Minggu Orang Buta
Metropolitan Philaret
Besok, insya Allah, kita akan mendengar di Liturgi Ilahi kisah Penulis Injil Suci Yohanes. Catatan tersebut menyangkut bagaimana Tuhan kita Yesus Yesus Kristus memberikan kepada seorang yang lahir buta pemulihan penglihatan ganda: baik fisik, dari kebutaan fisik, maupun spiritual, dari kebutaan dan ketidaktahuan spiritual. Injil mengatakan bahwa Tuhan, ketika dalam perjalanan, melihat orang buta sejak lahir. Pergi dari mana Dia? Dari Bait Suci. Di sana, di Bait Suci, musuh-musuh-Nya yang dengki ingin melempari Dia dengan batu. Dari Injil Matius, Markus, dan Lukas tidak sepenuhnya jelas dari mana kedengkian yang mengerikan ini berasal. Itu adalah kebencian setan yang merasuki musuh-musuh-Nya: ahli-ahli Taurat, orang Farisi, dan Saduki. Dari Injil menurut Yohanes menjadi mudah dimengerti, karena tepat sebelum kisah penyembuhan orang buta sejak lahir ini, dikatakan bahwa Tuhan telah berbicara kepada mereka dan mereka akhirnya mengatakan "Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” (Yoh 8:48). Tetapi Tuhan, dalam khotbah-Nya, tanpa ampun mengungkapkan siapa yang merasuki mereka dan, dari sisi-Nya, ketika mereka berkata dengan sombong dan angkuh bahwa Allah adalah bapa mereka, berkata, "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham.Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.Iblislah yang menjadi bapamu (8:39). Tuhan berbicara langsung kepada mereka.
Dalam bahasa Slavonik: Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu." (Yoh 8:44), yaitu, engkau akan berperilaku seperti iblis berperilaku. Setelah khotbah ini, yang pada akhirnya Dia memberi tahu mereka siapa Dia sebenarnya, yaitu hakekatNya, mereka ingin melempari Dia dengan batu. Dia mengatakan kata-kata berikut kepada mereka: "Bapamu Abraham bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku: dan dia telah melihatnya, dan ia bersukacita" (Yohanes 8:56). Musuh-musuhnya yang bingung bertanya kepada-Nya: “Engkau belum berumur lima puluh tahun, dan Engkau telah melihat Abraham?” (Yoh 8:57). Jawaban Juruselamat kita selanjutnya penuh dengan keagungan ilahi: “Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” (9:58), yaitu sebelum (bentuk lampau) Abraham, Aku telah ada. Tuhan, dalam Sifat Ilahi-Nya, ada di masa lalu dan di masa depan seperti Dia di masa sekarang. Seperti yang dikatakan St. Yohanes dari Kronstadt: “Tuhan, dalam satu tindakan kontemplasi Ilahi, merenungkan segala kehidupan, segala abad dan segenap manusia.” Ketika mereka mengerti apa yang Dia katakan tentang diri-Nya, mereka mengambil batu untuk dilemparkan kepada-Nya, tetapi Dia melewati mereka. Ketika dia pergi, lewat, Dia melihat orang buta ini.
Ketika engkau membaca kisah ini dengan penuh perhatian, engkau akan segera melihat bagaimana orang buta itu secara bertahap memulihkan penglihatannya. Musuh-musuh Sang Juruselamat menjadi semakin buta karena dendam, sementara orang yang sebelumnya buta itu semakin pulih penglihatannya. Ketika dia ditanya untuk pertama kalinya bagaimana dia disembuhkan, dia hanya berkata: "Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat." (Yoh 9:11). Ketika mereka bertanya siapa Dia dan di mana Dia, mantan orang buta itu berkata, “Aku tidak tahu” (Yoh 9:12). Tetapi kemudian, ketika musuh mencoba membuatnya menentang Sang Penyembuh, mereka memperoleh hasil sebaliknya: semakin mereka mencoba meyakinkannya bahwa dia telah disembuhkan oleh orang berdosa, semakin jelas dia melihat cahaya kebenaran. Setelah dia hanya menyebutkan Nama-Nya dia berkata: “Dia adalah seorang nabi” (Yoh 10:17). Tetapi ketika mereka menyerangnya dengan pemeriksaan silang mereka, dia memberi mereka pukulan mematikan tanpa menyadarinya – sebuah penghinaan dari sudut pandang mereka! Mereka menanyainya lagi, dan dia berkata: "Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?" (Yoh 9:27). Mereka berkata dengan marah: "Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa.
Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang.” (Yoh 9:28-29) Dan sekarang mantan orang buta itu mengutuk mereka, dengan mengatakan: "Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku.” (9:30), yaitu, adalah hal yang mengejutkan bahwa Dia membuka mataku, dan kamu bahkan tidak tahu dari mana Dia berasal! Kamu (tersirat) adalah pemimpin spiritual masyarakat, jadi siapa yang tahu jika bukan kamu? Jika kamu tidak tahu dari mana datangnya orang yang dapat membuat keajaiban yang begitu menakjubkan, apa gunanya kamu sebagai pemimpin spiritual umat? Dan kemudian dia memberi mereka pengajaran: “Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.
Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa." (Yoh 9:31-32). Karena tidak ada yang bisa dikatakan untuk menentang perkataan itu, maka mereka melakukan pelecehan, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan. Mereka berkata: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" (10:34). Lalu mereka mengusir dia ke luar.
Setelah ini, ketika Tuhan bertemu dengannya, Dia ingin mendorong orang itu. Melihat semangat kuat mantan orang buta itu, dia merasa sedih, tentu saja, karena pengusiran dari sinagoga adalah hukuman berat bagi orang Yahudi. Untuk menyemangatinya, Tuhan berkata kepadanya, “Apakah engkau percaya kepada Anak Allah?” (Yoh 9:35). Jawaban pria itu menunjukkan dengan jelas bahwa dia siap untuk percaya tetapi belum mengetahui objek imannya. Dia berkata: “Siapakah Dia, Tuhan, supaya aku percaya kepada-Nya?” (Yoh 9:36). Tuhan, yang telah memberi tahu seorang wanita Samaria yang sederhana hati bahwa Dia adalah Mesias, memberikan jawaban langsung yang sama kepada pria ini. Orang itu bertanya kepadanya, “Siapakah Dia, Tuhan, Anak Allah ini?” Dan Juruselamat kita berkata: “Engkau bukan saja telah melihat Dia, tetapi Dia yang sedang berbicara denganmu” (Yoh 9:37) – Dialah itu ! Dan jawabannya datang dengan gembira dari lubuk hati mantan orang buta itu, “Tuhan, aku percaya” (Yoh 9:38). Dan dia menyembah Dia. Jadi beginilah, saya ulangi, bahwa Tuhan kita Yesus Kristus memberikan orang buta itu pemulihan ganda: fisik dan spiritual. Tetapi musuh-musuh Kristus yang dengki tidak akan tinggal diam dan mereka bertanya kepadanya: “Apakah itu berarti bahwa kami
juga buta?” (Yoh 9:40). Mereka menerima pelajaran bagus lainnya. Tuhan menjawab mereka: “Jika kamu buta, kamu tidak berbuat dosa” (Yoh 9:41). Orang yang tidak melihat tidak bisa disalahkan; ketidaktahuan bukanlah dosa. Kita tahu bahwa Gereja dalam doa-doa pertobatannya menandai perbedaan tegas antara dosa yang disengaja dan dosa yang tidak disengaja dan dosa yang disadari dan tidak disadari. “Jika kamu buta, kamu seharusnya tidak berbuat dosa,” Tuhan berfirman, “tetapi sekarang kamu berkata, Kami melihat; karena itu tetaplah dosamu” (Yoh 9:41).
Saudara-saudara, ini adalah kata-kata yang menakutkan, menakutkan karena Dia yang mengatakannya luar biasa! Karena Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu-satunya Yang dapat memberikan atau tidak memberikan pengampunan, memiliki belas kasihan atau mengutuk. Dan Dia mengatakan secara langsung bahwa dosa mereka akan tetap ada. Injil ini tentunya menjadi pelajaran bagi kita semua karena belum lama ini, pada masa Prapaskah Agung, kita berdoa: “Tuhan, karuniakanlah kepadaku untuk melihat dosa-dosaku sendiri.” Itu berarti kita tidak melihatnya sebagaimana mestinya, dan karena itu meminta untuk melihatnya lebih baik. Itu berarti kita juga kekurangan penglihatan rohani. Inilah sebabnya mengapa kita perlu selalu, dan terutama pada hari ini, ketika kita mengingat bagaimana Tuhan menyembuhkan seseorang dan membuka mata rohaninya, berdoa kepada-Nya untuk membuka mata kita yang buta dan memberinya cahaya untuk mengenal Dia. Amin.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4740121112669641&id=100000153981738

Tidak ada komentar:
Posting Komentar