“KITA HARUS MEMAKSA DIRI”
St Yohanes dari Kronstadt
Pada tanggal 14 Juni 1990, upacara kanonisasi Imam Agung Yohanes dari Kronstadt oleh Patriarkhat Moskow dirayakan di Biara St. John di St. Petersburg.
Romo Kronstadt diberikan kepada Gereja pada masa yang sulit. Dia menubuatkan revolusi, perang, dan lautan darah.
Tuhan menganugerahinya dengan banyak karunia Roh Kudus. Kata-katanya menembus dan menyembuhkan jiwa. Lima hingga tujuh ribu orang akan berkumpul untuk Liturgi Ilahi di Katedral St. Andrew di Kronstadt di mana Romo Yohanes melayani selama lima puluh enam tahun. Orang-orang akan datang ke Romo Yohanes untuk pengakuan dosa umum dan mereka secara terbuka meneriakkan dosa-dosa mereka. Menurut kesaksian mereka, hawa nafsu mereka berhenti menyiksa mereka setelahnya.
Kata-kata yang menginspirasi dari St. Yohanes dari Kronstadt masih dapat kita temui. Seratus tahun kemudian, dia berbicara kepada kita yang hidup saat ini. Nilai-nilai spiritual dan kehidupan spiritual itu sendiri tidak berubah, dan tolok ukurnya adalah bagaimana memperlakukan orang lain dengan tepat, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita ketahui.
***
Kita membutuhkan podvig (perjuangan rohani) untuk pembentukan manusia batiniah kita, untuk mematikan hawa nafsu yang bersarang di dalam diri kita, untuk mengembangkan diri kita sendiri ke tingkat pertumbuhan kepenuhan Kristus (Ef. 4:13), ketika kita menjadi mampu menerima dan menanggung Kerajaan Allah di dalam hati kita. Tuhan selalu bersama kita, di pintu hati kita, seperti yang dikatakan: Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk (Wahyu 3:20); tapi apakah hati kita selalu bisa menerima Dia? Kita ditunjukkan oleh buku-buku dan contoh-contoh bahwa podvig adalah kekuatan tambahan untuk kesempurnaan kita, untuk menyucikan hati kita, sehingga dapat menerima Kerajaan Allah, yaitu Kristus sendiri di dalamnya.
Apakah Saudara tahu troparion bagi Martir Agung Theodore dari Tyro? “Dia dipersembahkan sebagai roti manis kepada Sang Tritunggal.” Apa artinya ini? Bagaimana kita memahami kata-kata ini? Agar roti menjadi manis dan menyenangkan, pertama-tama, tepung harus diayak dengan baik, dipisahkan dari segala kotoran, dari segala sesuatu yang tidak cocok, agar roti menjadi murni dan lezat. Dengan cara yang sama, agar hati kita menjadi korban yang berkenan kepada Tuhan, pertama-tama kita harus membersihkannya dari hawa nafsu yang ada di dalamnya, kita harus mencabutnya, dan korban persembahan kita akan diterimaNya.
***
Apakah saudara benar-benar berpikir bahwa kewaspadaan kita atau podvig kita cukup kuat dan mampu untuk memberi kita keberanian di hadapan Cawan Suci? Apakah saudara ingat si pencuri di atas salib? Satu desahan pertobatan yang tulus, iman yang sederhana kepada Dia yang Tersalib—ini adalah pembenaran kita, bukan dari podvig ilusi kita. Tentu saja, kita harus bekerja, tetapi bukan sedemikian rupa sehingga kita melihat dan membayangkan pembenaran dan kehormatan kita ada di podvig ini. Firman Tuhan katakan: Hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina ya Allah (Mazmur 51:19).
Kita harus memaksakan diri; perhatikanlah, "kita harus memaksakan diri" bagi kepentingan orang lain dan bagi kemuliaan Tuhan.
***
Tidakkah saudara menganggap kelalaian sebagai dosa? Itu adalah kehilangan perhatian, dan Juruselamat merujuknya ketika Dia berbicara tentang benih yang jatuh di jalan, dan ketika Dia berkata kepada Rasul Petrus: Simon, Simon, lihatlah, Setan telah menginginkanmu, agar dia dapat menampi kamu seperti gandum (Luk 22:31).
***
Bahkan Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah dari salah satu bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Betapa jelas kebenaran firman Allah: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Saya sendiri pernah mengalaminya: Sejak saya mulai dengan sungguh-sungguh mencari dan memelihara hanya untuk menyenangkan Tuhan dalam doa dan karya belas kasih kepada orang lain, saya hampir tidak perlu mengurus diri saya sendiri, yaitu bagi kebutuhan kekal saya. Dengan rahmat Tuhan, orang-orang baik memberi saya pakaian, sepatu, dan menjamu saya, dan itu akan dianggap sebagai pelanggaran jika saya tidak menerima semangat kasih mereka.
Dan beginilah saya memahaminya: Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan baikmu, dan memuliakan Bapamu yang di Surga (Mat. 5:16). Biarkan orang melihat perbuatan baik kita, dan melalui pujian kepada Tuhan ini, akan memberikan contoh hidup bagi diri mereka sendiri, yaitu motivasi hidup untuk berbuat lebih baik. Lalu kepada siapakah kita harus menyembunyikan perbuatan baik kita! [Batiushka menunjuk ke hatinya sendiri]. Sembunyikan semuanya darinya; jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang dilakukan tangan kananmu (Mat. 6:3). "Tangan kiri" di sini berarti kesombongan dan keangkuhan kita.
***
Mengapa kita harus kawatir akan hari esok? Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Mat. 6:34). Mari kita berserah, seperti anak-anak, kepada Bapa Surgawi kita, karena Dia tidak akan membiarkanmu dicobai melebihi kemampuanmu (1 Kor. 10:13). Kita hanya akan menyiksa diri sendiri dengan kecurigaan, dan itu tidak akan meyelesaikan masalah ; kita bahkan akan merusaknya dengan membayangkan kekhawatiran masa depan di mana mungkin kekawatiran kita sebetulnya tidak ada. Kita tidak boleh melakukan kejahatan, tetapi biarkan mereka melakukannya kepada kita, jika Tuhan mengizinkannya.
Dari buku: Percakapan Imam Agung Yohanes dari Kronstadt dengan Abbess Taisia, Biara Sretensky, 2022
St Yohanes dari Kronstadt
Terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Jesse Dominick
Biara Sretensky
14/6/2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar