Minggu, 01 Agustus 2021

Sumber Dasar Ajaran Gereja Orthodoks Timur


Sumber Dasar Ajaran Gereja Orthodoks Timur

Oleh Romo George Mastrantonis, Diedit oleh Romo George C. Papademetriou dan Dr. David C. Ford

Pentingnya Pengetahuan tentang Sumber

Orang Kristen Orthodoks harus mengetahui isi imannya seperti yang diajarkan oleh Gereja. Dia harus dibimbing dalam mempelajari apa yang dimiliki Gereja dalam pengajarannya yang tertulis (Alkitab) dan tidak tertulis (Tradisi Suci). Gereja Orthodoks adalah satu-satunya Gereja yang sejak awal mempertahankan interpretasi yang koheren dari ajarannya. Gereja menyetujui setiap anggotanya membaca sendiri dan secara umum berbicara tentang imannya. Tetapi hal itu tidak mendorong kesimpulan berdasarkan interpretasi pribadi individu.

"Jadi Filipus segera pergi kepadanya (orang Etiopia), dan mendengarnya membaca kitab nabi Yesaya, dan bertanya, 'Apakah engkau mengerti apa yang engkau baca?' Dan dia berkata, 'Bagaimana aku dapat mengerti kalua tidak ada yang membimbing aku?'", Kisah Para Rasul 8:28-31.

"Pembimbing" ini adalah Gereja itu sendiri, dan bukan individu itu sendiri, dengan kemampuan yang terbatas dan kurangnya pengetahuan penuh tentang sumber-sumber ajaran Gereja.

Ada dan telah banyak tokoh dalam Gereja yang telah mengabdikan hidup mereka untuk mempelajari Alkitab dan memelihara serta melestarikan Tradisi Suci. Tetapi tidak ada yang menjadi pemimpin gereja baru di luar Gereja Yang Tidak Terpecah. Oleh karena itu, Gereja Orthodoks adalah satu-satunya yang mempertahankan utuh "Paradosis", Tradisi tertulis dan tidak tertulis. Gereja, tidak menghalangi individu untuk menggali makna mendalam dari Alkitab untuk menemukan ekspresi baru. Tetapi ini selalu harus disahkan oleh Gereja secara keseluruhan, di mana infalibilitas berada. Adalah penting untuk mengetahui bagaimana kebebasan dan otoritas bekerja bersama-sama dalam pengajaran dan pemerintahan Gereja. Untuk mencapai pemahaman ini, orang Kristen Orthodoks harus mengetahui sumber dasar informasi.

Setiap anggota Gereja, Klerus dan orang awam, memiliki hak dan kewajiban untuk melindungi iman Orthodoks dari salah tafsir dan pernyataan palsu. Tetapi ini tidak dapat dilakukan tanpa mengetahui apa ajaran Gereja yang benar. Alkitab adalah batu penjuru yang tak tergoyahkan yang selama berabad-abad telah membimbing orang Kristen dalam mempelajari Kehendak Allah. Para Bapa Gereja, guru dan nabi, adalah alat yang dengannya Kehendak Allah ditransmisikan kepada para anggota Gereja sehingga mereka dapat mengikuti langkah-langkah yang diwahyukan Yesus Kristus. Seberapa penting pengaruh Gereja dalam membimbing umatnya? Jawabannya ada di lebih dari 200 denominasi Kristen yang memiliki Alkitab yang sama, namun mereka bersikeras bahwa interpretasi khusus mereka saja yang mengajarkan kebenaran Alkitab. Dengan demikian mereka terpecah. Sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa Alkitab dapat dipelajari secara otodidak dan tidak memerlukan interpretasi dari luar sementara mereka semua mengklaim hal yang sama, mereka masih terpecah.

Gereja - dari katakombe hingga katedral, dari pengajaran sederhana hingga dogma dan doktrin, dari arahan sederhana hingga administrasi formal - mengikuti langkah-langkah yang telah diwahyukan kepadanya dari Allah Yang Mahakuasa dalam kelanjutan yang koheren dari ajaran iman eksternal dan internalnya. Ada dua perbedaan khusus dalam Gereja Orthodoks. Salah satunya adalah hubungan antara kebebasan dan otoritas, dalam pemerintahan Gereja. Yang lainnya adalah sistem gereja yang mengatur dirinya sendiri. Perbedaan ini tidak terlalu dikenal di antara gereja-gereja Kristen lainnya. Otoritas tertinggi dalam Gereja Orthodoks adalah "Hati Nurani Gereja", yang merupakan persetujuan orang-orang di dalam Gereja Orthodoks atas penjelasan iman yang diberikan pada saat perselisihan. Sidang-sidang umum (Sinode/ Konsili) dari gereja-gereja Orthodoks nasional yang berpemerintahan sendiri, yang terdiri dari para klerus, terutama para uskup, bertemu untuk memutuskan, dengan pendapat bulat, masalah-masalah iman yang dipersengketakan. Gereja-gereja nasional yang berpemerintahan sendiri memiliki ajaran, kanon dan peribadatan liturgi yang sama, dan, pada kenyataannya, merupakan Satu Gereja.

Orang Kristen Orthodoks harus mengetahui dan memahami fakta-fakta ini agar dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan Gereja dan untuk mempertahankan posisinya dengan penjelasan yang otoritatif pada saat diskusi di antara teman-teman gereja lain. Sangatlah penting bagi umat Kristen Orthodoks untuk mengetahui sumber-sumber ajaran terutama ketika ia harus melawan propaganda dari mereka yang akan menyebarkan imannya kepada anggota Gereja Orthodoks. Ini terjadi di Gereja mula-mula dan di abad ke-17, dan juga terjadi hari ini. Di Gereja mula-mula, ketika dogma dan ajaran Gereja belum berkembang secara formal, banyak anggota gereja yang beralih ke bidat, gnostik, dan kelompok lain. Juga, sejak abad keempat, muncul orang awam, klerus, bahkan uskup dan patriarkh yang mengajarkan iman Kristen secara salah. Pada abad kesembilan ketika Skisma Besar mulai berkembang antara bagian Timur dan Barat Gereja, dan khususnya sejak abad ke-16, dengan munculnya Protestanisme, interpretasi yang keliru ini menjadi lebih eksplisit. Terhadap semua faktor ini, Gereja Orthodoks telah berjuang untuk menjaga dirinya tetap utuh untuk mempertahankan kebenaran yang telah diajarkan oleh Pendirinya, Yesus Kristus dan para Rasul-Nya, di mana akar Gereja dapat ditemukan.

Keadaan ini menuntut agar Gereja mempertahankan ajarannya dan mengemukakan sumber-sumbernya dengan interpretasi yang akurat selama berabad-abad. Perlu ditekankan bahwa pengembangan sumber-sumber ini adalah untuk melawan pendapat-pendapat yang salah dari orang-orang Kristen itu sendiri; pendapat yang tidak didasarkan pada interpretasi yang benar dari Gereja itu sendiri. Sumber-sumber ajaran Gereja yang akurat ini disebutkan di sini untuk melawan pendapat yang salah berdasarkan salah tafsir individu.

Sumber Akurat dari Gereja Ortodoks

Apa sumber dari Gereja yang Satu Tak Terpecah-pecah, Gereja Orthodoks, yang darinya ajaran-ajarannya muncul? Mengapa penting bagi para anggota Gereja untuk mengetahui sumber-sumber ini? Sumber utama ajaran Orthodoks adalah Alkitab dan Tradisi Suci. Sumber ketiga adalah tulisan-tulisan yang dtulis oleh Bapa Apostolik dan para Apologis. Sumber keempat adalah keputusan-keputusan sinode / Konsili kanonik, baik lokal maupun ekumenis, dan ucapan iman mereka, terutama Simbol Iman (Kredo Nicea) dan beberapa kanon mereka yang berkaitan dengan iman. Sumber kelima adalah khotbah-khotbah yang ditulis pada saat terjadi perselisihan dan perpecahan, khususnya saat Skisma Besar antara bagian Timur dan Barat dari Gereja Tak Terbagi (1054). Sumber keenam adalah berbagai wacana yang ditulis setelah Reformasi Protestan; dokumen-dokumen ini mengkritik berbagai kesalahan Protestan dan Katolik Roma.

Kitab Suci tidak ditulis sebagai buku yang sistematis yang memuat ekspresi iman dalam simbol atau pengakuan iman. Ada banyak bagian yang menyampaikan kepercayaan di dalam Kristus, atau di dalam Kristus dan Roh Kudus, dan atau di dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ayat-ayat ini, yang digunakan sebagai pengakuan dan simbol kepercayaan, diungkapkan dalam beberapa kata. Bagian-bagian seperti itu dapat ditemukan dalam Perjanjian Baru, seperti dalam Matius, di mana Kristus yang Bangkit menugaskan para Rasul:

"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (28:19-20).

Para Rasul menasihati orang-orang untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Gereja mula-mula perlu melestarikan frasa-frasa ini terutama untuk digunakan sebagai simbol dan pengakuan iman dalam pernyataan calon baptis. Pengakuan seperti itu ditemukan dalam Roma 1:3-4, 1 Korintus 15:3-8, Filipi 2:5-11 dan 1 Timotius 3:16:

"Sungguh agung apa yang kita akui, yang adalah misteri iman kita: Dia (Kristus) dinyatakan di dalam daging, dibuktikan dalam roh, dilihat oleh malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa, dipercaya di dunia, diangkat di dalam kemuliaan".

Kemudian, ketika Kekristenan mulai tumbuh dan menjadi lebih terorganisir, para uskup menulis pengakuan dan simbol iman berdasarkan ajaran para Rasul, menjadi sumber dalam diri mereka sendiri. Pengakuan semacam itu ditemukan dalam tulisan-tulisan Uskup Ignatius (+/- tahun 35-107), Yustinus Martir (tahun100-165) dalam Apologi-nya, Uskup Ireneus (tahun 130-200) dan Origen (tahun 185-254) dan khususnya dalam Simbol Apostolik (Pengakuan Iman Rasuli). Simbol Apostolik yang digunakan dalam pembaptisan pernah dianggap ditulis oleh 12 Rasul, dengan masing-masing Rasul menulis satu artikel. Simbol ini salah dikaitkan dengan mereka. Mereka tidak menulisnya. Simbol ini, bagaimanapun, digunakan oleh seluruh Gereja, karena itu diakui sebagai salah satu dari tiga simbol iman ekumenis, yang lebih banyak digunakan di bagian Barat Gereja.

Simbol (Pengakuan Iman) Nikea-Konstantinopel

Sumber berikutnya, yang muncul karena kebutuhan atas perselisihan di abad keempat, adalah pengakuan iman, yang masih dikenal sebagai sumber fundamental dan pernyataan tertinggi iman Gereja. Ini dirumuskan oleh Sinode Ekumenis Pertama di Nikea pada tahun 325 (pasal 1-7) dan oleh Sinode Ekumenis Kedua di Konstantinopel pada tahun 381 (pasal 8-12). Simbol ini tidak hanya dinamai menurut kota di mana ia ditulis, tetapi juga dikenal dengan jumlah uskup yang hadir pada sinode di Nikea, yang disebut sebagai "Simbol Iman 318 Bapa". Sinode di Nikea diadakan pada tahun 325, untuk menyelesaikan perselisihan yang disebabkan oleh Arius, seorang presbiter, yang menyangkal keilahian Kristus sebagai Pribadi Kedua dari Tritunggal Mahakudus dan dikatakan olehnya bahwa ada suatu masa ketika Dia (Yesus) tidak ada. 318 Bapa merumuskan ajaran yang benar dalam tujuh pasal pertama Pengakuan Iman Nikea. Terlepas dari pernyataan kebenaran dari sinode ini, Arianisme masih terus berlanjut dan menjadi sekte Kristen yang terpecah-pecah, dimana para uskup yang gagal menerima ajaran yang benar tentang sifat Kristus dikucilkan. Pada tahun 381, sinode lain harus diadakan untuk menghentikan pengajaran yang salah dari Makedonia, yang menggunakan penalaran Arian untuk mempertanyakan keilahian Roh Kudus, mengklaim bahwa Roh Kudus diciptakan oleh Sang Putra. Para uskup di Sinode di Konstantinopel merumuskan ajaran yang benar tentang Roh Kudus, bahwa Roh Kudus tidak diciptakan, tetapi berasal dari Sang Bapa dan diutus oleh Sang Putra. Kebenaran yang dirumuskan ini menjadi bagian terakhir dari Pengakuan Iman Nikea (lima pasal terakhir). Oleh karena itu ungkapan, "Satu Allah dalam tiga Hipotesis (pribadi)", berlaku. Pengakuan Iman Nikea ini, telah menjadi sumber utama ajaran Gereja Kristen sejak Sinode Pertama dan Kedua.

Pengakuan Iman Athanasius

Sumber ajaran Gereja Orthodoks berikutnya adalah Pengakuan Iman Athanasius, yang ditulis dan digunakan oleh bagian Barat Gereja dan kemudian diterima oleh bagian Timur, meskipun tidak digunakan dalam kehidupan liturginya. Pengakuan Iman ini merupakan sumber karena menyatakan ajaran Orthodoks tentang iman Gereja. Pengakuan Iman ini tidak ditulis oleh Athanasius, tetapi dikaitkan dengannya, dan diyakini oleh beberapa orang ditulis oleh Js.. Ambrose dalam bahasa Latin. Hal ini diyakini telah ditulis baik pada abad keempat atau kelima. 

Sinode Ekumenis

Ajaran doktrinal Alkitab dan Sinode Ekumenis merupakan isi Iman dan dasar dogmatis Orthodoks yang tak tergoyahkan. Tubuh Gereja, yang terdiri dari klerus dan awam, adalah pembawa infalibilitas Gereja, di mana Roh Kudus melindunginya dari kesalahan. Tetapi suara Gereja untuk menyatakan infalibilitasnya adalah otoritas tertingginya - Sinode Ekumenis di mana seluruh pleroma (umat Gereja) diwakili oleh para uskupnya. Keputusan Sinode ini adalah sumber ajaran Gereja. Ada ucapan-ucapan sinode (oroi) yang secara langsung mengungkapkan ajaran dogmatis Gereja, dan beberapa kanon yang memegang ajaran dogmatis, meskipun terutama berkaitan dengan disiplin dan administrasi dalam Gereja. Sinode Ekumenis adalah sumber utama kebenaran Gereja. Simbol (Pengakuan Iman) Nikea yang dirumuskan oleh Sinode Pertama dan Kedua berulang kali dinyatakan kembali dalam lima Sinode Ekumenis yang mengikutinya hingga abad kedelapan.

Para Bapa Gereja

Sumber lain yang berkontribusi terhadap pengetahuan Iman Orthodoks adalah beberapa Bapa Gereja terkemuka yang menulis khotbah dan homili tentang pokok-pokok iman, yang diterima Sinode Ekumenis sebagai ajaran kanonik. Para Bapa terkemuka ini adalah: Athanasius Agung (tahun 295) di mana suratnya yang menyebutkan kitab-kitab kanonik dari Alkitab; Basilius Agung (330-379) di mana khotbahnya yang dikirim ke Amphilochion, di mana ia menyebutkan ajaran sesat (bagian dari surat ini dibagi menjadi 92 kanon, dengan kanon 1, 5, 47, 91 dan 92 berisi materi ekspresi simbolis iman ); Gregorius dari Naziatizus (tahun 329-390) di mana tulisan-tulisannya tentang Kitab-Kitab Kanonik dari Alkitab, dan Uskup Amphilochios dari Ikonion (340-395) di mana di mendaftar Kitab-Kitab Kanonik dari Alkitab. Tulisan-tulisan para Bapa ini memiliki meterai ratifikasi kanonik. Tidak termasuk di sini adalah tulisan-tulisan Bapa-Bapa lain yang menjadi kanon tentang ketertiban dan disiplin, karena yang dijelaskan di sini hanya sumber-sumber yang berhubungan dengan iman. Ini kemudian adalah para Bapa terkemuka dari periode setelah- sinode Nikea (sampai abad keempat) yang tulisan-tulisannya menjadi sumber kanonik dari ajaran Gereja, yang telah diadopsi oleh Sinode Ekumenis.

 

Surat Ensiklik Photius untuk Lima Patriarkh di Timur (866)

Patriarkh Photius dari Konstantinopel adalah seorang hierarki dan pemimpin yang luar biasa di mana sebagai orang awam dia dipilih sebagai patriarkh melalui pemungutan suara rakyat dan otoritas gerejawi. Dia menertibkan Gereja dan meningkatkan pekerjaan misionarisnya, terutama di Bulgaria. Apa yang menjadi sumber utama lain dari ajaran Gereja adalah surat ensiklik Photius yang dikirim kepada para Patriarkh Timur, dengan persetujuan Sinode Konstantinopel, memprotes inovasi Paus Nicholas I dari Roma: campur tangannya dalam urusan negara Bulgaria yang baru bertobat, penambahan frasa filioque dalam Pengakuan Iman Nikea, penerbitan Dekrit Pseudo-Isidorian dan Hadiah Pseudo-Konstantianus. Ensiklik Photius ini menyatakan kembali ajaran yang benar dari Pengakuan Iman Nikea, menentang frasa filioque; menegaskan dengan benar tatanan yurisdiksi kanonik administrasi Gereja; menegaskan kembali ajaran yang benar melawan keutamaan paus, infalibilitasnya, kekayaan Kristus dan orang-orang kudus, indulgensi, api penyucian, Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Semua inovasi Barat ini termasuk di antara faktor-faktor yang pada akhirnya menyebabkan Skisma Besar pada tahun 1054, yang juga menjadi panggung bagi gerakan Protestan pada tahun 1517. Surat Ensiklik Photius menyatakan kembali dan menegaskan kembali ajaran orthodoks Gereja yang Tak Terpecah, dan berdiri sebagai sumber utama ajaran Orthodoks. 

Keroularios (1054): Dua Surat kepada Patriarkh Peter

Sumber penting ajaran Gereja Orthodoks adalah dua surat yang dikirim oleh Patriarkh Michael Keroularios dari Konstantinopel kepada Patriarkh Peter dari Antiokhia, yang merupakan Langkah yang menutup Skisma Besar antara bagian Timur dan Barat dari Gereja yang Satu (1054). Pada saat itu, Paus Leo IX ikut campur dalam yurisdiksi Konstantinopel di Italia Selatan, di mana Paus telah memperkenalkan inovasi, seperti pendahulunya di Bulgaria. Paus mengirim surat hinaan kepada Patriarkh Michael dan Uskup Yohanes dari Tranis dari Apoulia di mana ia mengklaim keunggulannya atas seluruh Gereja baik di Timur maupun di Barat, dan bahwa Paus tidak dapat salah dan memiliki otoritas atas yurisdiksi politik dan gerejawi. Hadiah Pseudo-Konstantinus digunakan sebagai dasar untuk klaim Paus.

Selain itu, Paus Leo mengirim seorang utusan, Kardinal Humbert, seorang yang arogan dan berperilaku buruk, ke Konstantinopel. Dia menghina Patriarkh pada tanggal 16 Juli 1054, dengan memasuki Katedral Haghia Sophia selama Liturgi Ilahi, menghentikan ibadah dan membacakan surat dengan lantang dan kemudian menempatkan di altar sebuah fitnah, Surat Ekskomunikasi Patriarkh dan para pengikutnya. Tindakan Paus Leo IX ini menyelesaikan perpecahan antara Barat dan Timur yang telah dimulai pada 866. Patriarkh memanggil sebuah sinode dari banyak uskup pada tanggal 20 Juli 1054. Mereka, pada gilirannya, mengucilkan pemfitnah, pembully, dan semua yang mendukungnya. namun sengaja tidak menyebut nama Paus Leo agar membuka peluang rekonsiliasi. Ironisnya, Paus Leo IX telah meninggal pada 13 April 1054, tiga bulan sebelum Kardinal Humbert mencapai Konstantinopel.

Sebelum Kardinal Humbert datang ke Konstantinopel, Patriarkh Michael telah mengirimkan kepada Patriarkh Peter dari Antiokhia dua surat di mana ia menyebutkan secara rinci semua inovasi Paus, berkonsultasi dengan ensiklik Patriarkh Photius (866) untuk referensi. Tiga dari 12 inovasi yang terdaftar adalah: penggunaan roti tidak beragi oleh Gereja Barat untuk Liturgi, pembaptisan hanya dengan satu kali penyelaman (bukan tiga kali) dan frasa filioque dalam Pengakuan Iman. Kedua surat tersebut dianggap sebagai sumber ajaran Gereja Orthodoks karena menunjukkan inovasi-inovasi Gereja bagian Barat yang dibuat di luar sinode ekumenis, sehingga tanpa pengesahan oleh seluruh badan Gereja. Surat-surat ini mendapat perhatian khusus karena ditulis tidak lama sebelum Skisma terjadi.

Buku-buku Sinode 1341, 1347, 1351 Tentang Hesikasme.

Buku-Buku (wacana) yang ditulis untuk memperjelas ajaran Orthodoks mengenai Hesikasme (kata Yunani yang berarti tenang), sebuah sistem mistisisme yang disebarkan di Gunung Athos oleh para biarawan abad ke-14. Kontroversi muncul atas masalah substansi Allah dan energi Allah. Hesikasme berarti kecenderungan spiritual para biarawan Orthodoks menuju teori ketenangan yang jelas dan mengarah ke kesatuan mistik dengan Allah dalam doa melalui Rahmat Ilahi. Js. Gregorius dari Palamas mengajarkan perbedaan antara pengajaran Hesikasme yang benar dan teori Latin. Perselisihan ini menyebabkan pemanggilan tiga sinode (1341, 1347, 1351), yang mengeluarkan tiga Tomes (Buku) yang menyatakan arti dan interpretasi yang benar dari Hesikasme dalam sebuah dogma, sehingga menjadi sumber ajaran orthodoks ini.

Ensiklik Js. Markus dari Ephesus (1440)

Ensiklik Uskup Markus dari Efesus adalah sumber terpenting dari ajaran Orthodoks karena ditulis pada saat Gereja Barat mengirim kelompok-kelompok terorganisir untuk mengubah Orthodoks ke Uniates - mereka yang mengikuti ritus Gereja Orthodoks, tetapi berada di bawah kekuasaan Paus. Ensiklik ini memusatkan perhatian pada gerakan ini, yang menimbulkan penentangan yang kuat terhadapnya.

Pengakuan Gennadios Scholarios (1455)

Setelah jatuhnya Kekaisaran Bizantium pada tahun 1453, sang penakluk, Mohammed II, meminta agar Patriarkh Gennadios dari Konstantinopel memberinya ringkasan tentang iman Kristen. Gennadios menulis dan menyerahkan Pengakuan yang merupakan pernyataan singkat dan akurat dari Iman Orthodoks dan sumber penting ajaran Gereja.

Korespondensi Patriarkh Yeremia II (1573-1582)

Korespondensi pertama terkait dengan upaya persatuan antara Gereja Orthodoks dan Gereja Lutheran baru terjadi pada abad keenam belas. Sekelompok theolog Jerman di Universitas Tubingen, di bawah kepemimpinan Jacob Andreae dan Martin Crusius, mengirim Stephen Gerlack ke Konstantinopel untuk menyampaikan kepada Patriarkh Yeremia II pada tanggal 24 Mei 1575, tiga surat dan Pengakuan Iman Augsburg yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Tujuan mereka adalah untuk mengeksplorasi kemungkinan kesatuan gerakan baru dengan Gereja Orthodoks Kuno. Patriarkh mengirimkan jawaban pertama dari tiga jawaban panjang kepada para theolog pada tanggal 15 Mei 1576, melalui kedutaan Jerman. Para theolog kemudian mengirimkan jawaban rinci kepada Patriarkh. Secara keseluruhan, korespondensi pada Pengakuan Iman Augsburg menghasilkan tiga jawaban dan tiga tanggapan. Matinya prinsip-prinsip di kedua belah pihak mengakhiri upaya ini. Tiga Jawaban Patriarkh Yeremia II dari Konstantinopel adalah sumber penting yang menyatakan kembali ajaran Gereja Orthodoks yang akurat. Korespondensi Yeremia adalah kontak pertama Gereja Orthodoks dengan gerakan Protestan baru.

Pengakuan Kritopoulos, Patriarkh Alexandria (1625)

Pengakuan berikutnya yang digunakan sebagai sumber ajaran Gereja ditulis oleh Patriarkh Metrophanis Kritopoulos - seorang kanselir pada saat itu - ketika dia belajar di Inggris dan Jerman. Itu sebagai tanggapan atas permintaan orang-orang di negara-negara ini mengenai penjelasan tentang Iman Orthodoks. Pengakuan Iman ini memberikan penjelasan yang berwibawa, informatif dan tidak menyinggung tentang pengakuan Iman dan ditulis dengan metode ilmiah. Itu dipresentasikan kepada para siswa dan cendekiawan dari Iman Kristen di Inggris pada tahun 1626 dan diterima dengan baik.

Sumber-Sumber Ajaran Orthodoks yang Lain

Sumber tambahan keputusan dan jawaban dari berbagai sinode Gereja Orthodoks yang berkaitan dengan iman tercantum di bawah ini:

• Risalah Sinode di Konstantinopel tahun 1691.

• Jawaban dari Patriarkh Orthodoks di Timur kepada Anomot Anglikan, 1716-1725

• Ensiklik Sinode di Konstantinopel pada tahun 1722 untuk Gereja Orthodoks Antiokhia.

• Pengakuan Iman dari Sinode di Konstantinopel pada tahun 1727.

• Ensiklik Sinode di Konstantinopel pada tahun 1836; Melawan Misionaris Protestan.

• Ensiklik Sinode di Konstantinopel tahun 1838: Melawan Inovasi Latin.

• Jawaban dari Patriarkh Orthodoks dari Timur kepada Paus Pius IX pada tahun 1848.

• Gregorius VI, Patriarkh Konstantinopel: Penolakan Undangan Paus ke Sinode Latin di Vatikan, 1868.

• Jawaban Sinode Konstantinopel tahun 1895 kepada Paus Leo XIII.

• Dekrit Konferensi Orthodoks di Moskow pada tahun 1948 menentang Papisme.

• Ensiklik Patriarkhat Konstantinopel mengacu pada Gerakan Ekumenis Gereja-Gereja pada tahun 1920 dan 1952.

Pentingnya Sumber Kontemporer Primer & Sekunder

Simbol (Pengakuan Iman) Nikea-Konstantinopel (Kredo Nicea) dan ucapan-ucapan dogmatis dari Sinode Ekumenis adalah sumber utama dan khas dari iman Gereja Orthodoks. semuanya telah diratifikasi oleh Sinode dan tidak dapat diubah dalam bentuk dan substansi. Sumber-sumber lain, yaitu keputusan sinode-sinode yang diadakan setelah abad kedelapan, memiliki makna sekunder, tetapi sangat penting bagi evolusi historis ajaran Gereja Orthodoks, terutama ajaran yang menentang inovasi Gereja Katolik, yang pada 1054 memisahkan diri dari Gereja Orthodoks, dan dengan mengacu pada Gereja Protestan yang berasal dari abad ke-16. Ini adalah sumber-sumber sekunder, menunggu ratifikasi oleh Sinode Ekumenis, dan dapat diterima, dikoreksi atau tidak diterima. Ucapan-ucapan (sumber utama) Gereja Orthodoks sebagian besar merupakan bagian dari Tradisi Suci Gereja, yang memiliki validitas yang sama dengan Kitab Suci.

Keputusan Tujuh Sinode Ekumenis termasuk Sinode Regional, Para Rasul Suci dan beberapa Bapa Gereja yang telah diratifikasi oleh Sinode Ekumenis, terutama Sinode Keenam dalam Kanon 102. Jadi anggota Gereja Orthodoks yang setia harus mempelajari sumber-sumber utama dengan seksama, kemudian baca sumber sekunder yang tercantum di sini. Perbedaan antara sumber primer dan sekunder adalah penting, karena 'sumber primer ditemukan dalam kehidupan dan ajaran Gereja Yang Tidak Terpecah di seribu tahun pertama Kekristenan dan diadopsi dan dipertahankan seperti itu selama berabad-abad, kecuali inovasi seperti frasa filioque dalam Pengakuan Iman Nikea.

Karena Tradisi Suci memiliki validitas yang sama dengan Alkitab, identifikasi sumber-sumber sangat penting karena Tradisi berakar pada sumber-sumber ini, yang ditulis dan dilestarikan oleh Gereja itu sendiri. Ini penting, karena Gereja membuat keputusan dan menafsirkan Alkitab agar menghilangkan kemungkinan salah tafsir individu.

" Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah." (2 Petrus 1:20-21)

Karena Gereja belum menulis dan secara resmi mengadopsi katekismus di mana ajaran Gereja yang sempurna diungkapkan secara pasti, theolog memiliki "kebebasan dengan otoritas", untuk mengungkapkan kembali Kebenaran Kristus yang sama yang tidak dapat diubah. Kekristenan (atau Susunan Kristen) telah dipisahkan menjadi banyak bagian karena individu selama berabad-abad telah mengambil tanggung jawab untuk menafsirkan Alkitab secara pribadi. Mereka telah menggunakan pengetahuan yang terbatas dan tidak menyadari sumber-sumber dasarnya, dan akibatnya sampai pada penafsiran yang salah, masing-masing mengaku dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan demikian, Roh Kudus dibuat tampak sebagai kekuatan pemisah bagi masing-masing, daripada memimpin dan menjadi penjaga Gereja Kristus yang Tak Terpecah seperti yang diungkapkan dalam Kitab Suci. Rasul Petrus memperingatkan terhadap interpretasi pribadi dari Kitab Suci dengan mengatakan bahwa:

“Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh”. (2 Petrus 3:15-17).

Umat Kristen Orthodoks diberkati untuk menjadi bagian dari Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik yang telah dipelihara secara utuh, oleh belas kasihan, kepenuhan Iman Kristen. Dalam Orthodoksi Suci, penafsiran Kitab Suci dan ajaran Gereja memiliki pengesahan bulat dari Gereja, dengan otoritasnya yang tidak dapat salah. Penafsiran ajaran Kristus oleh Gereja yang sempurna inilah yang harus terlebih dahulu diketahui dan dipahami oleh orang Kristen Orthodoks yang dinasihati oleh Rasul Petrus:

"Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat," (1 Petrus 3:15)

https://www.goarch.org/-/the-basic-sources-of-the-teachings-of-the-eastern-orthodox-church

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar