Oleh:
Athanasios
Zoitakis,
Kandidat
ilmu sejarah, dosen di Departemen Sejarah Gereja (Fakultas Sejarah Universitas
Negeri Moskow)
Pada November 1922 Stylianos Gonatas menjadi perdana menteri Yunani. Seorang politisi liberal, dia adalah pendukung berat akan modernisasi dan westernisasi Yunani. Secara khusus, ia percaya bahwa penolakan terhadap kalender Julian akan membawa Yunani lebih dekat ke Eropa, yang telah lama beralih ke Kalender baru.
Pada tahun 1923 kepemimpinan gereja berubah. Dengan dukungan penguasa, sarjana terkenal Chrysostomos I (Papadopoulos) menjadi Pemimpin Gereja Yunani. Banyak yang menganggap pemilihannya tidak kanonik dengan mengacu pada Kanon Apostolik ke-30 yang menyatakan bahwa “jika ada uskup yang memperoleh kepemilikan gereja dengan bantuan kekuatan duniawi, biarlah dia digulingkan dan dikucilkan.”
Pada tanggal 27 Desember 1923, Uskup Agung Chrysostomos mengeluarkan dekrit tentang pemindahan Gereja Yunani ke kalender baru. Dia kemudian akan menyesali keputusannya ini. Dia memotivasi langkah fatalnya dengan mengklaim bahwa dia telah ditekan oleh otoritas sekuler dan patriarkh Konstantinopel Meletius (Metaxakis): “Sia-sia aku melakukan ini… Meletius yang terkutuk itu mencekik leherku!”
Sebagian besar Klerus tunduk pada inovasi ini, tetapi saat itu orang-orang datang dengan prosesi salib ke alun-alun utama kota, meminta pihak berwenang untuk membatalkan inovasi tersebut. Karena unjuk rasa ini, banyak orang ditangkap dipukuli dan bahkan disiksa.
Terlepas dari tindakan represi ini, banyak yang terus berkampanye secara terbuka untuk mempertahankan kalender Julian kuno ('Kalender lama'), yang menyebabkan perpecahan gereja dan pendirian apa yang disebut 'Gereja Orthodoks Sejati (Kalender Lama). '
Pada mulanya, gerakan Pandangan Kalender Lama berlangsung secara spontan dari tahun 1924 hingga 1935, tetapi jumlah umat beriman yang tetap setia pada kalender Julian hanya sedikit. Selama enam bulan pertama keberadaannya, tidak ada satu imam pun yang ambil bagian dalam gerakan itu, tetapi kemudian muncul dua Klerus yang ikut ambil bagian dalam gerakan tersebut.
Insiden terkenal munculnya tanda Salib di langit selama Ibadah Kawal Malam sebelum pesta Peninggian Salib Yang Mulia (menurut kalender Julian) pada tahun 1925 di atas Gereja Kelompok Kalender Lama St. Yohanes Sang Theolog di Athena menyebabkan peningkatan jumlah penganut Kalender Lama. (Penampakan Salib ini dapat disaksikan baik oleh umat maupun polisi, yang telah dikirim untuk membubarkan pertemuan doa, selama satu jam penuh).
Dari tahun 1925 sampai 1935 didirikan sekitar 800 paroki Kalender Lama dan terbitan berkala mulai diterbitkan. Pada tahun 1931, undang-undang parlementer untuk sementara mengizinkan Kelompok Kalender Lama berkumpul secara bebas untuk ibadah liturgi. Gereja resmi secara aktif menentang hal ini, dan akibatnya gereja-gereja Kalender Lama ditutup dan para biarawan dan biarawati mereka diusir dari biara.
Pada awalnya, gerakan itu tidak memiliki uskup sendiri, tetapi pada tahun 1935 sebelas uskup sudah bersimpati pada gagasan untuk beralih ke Kalender Lama. Di bawah tekanan dari Gereja Yunani, hanya tiga uskup yang melaksanakan keputusan mereka, yang kemudian mulai menahbiskan uskup lainnya. Gerakan ini dipimpin oleh Metropolitan Florina Chrysostomos (Kavuridis). Awalnya, tujuan gerakan itu bukan untuk mendirikan Gereja baru; para pesertanya hanya ingin mempengaruhi Gereja resmi Yunani melalui posisi yang mereka miliki. Mereka awalnya mengakui juga sakramen-sakramen dari Gereja Kalender Baru.
Setelah Perang Dunia Kedua, pengaruh Kelompok Kalender Lama tumbuh berkembang. Mereka mendapat dukungan dari kalangan politik konservatif dan politisi monarki terkenal yang secara teratur berpartisipasi dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh 'Kristen Orthodoks Sejati'. Gereja Yunani menyuarakan protesnya terhadap hal ini dan meminta pemerintah Yunani untuk 'menghancurkan pemberontakan Kalender Lama. ' sampai pada akarnya. Terlepas dari represi yang dilakukan oleh negara, kelompok skismatik ini terus mendapatkan popularitas di antara orang-orang.
Namun masalah utama bagi Reputasi kelompok Kalender Lama yang merosot tajam ketika pada tahun 1952 muncul laporan tentang penyiksaan di salah satu biara mereka. Namun, masalah utama bagi kelompok Kalender Lama adalah konflik internal dan radikalisasi gerakan tersebut. Pada tahun 1937, sekelompok ekstremis, yang dipimpin oleh uskup Matthew (Karpathakis), memisahkan diri dari sinode metropolitan Chrysostomos. Matthew, yang melanggar kanon suci, telah menahbiskan seorang uskup secara sepihak. Kelompok ini menolak untuk mengakui kehadiran rahmat dalam sakramen-sakramen Gereja resmi maupun kelompok skismatis lainnya.
Setelah kematian
Chrysostomos pada tahun 1955 cabang Kelompok Kalender Lamanya dibiarkan tanpa
seorang uskup. Dan kemudian di sana
berpartisipasi dalam pentahbisan dua uskupnya, di mana tanpa sepengetahuan dan
izin dari pemimpin dan Sinode, dua uskup dari Gereja Orthodoks Rusia Di Luar
Rusia. Sinode ROCOR mengakui pentahbisan
ini hanya pada tahun 1969 dan menyatakan persekutuan liturgi mereka dengan para
pengikut Kalender Lama. Tetapi
persekutuan ini kemudian diputus oleh ROCOR dan kemudian dipulihkan, tetapi
kali ini dengan kelompok lain dari kelompok Kalender Lama, 'Cyprianites'.
Pada periode tahun 1980 hingga 1990 gerakan Kalender Lama Yunani mengalami masa perselisihan internal, perselisihan, perpecahan, dan pembentukan sinode baru.
Peran utama dimainkan oleh perwakilan dari sayap radikal yang dipimpin oleh Kelompok pendukung 'Matthew', yang sepenuhnya menolak adanya rahmat di Gereja Orthodoks Lokal. Posisi yang lebih moderat, tetapi juga dengan sikap negatif terhadap kehadiran rahmat dalam Gereja resmi, adalah pada sinode uskup agung Auxentius (1964 – 1985; meninggal 1994).
Kelompok ketiga diorganisir pada tahun 1985 oleh metropolitan Oropos dan Fyli Cyprianus dan metropolitan Sardis John. Mereka berpegang pada pendapat bahwa tentu saja ada Rahmat yang hadir di Gereja resmi Yunani, tetapi tubuhnya telah dilumpuhkan oleh bidat ekumenisme dan modernisme. Inilah sebabnya mengapa mereka menolak persekutuan dengan Gereja resmi, tetapi pada saat yang sama mereka tidak mengklaim bahwa mereka adalah satu-satunya Gereja sejati di tanah Yunani. Untuk pandangan ini, Kalendar Lama yang lebih radikal menyebut mereka ekumenis dan pengkhianat.
Sebagai akibat dari posisi yang sangat ketat dari pengelompokan radikal di antara Kelompok Kalender Lama Yunani, semua gerakan Kalendar Lama secara keseluruhan tetap dikompromikan: dengan “berdasarkan kekolotannya bukan berdasarkan pengetahuan” mereka telah meletakkan dasar akan kritikan atas semua penentang ekumenisme. Jika kita mengklasifikasikan Kelompok Kalender Lama menurut pengelompokannya, maka kita mengamati suatu keganjilan yang menarik bahwa kita dapat menganggap masing-masing dari ketiga kelompok itu bukan hanya satu tetapi beberapa sinode (kadang-kadang antara sepuluh dan dua belas).
Skisma Kelompok Zelot (Fanatik) di Gunung Athos
Keputusan untuk beralih ke Kalender Baru dipicu oleh perpecahan di Gunung Suci Athos.
Reformasi kalender, yang dimulai pada tahun 1923 oleh patriarkh Konstantinopel, hanya didukung oleh satu biara Gunung Athos, yaitu di Vatopedi, tetapi pada akhirnya menolak reformasi tersebut. Biara Gunung Athos mengambil keputusan konsili untuk mempertahankan Kalender Lama, sementara pada saat yang sama mereka tidak memutuskan persekutuan dengan Konstantinopel. Keputusan ini tidak memuaskan kaum radikal yang kemudian membentuk gerakan Zelot (Fanatik). Otoritas negara mulai menganiaya para pemberontak: kaum Zelot (Fanatik) diusir dari Gunung Suci dan sel mereka diserahkan kepada penghuni baru. Namun demikian, ada banyak orang di Gunung Athos hingga hari ini yang menolak untuk memperingati Patriarkh Ekumenis. Secara khusus, mereka mengendalikan biara Esphigmenou.
Orthodoks
Tradisionalis dan Gerakan Kalendar Lama
Mengapa gerakan Kalender Lama gagal menjadi gerakan massa? Kita dapat menjawab pertanyaan ini dengan beralih ke warisan para pertapa Yunani yang saleh yang terkenal di Rusia. Kebanyakan dari mereka tidak mendukung perpindahan ke Kalender Baru dan berbicara menentang ekumenisme, tetapi tidak memisahkan diri dari Gereja, percaya bahwa perpecahan adalah bencana yang jauh lebih besar.
Kita dapat mencari tahu tentang halaman-halaman sejarah yang kurang dikenal ini dengan beralih ke warisan kepala biara dari biara Longovardas di pulau Paros Archimandrite Philotheos (Zervakos) – seorang bapa pengakuan, misionaris, dan theolog Yunani yang terkenal. Romo Philotheos menikmati otoritas yang besar. Dia berkorespondensi dengan para patriarkh Konstantinopel Meletius dan Athenagoras, Pemimpin dari banyak Gereja Orthodoks Lokal, perdana menteri dan presiden Yunani dan para pemimpin gerakan Kalender Lama. Dokumen-dokumen yang kami terbitkan dalam artikel ini sampai sekarang masih asing bagi pembaca Rusia.
Zervakos percaya bahwa penting untuk mengamati dengan tegas dan dengan hormat keputusan-keputusan Konsili dan Tradisi Suci. Distorsi apa pun di bidang dogma tidak dapat diterima, tetapi 'ekonomia' kanon adalah mungkin, tetapi bahkan di sini lebih disukai untuk mematuhi keketatan ('acribea'). Archimandrite Philotheos mengakui otoritas otoritas gereja dan memperlakukan hierarki gereja dengan hormat, tetapi bereaksi kritis terhadap setiap distorsi tradisi gereja, bahkan yang paling tidak penting.
Romo Philotheos memandang negatif perubahan kalender gereja. Dia mendukung posisi para patriarkh Aleksandria dan Antiokhia, yang pada tahun 1923 mendesak diadakannya Konsili untuk menyelesaikan masalah kalender. Pada saat yang sama, harus dicatat bahwa patriarkh Yerusalem juga secara prinsip menentang perubahan kalender.
Mari kita lihat surat yang tidak diterbitkan oleh Romo Philotheos tertanggal 11 Februari 1932 di mana dia berbicara tentang langkah-langkah yang akan dia ambil untuk mempertahankan Kalender Lama: “Saya bertanya kepada para patriarkh Yerusalem dan Aleksandria yang selalu dikenang, yang menolak inovasi kalender , dan mereka berkata kepada saya: jika Saudara diizinkan untuk mempertahankan Kalender lama, itu bagus; jika mereka mengancam atau ingin membubarkan biara, maka setujuilah kalender baru, karena ini bukan masalah dogma. Para tetua Gunung Athos dan bapa rohani saya menyarankan agar saya melakukan hal yang sama.”
Selanjutnya, Zevarkos tidak menyerah dan selama bertahun-tahun terus berjuang untuk kembali ke Kalender Lama. Pada tanggal 20 Februari 1935 ia mengirim surat kepada Perdana Menteri Yunani Panagiotis Tsaldaris memintanya untuk memungkinkan kembalinya Kalender lama ini: “Sudah sepuluh tahun sekarang Gereja Yunani berada dalam keadaan terpecah-pecah dalam kalender liturgi… Saya meminta Saudara sebagai penguasa tanah air kita untuk memastikan bahwa perpecahan ini tidak menjadi permanen tak bisa diubah lagi. Satukan Gereja yang telah begitu terpecah karena kebodohan… Kembalikan kalender gereja yang telah diturunkan kepada kami sebagai warisan kami oleh para bapa k-Pengemban Allah kita.”
Dalam suratnya kepada kepala negara Romo Zervakos mengusulkan kompromi: pentahbisan seorang uskup agung yang akan melayani di Kalender Lama harus berada dalam ketundukan kanonik kepada Gereja Yunani. Dengan cara ini, Kelompok Kalender Lama akan menerima seorang Klerus kanonik dan hati nurani mereka akan ditenangkan.
Arkhimandit Philotheos sendiri terus melayani menurut Kalender Lama hingga Januari 1976. Kehancuran hatinya adalah ketika ia memegang sebuah buku yang diterbitkan oleh kepala biara Kenaikan Tuhan miliki kelompok Kalender Lama di kota Kozani yang ditulis oleh biarawati Magdelena.
Buku Magdelena, yang berjudul Nectarios Kethalas: Iconoclast, Latinist and Ecumenist, memuat tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal dan mendasar terhadap Orang Suci besar Yunani Nektarios dari Pentapolis.
Philotheos (Zervakos) berusaha memanggil biarawati tersebut untuk bertobat dan menerbitkan sebuah buku yang menyangkal fantasinya. Dia menyimpulkan bahwa tidak mungkin untuk berdamai dengan skismatik radikal. Arkhimandrit Philotheos tidak lagi ingin melayani di kalender yang sama dengan mereka yang percaya bahwa Kalender Lama adalah satu-satunya jalan menuju surga sementara para penganut kalender baru berada di jalan menuju kehancuran kekal: “Kalender Lama, untuk mempertahankan kalender, telah jatuh ke dalam banyak kesalahan yang lebih buruk daripada para pembuat kalender baru… Mereka telah menghapus perintah Kasih yang pertama dan paling penting, mereka telah memecah diri mereka menjadi banyak kelompok, mereka telah mulai membaptis ulang orang-orang Kristen Orthodoks, mereka telah memperkenalkan dogma yang baru dan mulai menyembah kalender mereka… Orang-orang fanatik yang fanatik percaya bahwa sakramen kalender baru tidak sah dan bahwa Roh Kudus tidak turun ke atas kelompok kalender baru… Ketika melihat kesalahan mengerikan dari Kalender Lama, banyak yang memilih kejahatan yang lebih rendah dan akhirnya pergi ke kalender baru.”
Romo Philotheos terpaksa mengambil keputusan untuk beralih ke kalender baru (harus dikatakan bahwa ini bukan keputusan yang mudah baginya setelah berbulan-bulan berdoa dan berpuasa dengan sungguh-sungguh) oleh karena perpecahan terus-menerus di antara kelompok Kalender Lama: mereka membenci satu sama lain dan membaptis kembali pengikut baru yang datang kepada mereka. Selain itu, banyak uskup yang menahbiskan diri sendiri (yaitu, pentahbisan mereka tidak sah secara kanonik)
Saat ini Gereja Yunani tidak mengambil tindakan serius untuk menyembuhkan perpecahan. Ini karena setiap upaya untuk menjadi lebih dekat dengan skismatik radikal hampir tidak mungkin karena mereka telah menolak kehadiran rahmat dalam sakramen semua Gereja Orthodoks Lokal. Apakah kembalinya skismatik moderat ke pangkuan Gereja akan terjadi adalah pertanyaan yang terbuka untuk diskusi.
Preseden
serupa telah terjadi di Yunani, tetapi terjadi pada saat keterasingan antara
kelompok skismatik dan Gereja belum menjadi sesuatu yang tidak bisa
disembuhkan. Di atas segalanya, kita
harus memperhatikan contoh biara Gunung Athos dan metokhionnya – semuanya
beribadah menurut Kalender Lama dan pada saat yang sama berada dalam
persekutuan penuh dengan penganut Kalender Baru. Yang terutama contoh berhasil adalah Timothy Metropolitan Gortyna:
Uskup yang memulai negosiasi
dengan Kelompok Kalender Lama dan menawarkan untuk menahbiskan imam mana pun
dari Patriarkhat Yerusalem untuk menopang secara rohani kawanan mereka – dengan
cara ini mereka kembali ke pangkuan Gereja
.
Perpecahan itu dapat disamakan dengan retakan yang melebar secara bertahap: seiring berjalannya waktu, perpecahan itu semakin melebar dan mungkin menjadi tidak dapat diperbaiki lagi. Seringkali, menghilangkan penyebab perpecahan dan perselisihan tidak mengarah pada pemulihan persekutuan: Penggunaan Kalender Lama dan kebanggaan terhadap skismatik lebih penting daripada persatuan gereja. Marilah kita berharap bahwa pemulihan kesatuan Gereja Orthodoks masih mungkin, dan saat ini kita harus menerima bimbingan kata-kata St. Paisios dari Gunung Athos: “Kita harus mengasihi para skismatik fanatik, kita harus merasakan sakit mereka dan mengasihani mereka serta tidak menghakimi mereka, tetapi yang terpenting kita harus berdoa bagi mereka, agar Tuhan memberikan pencerahan kepada mereka. Dan jika salah satu dari mereka kebetulan meminta bantuan kita dengan tujuan positif, maka kita dapat memberi tahu mereka apa yang kita ketahui.” http://www.oodegr.com/english/ekklisia/sxismata/paisios1.htm
Penulis : Afanasios Zoitakis










Tidak ada komentar:
Posting Komentar