PANDUAN MENGENAI JUBAH LITURGIS ORTHODOKS
28 Januari 2020
Dalam pelayanan mereka, Imam Orthodoks (uskup, imam, dan diakon)
mengenakan jubah liturgi. Ini berfungsi sebagai semacam "seragam"
(karena tidak ada kata yang lebih baik) yang membedakan baik klerus satu dengan
yang lain dan dari orang awam (umat paroki). Jubah Liturgi ini juga membuat imam
Orthodoks menjadi ikon Tuhan kita dan malaikat-malaikatNya, melayani di altar
atas nama kita. Dalam panduan ini, kami mencantumkan masing-masing jubah
berbeda yang dikenakan oleh Imam Orthodoks dan menjelaskan fungsi dan artinya.
Jubah Liturgis Orthodoks
Di bawah ini adalah daftar isi untuk membantu saudara menavigasi
panduan ini. Perhatikan bahwa jubah tertentu dapat dikenakan oleh ketiga jabatan,
beberapa mungkin dikenakan oleh imam dan uskup saja, dan yang lain mungkin eksklusif
untuk uskup saja. Kami telah menandai setiap jubah dengan huruf D, P, atau B,
sesuai dengan yang dipakai oleh anggota klerus. (Panduan ini hanya mencakup
jubah untuk gereja-gereja Orthodoks Ritus Timur.):
- Jubah Dalam (Anderi)
- Jubah Luar (Eksorasson)
- Jubah Baptis (Sticharion)
- Stola Diakon (Orarion)
- Manset (Epimanikia)
- Salib Dada (Pectoral)
- Stola Imam (Epitrachelion)
- Sabuk (Zona)
- Jubah paling luar yang menutupi jubah lainnya (Phelonion)
- Epigonasi
- Mitra
- Panagia
- Sakkos
- Omoforion
- Krozier
JUBAH DALAM (ANDERI: D, P,
B)
Anderi, atau jubah bagian dalam, adalah pakaian hitam panjang sampai
lantai. Sangat pas dengan tubuh dan memiliki lengan panjang yang sempit seperti
kemeja (lihat Gambar 1). Jubah ini non-liturgis, yang berarti klerus yang
ditahbiskan memakai ini baik di dalam maupun di luar Ibadah di Gereja. Imam
biasanya memakai anderi di bawah jubah luar (eksorasson). Mengenakan jubah
adalah umum di antara para uskup, imam, diakon, biarawan dan biarawati di
Gereja Orthodoks.
MAKNANYA
Jubah Dalam (Anderi) melambangkan kematian dan penguburan
seorang Imam dari dunia ini. Itu juga melambangkan dedikasinya kepada TUHAN dan
Kerajaan Surgawi.
Gambar 1: Anderi, atau jubah bagian dalam
JUBAH LUAR (EKSORASSON, D,
P, B)
Seperti anderi, eksorasson, atau jubah luar, adalah pakaian
panjang sampai lantai. Namun yang ini lebih longgar dan memiliki lengan yang disampirkan
(lihat Gambar 2). Jubah ini juga non-liturgis, jadi Imam memakainya baik
sebagai pakaian sehari-hari biasa dan sebagai pakaian dalam selama Ibadah Liturgi.
Mengenakan jubah luar adalah umum di antara para uskup, imam, diakon, biarawan
dan biarawati.
MAKNANYA
Mirip dengan anderi, eksorasson juga melambangkan kematian dunia
dan semua hal yang bersifat duniawi.
Gambar 2: Eksorasson, atau jubah luar
Jubah Baptis (STIKARION: D,
P, B)
Jubah liturgis pertama disebut sticharion, atau jubah baptis.
Ini adalah jubah panjang dan sempit yang diikat di leher, dengan lengan
longgar. Setiap Jabatan suci Imam Orthodoks memakai jubah ini, tetapi desain
jubah itu berbeda tergantung siapa yang memakainya.
Para imam dan uskup mengenakan sticharion di bawah semua jubah
lainnya. Jadi, untuk imam dan uskup, pakaian biasanya berupa jubah putih atau
emas sederhana (lihat Gambar 3).
Diakon dan subdiakon, di sisi lain, memakainya sebagai jubah
terluar mereka. Jadi, mereka biasanya memiliki warna yang lebih cerah dan
sulaman tanda salib yang lebih rumit di antara tulang belikat (lihat Gambar 4).
Selain itu, sticharion diakon dibuka di pinggir-pinggirnya dan
ditutup dengan kancing. Beberapa yurisdiksi menyebut sticharion diakon sebagai
dalmatikon, yang merupakan namanya di abad keempat, ketika jubah itu
dikembangkan.
MAKNANYA
Stikharion melambangkan “jubah keselamatan”, pakaian putih yang
dikenakan setiap orang Kristen pada hari pembaptisannya. Dengan demikian, itu
melambangkan kemanusiaan baru Yesus dan kehidupan dalam Kerajaan Allah (Wahyu
7:9).
STOLA DIAKON (ORARION: D)
Orarion, atau stola diakon, adalah jubah yang unik bagi diakon.
Biasanya lebarnya 4 inci dan panjangnya sekitar 10 kaki, pakaian ini terbuat
dari brokat dengan tujuh salib yang dibordir atau diaplikasikan sepanjang
panjangnya. Diakon memakainya di atas bahu kirinya dan menutupi bagian depan di
atas lengan kirinya selama ibadah liturgi. Dia sering mengambil bagian ini di
tangan kanannya ketika memimpin litani atau melakukan tindakan tertentu.
Dalam beberapa tradisi, orarion lebih panjang dan juga diselempangkan
satu kali secara diagonal di bawah lengan kanan dan di atas bahu kiri.
Protodiakon dan diakon agung memakai “orarion ganda” ini, begitu juga diakon
yang telah melayani selama beberapa tahun.
Saat mempersiapkan Komuni, diakon mengikatkan stola di pinggangnya dan membawa ujungnya ke atas bahunya. Ini membentuk salib berbentuk X di punggungnya. Kemudian dia menurunkan ujungnya ke depan dan menyelipkannya di bawah bagian di sekitar pinggangnya.
MANSET / GELANG TANGAN (EPIMANIKIA: D, P, B)
Epimanikia (tunggal: epimanikion) atau manset kain, diikatkan ke
pergelangan tangan Imam. Jubah ini berisi lengan jubah pembaptisan, dan
biasanya ada salib di tengahnya (lihat Gambar 6). Catatan: karena seorang diakon
memakai sticharion yang lebih rumit, ia memakai Manset di bawah jubah dan di
atas lengan jubahnya.
MAKNANYA
Manset memiliki tujuan yang agak praktis: memastikan lengan
sticharion tidak menghalangi imam selama ibadah. Namun, manset masih
mengingatkan para Imam bahwa mereka merayakan dan mengambil bagian dari Misteri
dengan kekuatan dan Rahmat Tuhan, bukan atas kekuatan mereka sendiri. Manset
juga berfungsi untuk mengingatkan kita akan ikatan yang mengikat tangan Sang Juruselamat
selama Sengsara-Nya.
SALIB PECTORAL (P, B)
Salib dada atau pectoral (dari bahasa Latin pectoralis,
"dada") adalah salib yang relatif besar dengan rantai atau tali yang
menggantung dari leher imam atau uskup hingga ke dadanya. Pectoral berbeda dari
salib biasa yang dikenakan pada kalung oleh kebanyakan orang Kristen.
Salib menggambarkan Kristus yang disalibkan, baik dalam bentuk
ikon maupun relief (tidak lebih dari 3/4). Juga terdapat tulisan INBI (gelar
yang diletakkan Pontius Pilatus di atas kepala Yesus pada saat penyaliban) dan
huruf IC XC NIKA (“Yesus Kristus Menaklukkan”) di sekitar lengan salib. Selain
itu, Pectoral sering memiliki ikon Kristus "Dibuat Tanpa Tangan" di
atas salib. Dalam praktik Rusia, bagian belakang salib memuat kata-kata Rasul
Paulus kepada Timotius: “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam ucapan
dan tingkah laku, dalam kasih, dalam iman, dan dalam kemurnian” (1 Tim.
4:12).
Di seluruh Gereja Orthodoks, semua uskup mengenakan salib Pectoral.
Di beberapa yurisdiksi (yaitu Slavia dan Antiokhia), semua imam juga mengenakan
salib, sementara di tempat lain (yaitu Yunani), Salib Pectoral dianugerahkan
sebagai "penghargaan" untuk pelayanan yang setia.
TINGKATAN SALIB PECTORAL
Uskup menghadiahkan Salib Pectoral kepada imam dalam tingkatan: Perak, Emas, dan Permata. Ketika seorang imam pertama kali ditahbiskan, dia menerima Salib Perak. Salib ini polos, dan tidak dihias atau dilapisi porselin selain ukiran atau reliefnya. Ini membedakan mereka dari diakon dan biarawan, yang sebaliknya terlihat persis sama ketika tidak mengenakan jubah mereka.
Salib Emas adalah tingkat kedua, yang dikenakan oleh para Archpriest
(imam agung), kepala biara, dan kepala biara sebagai tanda jabatan mereka. Para
uskup dapat menganugerahkannya kepada imam yang sudah menikah dan imam monastik
untuk pelayanan yang setia di Gereja. Ini mirip dengan Salib Perak, karena
tidak dihias atau dilapisi porselin.
Tingkatan
tertinggi adalah Salib Permata (juga Dengan Dekorasi). Sesuai dengan namanya,
salib ini biasanya memiliki permata di permukaannya dan memiliki mitra gaya
Timur di bagian atas (lihat Gambar 7 di atas). Salib Pectoral jenis ini
dikenakan oleh para uskup, archimandrite, dan protopresbiter sebagai tanda
jabatan mereka. Salib Permata juga dapat diberikan kepada Imam lain. Semua
uskup berhak untuk mengenakan salib Pectoral dengan dekorasi, tetapi kebanyakan
hanya memilih untuk memakai Panagia ketika tidak mengenakan untuk Ibadah.
STOLA IMAM (EPITRACHELION: P, B)
Epitrachelion (Yunani, “di leher”) adalah stola yang dikenakan
oleh para imam dan uskup. Jubah liturgis Orthodoks ini dikenakan di leher
dengan dua sisi yang berdekatan dijahit atau dikancingkan bersama.
Ujung-ujungnya memanjang sampai ke mata kaki Imam. Mirip dengan orarion (stola diakon),
jubah ini memiliki tujuh salib yang dibordir atau dijahit, satu di bagian
belakang leher dan tiga di setiap sisinya.
Imam memakai jubah ini setiap kali melayani. Untuk beberapa Ibadah,
seperti Sembahyang Senja/Vespers atau Sembahyang Singsing Fajar/Orthros, imam
memakai stola itu sendiri di atas jubah luarnya. Ketika sepenuhnya dikenakan
untuk Liturgi Ilahi, dia memakai stola di atas sticharion dan di bawah Sabuk/Zona
dan phelonion.
Jika seorang imam Orthodoks hanya menghadiri Ibadah, ia tidak
mengenakan jubah liturgis, tetapi akan mengenakan stola (dan dalam banyak
tradisi Slavia, menggunaklan Mansetnya) sebelum menerima Komuni.
Gambar 8: Stola Imam Atau epitrachelion
MAKNANYA
Jubah liturgis ini melambangkan kuk rohani imamat. Yang juga
melambangkan bagian ganda dari Rahmat TUHAN yang dianugerahkan kepada seorang
imam, untuk perayaan Misteri Ilahi. Ini adalah satu jubah (jika tidak ada yang
lain) yang mutlak diperlukan bagi seorang imam untuk melakukan ibadah liturgi
apa pun. Tanpa itu, dia tidak bisa melayaninya.
Stola awalnya terbuat dari wol, yang melambangkan domba, atau anggota kawanan domba Kristus. Baik uskup maupun imam mengenakan jubah ini ketika menjalankan tugas pastoral mereka, dan melihat fakta bahwa para pelayan Gereja hidup dan bertindak semata-mata untuk anggota kawanan domba Kristus.
SABUK (ZONA)
Zona atau sabuk adalah jubah liturgis yang digunakan para imam
dan uskup Orthodoks untuk mengikatkan sticharion dan epitrachelion ke tubuhnya.
Ini membantu imam bergerak selama Liturgi tanpa halangan dari pakaian lainnya.
Sabuk itu menandakan bahwa imam mengenakan matiraga tubuh dan kesucian, setelah mengikat pinggangnya dengan kekuatan kebenaran. Sabuk juga melambangkan kuasa ilahi yang menguatkan imam selama pelayanannya (Mazmur 18:32). Lebih jauh, itu mengingatkan kita pada handuk yang diberikan Juruselamat untuk membasuh kaki para murid pada Perjamuan Mistika.
Gambar 10: Phelonion gaya Yunani.
Jubah paling luar yang menutupi jubah lainnya (PHELONION: P)
Phelonion (jamak, phelonia) adalah jubah liturgis yang dikenakan
oleh para imam Orthodoks di atas jubah mereka yang lain. Itu besar dan tanpa
lengan, seperti jubah. Bagian depan jubah sampai ke pinggang Imam, sedangkan
bagian belakang menyentuh mata kaki.
Ada dua gaya utama dari jubah ini. Phelonia Bizantium atau Yunani yang hanya pas sampai di bahu, sedangkan phelonia Rusia memiliki kerah tinggi dan kaku yang menutupi bagian belakang kepala (lihat Gambar 10 dan 11). Penggunaan phelonion tidak terbatas pada Liturgi Ilahi, tetapi ditetapkan untuk setiap fungsi liturgi utama.
Seorang uskup yang ingin melayani Liturgi Ilahi sebagai imam
(yaitu, tanpa ritus dan doa khusus dari Liturgi Ilahi Hierarki) kadang-kadang
akan mengenakan phelonion alih-alih sakkos-nya, tetapi dengan omoforion kecil
di lehernya.
MAKNANYA
Phelonion melambangkan jubah merah yang digunakan Pilatus untuk
mendandani Tuhan kita sebelum Penyaliban-Nya. Dengan kata lain, itu
mengingatkan kita pada siksaan dan penderitaan yang dialami seorang imam selama
pelayanannya untuk melayani umat Allah yang setia. Selain itu, phelonion mewujudkan
pakaian kebenaran yang dengannya para imam harus dikenakan sebagai pelayan
Kristus. St. Kosmas dari Aitolia menambahkan lapisan makna lain pada jubah ini;
karena tangan imam tetap dekat dengan tubuhnya, maka mereka tidak menerima atau
melekat pada hal-hal duniawi. Dengan demikian, imam dapat menerima Karunia
Kudus tanpa ada yang menghalanginya.
Gambar 11: Phelonion gaya Rusia
EPIGONASI (P, B)
Epigonasi (Yunani: “di atas lutut”), atau palitza (Rusia: “tongkat pemukul”), adalah jubah berbentuk berlian yang dikenakan di atas lutut kanan para imam dan uskup. Dalam tradisi Bizantium, para imam dianugerahi epigonasi setelah diangkat ke jenjang exomologos, atau Sebagai Penerima Pengakuan Dosa. Dalam tradisi Rusia, Epigonasi diberikan setelah bertahun-tahun melayani. Meskipun palitza Rusia memiliki bentuk yang identik, dan jelas terkait dengan epigonasi, terjemahan Slavonik yang paling literal untuk epigonasi sebenarnya adalah "Nabedrennik", yang merupakan jubah persegi panjang yang berbeda yang tidak lagi ada dalam penggunaan non-Slavia.Gambar 12: Epigonasi
MAKNANYA
Epigonasi mewakili perisai, berasal dari perisai paha yang
dikenakan oleh tentara pada masa gereja mula-mula. Epigonasi melambangkan dua
hal. Pertama, ini menunjukkan selebran sebagai “prajurit” Kristus. Dan kedua,
melambangkan “pedang Roh, yaitu Firman Allah” (Efesus 6:17) – pembelaan iman
bagi pemakainya dengan memukul semua yang najis dan keji.
MITRA (B)
Mitra/mitra, (Yunani: “ikat kepala”) adalah Pakaian yang dikenakan di kepala uskup Orthodoks sebagai bagian dari pakaian upacara mereka. Di masa sekarang, Pakaian ini dibuat mengikuti mahkota kekaisaran dari Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) akhir. Bentuknya seperti mahkota bulat. Mitra terbuat dari berbagai bahan (yaitu brokat, damask, kain emas), dan dalam banyak kasus, dihiasi dengan permata dan bordir. Sementara Mitra dibuat dalam warna emas sebagian besar waktu, mitra dibuat dalam warna liturgis lainnya. Selain itu, ada empat ikon yang melekat pada penutup kepala. Ini yaitu ikon Yesus Kristus, Theotokos, Yohanes Pembaptis, dan Salib. Di atas mahkota adalah salib, biasanya tegak untuk uskup dan berbaring datar untuk imam.Gambar 13: Mitra brokat merah yang dikenakan
oleh seorang uskup Orthodoks.
Pemakaian mitra biasanya eksklusif untuk uskup, tetapi juga dapat diberikan kepada ArchPriest/Imam Agung, Protopresbiter, dan Arkhimandrit.
PANAGIA (B)
Panagia (Yunani: “Tersuci”) adalah gelar yang diberikan kepada Perawan Maria dalam Tradisi Orthodoks. Kata yang sama ini juga mengacu pada medali yang dikenakan oleh para uskup Orthodoks yang menyandang ikon Sang Theotokos Yang Tersuci. Dalam beberapa tradisi, medali ini juga disebut engolpion. Panagia biasanya berbentuk oval dan dimahkotai dengan gambaran mitra (lihat Gambar 14).
Gambar 14: Panagia (kiri) dan Salib Pectoral
(kanan) yang cocok dengan mitra.
Setiap kali seorang uskup mengenakan Jubah untuk Liturgi Ilahi atau Ibadah
lainnya, ia mengenakan panagia dan Salib Pectoral di atas jubahnya yang lain.
Ini sering merupakan detail yang membantu pendatang baru dan Orthodoks muda
untuk membedakan seorang uskup dari seorang imam atau seorang biarawan. Primata
(atau Patriarkh) dari sebuah gereja autokephalous, ketika mengenakan pakaian
lengkap, memakai panagia, Salib Pectoral, dan Engolpion Kristus. Terkadang,
uskup dapat mengenakan panagia yang berbentuk persegi atau berbentuk seperti
elang berkepala dua. Hal ini terutama berlaku bagi para uskup dari tradisi
Yunani.
SAKKOS (B)
Sakkos (Yunani: “kain karung”) adalah jubah yang dikenakan oleh para uskup Orthodoks sebagai pengganti Phelonion Imam. Uskup memakai Sakkos setiap kali merayakan Liturgi Ilahi dan Ibadah lainnya ketika disebutkan dalam rubrik. Sakkos adalah Jubah Tunik dengan lengan lebar, dan pola trim yang khas. Jubah ini mencapai di bawah lutut dan mengikat sisi-sisinya dengan kancing atau pita. Biasanya ada salib yang berpusat di punggung, yang dicium uskup sebelum diletakkan di atasnya. Secara tradisional, lonceng melekat pada sakkos, mengikuti petunjuk alkitabiah untuk jubah Imam Besar Yahudi (Keluaran 28:33-34; 39:25-26).
Gambar 15: Diakon Orthodoks mengencangkan kancing pada Sakkos uskup.
Dalam beberapa tradisi, seorang uskup dapat memilih untuk merayakan Liturgi “sebagai seorang Imam”. Ini berarti dia tidak mengenakan jubah lengkap, juga tidak menggunakan dikirion dan trikirion (kandil liturgi). Dalam hal ini, alih-alih mengenakan sakkos maka Uskup mengenakan phelonion imam, dengan hanya omoforion kecil (lihat bagian di bawah) di bahunya dan epigonasi di sisinya. Bagaimanapun, uskup akan selalu memakai engolpion panagia miliknya.
PERKEMBANGAN SEJARAH
Awalnya, semua uskup mengenakan phelonion yang mirip dengan yang
dikenakan oleh para imam, tetapi ditenun atau disulam dengan pola salib
berlapis-lapis yang disebut polystavrion ("banyak-salib"). Sakkos
awalnya dikenakan oleh Kaisar Bizantium sebagai jubah kekaisaran, melambangkan Jubah
Tunik aib yang dikenakan oleh Kristus selama pengadilan dan ejekan. Dengan
demikian, penggunaan jubah ini adalah hak istimewa yang diberikan oleh Kaisar
kepada masing-masing patriarkh sebagai tanda bantuan pribadinya. Pada abad
ketiga belas semua patriarkh, serta beberapa uskup agung berpangkat tinggi,
memakainya. Uskup lain terus memakai polystavrion. Setelah jatuhnya
Konstantinopel pada tahun 1453, mengenakan sakkos mulai digunakan secara umum
oleh para uskup. Di masa sekarang, semua uskup Orthodoks – serta Katolik Roma
ritus Bizantium – mengenakan jubah ini, terlepas dari jabatannya.
OMOPHORION (B)
Gambar
16: Omoforion brokat putih yang dikenakan oleh para uskup Orthodoks.
MAKNANYA
Omophorion berfungsi sebagai simbol otoritas spiritual dan
gerejawi uskup. Kita sering mengatakan dalam Orthodoksi bahwa mereka yang
tunduk pada otoritas uskup berada “di bawah omoforionnya”. Selanjutnya,
omoforion melambangkan domba yang hilang yang ditemukan dan dipikul oleh
Gembala yang Baik (Kristus). Dengan kata lain, ini menekankan peran pastoral
uskup sebagai ikon Kristus.
TONGKAT USKUP
Crozier/crosier, (Yunani: paterissa; Slavonik: zhezl) adalah Tongkat yang dibawa oleh para uskup Orthodoks dan monastik senior (abbas/abbesses) sebagai simbol otoritas dan yurisdiksi. Crozier biasanya terbuat dari logam halus yang sering disepuh atau berlapis perak. Beberapa juga dapat dibuat dari kayu halus. Tongkat ini dipakai dengan salah satu dari dua atasan:• Huruf Yunani Tau dengan lengan melengkung ke bawah, diapit
salib. Tau adalah simbol kebangkitan dan kehidupan Yunani kuno.
• Sepasang ular atau naga dengan kepala melengkung ke belakang
saling berhadapan, dengan salib kecil di antara mereka (lihat Gambar 18). Ini
melambangkan ketekunan uskup dalam melindungi kawanannya.
Gambar 17: Tongkat Uskup kayu di atasnya dengan huruf Yunani Tau
dan salib
Uskup membawa tongkat ini saat berada di luar altar, dan tidak membawanya ke dalam altar. Sebelum memasuki altar, uskup atau biarawan akan menyandarkan Tongkat Uskup pada ikonostasis, di sebelah ikon Kristus di sebelah kanan Pintu Kerajaan. Setiap kali seorang uskup tidak melayani, dia menggunakan tongkat yang berbeda dan lebih kecil: tongkat jalan dengan gagang perak.
KESIMPULAN
Sejak awal, jubah telah dikenakan oleh para imam, uskup, dan diakon Orthodoks. Beberapa mengingatkan kita tentang pakaian kerajaan dari sejarah kerajaan-kerajaan, beberapa mendapatkan bentuk dan fungsinya dari Kitab Suci. Dan semuanya memiliki tujuan utama yang sama: pembangunan rohani Gereja.
Gambar 18: Tongkat Uskup emas dengan dua ular di atasnya
Apakah ada jubah yang kita lewatkan? Sampaikan kepada kami untuk
melengkapinya!
https://www.saintjohnchurch.org/orthodox-liturgical-vestments/
















