Selasa, 04 Juli 2023

Mengkritik Imam


Mengkritik Imam

Pernah hidup seorang Imam yang amat saleh.  Meskipun dia hampir tidak bisa membaca dan menulis, dia adalah seorang Imam, seorang Imam dengan iman yang kuat, kebajikan yang besar dan banyak perjuangan rohani.  Dia biasa berdiri tegak selama berjam-jam selama Proskomedi (Doa Imam persiapan Roti dan Anggur Perjamuan Kudus), meskipun urat kakinya telah terpengaruh dan menonjol akibat berdiri tegak memperingati nama banyak orang.  Dia adalah orang yang mau berkorban sampai nafas terakhirnya.


Karena dia hampir tidak tahu cara membaca dan menulis, karena kesalahpahaman, dia tidak menempatkan bagian-bagian di Piring Suci dengan benar.


Ketika kita meletakkan bagian dari Sang Theotokos tersuci di atas piring Suci, biasa dikatakan : "Ratu berdiri di sebelah kananMu ..."


Imam mendapat kesan bahwa, karena dia berkata "di sebelah kananMu," bagian Bunda Allah Yang tersuci harus ditempatkan di sisi kanan Anak Domba (saat dia melihat ke Piring Suci).  Dengan kata lain, dia menempatkan bagian itu ke belakang.


Suatu hari, seorang Uskup mengunjungi Biara Suci untuk Penahbisan Seorang Diaken.  Dalam Mazmur Pujian, ketika Uskup memasuki Altar Suci, ia mengenakan rompi, kemudian pergi ke Proskomedi, yang telah disiapkan sampai titik tertentu.  Mulai di titik itu Uskup sendiri yang terus memperingati.  Karena itu, Uskup memperhatikan bahwa bagian Sang Theotokos itu telah diletakkan di belakang oleh imam:


"Engkau tidak menempatkan potongan-potongan itu dengan benar, Romo," katanya.  “Romo, kemarilah sebentar.  Sang Theotokos tersuci harusnya ditempatkan di sini dan Tingkatan para Suci ditempatkan di sana.  Tidakkah ada yang memberi tahumu;  tidak ada yang melihat bagaimana engkau melakukan Proskomedi?”


“Tentu, Yang Mulia,” jawab Imam itu.  “Setiap hari, ketika saya merayakan (tidak satu haripun berlalu dia merayakan Liturgi Ilahi), Malaikat yang melayaniku melihat apa yang aku lakukan tetapi tidak memberi tahuku apa pun.  Saya minta maaf, karena saya buta huruf, karena membuat kesalahan seperti itu;  Aku akan berhati-hati mulai sekarang.”


“Siapa yang engkau katakan?  Siapa yang engkau katakan melayanimu di sini?  tanya uskup, “Bukankah dia seorang biarawan yang melayanimu?”


“Tidak,” jawab Imam itu, “Malaikat Tuhan.”


Uskup terdiam, apa yang bisa dia katakan?  Dia terheran-heran dan dia menyadari bahwa seorang imam suci sedang berdiri di hadapannya.


 Pada siang hari, setelah makan di trapeza, Uskup mengucapkan selamat tinggal kepada Kepala Biara serta para biarawan lainnya, dan pergi.  Keesokan harinya, karena hari masih malam, imam Geronda pergi ke Altar Suci untuk mengadakan Proskomedi.


Malaikat Tuhan turun.  Selama prosesi memecahkan Anak Domba, Malaikat memperhatikan bahwa Imam telah meletakkan bagian-bagiannya dengan benar.


"Benar Romo!"  katanya kepada Imam itu.  "Sekarang engkau telah menempatkannya dengan benar!"


"Ya, engkau tahu kesalahan yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun!"


“Dan kenapa engkau tidak memberitahuku apa pun;  kenapa engkau tidak mengoreksiku ?, ”tanyanya.


“Aku bisa melihatnya, tapi aku tidak punya hak untuk memberitahumu apapun.  Aku tidak layak untuk mengoreksi seorang Presbiter.”


 ~oleh Papa Stephanos Anagnostopoulos.  Kejadian ini diceritakan kepada penulis oleh Geronda Gabriel yang telah meninggal, yang untuk waktu yang lama menjadi kepala biara di Biara Suci Dionysios di Gunung Athos.~


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Yns7NVKwivJy2CBynPMxmSukkfgod2CLP35pYR2aACyXXSsPqb7NyqCKy3NBFUgpl&id=1005388773002456&mibextid=Nif5oz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar