Apakah Kita Tahu Seperti Apa Cawan yang Digunakan Yesus untuk Perjamuan Terakhir?
Oleh Archimandrite Alypius (Svetlichny)
Arkhimandrit Alypius (Svetlichny) tentang sejarah dan simbolisme peralatan liturgi.
Terkadang disesalkan bahwa ada begitu sedikit
penggambaran dan perincian dalam Injil. Padahal jika bisa secara rinci maka
akan sangat membantu dalam menciptakan latar belakang sejarah saat Yesus
berjalan di bumi.
Pembaca yang malas ingin semua peristiwa yang disebutkan dalam Alkitab cocok dengan kronik dan arkeologi Tanah Suci. Karena itu, Alkitab tetap merupakan buku yang "dikunci" sepenuhnya untuk orang-orang seperti itu. Karena itu, mereka lebih suka mengklaim bahwa Buku ini tidak konsisten daripada mencoba dan mencari tahu.
Sejauh yang saya ketahui, saya suka hal sepele yang sepi dan tidak disengaja ini, yang membuat Kitab Suci itu sakral dan membantu para pembacanya untuk mempelajari Firman Allah yang sebenarnya dari halaman-halamannya daripada memuaskan diri mereka sendiri dengan perincian berlebihan.
Cawan Perjamuan Terakhir: Sakral atau Mitos?
Menjadi populer untuk membawa sejumlah besar peninggalan-peninggalan Kristen ke Eropa sejak Abad Pertengahan. Sayangnya, mereka tidak hanya dibawa ke Eropa tetapi juga dipalsukan. Belakangan, hal itu membuat Gereja tidak nyaman: kesalehan populer menuntut agar benda-benda suci yang baru diperoleh dihormati, sementara para uskup menghindari menyebut benda-benda itu otentik. Sebagian besar dibuktikan oleh waktu, pendapat para uskup ini benar.
Pada waktu itu ketika beberapa cawan muncul, masing-masing dianggap sebagai Cawan yang digunakan pada Perjamuan Terakhir.
Cawan-cawan itu dikaitkan dengan Cawan Suci yang legendaris, yang disesuaikan oleh dongeng Ksatria Meja Bundar dari dongeng Raja Arthur dari mitos Keltik.
Belakangan, sebuah legenda muncul, di mana Yusuf
yang benar dari Arimathea mengambil Cawan ini, yaitu cawan yang telah
Juruselamat pegang di tangannya selama Perjamuan Terakhir, dan dibawa ke
Glastonbury di mana Cawan itu tersembunyi di dasar sumur. Untuk membantu, ada
desas-desus bahwa Js. Yusuf juga mengambil darah Kristus yang Tersalib ke dalam
cawan yang sama. Ada beberapa legenda lain tentang Cawan Suci.
Namun, masalah Cawan yang digunakan untuk Perjamuan Terakhir muncul karena Cawan itu dipakai untuk rekonstruksi dan digunakan sebagai cawan liturgi.
Seperti apakah Cawan yang Digunakan Kristus pada Perjamuan Paskah Terakhir?
Jadi, apakah kita tahu seperti apa Cawan yang
digunakan Kristus selama Perjamuan Paskah terakhir? Tentu saja tidak! Cawan
pada masa itu ada dalam berbagai bentuk dan terbuat dari berbagai bahan.
Orang miskin pada masa itu biasa menggunakan cangkir keramik. Itulah yang menggoda banyak orang untuk berpikir bahwa Yesus menggunakan cawan yang terbuat dari tanah liat, karena Ia adalah seorang pengkhotbah yang miskin.
Marilah kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa Sang Juruselamat memasuki rumah seorang yang menyiapkan makanan untuk mereka di sebuah kamar di Gunung Sion. Sion di Yerusalem pada masa itu adalah lingkungan yang sangat makmur di mana kaum bangsawan Yahudi tinggal di sana. Kamar Sion terletak di sebelah istana Raja Herodes Agung dan Imam Besar. Jelas ada peralatan makan yang mahal di rumah orang kaya. Itu bisa terbuat dari kaca berwarna atau perak, yang populer di lingkungan orang Israel pada waktu itu.
Namun, Cawan itu bisa dibuat dari batu juga. Benar, saudara telah membacanya dengan benar: cawan batu. Ternyata orang-orang Yahudi percaya bahwa agar sepenuhnya halal, makanan harus disajikan dalam peralatan berbahan dari batu, yang hanya mampu dilakukan oleh orang kaya dan saleh.
Beberapa rekonstruksi serius dari Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh para sarjana terkenal menyiratkan bahwa Cawan untuk anggur terbuat dari batu dan cawan untuk ritual terbuat dari perak. Cawan tersebut berongga dengan dudukan bulat pendek.
Tidak perlu nampan untuk roti: kemungkinan besar, roti diletakkan dalam irisan tepat di atas meja, di antara makanan ritual lainnya.
Peralatan Liturgi yang seperti apa yang digunakan Orang Kristen mula-mula?
Kami memiliki pemahaman yang kabur tentang Peralatan
Liturgi, yang digunakan untuk Ekaristi selama perjamuan agape yang diadakan
oleh orang-orang Kristen mula-mula. Dikatakan, ada gambar peralatan makan di
lukisan dinding yang ditemukan di katakombe. Kemungkinan besar, peralatan makan
itu terbuat dari tanah liat. Sulit untuk mengatakan apakah ada Peralatan
liturgi pada gambar-gambar itu.
Faktanya, nama Rusia yang terkenal dari Cawan Ekaristi adalah “Potir”, yang tidak merujuk pada cawan tetapi pada alat yang digunakan untuk minum. Itulah arti aslinya dalam bahasa Yunani Kuno. Jadi itu memungkinkan alat minum dari segala bentuk yang bisa kita minum. Namun demikian, para sejarawan tidak membuang gagasan bahwa orang Kristen mula-mula menggunakan Cawan yang terbuat dari logam mulia atau batu permata, yang paling dihargai oleh orang Romawi, misalnya onyx, agate, alabaster, purple, dan marmer.
Dapat dikatakan bahwa bentuk cawan liturgi dengan kaki panjang tipis yang dibentuk pada abad ke-4 dan bentuk ini menjadi populer.
Di era Kekristenan awal, Piring (paten) untuk memecahkan roti mulai digunakan. Kemungkinan besar, itu terbuat dari bahan yang mahal agar sesuai dengan cawannya.
Benda-benda suci ini dibeli oleh komunitas. Benda-benda suci ini dapat digunakan untuk beberapa generasi orang Kristen. Pencuri akan menyitanya di masa penganiayaan karena mereka bisa menjadi satu-satunya benda berharga yang dapat ditemukan di gereja.
Orang-orang Kristen nyaris tidak menghabiskan waktu memikirkan Perjamuan Terakhir sebagai peristiwa bersejarah. Mereka tidak perlu merekonstruksi itu. Kristus dan Ekaristi-Nya selalu sezaman, dan orang-orang Kristen kuno tidak berpartisipasi dalam acara peringatan tetapi untuk mengantisipasi pertemuan nyata dengan Sang Guru. Itulah sebabnya Peralatan Liturgi itu kurang berharga bagi mereka daripada isinya: Tubuh dan Darah Kristus. Mereka tidak berspekulasi tentang masalah keakuratan historis: sebaliknya, mereka mengalami suka cita atas partisipasi nyata mereka dalam Perjamuan Terakhir.
Diterjemahkan oleh The Catalog of Good Deeds

Tidak ada komentar:
Posting Komentar