Rabu, 21 Juni 2023

PANDUAN MENGENAI JUBAH LITURGIS ORTHODOKS

 PANDUAN MENGENAI JUBAH LITURGIS ORTHODOKS

28 Januari 2020

Dalam pelayanan mereka, Imam Orthodoks (uskup, imam, dan diakon) mengenakan jubah liturgi. Ini berfungsi sebagai semacam "seragam" (karena tidak ada kata yang lebih baik) yang membedakan baik klerus satu dengan yang lain dan dari orang awam (umat paroki). Jubah Liturgi ini juga membuat imam Orthodoks menjadi ikon Tuhan kita dan malaikat-malaikatNya, melayani di altar atas nama kita. Dalam panduan ini, kami mencantumkan masing-masing jubah berbeda yang dikenakan oleh Imam Orthodoks dan menjelaskan fungsi dan artinya.

Jubah Liturgis Orthodoks

Di bawah ini adalah daftar isi untuk membantu saudara menavigasi panduan ini. Perhatikan bahwa jubah tertentu dapat dikenakan oleh ketiga jabatan, beberapa mungkin dikenakan oleh imam dan uskup saja, dan yang lain mungkin eksklusif untuk uskup saja. Kami telah menandai setiap jubah dengan huruf D, P, atau B, sesuai dengan yang dipakai oleh anggota klerus. (Panduan ini hanya mencakup jubah untuk gereja-gereja Orthodoks Ritus Timur.):


  • Jubah Dalam (Anderi)
  • Jubah Luar (Eksorasson)
  • Jubah Baptis (Sticharion)
  • Stola Diakon (Orarion)
  • Manset (Epimanikia)
  • Salib Dada (Pectoral)
  • Stola Imam (Epitrachelion)
  • Sabuk (Zona)
  • Jubah paling luar yang menutupi jubah lainnya (Phelonion)
  • Epigonasi
  • Mitra
  • Panagia
  • Sakkos
  • Omoforion
  • Krozier

 

JUBAH DALAM (ANDERI: D, P, B)


Anderi, atau jubah bagian dalam, adalah pakaian hitam panjang sampai lantai. Sangat pas dengan tubuh dan memiliki lengan panjang yang sempit seperti kemeja (lihat Gambar 1). Jubah ini non-liturgis, yang berarti klerus yang ditahbiskan memakai ini baik di dalam maupun di luar Ibadah di Gereja. Imam biasanya memakai anderi di bawah jubah luar (eksorasson). Mengenakan jubah adalah umum di antara para uskup, imam, diakon, biarawan dan biarawati di Gereja Orthodoks.

 MAKNANYA

Jubah Dalam (Anderi) melambangkan kematian dan penguburan seorang Imam dari dunia ini. Itu juga melambangkan dedikasinya kepada TUHAN dan Kerajaan Surgawi.

Gambar 1: Anderi, atau jubah bagian dalam

 

JUBAH LUAR (EKSORASSON, D, P, B)


Seperti anderi, eksorasson, atau jubah luar, adalah pakaian panjang sampai lantai. Namun yang ini lebih longgar dan memiliki lengan yang disampirkan (lihat Gambar 2). Jubah ini juga non-liturgis, jadi Imam memakainya baik sebagai pakaian sehari-hari biasa dan sebagai pakaian dalam selama Ibadah Liturgi. Mengenakan jubah luar adalah umum di antara para uskup, imam, diakon, biarawan dan biarawati.

MAKNANYA

Mirip dengan anderi, eksorasson juga melambangkan kematian dunia dan semua hal yang bersifat duniawi.

 

 

 

 Gambar 2: Eksorasson, atau jubah luar

 

Jubah Baptis (STIKARION: D, P, B)

Gambar 3: Sticharion untuk Imam atau uskup Orthodoks.

Jubah liturgis pertama disebut sticharion, atau jubah baptis. Ini adalah jubah panjang dan sempit yang diikat di leher, dengan lengan longgar. Setiap Jabatan suci Imam Orthodoks memakai jubah ini, tetapi desain jubah itu berbeda tergantung siapa yang memakainya.

Para imam dan uskup mengenakan sticharion di bawah semua jubah lainnya. Jadi, untuk imam dan uskup, pakaian biasanya berupa jubah putih atau emas sederhana (lihat Gambar 3).

Diakon dan subdiakon, di sisi lain, memakainya sebagai jubah terluar mereka. Jadi, mereka biasanya memiliki warna yang lebih cerah dan sulaman tanda salib yang lebih rumit di antara tulang belikat (lihat Gambar 4).

Selain itu, sticharion diakon dibuka di pinggir-pinggirnya dan ditutup dengan kancing. Beberapa yurisdiksi menyebut sticharion diakon sebagai dalmatikon, yang merupakan namanya di abad keempat, ketika jubah itu dikembangkan.


Gambar 4: sticharion diakon hijau dengan salib.

MAKNANYA

Stikharion melambangkan “jubah keselamatan”, pakaian putih yang dikenakan setiap orang Kristen pada hari pembaptisannya. Dengan demikian, itu melambangkan kemanusiaan baru Yesus dan kehidupan dalam Kerajaan Allah (Wahyu 7:9).

STOLA DIAKON (ORARION: D)

Gambar 5: Orarion Diacon

Orarion, atau stola diakon, adalah jubah yang unik bagi diakon. Biasanya lebarnya 4 inci dan panjangnya sekitar 10 kaki, pakaian ini terbuat dari brokat dengan tujuh salib yang dibordir atau diaplikasikan sepanjang panjangnya. Diakon memakainya di atas bahu kirinya dan menutupi bagian depan di atas lengan kirinya selama ibadah liturgi. Dia sering mengambil bagian ini di tangan kanannya ketika memimpin litani atau melakukan tindakan tertentu.

Dalam beberapa tradisi, orarion lebih panjang dan juga diselempangkan satu kali secara diagonal di bawah lengan kanan dan di atas bahu kiri. Protodiakon dan diakon agung memakai “orarion ganda” ini, begitu juga diakon yang telah melayani selama beberapa tahun.

Saat mempersiapkan Komuni, diakon mengikatkan stola di pinggangnya dan membawa ujungnya ke atas bahunya. Ini membentuk salib berbentuk X di punggungnya. Kemudian dia menurunkan ujungnya ke depan dan menyelipkannya di bawah bagian di sekitar pinggangnya.

MANSET / GELANG TANGAN (EPIMANIKIA: D, P, B)

Epimanikia (tunggal: epimanikion) atau manset kain, diikatkan ke pergelangan tangan Imam. Jubah ini berisi lengan jubah pembaptisan, dan biasanya ada salib di tengahnya (lihat Gambar 6). Catatan: karena seorang diakon memakai sticharion yang lebih rumit, ia memakai Manset di bawah jubah dan di atas lengan jubahnya.

 

MAKNANYA

Gambar 6: Manset (Gelang Tangan atau epimanikia)

Manset memiliki tujuan yang agak praktis: memastikan lengan sticharion tidak menghalangi imam selama ibadah. Namun, manset masih mengingatkan para Imam bahwa mereka merayakan dan mengambil bagian dari Misteri dengan kekuatan dan Rahmat Tuhan, bukan atas kekuatan mereka sendiri. Manset juga berfungsi untuk mengingatkan kita akan ikatan yang mengikat tangan Sang Juruselamat selama Sengsara-Nya.


SALIB PECTORAL (P, B)

Salib dada atau pectoral (dari bahasa Latin pectoralis, "dada") adalah salib yang relatif besar dengan rantai atau tali yang menggantung dari leher imam atau uskup hingga ke dadanya. Pectoral berbeda dari salib biasa yang dikenakan pada kalung oleh kebanyakan orang Kristen.

Salib menggambarkan Kristus yang disalibkan, baik dalam bentuk ikon maupun relief (tidak lebih dari 3/4). Juga terdapat tulisan INBI (gelar yang diletakkan Pontius Pilatus di atas kepala Yesus pada saat penyaliban) dan huruf IC XC NIKA (“Yesus Kristus Menaklukkan”) di sekitar lengan salib. Selain itu, Pectoral sering memiliki ikon Kristus "Dibuat Tanpa Tangan" di atas salib. Dalam praktik Rusia, bagian belakang salib memuat kata-kata Rasul Paulus kepada Timotius: “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam ucapan dan tingkah laku, dalam kasih, dalam iman, dan dalam kemurnian” (1 Tim. 4:12).

Di seluruh Gereja Orthodoks, semua uskup mengenakan salib Pectoral. Di beberapa yurisdiksi (yaitu Slavia dan Antiokhia), semua imam juga mengenakan salib, sementara di tempat lain (yaitu Yunani), Salib Pectoral dianugerahkan sebagai "penghargaan" untuk pelayanan yang setia.

TINGKATAN SALIB PECTORAL

Gambar 7: Sebuah Pectoral Permata, biasanya dikenakan oleh para uskup

Uskup menghadiahkan Salib Pectoral kepada imam dalam tingkatan: Perak, Emas, dan Permata. Ketika seorang imam pertama kali ditahbiskan, dia menerima Salib Perak. Salib ini polos, dan tidak dihias atau dilapisi porselin selain ukiran atau reliefnya. Ini membedakan mereka dari diakon dan biarawan, yang sebaliknya terlihat persis sama ketika tidak mengenakan jubah mereka.

Salib Emas adalah tingkat kedua, yang dikenakan oleh para Archpriest (imam agung), kepala biara, dan kepala biara sebagai tanda jabatan mereka. Para uskup dapat menganugerahkannya kepada imam yang sudah menikah dan imam monastik untuk pelayanan yang setia di Gereja. Ini mirip dengan Salib Perak, karena tidak dihias atau dilapisi porselin.


Tingkatan tertinggi adalah Salib Permata (juga Dengan Dekorasi). Sesuai dengan namanya, salib ini biasanya memiliki permata di permukaannya dan memiliki mitra gaya Timur di bagian atas (lihat Gambar 7 di atas). Salib Pectoral jenis ini dikenakan oleh para uskup, archimandrite, dan protopresbiter sebagai tanda jabatan mereka. Salib Permata juga dapat diberikan kepada Imam lain. Semua uskup berhak untuk mengenakan salib Pectoral dengan dekorasi, tetapi kebanyakan hanya memilih untuk memakai Panagia ketika tidak mengenakan untuk Ibadah.


STOLA IMAM (EPITRACHELION: P, B)

Gambar 8: Stola Imam Atau epitrachelion

Epitrachelion (Yunani, “di leher”) adalah stola yang dikenakan oleh para imam dan uskup. Jubah liturgis Orthodoks ini dikenakan di leher dengan dua sisi yang berdekatan dijahit atau dikancingkan bersama. Ujung-ujungnya memanjang sampai ke mata kaki Imam. Mirip dengan orarion (stola diakon), jubah ini memiliki tujuh salib yang dibordir atau dijahit, satu di bagian belakang leher dan tiga di setiap sisinya.

Imam memakai jubah ini setiap kali melayani. Untuk beberapa Ibadah, seperti Sembahyang Senja/Vespers atau Sembahyang Singsing Fajar/Orthros, imam memakai stola itu sendiri di atas jubah luarnya. Ketika sepenuhnya dikenakan untuk Liturgi Ilahi, dia memakai stola di atas sticharion dan di bawah Sabuk/Zona dan phelonion.

Jika seorang imam Orthodoks hanya menghadiri Ibadah, ia tidak mengenakan jubah liturgis, tetapi akan mengenakan stola (dan dalam banyak tradisi Slavia, menggunaklan Mansetnya) sebelum menerima Komuni.

 


Gambar 8: Stola Imam Atau epitrachelion

 

MAKNANYA

Jubah liturgis ini melambangkan kuk rohani imamat. Yang juga melambangkan bagian ganda dari Rahmat TUHAN yang dianugerahkan kepada seorang imam, untuk perayaan Misteri Ilahi. Ini adalah satu jubah (jika tidak ada yang lain) yang mutlak diperlukan bagi seorang imam untuk melakukan ibadah liturgi apa pun. Tanpa itu, dia tidak bisa melayaninya.

Stola awalnya terbuat dari wol, yang melambangkan domba, atau anggota kawanan domba Kristus. Baik uskup maupun imam mengenakan jubah ini ketika menjalankan tugas pastoral mereka, dan melihat fakta bahwa para pelayan Gereja hidup dan bertindak semata-mata untuk anggota kawanan domba Kristus.

SABUK (ZONA)

Gambar 9: Zona, atau sabuk, yang dikenakan oleh para imam dan uskup

Zona atau sabuk adalah jubah liturgis yang digunakan para imam dan uskup Orthodoks untuk mengikatkan sticharion dan epitrachelion ke tubuhnya. Ini membantu imam bergerak selama Liturgi tanpa halangan dari pakaian lainnya.

Sabuk itu menandakan bahwa imam mengenakan matiraga tubuh dan kesucian, setelah mengikat pinggangnya dengan kekuatan kebenaran. Sabuk juga melambangkan kuasa ilahi yang menguatkan imam selama pelayanannya (Mazmur 18:32). Lebih jauh, itu mengingatkan kita pada handuk yang diberikan Juruselamat untuk membasuh kaki para murid pada Perjamuan Mistika.

 Gambar 10: Phelonion gaya Yunani.

Jubah paling luar yang menutupi jubah lainnya (PHELONION: P)

Phelonion (jamak, phelonia) adalah jubah liturgis yang dikenakan oleh para imam Orthodoks di atas jubah mereka yang lain. Itu besar dan tanpa lengan, seperti jubah. Bagian depan jubah sampai ke pinggang Imam, sedangkan bagian belakang menyentuh mata kaki.

Ada dua gaya utama dari jubah ini. Phelonia Bizantium atau Yunani yang hanya pas sampai di bahu, sedangkan phelonia Rusia memiliki kerah tinggi dan kaku yang menutupi bagian belakang kepala (lihat Gambar 10 dan 11). Penggunaan phelonion tidak terbatas pada Liturgi Ilahi, tetapi ditetapkan untuk setiap fungsi liturgi utama.

Seorang uskup yang ingin melayani Liturgi Ilahi sebagai imam (yaitu, tanpa ritus dan doa khusus dari Liturgi Ilahi Hierarki) kadang-kadang akan mengenakan phelonion alih-alih sakkos-nya, tetapi dengan omoforion kecil di lehernya.


MAKNANYA

Phelonion melambangkan jubah merah yang digunakan Pilatus untuk mendandani Tuhan kita sebelum Penyaliban-Nya. Dengan kata lain, itu mengingatkan kita pada siksaan dan penderitaan yang dialami seorang imam selama pelayanannya untuk melayani umat Allah yang setia. Selain itu, phelonion mewujudkan pakaian kebenaran yang dengannya para imam harus dikenakan sebagai pelayan Kristus. St. Kosmas dari Aitolia menambahkan lapisan makna lain pada jubah ini; karena tangan imam tetap dekat dengan tubuhnya, maka mereka tidak menerima atau melekat pada hal-hal duniawi. Dengan demikian, imam dapat menerima Karunia Kudus tanpa ada yang menghalanginya.

 


Gambar 11: Phelonion gaya Rusia

EPIGONASI (P, B)

Epigonasi (Yunani: “di atas lutut”), atau palitza (Rusia: “tongkat pemukul”), adalah jubah berbentuk berlian yang dikenakan di atas lutut kanan para imam dan uskup. Dalam tradisi Bizantium, para imam dianugerahi epigonasi setelah diangkat ke jenjang exomologos, atau Sebagai Penerima Pengakuan Dosa. Dalam tradisi Rusia, Epigonasi diberikan setelah bertahun-tahun melayani. Meskipun palitza Rusia memiliki bentuk yang identik, dan jelas terkait dengan epigonasi, terjemahan Slavonik yang paling literal untuk epigonasi sebenarnya adalah "Nabedrennik", yang merupakan jubah persegi panjang yang berbeda yang tidak lagi ada dalam penggunaan non-Slavia.

 Gambar 12: Epigonasi

 MAKNANYA

Epigonasi mewakili perisai, berasal dari perisai paha yang dikenakan oleh tentara pada masa gereja mula-mula. Epigonasi melambangkan dua hal. Pertama, ini menunjukkan selebran sebagai “prajurit” Kristus. Dan kedua, melambangkan “pedang Roh, yaitu Firman Allah” (Efesus 6:17) – pembelaan iman bagi pemakainya dengan memukul semua yang najis dan keji.

MITRA (B)

Mitra/mitra, (Yunani: “ikat kepala”) adalah Pakaian yang dikenakan di kepala uskup Orthodoks sebagai bagian dari pakaian upacara mereka. Di masa sekarang, Pakaian ini dibuat mengikuti mahkota kekaisaran dari Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) akhir. Bentuknya seperti mahkota bulat. Mitra terbuat dari berbagai bahan (yaitu brokat, damask, kain emas), dan dalam banyak kasus, dihiasi dengan permata dan bordir. Sementara Mitra dibuat dalam warna emas sebagian besar waktu, mitra dibuat dalam warna liturgis lainnya. Selain itu, ada empat ikon yang melekat pada penutup kepala. Ini yaitu ikon Yesus Kristus, Theotokos, Yohanes Pembaptis, dan Salib. Di atas mahkota adalah salib, biasanya tegak untuk uskup dan berbaring datar untuk imam.

Gambar 13: Mitra brokat merah yang dikenakan oleh seorang uskup Orthodoks.

Pemakaian mitra biasanya eksklusif untuk uskup, tetapi juga dapat diberikan kepada ArchPriest/Imam Agung, Protopresbiter, dan Arkhimandrit.

PANAGIA (B)

Panagia (Yunani: “Tersuci”) adalah gelar yang diberikan kepada Perawan Maria dalam Tradisi Orthodoks. Kata yang sama ini juga mengacu pada medali yang dikenakan oleh para uskup Orthodoks yang menyandang ikon Sang Theotokos Yang Tersuci. Dalam beberapa tradisi, medali ini juga disebut engolpion. Panagia biasanya berbentuk oval dan dimahkotai dengan gambaran mitra (lihat Gambar 14).

 




Gambar 14: Panagia (kiri) dan Salib Pectoral (kanan) yang cocok dengan mitra.

Setiap kali seorang uskup mengenakan Jubah untuk Liturgi Ilahi atau Ibadah lainnya, ia mengenakan panagia dan Salib Pectoral di atas jubahnya yang lain. Ini sering merupakan detail yang membantu pendatang baru dan Orthodoks muda untuk membedakan seorang uskup dari seorang imam atau seorang biarawan. Primata (atau Patriarkh) dari sebuah gereja autokephalous, ketika mengenakan pakaian lengkap, memakai panagia, Salib Pectoral, dan Engolpion Kristus. Terkadang, uskup dapat mengenakan panagia yang berbentuk persegi atau berbentuk seperti elang berkepala dua. Hal ini terutama berlaku bagi para uskup dari tradisi Yunani.

SAKKOS (B)

Sakkos (Yunani: “kain karung”) adalah jubah yang dikenakan oleh para uskup Orthodoks sebagai pengganti Phelonion Imam. Uskup memakai Sakkos setiap kali merayakan Liturgi Ilahi dan Ibadah lainnya ketika disebutkan dalam rubrik. Sakkos adalah Jubah Tunik dengan lengan lebar, dan pola trim yang khas. Jubah ini mencapai di bawah lutut dan mengikat sisi-sisinya dengan kancing atau pita. Biasanya ada salib yang berpusat di punggung, yang dicium uskup sebelum diletakkan di atasnya. Secara tradisional, lonceng melekat pada sakkos, mengikuti petunjuk alkitabiah untuk jubah Imam Besar Yahudi (Keluaran 28:33-34; 39:25-26). 

Gambar 15: Diakon Orthodoks mengencangkan kancing pada Sakkos uskup.

Dalam beberapa tradisi, seorang uskup dapat memilih untuk merayakan Liturgi “sebagai seorang Imam”. Ini berarti dia tidak mengenakan jubah lengkap, juga tidak menggunakan dikirion dan trikirion (kandil liturgi). Dalam hal ini, alih-alih mengenakan sakkos maka Uskup mengenakan phelonion imam, dengan hanya omoforion kecil (lihat bagian di bawah) di bahunya dan epigonasi di sisinya. Bagaimanapun, uskup akan selalu memakai engolpion panagia miliknya.

PERKEMBANGAN SEJARAH

Awalnya, semua uskup mengenakan phelonion yang mirip dengan yang dikenakan oleh para imam, tetapi ditenun atau disulam dengan pola salib berlapis-lapis yang disebut polystavrion ("banyak-salib"). Sakkos awalnya dikenakan oleh Kaisar Bizantium sebagai jubah kekaisaran, melambangkan Jubah Tunik aib yang dikenakan oleh Kristus selama pengadilan dan ejekan. Dengan demikian, penggunaan jubah ini adalah hak istimewa yang diberikan oleh Kaisar kepada masing-masing patriarkh sebagai tanda bantuan pribadinya. Pada abad ketiga belas semua patriarkh, serta beberapa uskup agung berpangkat tinggi, memakainya. Uskup lain terus memakai polystavrion. Setelah jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453, mengenakan sakkos mulai digunakan secara umum oleh para uskup. Di masa sekarang, semua uskup Orthodoks – serta Katolik Roma ritus Bizantium – mengenakan jubah ini, terlepas dari jabatannya.

OMOPHORION (B)

Dalam tradisi liturgi Orthodoks, omoforion adalah jubah untuk uskup Orthodoks, yang dikenakan uskup di leher dan bahunya. Awalnya terbuat dari wol, itu adalah pita brokat yang dihiasi dengan salib. Ada dua jenis omoforion: besar dan kecil. Omophorion besar paling sering dipakai. Uskup dapat memakai omoforion kecil yang mirip dengan cara seorang imam memakai epitrakelionnya (lihat di atas) karena kenyamanan. Selain itu, ketika beberapa uskup merayakan liturgi bersama, biasanya kepala selebran menggunakan omoforion besar, sedangkan uskup lainnya memakai omoforion kecil.




Gambar 16: Omoforion brokat putih yang dikenakan oleh para uskup Orthodoks.

MAKNANYA

Omophorion berfungsi sebagai simbol otoritas spiritual dan gerejawi uskup. Kita sering mengatakan dalam Orthodoksi bahwa mereka yang tunduk pada otoritas uskup berada “di bawah omoforionnya”. Selanjutnya, omoforion melambangkan domba yang hilang yang ditemukan dan dipikul oleh Gembala yang Baik (Kristus). Dengan kata lain, ini menekankan peran pastoral uskup sebagai ikon Kristus.

TONGKAT USKUP

Crozier/crosier, (Yunani: paterissa; Slavonik: zhezl) adalah Tongkat yang dibawa oleh para uskup Orthodoks dan monastik senior (abbas/abbesses) sebagai simbol otoritas dan yurisdiksi. Crozier biasanya terbuat dari logam halus yang sering disepuh atau berlapis perak. Beberapa juga dapat dibuat dari kayu halus. Tongkat ini dipakai dengan salah satu dari dua atasan:

• Huruf Yunani Tau dengan lengan melengkung ke bawah, diapit salib. Tau adalah simbol kebangkitan dan kehidupan Yunani kuno.

• Sepasang ular atau naga dengan kepala melengkung ke belakang saling berhadapan, dengan salib kecil di antara mereka (lihat Gambar 18). Ini melambangkan ketekunan uskup dalam melindungi kawanannya.



Gambar 17: Tongkat Uskup kayu di atasnya dengan huruf Yunani Tau dan salib

 


Uskup membawa tongkat ini saat berada di luar altar, dan tidak membawanya ke dalam altar. Sebelum memasuki altar, uskup atau biarawan akan menyandarkan Tongkat Uskup pada ikonostasis, di sebelah ikon Kristus di sebelah kanan Pintu Kerajaan. Setiap kali seorang uskup tidak melayani, dia menggunakan tongkat yang berbeda dan lebih kecil: tongkat jalan dengan gagang perak.

KESIMPULAN

Sejak awal, jubah telah dikenakan oleh para imam, uskup, dan diakon Orthodoks. Beberapa mengingatkan kita tentang pakaian kerajaan dari sejarah kerajaan-kerajaan, beberapa mendapatkan bentuk dan fungsinya dari Kitab Suci. Dan semuanya memiliki tujuan utama yang sama: pembangunan rohani Gereja.


Gambar 18: Tongkat Uskup emas dengan dua ular di atasnya

Apakah ada jubah yang kita lewatkan? Sampaikan kepada kami untuk melengkapinya!

https://www.saintjohnchurch.org/orthodox-liturgical-vestments/

 

Kamis, 15 Juni 2023

Ikonostasis


Ikonostasis

Fitur yang paling menonjol dari gereja Orthodoks adalah Ikonostasis, yang terdiri dari satu baris Ikon atau lebih dan dipisahkan oleh seperangkat pintu di tengah (Pintu Suci atau Pintu Kerajaan) dan pintu di setiap sisi (Pintu Diakon).


Ikonostasis yang khas terdiri dari satu atau lebih tingkatan (baris) Ikon.  Di tempat kami terdiri dari empat tingkatan.  Di tengah tingkat pertama, atau terendah, adalah Royal Doors/Pintu Kerajaan, di mana ditempatkan Ikon dari empat Penulis Injil yang mengumumkan Kabar Baik kepada dunia.


Di kedua sisi Pintu Kerajaan selalu ditempatkan Ikon Sang Juruselamat (di sebelah kanan) dan Theotokos tersuci (di sebelah kiri).  Di kedua sisi Pintu Kerajaan, di luar Ikon Tuhan dan Ibu-Nya, ada dua pintu yaitu Pintu Diakon.


Naik di atas Ikon Lokal adalah tiga tingkatan Ikon lagi.  Segera di atas Ikon Perjamuan Mistika ditempatkan Ikon Sang Juruselamat dalam pakaian kerajaan, diapit oleh Bunda-Nya dan Yohanes Sang Perintis Jalan dan sederetan orang-orang kudus lainnya, termasuk Malaikat Tertinggi Michael dan Gabriel, Rasul Petrus dan Paulus serta para orang kudus uskup dan  martir.  Tingkat ini disebut Deisis (doa), karena semua yang ada di tingkat ini mengarah kepada Kristus dalam doa.  Tingkat yang tepat di atasnya adalah Ikon Pesta Utama Tuhan dan Theotokos.


Baris paling atas berisi ikon para Nabi Perjanjian Lama, - di tengah-tengahnya adalah ikon Pemberi Kelahiran Allah bersama Bayi Ilahi yang berasal dari kekekalan dan yang kepadaNya ditujukan harapan mereka, penghiburan mereka, dan subjek nubuat mereka.


Di bagian paling atas dari Ikonostasis ditempatkan Salib Suci, di mana Tuhan disalibkan, yang olehnya memberikan keselamatan pada kita.


Ikonostasis di gereja Orthodoks


Ikonostasis mewakili salah satu fitur arsitektur paling penting dari gereja-gereja Orthodoks.  Itu adalah sebuah layar yang tidak terputus, terdiri dari ikon-ikon, yang memisahkan Tempat Suci, tempat sakramen Ekaristi dirayakan, dari ruang Bahtera/Nave yaitu  bagian tengah, tempat jemaat berdiri.  Ini terdiri dari beberapa baris ikon ditempatkan pada jendela kayu horisontal, baik dekat satu sama lain atau dipisahkan satu sama lain oleh setengah-kolom, hasilnya menjadi sejumlah besar ikon tertutup dalam bingkai terpisah, dan sering diukir, emas atau dicat.


Diketahui bahwa ikonostasis asli dalam bentuk layar antara Ruang Kudus dan Bahtera/ nave telah ada di gereja-gereja Kristen sejak zaman kuno.  Kita menemukan informasi tentang layar kuno dalam tulisan para Bapa Gereja... Bentuk dan tinggi layar asli ini bervariasi.  ... Di bagian dalam, yaitu di sisi Ruang Kudus, ada tirai yang dibuka atau ditutup sesuai dengan berbagai tahapan ibadah gereja...


Layar Ruang Kudus mulai tumbuh lebih kompleks sejak awal.  Pada awalnya di bawah bingkai pintu, dan kemudian di atasnya, tepat di atas Pintu Kerajaan, terdapat ikon Sang Juruselamat, dan kemudian triptych yang terdiri dari Sang Juruselamat, Perawan Suci dan Yohanes Pembaptis ... yang disebut Deisis.  Triptych dari layar Ruang Kudus ini, yang dibawa ke Rusia dari Byzantium, seharusnya menjadi bentuk awal dari mana ikonostasis Orthodoks yang secara bertahap berkembang di tanah Rusia.  Evolusi ini berupa penambahan ikon yang disebutkan di atas dan peningkatan jumlah deret atau tingkatan.  Pada abad XIII dan XIV Rusia telah memiliki ikonostasis dengan banyak tingkatan;  dan lebih banyak lagi pada abad XVII atau XVIII, bentuk ini menyebar dari Rusia ke negara-negara Orthodoks lainnya.


Artikel diambil dari Makna Ikon oleh Leonid Ouspensky dan Vladimir Lossky.  Seminari St. Vladimir Press, Crestwood, New York, 1989.


https://stjohndc.yorg/en/virtual-tours/ikonostasis


Bagaimana 'Jenjang kehormatan' ditetapkan di Gereja Orthodoks

Bagaimana 'Jenjang kehormatan' ditetapkan di Gereja Orthodoks

Oleh Pavel Kuzenkov, Kandidat Ilmu Sejarah, Associate Professor

Di Gereja Orthodoks, Tuhan Yesus Kristus-lah yang dihormati sebagai satu-satunya Kepala sejati yang kepadanya “diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28.18). Jika di Gereja Katolik Paus menikmati “kekuasaan penuh, tertinggi dan universal atas seluruh Gereja” (Katekismus Gereja Katolik), maka dalam tradisi Orthodoks, para pemimpin Gereja Orthodoks autocephalous dianggap setara dalam martabat episkopal mereka. Pada saat yang sama, ada di antara mereka suatu tatanan kehormatan yang ditetapkan yang dengannya mereka diperingati dalam diptychs liturgis. Bagaimana tradisi berabad-abad ini terbentuk?

Kristus dan para rasul tentang keutamaan dalam Gereja

Injil menunjukkan bahwa Tuhan tidak memilih salah satu rasul sebagai "pemimpin" yang akan menikmati hak khusus atas yang lain. Selain itu, Yesus Kristus mempersingkat semua upaya murid-muridnya untuk menentukan siapa di antara mereka yang mendapat keuntungan (Luk 22.24-30; Mat 18.1-2) dan berkata kepada mereka, ”Yang terbesar di antara kamu harus menjadi seperti yang termuda, dan pemimpin seperti yang melayani” (Luk 22.24-26; lih. Mat 23.11-12). Atas hal ini dia memberi mereka contoh pemahaman yang tidak biasa tentang otoritas dengan membasuh kaki para rasul pada Perjamuan Terakhir.

Sebuah sistem di mana semakin tinggi otoritas maka semakin besar jumlah bawahan yang dilayani tidak dapat dipahami oleh orang-orang kafir. Dan memang, dalam konteks "dunia ini" itu tidak dapat dipahami. Tetapi dalam Gereja Kristus selama dua milenium, prinsip kasih ini telah berkuasa, sebuah prinsip yang bertentangan dengan prinsip yang didasarkan pada kekuatan dan kebanggaan akan ketentuan kekuasaan duniawi. Cita-cita kepemimpinan gerejawi adalah Gembala Baik yang Alkitabiah yang memberikan nyawanya bagi mereka yang telah dipercayakan ke dalam pemeliharaannya (Yoh 10.11-16; bdk. Is 40.11 dkk.).

Kelahiran Hirarki

Rasul Paulus sejak awal menyebutkan pelayanan gerejawi dari seorang uskup (secara harfiah, 'supervisor, 'pengawas') dan seorang diaken (secara harfiah, 'pelayan') (1 Tim 3). Pada awalnya uskup hampir tidak dapat dibedakan dari para presbiter ('penatua') yang mengelola komunitas pada periode kerasulan (Kisah Para Rasul 15.23, 16.4 ). Sejak abad kedua dan seterusnya, para uskup menerima kuasa eksklusif untuk "mengikat dan melepaskan", memimpin pertemuan ekaristi dan memimpin ibadat umat beriman sebagai penerus para rasul.

Uskup Roma – ibu kota kekaisaran dan tempat pemakaman rasul Petrus dan Paulus yang paling berwibawa – menikmati hak prerogatif khusus. Pada abad kedua dia sudah dianggap sebagai uskup paling berpengaruh tidak hanya di dalam kekaisaran Romawi tetapi juga di luar batasnya.

Konsili dan Konsiliaritas

Pada abad ketiga muncul majelis (dewan/konsili) uskup di kota-kota provinsi Romawi tertentu (dalam bahasa Yunani, eparkhia) di bawah presidensi uskup kota utama, metropolis. Uskup senior (metropolitan) diwajibkan untuk meminta nasihat dari para uskup di provinsinya dan mereka pada gilirannya akan menghormatinya sebagai kepala mereka. Pada saat yang sama, di dalam distrik mereka sendiri para uskup tetap menjadi penguasa dengan kuasa penuh (kanon Apostolik ke-34; kanon ke-9 Konsili Antiokhia).

Pada tahun 325 M, kaisar Kristen pertama Konstantinus Agung mengundang para uskup ke Nikea untuk merayakan ulang tahun pemerintahannya. Pertemuan tersebut adalah yang pertama dari sejumlah pertemuan para uskup yang diadakan oleh negara untuk mengatur perbedaan pendapat di dalam Gereja. Tujuh Konsili Ekumenis dari abad keempat hingga ketujuh merumuskan landasan dogmatis dan doktrinal dari Orthodoksi dan kekatolikan.

Karena keuskupan di Konsili Ekumenis telah berkumpul dari seluruh kekaisaran, muncul kebutuhan akan hierarki seremonial untuk klerus yang lebih tinggi. Awalnya status para uskup bergantung pada otoritas pribadi mereka. Tetapi oleh Konsili Nikea pada tahun 325 kanon ke-6 dari Konsili Ekumenis Pertama menetapkan bahwa

“Adat istiadat kuno dipertahankan di Mesir, di Libya, dan di Pentapolis sehingga uskup Aleksandria memiliki otoritas atas semua wilayah ini, karena bagi uskup Roma ada praktik serupa dan hal yang sama mengenai Antiokhia; dan di provinsi lain, biarlah hak prerogatif gereja (ibukota) dijaga.”

Kanon inilah yang nantinya akan digunakan oleh para Paus sebagai dasar klaim mereka atas apa yang disebut keutamaan. Merupakan fakta yang aneh bahwa dalam versi Latin kuno kanon ini dimulai dengan kata-kata yang tidak ada dalam bahasa Yunani asli: "Tahta Roma selalu menikmati keunggulan." Namun kenyataannya, kanon hanya berbicara tentang pengakuan hak para uskup di kota-kota terbesar dalam kaitannya dengan para uskup di provinsi sekitarnya.

Dua Roma

Pendirian kota Konstantinopel pada tahun 330 M memberikan tantangan terhadap tradisi politik dan gerejawi sebelumnya di mana Roma tidak memiliki atau tidak ada saingannya. 'Kota abadi' dipandang tidak hanya sebagai simbol kekuatan 'negara super' Romawi, tetapi juga sebagai jaminan suci keberadaan dunia itu sendiri. Para penulis Kristen juga percaya bahwa kemerosotan Roma akan menyebabkan bencana universal. Di sana kemudian muncul Roma Baru di timur yaitu tempat kaisar pindah. Munculnya ibu kota baru menuntut pemeriksaan ulang sistem yang ditetapkan di Nikea tentang 'hak prerogatif' dari tahta gerejawi. Uskup dari kota kecil Bizantium, di mana Konstantinus Agung membangun Roma Baru, adalah seorang uskup biasa dari provinsi Thrace yang tunduk pada metropolitan ibukotanya Herakleia. Tetapi status ini tidak sebanding dengan ibukota kekaisaran yang telah berkembang pesat menjadi megapolis. Maka, pada Konsili Ekumenis Kedua di Konstantinopel (381 M) kanon ke-3 berikut diadopsi:

"Adapun uskup Konstantinopel, biarkan dia memiliki hak prerogatif kehormatan setelah uskup Roma, mempertimbangkan bahwa kota ini adalah Roma yang baru."

Roma Baru setara dengan Roma Lama tidak hanya dalam status politik tetapi juga dalam status gerejawi. Namun, sifat dari "hak prerogatif  kehormatan" dari mereka yang tunduk padanya tidak diatur, yang memicu serangkaian konflik. Para uskup Konstantinopel, yang tidak memiliki provinsi sendiri, mulai memperluas otoritas mereka sejauh memungkinkan, yang menimbulkan protes dari para metropolitan tetangga. Yang paling akut adalah reaksi Efesus, sebuah megapolis di Asia Kecil, yang bangga akan statusnya sebagai tahta St. Yohanes Sang Theolog.

Di barat, Konsili Kedua tidak segera diakui sebagai Konsili Ekumenis, dan kanon yang disebutkan di atas diabaikan oleh para Paus yang terus menganggap tiga tahta yang tercantum dalam kanon Nikea – Roma, Aleksandria, dan Antiokhia – sebagai yang paling penting. Bersandar pada tradisi kuno, yang merupakan kebiasaan Roma, dan kecenderungan untuk mengangkat otoritas tahta tertentu ke masa kerasulan berperan dalam hal ini. Gereja Roma ditelusuri kembali ke St. Petrus dan St. Paulus; dua rasul utama yang juga aktif di Antiokhia, sedangkan tahta Aleksandria didirikan oleh murid Petrus, St. Markus penulis Injil. Tapi apa yang bisa dibanggakan Byzantium, yang sebelumnya merupakan kota kecil yang tidak berarti? Baru beberapa abad kemudian muncul tradisi bahwa St. Andreas pernah berada di sini, yang akan mengubah Konstantinopel menjadi tahta apostolik, yang didirikan oleh rasul yang disebut pertama, kakak laki-laki St. Petrus.

Kanon Kalsedon ke-28 dan Yurisdiksi Konstantinopel

Mustahil untuk menyangkal gravitasi gerejawi Konstantinopel, terutama setelah pembagian kekaisaran Romawi menjadi dua bagian pada tahun 395 M dan ketika bagian baratnya semakin merosot. Selain itu, ada persyaratan untuk menentukan secara formal batas-batas yurisdiksi Roma Baru sehingga Patriarkhnya (begitulah gaya para uskup utama sejak abad kelima dan seterusnya) tidak akan campur tangan di provinsi lain. Jadi, pada tahun 451 M Konsili Ekumenis Kalsedon Keempat mengadopsi sejumlah kanon penting, di antaranya makna khusus yang melekat pada kanon ke-28:

“Mengikuti setiap detail keputusan para bapa suci, dan memperhatikan kanon baru saja dibaca dari 150 uskup yang sangat dikasihi Allah yang berkumpul di bawah Theodosius Agung, kaisar yang dikenang saleh, di kota kekaisaran Konstantinopel, Roma Baru, kami sendiri juga telah menetapkan dan memilih hal yang sama mengenai hak prerogatif Gereja suci di Konstantinopel yang sama, Roma Baru. Karena para bapa dengan tepat mengakui hak prerogatif takhta Penatua Roma karena itu adalah Kota Kekaisaran, dan tergerak oleh pertimbangan yang sama, 150 uskup yang dikasihi Allah menganugerahkan hak prerogatif yang sama kepada takhta paling suci di Roma Baru, menilai dengan tepat bahwa kota yang dihormati oleh otoritas kekaisaran dan senat dan menikmati hak prerogatif [sipil] yang sama dengan kota kekaisaran Roma Lama, juga harus diperbesar dalam masalah gerejawi seperti bahwa dia menjadi yang kedua setelahnya. Konsekuensinya, para metropolitan – dan mereka sendiri – dari keuskupan Pontus, Asia dan Thrace, serta para uskup dari keuskupan tersebut yang termasuk di antara orang-orang barbar, akan ditahbiskan oleh tahta suci Gereja Konstantinopel yang paling suci tersebut. . Setiap metropolitan dari keuskupan yang disebutkan di atas, bersama dengan sesama uskup provinsi, menahbiskan uskup provinsi, sebagaimana diatur dalam kanon; tetapi para metropolitan dari keuskupan-keuskupan tersebut, sebagaimana telah disebutkan, akan ditahbiskan oleh Uskup Agung Konstantinopel, setelah pemilihan yang tepat telah dilakukan menurut kebiasaan dan telah dilaporkan kepadanya.”

Kanon-kanon ini sangat penting karena pada abad ke-20 beberapa theolog akan mencoba membangun teori yurisdiksi gerejawi 'universal' Konstantinopel (Istanbul). Tetapi cukup membaca teks-teks ini dengan penuh perhatian untuk menyadari bahwa mereka tidak berbicara tentang 'yurisdiksi universal'. Sebaliknya, para bapa konsili membatasi kekuasaan uskup agung Konstantinopel menurutnya hak untuk menahbiskan para metropolitan dari tiga keuskupan serta uskup untuk masyarakat barbar di keuskupan-keuskupan tersebut. Di dalam kekaisaran Romawi saat ini terdapat banyak suku Jerman dan lainnya yang menetap di dalam kekaisaran sebagai sekutu (foederati); mereka bukan bagian dari struktur administrasi kekaisaran dan struktur gerejawi mereka dipimpin oleh uskup khusus yang tunduk langsung kepada patriarkh.

Dengan demikian, kanon ke-28 Kalsedon menjadikan Roma Lama dan Roma Baru setara dalam hak istimewa mereka dan menetapkan tiga keuskupan Asia, Pontus, dan Thrakia untuk wilayah gerejawi Konstantinopel.

Lima ‘Patriarkhat Ekumenis’

Konsili Kalsedon yang sama mengambil satu lagi keputusan penting. Kota suci Yerusalem akhirnya diubah menjadi distrik gereja khusus. Dengan demikian, muncullah lima tahta utama kekaisaran Romawi yang primatanya/ pemimpinnya diberi gelar patriarch yaitu: Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem. Wilayah yurisdiksi mereka sangat bervariasi dalam pembagian administratif mereka: dari seluruh kekaisaran barat dengan prefektur Illyricum yang bersebelahan dekat Roma hingga sejumlah provinsi kecil di bawah Yerusalem. Namun, 'patriarkhat barat' adalah fiksi bersyarat: pada abad kelima kekaisaran Romawi barat sudah tidak ada lagi dan kendali Roma atas struktur gerejanya yang muncul di atas reruntuhan kerajaan barbar sangat lemah. Selain itu, Gereja di Afrika Latin melarang banding 'di luar laut', yaitu ke Roma (kanon Kartago ke-32, ke-37 ke-118 dan ke-139), sementara uskup agung Aquileia (Grado, Venesia) juga mengklaim gelar patriarkh .

Kaisar Justinian Agung mengimbau Roma dan Konstantinopel sebagai tahta utama kekaisaran (dekrit tahun 533; novella ke-131 tahun 545), sedangkan kepenuhan Gereja Katolik dan Apostolik dikurangi dengan persetujuan lima 'patriarkh paling suci yang Ecumenis' dan para uskup tunduk pada mereka (novel ke-109 dari 541). Pada gelar uskup agung Konstantinopel ini ditambahkan nama kehormatan 'Patriarkh Ekumenis' yang menggarisbawahi status Roma Baru sebagai salah satu patriarkhat Ekumenis (sebagaimana kekaisaran Romawi menyebut dirinya sendiri).

Pentarkhi di Byzantium pada Abad Pertengahan

Perumusan kanonik terakhir dari sistem lima patriarkhat terjadi pada tahun 692 di Konsili Quinisext di Trullo. Kanon ke-36 menyatakan:

“Memperbarui pemberlakuan oleh 150 Bapa yang berkumpul di kota yang dilindungi Allah yang sekaligus kota kekaisaran, dan dari 630 orang yang bertemu di Kalsedon; kami memutuskan bahwa Tahta Konstantinopel akan memiliki hak istimewa yang sama dengan Tahta Roma Lama, dan akan sangat dihormati dalam masalah gerejawi sebagaimana adanya, dan akan menjadi yang kedua setelah Roma. Setelah Konstantinopel peringkat akan diberikan ke Tahta Aleksandria, lalu Tahta Antiokhia, dan setelah itu Tahta Yerusalem.”

Urutan berbeda dari 'tahta utama' diadopsi di barat. Dalam Donasi Konstantinus (pemalsuan abad kedelapan yang terkenal menganjurkan otoritas politik untuk kepausan) dipandang bahwa Alexandria, Antiokhia, Yerusalem dan Konstantinopel di bawah yurisdiksinya Roma. Penulis pemalsuan awal abad pertengahan ini dengan berani mengklaim bahwa dekrit tersebut bertanggal 315 ketika Konstantinopel belum ada – Tujuan utamanya adalah menempatkan Konstantinopel di urutan paling belakang! Kepausan berulang kali menekankan status sekunder Konstantinopel sebagai patriarkhat dan menolak gelar 'Ekumenis', yang telah dianggap berasal dari tahta Konstantinopel di era Bizantium. Pada abad ketujuh semua tahta timur lainnya ditaklukkan oleh orang Arab dan Konstantinopel tetap menjadi satu-satunya patriarkhat ekumenis di wilayah kekaisaran.

Namun, para patriarkh lainnya juga terus menganggap diri mereka sebagai uskup utama dari Satu Gereja Katolik. Pentarkhi, meskipun dilihat oleh penulis Bizantium sebagai pleroma gerejawi organik seperti panca indera manusia, tidak pernah dipahami sebagai kumpulan orang banyak yang tertutup. Dari abad ke-10 hingga ke-13 muncul gereja-gereja independen (Serbia, Bulgaria) yang bukan merupakan bagian darinya. Ini adalah fakta yang menarik bahwa Roma murtad (dari kepenuhan Gereja) pada abad kesebelas sama sekali tidak mengubah konsepsi ini: Theodore Balsamon (abad kedua belas) dan Matthew Blastares (abad keempat belas) berbicara tentang pembagian Ekumenis antara lima patriarkh "tidak termasuk gereja-gereja kecil".

Moskow di Tempat Roma

Peningkatan Metropolitan Moskow dan Seluruh Rus ke jenjang Patriarkh oleh Patriarkh Konstantinopel Yeremia II pada tahun 1589, dan dikonfirmasi oleh Konsili Patriarkh Timur pada tahun 1590 dan 1993 menambahkan interpretasi baru pada Pentarkhi. St Ayub, Patriarkh Moskow dan Seluruh Rus, memberikan komentar berikut tentang ini:

“Alih-alih Paus, kita harus memuliakan sebagai bapa suci kita, yang Agung dan Mulia Yeremia, uskup agung Konstantinopel Roma Baru dan Patriarkh Ekumenis, dan kemudian empat patriarch yaitu Alexandria, Antiokhia, Yerusalem dan pemilik tahta Moskow dari wilayah Rusia.”

Konsili tahun 1590 menetapkan bahwa untuk selanjutnya patriarkh Konstantinopel akan menjadi yang pertama dan patriarkh Moskow menjadi yang kelima. Dan pada Konsili 1593 diumumkan bahwa Moskow akan menjadi patriarkhat untuk menghormati status politik Rusia: “Karena Allah telah menganggap negara ini sebagai sebuah kerajaan.”

Dengan demikian, Moskow menerima gelar martabat patriarkhal sebagai ibu kota satu-satunya kerajaan Orthodoks di dunia dengan cara yang hampir sama seperti yang pernah terjadi dengan Konstantinopel. Benar bahwa Moskow diangkat ke posisi yang setara dengan Konstantinopel, tetapi diberi tempat terakhir dari lima Pentarkhi.

Saat ini empat patriarkhat timur terletak di wilayah negara terbesar di dunia Islam – kekaisaran Ottoman. Pada saat yang sama, Patriarkh Konstantinopel menikmati hak-hak dari sebuah millet Orthodoks yang memberinya kebebasan tertentu. Namun, ketika Phanar (distrik tempat kediaman patriarkh berada) mencoba merongrong hak kanonik saudara-saudaranya di Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem, tetapi dia mendapat penolakan keras.

Dengan demikian, Moskow menerima gelar martabat patriarkal sebagai ibu kota satu-satunya kerajaan Orthodoks di dunia dengan cara yang hampir sama seperti yang pernah terjadi dengan Konstantinopel. Benar bahwa Moskow diangkat ke posisi yang setara dengan Konstantinopel, tetapi diberi tempat terakhir – kelima – di Pentarkhi.

Saat ini empat patriarkat timur terletak di wilayah negara terbesar di dunia Islam – kekaisaran Ottoman. Pada saat yang sama, patriark Konstantinopel menikmati hak-hak dari sebuah millet Ortodoks yang memberinya kebebasan tertentu. Namun, ketika Phanar (distrik tempat kediaman patriarkh berada) mencoba merongrong hak kanonik saudara-saudaranya di Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem, ia mendapat penolakan keras.

 

Klaim Terbaru Konstantinopel dan Posisi Gereja Rusia

Pada abad ke-20, setelah munculnya Republik Turki dan deportasi penduduk Yunani dari Asia Kecil, posisi Konstantinopel menjadi kompleks. Dan kemudian para patriarkh ekumenis, dengan dukungan dari Triple Entente, memutuskan untuk mengubah status kehormatan mereka menjadi status sebenarnya dari 'Patriarkh Ekumenis'. Mengambil keuntungan dari situasi genting yang dialami oleh Gereja Rusia ketika ia mengalami penganiayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, Konstantinopel mulai secara sepihak dan secara tidak kanonik mengambil Gereja-Gereja Lokal yang telah muncul di negara-negara bangsa baru di Eropa Timur di bawah 'yurisdiksi tertingginya'. Dengan menafsirkan kembali kanon ke-28 Kalsedon, Phanar mulai memandang sebagai 'Orang Barbar' adalah semua bangsa yang tidak memiliki Gereja Orthodoks kuno mereka sendiri dan memperluas otoritasnya atas mereka.

Tidak puas dengan status kanonik tradisional 'yang pertama di antara yang sejajar, para patriarkh Konstantinopel mulai mengklaim posisi 'uskup universal', 'yang pertama tanpa yang sejajar, sebagai salah satu pendukung ide ini uskup agung Amerika. Kata Elpidophoros (Lambriniadis). Langkah penting di jalan ini adalah pengorganisasian dan penyelenggaraan 'Konsili Pan-Orthodoks yang Suci dan Agung' di Kreta pada tahun 2016 meskipun ada keberatan dari sejumlah Gereja Orthodoks dan yang berusaha memberikan hak kepada Konstantinopel untuk menjadi 'koordinator' antara Gereja Orthodoks lainnya. Kita dapat menilai sifat 'koordinasi' ini dengan tindakan Patriarkh Bartholomew sehubungan dengan Gereja Orthodoks non-kanonik Ukraina. Tindakan ini, yang merupakan pelanggaran berat terhadap kanon kuno, telah menabur dan terus menabur kebingungan di Gereja Orthodoks yang satu.

Gereja Ortodoks Rusia berpegang teguh pada prinsip apostolik konsiliaritas dan mengakui persamaan hak kanonik para primata dari semua lima belas Gereja Lokal autocephalous, di antaranya adalah Gereja Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem, Rusia, Georgia, Serbia , Rumania, Bulgaria, Siprus, Yunani, Albania, Polandia, Tanah Ceko dan Slovakia, dan Amerika. Semua Saudara gereja (sister church) ini adalah anggota yang setara dari Gereja Kristus yang Satu Katolik dan Apostolik.

 

https://mospat.ru/en/authors-analytics/59575/