Sabtu, 23 April 2022

Minggu Paskah: Paskah Suci


Minggu Paskah:
Paskah Suci

Menjelang  tengah malam pada hari Sabbat yang Terberkati, ibadah Nocturne (Nocturne adalah ibadah tengah malam Gereja.  Di biara-biara biasanya dimulai saat malam oleh para Biarawan.  Ibadah ini berisi sejumlah mazmur bersama dengan doa-doa biasa yang ditemukan di ibadah lain, seperti seruan untuk menyembah, Kidung Trisuci, Doa Bapa Kami, Troparion, dll. Temanya jelas malam dan perlunya berjaga-jaga.  Di paroki-paroki, itu dikenal sebagai ibadah sebelum Sembahyang Singsing Fajar Paskah di mana lembaran kain kafan yang menggambarkan Sang Juruselamat yang telah meninggal diambil dari kubur dan ditempatkan di atas meja altar). dikidungkan. Imam pergi ke makam/ Keranda dan mengambil Epitaphios. Dia membawanya masuk melalui pintu kerajaan (Altar) dan menempatkannya di atas meja altar untuk ditempatkan si sana  selama empat puluh hari sampai hari Kenaikan.


Pada tengah malam prosesi Paskah dimulai. Orang-orang keluar dari  gedung Gereja sambil bernyanyi:


Ya Kristus Juruselamat kami, Malaikat di surga, mengidungkan tentang kebangkitan-Mu. Buatlah kami di bumi juga layak untuk mengidungkanMu dengan hati yang murni.


Prosesi mengelilingi gedung Gereja dan kembali ke pintu tertutup di depan Gereja. Prosesi orang-orang Kristen pada malam Paskah ini mengingatkan prosesi pembaptisan yang asli dari kegelapan dan kematian dunia ini kepada terang dan kehidupan Kerajaan Allah. Ini adalah prosesi dari Paskah kudus, dari kematian ke kehidupan, dari bumi ke surga, dari zaman ini ke zaman yang akan datang yang tidak akan pernah berakhir.


Di depan pintu gedung Gereja yang tertutup kebangkitan Kristus diumumkan. Terkadang Injil dibaca yang menceritakan tentang kubur yang kosong. Imam mengidungkan berkat bagi "Tritunggal yang kudus, yang tak terbagi bagi dan tak bercampur baur serta yang menciptakan kehidupan." Troparion Paskah dinyanyikan untuk pertama kalinya, bersama dengan ayat-ayat Mazmur 68 yang akan memulai semua ibadah Gereja selama masa Paskah.


Biarkan Allah bangkit, biarkan musuh-musuhNya tercerai-berai; biarkan orang-orang yang membencinya lari dari hadapanNya!

Kristus telah bangkit dari mati, dengan matiNya telah menginjak-injak maut, dan pada mereka yang di kuburan hidup dianugerahkan (Troparion).


Ini adalah hari yang Tuhan ciptakan, mari kita bersukacita dan bergembira karenanya!

Orang-orang kembali memasuki gedung Gereja dan melanjutkan ibadah Paskah Matins/Sembahyang Singsing fajar yang sepenuhnya dikidungkan.


Kidung kanon tentang kebangkitan Kristus, dianggap berasal dari St. Yohanes dari Damaskus, dilantunkan dengan troparion perayaan sebagai pengulangan yang terus menerus. Bangunan Gereja dihiasi dengan bunga dan lampu. Jubah yang digunakan adalah jubah terang dari kebangkitan. Ikon Paskah berdiri di tengah-tengah Gereja menunjukkan Kristus menghancurkan gerbang neraka dan membebaskan Adam dan Hawa dari penahanan maut. Itu adalah gambar sang Pemenang “menginjak-injak maut dengan kematianNya sendiri.” Ada kidungan dan pendupaan yang terus-menerus dari ikon-ikon dan umat yang hadir, dengan proklamasi terus-menerus dari Imam : Kristus telah bangkit! Orang beriman terus-menerus merespons: Benar Dia telah bangkit!


Ini adalah hari kebangkitan! Marilah kita diterangi oleh pesta itu! Paskah! Paskahnya Tuhan! Kristus telah memimpin kita dari kematian menuju kehidupan, dan dari bumi ke surga! Nyanyikan kidung kemenangan: Kristus telah bangkit dari kematian! (Ode Pertama dari Kanon Paskah).


Mengikuti kanon tersebut, ayat-ayat paskah dinyanyikan, dan pada akhir sembahyang Singsing fajar/Matin Paskah, Sembahyang Harian Paskah juga dikidungkan. Secara umum, tidak ada yang hanya dibaca dalam ibadah Gereja saat Paskah: semuanya dinyanyikan sepenuhnya dengan melodi pesta yang penuh sukacita.

Pada akhir Jam, sebelum Liturgi Ilahi, Imam dengan khidmat menyampaikan Khotbah Paskah St. Yohanes Krisostomos yang terkenal. Khotbah ini adalah undangan bagi semua umat beriman untuk melupakan dosa-dosa mereka dan untuk bergabung sepenuhnya dalam pesta kebangkitan Kristus. Diambil secara harafiah, khotbah ini adalah undangan resmi yang ditawarkan kepada semua anggota Gereja untuk datang dan menerima Komuni Kudus, mengambil bagian dalam Kristus, Domba Paskah, yang mejanya sedang diatur di tengah-tengah Gereja. Di beberapa paroki, khotbahnya benar-benar dipatuhi, dan semua umat beriman menerima karunia ekaristi  Perjamuan Paskah malam Paskah.


Liturgi Ilahi Paskah segera dimulai dengan menyanyikan sekali lagi troparion perayaan Paskah dengan ayat-ayat Mazmur 68. Ayat-ayat mazmur khusus juga terdiri dari antifon liturgi, yang melaluinya umat beriman memuji dan memuliakan keselamatan Allah:

Buatlah kemeriahan sukacita untuk Tuhan, hai seluruh bumi! Nyanyikan namaNya, muliakanlah pujian bagi-Nya.


Biarkan seluruh bumi menyembah dan memuji Dia! Biarkan itu memuji nama-Mu, hai Yang Mahatinggi!

Supaya kita tahu jalan-Mu di atas bumi dan keselamatan-Mu di antara semua bangsa.


Biarkan orang-orang bersyukur kepada-Mu, ya Allah! Biarkan semua orang bersyukur kepada-Mu.

Troparion diulang berulang kali. Ayat ayat pembaptisan dari Galatia menggantikan Nyanyian Trisuci. Pembacaan Epistel diambil dari sembilan ayat pertama dari Kisah Para Rasul. Pembacaan Injil adalah tujuh belas ayat pertama dari Injil Rasul Yohanes. Proklamasi Firman Allah membawa umat beriman kembali ke permulaan, dan mengumumkan penciptaan dan penciptaan kembali dunia oleh Allah melalui Firman Allah yang hidup, PutraNya Yesus Kristus.


Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. . . Segala sesuatu diciptakan melalui Dia. . . Di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. . . .


Dan Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita penuh kasih karunia dan kebenaran. . . kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan Putra sang Bapa yang tunggal, dan dari kepenuhan-Nya kita semua menerima anugerah demi anugerah (Yoh. 1–17).


Dilanjutkan dengan Liturgi St. Yohanes Krisostomos, dimahkotai dalam perjamuan kudus dengan Domba Paskah di meja perjamuanNya di Kerajaan Allah. Berkali-kali troparion Kebangkitan dinyanyikan sementara umat yang setia mengambil bagian dari-Nya “Yang telah mati dan hidup kembali” (Why 2.8).


Di Gereja Orthodoks, hari raya Paskah secara resmi disebut Pascha, kata yang berarti Paskah. Itu adalah Paskah baru dari perjanjian yang baru dan kekal yang dinubuatkan oleh para nabi zaman dahulu. Itu adalah Paskah kekal, dari kematian menuju ke kehidupan dan dari bumi ke surga. Ini adalah Hari Tuhan yang diberitakan oleh para nabi suci Tuhan, “hari yang telah Tuhan ciptakan” untuk penghakiman-Nya atas semua ciptaan, hari kemenangan terakhir dan kekal-Nya. Itu adalah Hari Kerajaan Allah, hari "yang tidak memiliki malam" karena " Anak Domba adalah cahayanya “(Wahyu 21.22–25).

Perayaan Paskah di Gereja Orthodoks, oleh karena itu, sekali lagi bukan sekedar pemeragaan sejarah peristiwa Kebangkitan Kristus seperti yang diriwayatkan dalam Injil. Ini bukan representasi dramatis dari pagi Paskah pertama. Tidak ada “ibadah Singsing fajar" karena sembahyang Singsing fajar/ Matin Paskah dan Liturgi Ilahi dirayakan bersama di jam-jam gelap pertama di hari pertama minggu itu untuk memberi manusia pengalaman "ciptaan baru" dunia, dan untuk memungkinkan mereka untuk masuk secara mistika ke Yerusalem Baru yang bersinar abadi dengan cahaya kemuliaan Kristus, mengatasi malam kejahatan yang abadi dan menghancurkan kegelapan dunia yang fana dan berdosa ini:


Bersinarlah! Bersinarlah! Wahai Yerusalem Baru! Kemuliaan Tuhan bersinar atasmu! Bersukacitalah dan bergembiralah, Sion! Bersinarlah, wahai  Theotokos Murni, dalam Kebangkitan Putramu!


Ini adalah salah satu nyanyian pujian Paskah utama di Gereja Orthodoks. Yang diilhami oleh nubuat Yesaya dan bab terakhir dari Kitab Wahyu, karena itu sungguh menjadi dasar Penciptaan Baru, Yerusalem Baru, Kota Surgawi, Kerajaan Allah, Hari Tuhan, Pesta Pernikahan Anak Domba dengan Mempelai Wanita-Nya yang dirayakan dan direalisasikan serta dialami dalam Roh Kudus pada Malam Paskah yang Kudus di Gereja Orthodoks.


https://oca.org/orthodoxy/the-orthodox-faith/worship/the-church-year/easter-sunday-the-holy-pascha

Homili atau khotbah Paskah


Homili atau khotbah Paskah (Paschal Homily)

Homili atau khotbah Paskah (The Paschal homily atau juga dikenal dalam bahasa Yunani sebagai Hieratikon atau sebagai Homili Katekese) dari St. Yohanes Krisostomos (meninggal 407 AD) dibacakan pada pagi hari Paskah, yang disebut "Paskah Agung dan Kudus dari Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus" dalam Gereja Orthodox Timur. Menurut Tradisi Gereja, tak seorang pun duduk selama pembacaan homili Paskah itu. Bagian dari itu sering dilakukan dengan partisipasi interaktif dari jemaat.

Homili atau khotbah Paskah dari St. Yohanes Krisostomos

"Barangsiapa pecinta Allah yang saleh, biarlah dia menikmati Perayaan Terang indah ini.
Barangsiapa hamba yang bersyukur, biarlah Dia bersukacita dan masuk ke dalam sukacita TuhanNya.
Dan jika ada yang lemah karena puasa, biarlah sekarang mereka menerima upahnya.
Jika ada yang telah bekerja dari jam pertama, biarlah ia menerima gajinya yang sesuai.
Jika ada yang datang sesudah jam ketiga, biarlah ia dengan rasa syukur ikut serta dalam pesta.
Dan Ia yang datang sesudah jam keenam, biarlah ia jangan ragu-ragu , tetapi biarlah dia datang juga.
Dan jika seseorang telah terlambat sampai jam kesembilan, biarlah mereka datang mendekat tanpa ragu-ragu.
Dan dia yang datang hanya sesudah jam kesebelas, janganlah dia takut karena keterlambatannya,
karena Tuhan itu pemurah  dan menerima orang yang datang terakhir seperti yang datang pertama. Dia memberikan istirahat kepadanya yang datang pada jam kesebelas, seperti dia yang telah bekerja dari jam pertama.
Ya, kepada yang ini Dia memberi dan kepada yang lain Dia menganugrahi. Dia menerima pekerjaan sebagaimana Dia berkenan pada usaha yang dilakukan. Perbuatan dihormatiNya dan niat disenangiNya.
Oleh karena itu, mari semua masuk ke dalam sukacita Tuhan. Kalian yang pertama maupun yang terakhir untuk menerima hadiahmu, kalian kaya dan miskin, bersukacitalah bersama.
Kalian yang sangat berhati-hati dan yang malas, rayakan hari ini.
Kalian yang telah berpuasa dengan sungguh-sungguh, maupun yang tidak berpuasa, bersukacitalah hari ini, karena mejanya dengan limpahnya dipenuhi isi.
Berpestalah kalian dengan limpah-ruahnya pada hari ini.
Anak lembunya itu tambun-tambun. Jangan ada orang yang keluar dengan lapar.
Ambilah kalian semua dalam bagian cawan iman. Nikmatilah kalian semua kekayaan kebaikanNya.
Janganlah satupun yang bersedih karena kemiskinannya, karena kerajaan yang semestawi telah dinyatakan.
Jangan satupun menangis tersedih-sedih dia yang telah jatuh berulang-ulang, karena pengampunan telah terbit dari kuburan.
Jangan seorangpun yang takut mati, karena kematian Juruselamat kita telah membebaskan kita.
Dia telah menghancurkannya dengan menahankanNya.
Dia telah membingungkannya ketika si alam maut itu merasai dagingNya.
Dia telah mengobrak-abrik alam maut ketika Dia turun ke dalamnya.
Yesaya telah memberitakan hal ini sebelumnya ketika dia berseru: engkau hai alam maut telah dibingungkan dengan perjumpaanmu denganNya di bawah sana.


Si Alam maut telah dibingungkan, karena dia diperolok-olokkan.


Si Alam maut dibingungkan, karena dimusnahkan.


Si Alam maut dibingungkan, karena dihancurkan.


Si Alam maut dibingungkan, karena itu dilenyapkan.


Si Alam maut dibingungkan, karena sekarang menjadi tawanan.


Dia menelan sesuatu Tubuh, tetapi lihatlah dia menemukan Allah.


Dia menelan bumi, tetapi lihatlah dia berjumpa Sorga.


Dia menelan apa yang dilihatnya namun lihatlah dia telah dikalahkan oleh apa yang tak dilihatnya.


Hai maut dimana sengatmu ?


Hai alam maut dimana kemenanganmu ?


Kristus telah bangkit, dan kematian telah dilenyapkan.


Kristus telah bangkit, dan kuasa-kuasa yang jahat telah dihempaskan


Kristus telah bangkit, dan para malaikat bersukacita.


Kristus telah bangkit, dan hidup dibebaskan.


Kristus telah bangkit, dan kuburan dikosongkan dari orang mati.


Karena Kristus setelah bangkit dari antara orang mati telah menjadi buah pertama dari mereka yang telah mati.


KepadaNya kemuliaan dan kuasa sepanjang segala abad. Amin.

Sabtu Kudus


Sabtu Kudus

Ibadah pertama Sabtu Kudus — yang disebut di dalam Gereja sebagai Sabat Yang Terberkati — adalah Sembahyang Senja Jumat Agung. Ini biasanya dirayakan pada sore hari untuk memperingati penguburan Yesus.


Sebelum ibadah dimulai, sebuah "makam" / keranda didirikan di tengah gedung gereja dan didekorasi dengan bunga-bunga. Juga ikon khusus yang dilukis di atas kain (dalam bahasa Yunani, epitaphios; dalam bahasa Slavonik, plaschanitsa) yang menggambarkan Juru Selamat yang telah wafat diletakkan di atas meja altar. Secara umum, ikon ini sering disebut kain kafan.


Vesper/ Sembahyang senja dimulai seperti biasa dengan kidung pujian tentang penderitaan dan kematian Kristus. Setelah arak-arakan dengan Kitab Injil dan kidung Terang Gembira, bacaan diambil dari Keluaran, Ayub, dan Yesaya 52. Ditambahkan pembacaan Epistel yang diambil dari Surat kepada Jemaat Korintus Pertama (1:18–31), dan Injil dibaca sekali lagi dengan pilihan dari masing-masing dari empat kisah penyaliban dan penguburan Kristus. Prokeimenon dan ayat-ayat Haleluya diambil dari mazmur, sudah sering terdengar dalam ibadah Jumat Agung, yang memiliki makna nubuatan:


Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? (Mazmur 22:1)


Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.Mazmur 88:6 


Setelah lebih banyak kidung pujian untuk memuliakan kematian Kristus, saat paduan suara menyanyikan Kidung pembubaran Js. Simeon, maka imam mengenakan jubahnya yang berwarna gelap dan mendupai kain kafan/ epitaphios yang masih ada di atas meja altar. Kemudian, setelah Doa  Bapa Kami, Saat umat mengidungkan troparion hari itu, imam mengelilingi meja altar dengan eptaphios yang diangkut di atas kepalanya dan menempatkannya di dalam kubur / keranda untuk dihormai oleh umat beriman.


Yusuf yang terhormat, ketika dia telah menurunkan tubuh-Mu yang paling murni dari pohon salib itu, membungkusnya dengan kain kafan dan mengurapinya dengan rempah-rempah, dan menempatkannya di kuburan baru (Troparion Sabtu Kudus).


Sembahyang Singsing Fajar Sabtu Kudus biasanya dirayakan pada Jumat malam. Ibadah ini dimulai dengan cara yang biasa dengan kidungan Allah itulah Tuhan, troparion Yusuf yang terhormat, dan diikuti troparion berikut:


Ketika Engkau turun ke dalam kematian ya Sang Hidup Kekal, Engkau membinasakan neraka dengan kemuliaan KeilahianMu! Dan ketika dari kedalaman Engkau membangkitkan orang mati, semua kuasa surga berseru: Ya Sang Pemberi Kehidupan! Kristus, Allah kami! Kemuliaan bagi-Mu!

Malaikat yang berdiri di dekat kuburan berseru kepada para wanita: rempah wangi itu cocoknya untuk orang mati, tetapi Kristus telah menunjukkan diriNya sebagai yang tak dapat binasa. 


Di bagian mazmur yang biasa dibaca, seluruh Mazmur 119 dibacakan dengan syair memuji Sang Juruselamat yang wafat dan dinyanyikan berselang di antara setiap ayatnya. Mazmur khusus ini adalah ikon verbal Yesus, orang benar yang hidupnya ada di tangan Allah sehingga tidak dapat tetap mati. Puji-pujian, demikian sebutan ayat-ayat itu, memuliakan Allah sebagai “Kebangkitan dan Kehidupan,” dan mengagumi kerendahan hati-Nya yang rendah hati menuju kematian.


Ada di dalam pribadi Yesus Kristus penyatuan sempurna dari kasih manusia yang sempurna kepada Allah dan kasih Allah yang sempurna kepada manusia. Ini adalah kasih manusiawi ilahi yang direnungkan dan dipujikan di atas makam/keranda Sang Juruselamat. Ketika bacaan berlanjut, Pujian menjadi lebih pendek, dan secara bertahap lebih berkonsentrasi pada kemenangan terakhir Tuhan, sehingga sampai pada kesimpulan yang tepat:


Aku rindu kepada keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan Taurat-Mu menjadi kesukaanku. (Mazmur 119:174)


Pikiran ketakutan pada penguburanMu yang menakutkan dan aneh.


Biarlah jiwaku hidup, supaya memuji-muji Engkau, dan biarlah hukum-hukum-Mu menolong aku. (Mazmur 119:175)


Para wanita dengan rempah-rempah datang lebih awal pada dini hari untuk mengurapi Engkau.


Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hamba-Mu ini, sebab perintah-perintah-Mu tidak kulupakan. (Mazmur 119:176)


Oleh kebangkitan-Mu, berikan kedamaian bagi Gereja dan berikan keselamatan bagi umat-Mu!


Setelah pemuliaan terakhir dari Tritunggal, lampu gereja dinyalakan dan pengumuman pertama tentang wanita-wanita yang datang ke kuburan bergema di antara jemaat ketika Imam mendupai seluruh Gereja. Di sini untuk pertama kalinya muncul pemberitaan yang jelas tentang kabar baik keselamatan di dalam kebangkitan Kristus.


Kidung kanon Sembahyang Singsing Fajar/Matins terus memuji kemenangan Kristus atas maut melalui kematian-Nya sendiri, dan menggunakan masing-masing kidung kuno Perjanjian Lama sebagai kiasan keselamatan final manusia melalui Yesus. Di sini untuk pertama kalinya muncul indikasi bahwa Sabat pada hari Sabtu khusus ini di mana Kristus mati — benar-benar hari ketujuh yang paling terberkati dari sabat yang pernah ada. Ini adalah hari ketika Kristus beristirahat dari pekerjaan-Nya untuk menciptakan kembali dunia. Ini adalah hari ketika Firman Allah “yang melaluiNya segala sesuatu diciptakan” (Yoh 1.3) bersemayam sebagai orang mati di kubur, menyelamatkan dunia ciptaan-Nya sendiri dan membuka kuburan:

Ini adalah hari Sabat yang paling terberkati di mana Kristus tidur, tetapi untuk bangkit kembali pada hari ketiga (Kontakion dan Oikos).


Sekali lagi, kanon berakhir dengan catatan final akan kemenangan Kristus.


Janganlah meratapi Aku, Bunda, lihatlah Aku di dalam kubur, anak yang telah engkau lahirkan tanpa benih laki kaki, karena Aku akan bangkit dan dimuliakan, dan akan ditinggikan dengan kemuliaan tanpa henti sebagai Allah, semua orang yang dengan iman dan kasih memuliakanmu (Ode Kesembilan dari Kanon).


Ketika lebih banyak ayat pujian dinyanyikan, Imam kembali mengenakan jubah sepenuhnya dalam jubahnya yang gelap dan, saat doxologi agung dinyanyikan, ia sekali lagi mendupai makam /keranda sang Juruselamat. Kemudian, sementara jemaat dengan lilin yang menyala terus-menerus mengulangi nyanyian Kudus Kudus Kudus, umat beriman — dipimpin oleh imam mereka yang membawa Kitab Injil dengan epitaphios Kristus yang dipegang di atas kepalanya — ikut dalam prosesi mengelilingi bagian luar gedung Gereja . Prosesi ini menjadi saksi kemenangan total Kristus atas kuasa kegelapan dan kematian. Seluruh alam semesta dibersihkan, ditebus dan dipulihkan dengan jalan masuknya Kehidupan Dunia ke dalam kematian.


Ketika prosesi kembali ke gedung Gereja, troparion dinyanyikan sekali lagi, dan nubuat Yehezkiel tentang "tulang kering" Israel dinyanyikan dengan sangat khidmat:


Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.  Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali …..."  Yehezkiel 37:13 


Dengan ayat-ayat kemenangan dari mazmur yang berseru pada Allah untuk bangkit, untuk mengangkat tanganNya, untuk menyerakkan musuh-musuhNya dan untuk membiarkan orang benar bersukacita; dan dengan nyanyian Halleluya yang diulang-ulang, surat Rasul Paulus kepada orang-orang Korintus dibacakan: “Kristus, anak domba paskah kita telah disembelih” (1 Kor 5.6–8). Injil tentang pemeteraian kubur dibaca sekali lagi, dan ibadah diakhiri dengan syafaat dan berkat.


Vesper/ Sembahyang Senja dan Matin/ Sembahyang Singsing Fajar dari Sabat Yang Terberkati, bersama dengan Liturgi Ilahi yang mengikutinya, membentuk sebuah mahakarya dari tradisi liturgi Orthodoks. Ibadah-ibadah ini sama sekali bukan merupakan sekedar peragaan dramatis dari kematian historis dan penguburan Kristus, juga bukan semacam pengulangan ritual adegan-adegan Injil. Sebaliknya, ibadah ini adalah penetrasi rohani dan liturgis yang paling dalam masuk ke makna kekal dari peristiwa penyelamatan Kristus, yang sudah dilihat dan dipuji dengan pengetahuan penuh tentang makna dan kuasa ilahiNya.


Gereja tidak berpura-pura seolah tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Yesus yang tersalib. Ia tidak berduka dan meratapi Tuhan seolah-olah Gereja itu sendiri bukanlah ciptaan yang dihasilkan dari lambungNya yang terluka dan dari kedalaman kuburNya. Semua umat melalui ibadah merenungkan dan mengumumkan kebangkitan kemenangan Kristus.  Karena memang hanya dalam terang kebangkitan kemenangan maka makna ilahi dan kekal terdalam dari peristiwa-peristiwa sengsara dan kematian Kristus dapat benar-benar dipahami, dihargai, dimuliakan dan dipuji secara tepat.


Pada hari Sabtu Kudus itu sendiri, Vesper/ Sembahyang senja dilayani dengan Liturgi Suci Js. Basilius Agung. Liturgi ini sudah menjadi milik hari Minggu Paskah. Itu dimulai dengan cara yang biasa dengan mazmur malam, litani, nyanyian pujian mengikuti mazmur malam 141 dan arak-arakan dengan nyanyian nyanyian Sembahyang Senja, Terang Gembira. Imam berdiri di makam/keranda di mana terbentang epitaphios dengan ikon sang Juruselamat dalam tidur kematian.


Setelah arak-arakan malam yang dibuat dengan Kitab Injil, lima belas bacaan dari tulisan suci Perjanjian Lama dibaca, yang semuanya berhubungan dengan karya penciptaan dan keselamatan Allah yang telah diringkas dan digenapi dalam kedatangan Mesias yang dinubuatkan. Selain bacaan dari Kejadian tentang penciptaan, dan Paskah-keluarnya orang Israel pada zaman Musa dalam Keluaran, ada pilihan bacaan dari nubuat Yesaya, Yehezkiel, Yeremia, Daniel, Zefanya, dan Yunus serta dari Yosua dan para nabi. Kitab Raja-Raja, Kidung Musa, dan Tiga Pemuda Kudus yang ditemukan dalam Daniel juga dinyanyikan.


Setelah Perjanjian Lama dibaca, Imam melagukan seruan liturgi yang biasanya menyanyikan Kidung Trisagion, tetapi sebagai gantinya digunakan ayat pembaptisan dari Galatia dinyanyikan: Seberapa banyak yang telah dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Haleluya (Gal 3.27).


Seperti biasa dalam Liturgi Ilahi, pembacaan Epistel mengikuti pada titik ini. Ini adalah bacaan pilihan untuk baptisan umumnya  dari Gereja Orthodoks (Rm 6.3-11). “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” (Rom 6.5).


Pada saat ini gerbang kerajaan ditutup, dan para Imam serta putra altar mengganti jubah mereka dari jubah gelap kesengsaraan menjadi jubah terang kemenangan Kristus atas kematian. Pada saat ini semua warna Gereja juga diubah menjadi warna yang menandakan kemenangan Kristus atas dosa, iblis dan maut. Penggantian ini terjadi ketika orang-orang menyanyikan ayat-ayat Mazmur 82: "Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa."


Setelah nyanyian mazmur dari ayat-ayat mazmur, yang sering ditambahkan nyanyian pujian memuliakan Kristus sebagai Paskah Baru, Korban Hidup yang disembelih, Anak Domba Allah yang menanggung dosa dunia; imam muncul dari altar untuk mengumumkan di atas makam Kristus kabar gembira tentang kemenanganNya atas kematian dan perintahnya kepada para rasul:  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.. . . ”(Mat 28.1.20). Teks Injil ini juga merupakan bacaan upacara pembaptisan Gereja Orthodoks.


Liturgi Ilahi kemudian berlanjut dalam kegemilangan Penghancuran oleh Kristus atas kematian. Kidung berikut menggantikan kidung Kerubim persiapan Perjamuan:


Biarkan semua manusia fana tetap diam dan dalam ketakutan dan gemetar berdiri, merenungkan hal-hal yang tidak duniawi. Karena Raja segala raja dan Tuhan segala tuhan datang untuk dibunuh, untuk memberikan diriNya sebagai makanan bagi umat beriman.


Di belakangNya pergi barisan malaikat: semua kerajaan dan kekuatan, kerub yang bermata banyak dan serafim bersayap enam, menutupi wajah mereka, menyanyikan pujian: Halleluya! Halleluya! Halleluya!


Sebagai ganti Nyanyian Rohani untuk Theotokos, ode kesembilan dari kanon Sembahyang Singsing fajar dinyanyikan sekali lagi: “Jangan menyesali Aku, Ibu. . . karena Aku akan bangkit ”(lihat di atas). Nyanyian pujian komuni adalah ayat ayat  mazmur: “ Lalu terjagalah Tuhan, seperti orang yang tertidur, seperti pahlawan yang siuman dari mabuk anggur; (Mazmur 78:


Liturgi Ilahi digenapi dalam persekutuan dengan Dia yang terbaring mati di dalam tubuh manusianya, namun dinobatkan selamanya dengan Allah Bapa; Dia yang satu satunya Pencipta dan Kehidupan Dunia, menghancurkan kematian dengan kematianNya yang menciptakan kehidupan. Makamnya / keranda— yang masih berdiri di tengah-tengah Gereja — ditunjukkan, seperti yang disebut Liturgi sebagai: sumber mata air kebangkitan kita.


Awalnya Liturgi ini adalah liturgi pembaptisan Paskah umat Kristen. Itu tetap sampai  hari ini sebagai pengalaman tahunan bagi setiap orang Kristen yang menuju kematian dan bangkit bersama Tuhan.


Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.
Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. (Rm. 6.8-9).


Kristus terbaring mati, tetapi Dia hidup. Dia ada di dalam kubur, tetapi Dia sudah “menginjak-injak maut oleh kematian, dan kepada mereka yang di kuburan hidup dianugerahkan.” Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain hidup melalui malam Sabat Terberkati tempat Kristus tidur, menunggu Kristus tidur, menunggu jam tengah malam ketika Hari Tuhan kita akan mulai menyingsing di atas kita, dan malam yang penuh dengan cahaya akan datang ketika kita akan memberitakan dengan malaikat: “Dia telah bangkit, Dia tidak ada di sini; lihat kubur tempat mereka membaringkannya ”(Markus 16.6).


https://oca.org/orthodoxy/the-orthodox-faith/worship/the-church-year/holy-saturday

Kamis, 21 April 2022

Jumat Agung dan Kudus


Jumat Agung dan Kudus

Pada hari Jumat Agung dan Kudus, Kristus mati di kayu Salib.  Dia menyerahkan roh-Nya dengan kata-kata: “Sudah selesai” (Yohanes 19:30).  Kata-kata ini lebih baik dipahami ketika diterjemahkan: "sempurna."  Dia telah menyelesaikan pekerjaan yang untukNya Bapa surgawi mengutus-Nya ke dunia.  Dia menjadi seorang manusia dalam arti kata sepenuhnya.  Dia menerima baptisan pertobatan dari Yohanes di Sungai Yordan.  Dia menganggap seluruh kondisi manusia, mengalami semua keterasingan, penderitaan, dan kesengsaraanNya, diakhiri dengan kematian yang hina di kayu Salib.  Dia dengan sempurna menggenapi nubuat Yesaya:


Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak. 

(Yesaya 53:12)


Manusia penuh Penderitaan 


Di Kayu Salib Yesus dengan demikian menjadi “manusia yang menderita;  bergumul dengan kesedihan ”yang telah dinubuatkan nabi Yesaya.  Dia “dihina dan ditinggalkan oleh manusia” dan “dipukul oleh Allah, dan menderita” (Yesaya 53: 3-4).  Dia menjadi orang yang “tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.” (Yesaya 53: 2).  

Penampilannya "begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi” (Yesaya 52:14).  Semua nubuat tentang Mesias ini digenapi di dalam Yesus ketika ia digantung di atas kayu Salib.


Ketika akhir kematian sudah dekat, Dia berseru, "AllahKu AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"  (Matius 27:46).  Seruan ini menunjukkan identifikasi lengkap-Nya dalam keadaanNya sebagai manusia.  Dia telah sepenuhnya memeluk keberadaan penderitaan dan kematian dengan dihina, ditinggalkan dan dipukuli — keterasingan dari Allah.  Dia benar-benar manusia yang menderita.


Namun, penting untuk dicatat bahwa seruan kesedihan Yesus dari Salib bukanlah pertanda hilangnya iman kepada Bapa-Nya.  Kata-kata yang Dia nyatakan adalah kutipan dari ayat pertama dari Mazmur 22, Mazmur mesianik.  Bagian pertama dari Mazmur menubuatkan kesedihan, penderitaan dan kematian Mesias.  Bagian kedua adalah kidung pujian kepada Allah.  Itu menubuatkan kemenangan final Sang Mesias.


Tuduhan-tuduhan Formal


Kematian Kristus telah diinginkan oleh para pemimpin agama di Yerusalem sejak awal pelayananNya.  Tuduhan formal yang dibuat terhadap Dia biasanya jatuh ke dalam dua kategori berikut:


1) pelanggaran Hukum Perjanjian Lama, misalnya, melanggar ketetapan Hari Sabat;


 2) penistaan: membuat diri-Nya setara dengan Allah.


Hal-hal itu dipercepat (disempurnakan) oleh "moment of truth" yang mengikuti masuknya-Nya ke Yerusalem pada hari Minggu Palem.  Dia memiliki orang-orang di belakang-Nya.  Dia berbicara dengan jelas.  Dia berkata bahwa hari Sabat dibuat untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat.  Dia mengkritik para ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena mereduksi agama menjadi urusan eksternal semata;


"Sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan." Mat.23:27-28)


Itu adalah tuntutan/ tuduhan resmi kedua;  Namun, itu menjadi dasar untuk penghukuman-Nya.


Pengadilan Agama


Penetapan hukuman mati Kristus membutuhkan dua pengadilan: agama dan politik.  Pengadilan agama adalah yang pertama dan berlangsung pada malam hari segera setelah penangkapan-Nya.  Setelah mengalami kesulitan besar dalam menemukan saksi bagi penuntut yang benar-benar setuju dalam kesaksian mereka, Kayafas, imam besar, mengajukan pertanyaan penting kepada Yesus: "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Maha Terberkati?"  Yesus, yang tetap diam sampai saat itu, sekarang menjawab langsung:


"Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit." 

(Mark 14:61-62).


Jawaban Yesus mengingatkan banyak pernyataan lain yang telah Dia buat mulai dengan kata-kata, "Aku."  “Aku adalah roti kehidupan.  .  .  Akulah terang dunia.  .  .  Aku adalah jalan, kebenaran, dan hidup.  .  .  sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. "  (Yohanes 6 sampai 15).  Penggunaan kata-kata ini sendiri dianggap menghujat oleh para pemimpin agama.  Kata-kata yang adalah merupakan Nama Yehuwah.  Dengan menggunakan nama-nama itu sebagai Nama-Nya sendiri, Yesus secara positif mengidentifikasi diri-Nya dengan Yehuwah.  Dari semak yang terbakar suara Yehuwah telah mengungkapkan kata-kata ini kepada Musa sebagai Nama Ilahi:


"Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." 

(Kel.3:13-14)


Sekarang Yesus, seperti yang telah dilakukan-Nya pada banyak kesempatan lain, menggunakan nama-nama itu sebagai Nama-Nya sendiri.  Imam besar segera merobek jubahnya dan “mereka semua mengutuk Dia sebagai layak untuk dihukum mati” (Markus 14:64).  Menurut mereka, Dia telah melanggar Hukum Perjanjian Lama:


Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati. (Imamat 24:16)


Pengadilan Politik


Para pemimpin agama Yahudi tidak memiliki wewenang untuk melaksanakan hukuman di atas: untuk membunuh seseorang.  Otoritas semacam itu milik administrasi sipil Romawi.  Yesus dengan hati-hati menjaga kegiatan-Nya bebas dari implikasi politik.  Dia menolak godaan Setan untuk memerintah kerajaan dunia dengan pedang (Lukas 4: 1-12).  Dia sering menugaskan murid-murid-Nya dan yang lainnya untuk tidak memberi tahu siapa pun bahwa Dia adalah Mesias, karena nuansa politik yang dibawa gelar ini bagi banyak orang (Matius 16: 13-20).  Dia menegur Petrus, dan menyebutnya Setan, ketika murid itu mengisyaratkan membelokkan-Nya dari sifat sejati dari misi-Nya (Matius 16:23).  Kepada Pilatus, Gubernur Romawi yang lemah dan acuh tak acuh, Dia berkata dengan jelas, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini" (Yohanes 18:36).  Yesus bukanlah seorang revolusioner politik yang datang untuk membebaskan orang-orang dari kendali Romawi dan membangun kerajaan baru berdasarkan kekuatan duniawi.


Namun demikian, para pemimpin agama, yang bertindak sesuai dengan kekuatan massa, merancang tuduhan politik terhadap-Nya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.  Mereka menyerahkan Kristus kepada orang-orang Romawi sebagai, pemimpin politik "Raja orang Yahudi" dalam arti duniawi, ancaman terhadap kekuasaan Romawi dan tantangan bagi Kaisar.  Pilatus menjadi takut akan posisinya sendiri ketika dia mendengar tuduhan itu dan melihat gerombolan itu.  Oleh karena itu, terlepas dari kesaksiannya yang menyatakan tidak bersalahnya Yesus, ia menjatuhkan hukuman formal, “mencuci tangannya” dari masalah ini, dan menyerahkan Yesus untuk disalibkan (Yohanes 19:16).


Penyaliban — Kemenangan Kejahatan


Sebelum menyerah pada metode kejam Romawi ini dalam mengeksekusi penjahat politik, Yesus masih menderita ketidakadilan lainnya.  Dia ditelanjangi, diejek dan dipukuli.  Dia mengenakan mahkota duri “raja” di kepala-Nya.  Dia memikul salib-Nya sendiri.  Dia akhirnya dipakukan pada salib di antara dua pencuri di sebuah tempat bernama Golgota (tempat tengkorak) di luar Yerusalem.  Sebuah prasasti diletakkan di atas kepala-Nya di kayu Salib untuk menunjukkan sifat kejahatan-Nya: "Yesus dari Nazaret Raja orang Yahudi."  Dia menyerahkan roh-Nya  sekitar jam kesembilan (jam 3 sore), setelah tergantung di kayu Salib selama enam jam.


Pada hari Jumat Kudus, kejahatan menang.  "Waktu itu hari sudah malam" (Yohanes 13:30) ketika Yudas berangkat dari Perjamuan Terakhir untuk menyelesaikan tindakan pengkhianatannya, dan "ada kegelapan di seluruh negeri" (Matius 27:45) ketika Yesus digantung di kayu Salib.  Kekuatan jahat dunia ini telah berkumpul melawan Kristus.  Pengadilan yang tidak adil menghukum Dia.  Seorang penjahat dibebaskan untuk orang-orang dan bukan Dia yang dibebaskan.  Paku dan tombak menusuk tubuh-Nya.  Cuka pahit diberikan kepada-Nya untuk memuaskan dahaga-Nya.  Hanya satu murid yang tetap setia kepada-Nya.  Akhirnya, makam orang lain menjadi tempat istirahatNya setelah kematian.


Yesus yang tidak bersalah dihukum mati berdasarkan tuduhan agama dan politik.  Baik orang Yahudi maupun Romawi yang bukan Yahudi berpartisipasi dalam hukuman mati-Nya.


"Para penguasa rakyat telah bermufakat melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya."  (Mazmur 2 — Prokeimenon Liturgi Sembahyang Senja Kamis Kudus)


Kita, juga, dalam banyak hal terus berpartisipasi dalam hukuman mati yang diberikan kepada Kristus.  Tuduhan formal yang diuraikan di atas tidak menyelesaikan alasan penyaliban.  Di balik dakwaan formal terdapat sejumlah ketidakadilan yang disebabkan oleh motivasi tersembunyi dan pribadi.  Yesus secara terbuka berbicara kebenaran tentang Allah dan manusia.  Dengan demikian ia membongkar karakter palsu dari kebenaran dan keamanan diri, baik agama maupun materi, yang diklaim oleh banyak orang terutama di tempat-tempat tinggi.  Pameran keangkuhan yang terus menerus terjadi di zaman kita sekarang ini mengajarkan kepada kita sifat yang benar-benar semu dari apa yang disebut kebenaran dan keamanan.  Dalam arti yang paling dalam, kematian Kristus disebabkan oleh dosa pribadi yang keras — penolakan manusia untuk mengubah diri mereka dalam terang kenyataan, yaitu Kristus.


Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. (Yoh. 1:11)  


Terutama kita, orang-orang Kristen, adalah milik Kristus sendiri.  Dia terus mendatangi kita di Gereja-Nya.  Setiap kali kita berusaha membuat Gereja menjadi sesuatu selain kedatangan Kristus yang kekal ke tengah-tengah kita, setiap kali kita menolak untuk bertobat dari kesalahan kita; maka kita juga menolak Kristus dan berpartisipasi dalam hukuman mati-Nya.


Vespers/ Sembahyang Senja


Vesper, yang dirayakan di Gereja pada Jumat Kudus sore, mengingatkan semua peristiwa terakhir kehidupan Kristus sebagaimana disebutkan di atas: pengadilan, hukuman, pencambukan dan ejekan, penyaliban, kematian, penurunan  TubuhNya dari kayu Salib, dan penguburan.  Sebagaimana ditunjukkan oleh hymnografi, peristiwa-peristiwa ini tetap selalu hadir di Gereja;  semuanya disusun dengan kata "hari ini" dalam kehidupannya..


Ibadah ini penuh dengan bacaan dari Kitab Suci: tiga dari Perjanjian Lama dan dua dari Perjanjian Baru.  Bacaan Perjanjian Lama yang pertama, dari Keluaran, berbicara tentang Musa yang memandang “punggung” kemuliaan Allah — karena tidak ada seorang pun yang dapat melihat kemuliaan Allah secara berhadapan muka dan hidup.  Gereja menggunakan bacaan ini untuk menekankan bahwa sekarang, dalam penyaliban dan kematian Kristus, Allah membuat penghinaan tertinggi untuk mengungkapkan kemuliaan-Nya kepada manusia — dari dalam diri manusia sendiri.


Kematian Kristus adalah karakter yang sepenuhnya sukarela.  Ia mati bukan karena kebutuhan dari keberadaan-Nya: sebagai Anak Allah Ia memiliki hidup di dalam Diri-Nya!  Namun, Dia secara sukarela menyerahkan hidup-Nya sebagai tanda kasih terbesar dari Allah bagi manusia, sebagai wahyu pamungkas dari kemuliaan Ilahi:


Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (Yoh.15:13)


Himnografi Sembahyang Senja ini lebih lanjut mengembangkan fakta bahwa Allah menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita dalam kasih karena perendahan diri.  Penyaliban adalah jantung dari kasih yang demikian, karena Dia yang disalib tidak lain adalah Dia yang melaluinya segala sesuatu telah diciptakan:


Hari ini Sang Pencipta berdiri di hadapan Pilatus.  Hari ini Sang Pencipta dikutuk untuk mati di kayu salib.  .  .  Penebus dunia ditampar.  Pencipta segala sesuatu diejek oleh hamba-hamba-Nya sendiri.  Kemuliaan bagi perendahan diriMu ya Pengasih  manusia!  (Ayat tentang "Ya Tuhan kuberseru", dan Apostikha)


Ayat-ayat ini juga menggarisbawahi dimensi kosmik dari peristiwa yang terjadi di Salib.  Sama seperti TUHAN yang menyatakan diri kepada Musa bukanlah tuhan, tetapi TUHAN “langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tidak kelihatan,” demikian juga kematian Yesus bukanlah puncak dari perjuangan kecil dalam kehidupan domestik Palestina.  .  Sebaliknya, itu adalah pusat dari perjuangan epik antara TUHAN dan si Jahat, yang melibatkan seluruh alam semesta:


Semua ciptaan diubah oleh rasa takut

ketika melihat Engkau tergantung di atas kayu salib, ya Kristus!  Matahari menjadi gelap, dan dasar-dasar bumi terguncang.

Semua ciptaan menderita bersama dengan Sang Pencipta segala sesuatu.

Ya Tuhan, yang dengan rela menanggung ini bagi kami, kemuliaan bagi-Mu!

(Ayat I pada "Ya Tuhan kuberseru")


Pembacaan kedua dari Perjanjian Lama (Ayub 42:12 sampai akhir) memanifestasikan Ayub sebagai figur kenabian dari Mesias sendiri.  Nasib Ayub diikuti dalam ibadah sepanjang Pekan Kudus, dan diakhiri dengan pembacaan ini.  Ayub adalah hamba yang saleh yang tetap setia kepada Allah terlepas dari cobaan, penghinaan, dan kehilangan semua harta dan keluarganya.  Karena kesetiaannya, “Tuhan memberkati hari-hari terakhir Ayub lebih dari permulaannya” (Ayub 42: 12)


Yang ketiga dari bacaan Perjanjian Lama adalah yang paling penting (Yesaya 52:13 sampai 54: 1).  Itu adalah prototipe Injil itu sendiri.  Bacalah pada saat ini, maka isinya secara positif mengidentifikasi Yesus dari Nazaret sebagai Hamba yang Menderita, Manusia yang Menderita;  Mesias Israel.


Pembacaan Surat (I Korintus 1:18 sampai 2: 2) berbicara tentang Yesus yang disalibkan, kebodohan bagi dunia, sebagai pusat iman kita yang sebenarnya.  Pembacaan Injil, gabungan panjang yang diambil dari Matius, Lukas dan Yohanes, menceritakan semua peristiwa yang terkait dengan penyaliban dan penguburan Kristus.


Semua bacaan jelas fokus pada tema harapan.  Sebagai Tuhan yang Mahabesar, penggenapan Ayub yang benar, dan Mesias Sendiri, penghinaan dan kematian tidak bisa menahan sampai akhir atas Yesus.  Bahkan duka orang tuaNya Maria berubah dalam terang harapan ini:


Ketika dia yang melahirkan Engkau tanpa benih

melihat Engkau tergantung di atas kayu salib,

Ya Kristus, Pencipta dan Allah dari semua,

dia menangis dengan sedih, “Di mana keindahan wajah-Mu, ya Putraku?

Aku tidak tahan melihat Engkau disalibkan secara tidak adil.  Segeralah Engkau bangkit,

agar aku juga dapat melihat kebangkitan-Mu dari antara orang mati pada hari ketiga!

(Ayat IV tentang "Ya Tuhan kuberseru.")


Menjelang akhir Vesper,  imam sepenuhnya menggunakan jubah dalam warna gelap.  Pada waktu yang ditentukan ia mengangkat Kafan Suci, sebuah ikon besar yang menggambarkan Kristus berbaring di kuburan, dari meja altar.  Bersama-sama dengan umst awam dan Putra Altar terpilih, melakukan prosesi arak-arakan dan Kain Kafan dibawa ke sebuah makam yang disiapkan khusus di tengah gereja.  Saat prosesi bergerak, troparion dinyanyikan:


Yusuf yang terhormat, ketika dia telah mengambil tubuh-Mu yang termurni dari atas salib, ia membungkusNya dengan kain linen halus dan mengurapinya dengan rempah-rempah, dan menempatkannya di kuburan yang baru.


Pada peristiwa paling penting dari Vesper ini, tema pengharapan sekali lagi muncul — kali ini lebih kuat dan jelas daripada sebelumnya.  Saat lutut ditekuk dan kepala tertunduk, dan sering kali air mata ditumpahkan, troparion lain dinyanyikan yang menembus kemenangan dari si jahat ini, hingga hari baru yang terkandung di tengah-tengahnya:


Malaikat itu mendatangi wanita-wanita pembawa rempah wangi di kuburan dan berkata: “Rempah-rempah wangi cocok untuk orang mati, tetapi Kristus telah menunjukkan diri-Nya itu bebas dari kematian.


Zaman baru telah tiba.  Keselamatan kita sedang terjadi.  Dia yang mati adalah Pribadi yang sama yang akan bangkit pada hari ketiga, untuk “menginjak-injak maut dengan kematian,” dan untuk membebaskan kita dari kematian.


Karena itu, pada akhir Vesper Jumat Kudus, di akhir hari kegelapan yang panjang ini, ketika semua hal tampaknya berakhir, harapan kekal kita akan keselamatan muncul.  Karena Kristus memang bebas dari kematian:


“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.

Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.

Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya.”  (I Kor. 15: 21-23)


“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya."  (Mar. 8:35)


https://www.oca.org/saints/lives/2015/04/10/25-great-and-holy-friday