh Kudus.  Kita memegang pola pikir sesat, bahkan saat kita menyatakan iman Orthodoks kita.  Dengan meragukan Roh Kudus, kita melakukan penghujatan terhadap Roh Kudus, dan kita dalam bahaya kehilangan pengampunan baik di zaman sekarang ini maupun di zaman kekal yang akan datang.


c.  Ketika kita takut mencium ikon suci, mencium tangan imam, tinggal di dalam Gereja suci, maka dengan tindakan kita, kita menyangkal rahmat penyelamatan dan pengudusan Roh Kudus.  Kita menganggap bahwa Roh Kudus mampu menyebarkan “kenajisan atau kekotoran” dan ini merupakan penghujatan yang besar.


4. Oleh karena itu, marilah kita mengaku iman dengan tindakan kita, seperti yang kita lakukan dengan bibir kita, bahwa kita percaya bahwa di dalam ikon-ikon suci, di dalam para imam, dan di dalam Gereja-Gereja suci terdapat rahmat Ilahi.


A.  Partisipasi kita dalam rahmat ini bergantung pada ukuran iman kita.  Besarnya anugrah yang kita terima, berhubungan langsung dengan jumlah keimanan yang kita miliki.


b.  Namun, keberadaan anugrah ini tidak bergantung pada iman kita. Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa." (Wahyu 1: 8) tidak berhenti ada jika kita tidak percaya kepada-Nya.


c.  Oleh karena itu, kita menerima tekanan hukum sipil untuk menghentikan ibadah sebagai hukuman ilahi karena kita telah berdosa, dan telah melakukan kesalahan, dan telah melakukan kejahatan, dan telah memberontak, dengan menyimpang dari perintah dan peraturan Tuhan kita (Dan  9: 5 ).


d.  Namun, kita tidak menerima pembenaran dari Negara bahwa ada bahaya penularan penyakit melalui Gereja Suci Kristus, dan oleh sakramen ilahi yang berlangsung di dalamnya ...


5. Singkatnya, tidak mungkin tertular atau tertular penyakit apa pun dari Komuni Kudus, ikon-ikon suci, ciuman tangan para presbiter, atau dengan kehadiran kita di Gereja-Gereja suci.  Jika kita percaya dengan segenap hati kita, kita akan menerima anugerah Tuhan yang berlimpah dalam hidup kita.  Jika kita menyangkal atau meragukan ini, kita sedang bersekutu dengan bidat Barlaam dan para ikonoklas;  kita menyangkal Allah, dan kita melakukan penghujatan terhadap Roh Kudus.


Karenanya, marilah kita berdiri dengan benar!  Marilah kita percaya dengan benar dan dengan kesederhanaan, dan Rahmat Bapa Ilahi dan persekutuan Roh Kudus akan selalu bersama kita.  Amin!

https://orthodoxethos.com/post/orthodox-church-teaching-on-whether-there-is-a-danger-of-spreading-disease-through-the-holy-communion-or-kissing-the-hand-of-the-priest


https://www.jordanville.org/news_200328_5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar