Posisi Uskup di Gereja Orthodoks
Oleh Archimandrit Kyprian
Yang Mulia Metropolitan dan Bapa Rohani; Hirarki Suci; para Bapa dan Persaudaraan; Para Biarawan yang Terhormat; Saudara-saudari terkasih dalam Kristus:
A.
Aku memohon berkat dan doamu, agar aku dapat
memenuhi tugas ketaatan ini—pelayanan yang diberikan kepadaku, dalam
ketidaklayakanku, oleh Persaudaraan monastik kita.
1. Sedikit pemikiran yang akan diungkapkan malam
ini memiliki dasar ajaran Patristik yang terkenal bahwa Malaikat adalah terang
para biarawan, dan biarawan adalah cahaya kaum awam: Malaikat adalah terang
bagi para biarawan; cara hidup monastik adalah cahaya bagi semua orang.1
[Catatan gambaran di sebelah kanan] Monastik adalah cahaya, pertama dan
terutama, karena mereka berjuang untuk menjadi contoh yang baik bagi semua,
contoh dan model kebajikan.
Mereka juga menjadi terang ketika, dengan doa, kasih,
dan kerendahan hati, mereka mendorong dan membimbing umat beriman dalam
memperoleh etos gerejawi yang sejati.
Pelayanan kasih persaudaraan yang menjadi ciri
monastik ini sangat berharga di zaman kita, karena saudara dan saudari kita di
dunia terpapar oleh berbagai pengaruh, dengan akibat—biasanya karena
ketidaktahuan—mereka berpikir dan bertindak dengan cara yang bertentangan.
dengan Gereja.
Perkenankanlah aku malam ini, oleh karenanya,
untuk berkontribusi— tentunya dengan pertolongan dari Panagia, Jana Suci kita Kyprianus
dan Justina, yang kita hormati—untuk pelayanan kasih ini, dengan berurusan melalui karakteristik mendasar dari etos gerejawi sejati, yaitu: pengakuan
mendalam akan tempat sentral Uskup dalam Gereja dan penghormatan mendalam bagi
pribadinya.
Pada pertemuan tahun ini kami ingin membahas
topik ini, yang bagi setiap orang Kristen yang saleh secara harfiah merupakan
faktor penentu penting dalam kehidupan Gerejanya, dengan singkat dan sederhana.
2. Tapi topik ini, secara khusus, memicu rasa
takut dalam diri kita. Apa yang saya maksud?
Kanon Para Rasul Suci pasal ke Tiga Puluh Enam
menetapkan bahwa klerus dari sebuah keuskupan dihukum sangat berat untuk satu
dosa yang sangat serius karena sebuah pelanggaran gerejawi.
Apa pelanggaran ini?
Jika orang-orang di keuskupan, karena
pembangkangan dan kedengkian mereka sendiri,2 tidak taat kepada
Uskup mereka dan tidak menerima dia sebagai Gembala mereka, maka klerus di
keuskupan ini harus di-ekskomunikasi, karena mereka tidak memperbaikinya
sebagai orang-orang yang tidak taat;3 karena, menurut penafsiran Js.
Nikodemos dari Gunung Athos, bahwa mereka tidak mengajar orang-orang yang tidak
taat itu melalui pengajaran dan teladan yang baik (lihat catatan 2).
Oleh karena itu, kita para klerus berkewajiban
untuk memberikan pengajaran dan contoh yang baik kepada umat kita, jika kita
ingin menghindari hukuman ekskomunikasi yang sangat berat.
B.
Kami terus-menerus terkesan dengan penghormatan
besar yang ditunjukkan oleh orang-orang Rusia, Rumania, dan orang-orang Orthodoks
lainnya terhadap Hirarki/ Uskup mereka. Di negeri-negeri orang-orang ini,
bahkan setelah penaklukan di bawah atheisme dan pukulan keras terhadap Gereja namun
demikian Gereja Orthodoks tetap bertahan, telah mempertahankan dedikasi
populer, dan penghormatan untuk pribadi Uskup yang mungkin tidak ada
bandingannya.
1. Beginilah cara seorang Klerus yang mengambil
bagian dalam tur ke Rusia yang dilakukan oleh seorang Hierarki/ Uskup dalam menggambarkan
beberapa pandangannya:
Di kota-kota yang kami lewati, Umat beriman
membentangkan pakaian mereka di jalan para Uskup dan kemudian mencium tempat di
mana Uskup telah melangkah....
Di salah satu kota kecil..., jalan yang akan
dilalui Uskup benar-benar dipenuhi dengan bunga.... Uskup Agung disambut oleh
cahaya ratusan lilin yang dipegang oleh Umat beriman. Di salah satu paroki
keuskupan..., hampir semua umat memenuhi jalan menuju Gereja membersihkan
ambang pintu rumah mereka dan menyiapkan meja-meja yang dibentangkan taplak
meja putih dari tempat tinggal mereka. Setelah beberapa saat, kain putih dan berkelok-kelok
berbagai warna—di mana ikon, roti, dan garam (simbol keramahtamahan
tradisional) ditempatkan—dan bunga menunjukkan kepada Uskup jalan mana yang
harus dia ikuti. Uskup...mendekati salah satu meja, memberkatinya, dan menyapa
penghuninya.4
2. Tetapi dedikasi orang-orang kepada pribadi
Uskup mereka mencapai klimaks pada saat wafatnya.
Di satu kota Rusia, dua atau tiga jam setelah
pengumuman wafatnya seorang Metropolitan tua, sudah sulit untuk membuat jalan
masuk ke kediamannya.... Selama beberapa malam, orang-orang melngunjungi Gembala
mereka. Selama pemakaman, Katedral yang besar hanya dapat menampung sebagian
kecil dari Umat beriman, yang sebagian besar dipaksa untuk tetap berada di
halaman Gereja dan di jalan-jalan tetangga. Ribuan orang beriman datang untuk
bersujud di hadapan jenazah almarhum yang terhormat (lihat catatan 4).
Dan pada kesempatan lain puluhan ribu Umat
mengiringi dalam prosesi jenasah Metropolitan mereka dari Katedral ke
pemakaman, yang berjarak tujuh kilometer (lihat catatan 4).
C.
Seseorang mungkin bertanya: Apakah perilaku
masyarakat ini tidak sedikit hiperbolis (berlebihan)? Bukankah fokus devosinya
jadi bergeser dari Kristus kepada Uskup?
Para Bapa Suci dengan jelas menjawab, Tidak!
Uskup di keuskupannya dikatakan oleh Js. Yohanes
dari Kronstadt, setelah Tuhan dan Sang Theotokos, merupakan sumber pengudusan
bagi semua umat Kristiani dari kawanannya, dan inilah mengapa mereka semua
harus sangat menghormati dan mencintai dia sebagai yang paling sempurna dari
pelaksana Misteri Suci.5
Ajaran ini, yang benar dalam segala hal, bukan
hal yang baru dalam Orthodoksi, tetapi merupakan ide mendasar dari Gereja
Apostolik.
1. Js. Ignatius Sang Pengemban Allah, Uskup
Antiokhia, menghubungkan Uskup dan Yesus Kristus bersama-sama sedemikian rupa
sehingga segala sesuatu yang terjadi pada Uskup Gereja yang terlihat, itu
dikaitkan dan dianggap berasal dari Uskup yang tidak terlihat yaitu Kristus
Juru Selamat kita.
Berikut ini persis apa yang dikatakan Js. Ignatius:
Oleh karena itu untuk penghormatan, Dia yang
menginginkan kita, adalah benar bahwa kita mentaati (Uskup) tanpa kemunafikan;
karena seseorang tidak hanya tidak mentaati Uskup yang terlihat ini, tetapi
juga berusaha menipu Dia yang tidak terlihat. 6
2. Dalam contoh lain, Js. Ignatius mendesak kita
untuk melihat Uskup sebagai Tuhan itu sendiri: Oleh karena itu, jelaslah bahwa
kita harus memandang Uskup seperti kita memandang Tuhan sendiri.7
3. Js. Ignatius melanjutkan untuk meninggikan
tempat Uskup di Gereja sedemikian tinggi untuk mengajarkan bahwa semua yang
ingin bersama Allah harus bersama Uskup: Karena seberapa banyak yang menjadi
milik Allah dan Yesus Kristus—merekalah yang bersama-sama dengan Uskup.8
4. Dan begitu pentingnya masalah kesatuan kita
dengan Uskup, dan melalui dia dengan Allah, menurut Js. Ignatius, sehingga
kesatuan ini membuat batas terhadap dua dunia yang sama sekali berbeda yaitu dunia Allah dan
dunia Iblis: Oleh karena itu hendaklah semua orang mengikuti Uskup, seperti Yesus
Kristus mengikuti Sang Bapa...; Adalah baik untuk mengenal Allah dan Uskup; barangsiapa
yang melakukan apa pun tanpa sepengetahuan Uskup, dia sedang melayani Iblis.9
D.
Js. Yohanes Krisostomos adalah contoh yang menjelaskan /eksponen
sejati dari Tradisi Apostolik ini.
Dari banyak contoh yang membuktikan penghormatan dan ketaatan yang
mendalam dari Krisostomos terhadap Keuskupan, kami hanya akan mengutip tiga,
yang berkaitan dengan periode aktivitasnya di Antiokhia.
1. Suatu kali, ketika Orang Suci itu masih seorang Presbiter, pada pertemuan umat beriman dia tidak melihat Flavianus, Uskup Antiokhia hadir, seperti biasanya; ini mendukakan Orang Suci ini, dan dia berkata sambil menangis: Ketika saya melihat Tahta itu, yang ditinggalkan dan kehilangan guru kita, ... saya menangis; Saya menangis, karena saya tidak melihat bapa kita bersama kita! 10
2. Di lain waktu, Uskup Flavianus yang kudus
tidak hadir lagi, karena dia sedang sakit di rumah; maka, Krisostomos memulai
khotbahnya dengan ekspresi kasih yang sungguh-sungguh kepada Uskupnya:
Sama seperti paduan suara merindukan pemimpinnya
dan kru pelaut kehilangan juru mudinya, demikian juga kelompok Imam hari ini ini
kehilangan Hirarki/ Uskup dan bapa bersamanya,.... Tetapi bahkan jika dia tidak
hadir dalam daging, dia tetap ada, di sini dalam roh, dan dia bersama kita
sekarang saat dia duduk di rumah, sama seperti kita bersamanya saat kita
berdiri di sini; karena begitulah kekuatan kasih yang biasa mengumpulkan dan
menyatukan mereka yang terpisah oleh jarak yang sangat jauh.11
3. Dalam contoh lain, Flavianus yang tersuci
hadir, dan Krisostomos mempersingkat khotbahnya, menyampaikan alasannya sebagai
berikut:
Jadi saya harus mengakhiri khotbah saya, karena
saya ingin mendengar suara Bapaku (dan Uskup). Karena kami—seperti anak gembala
di bawah naungan pohon ek atau poplar—bermain seruling saat kami duduk di bawah
naungan fondasi suci ini; sedangkan dia (Bapa dan Uskup kita), seperti seorang
musisi ulung yang memainkan kecapi emas dan dengan harmoni nada-nadanya,
mengangkat seluruh penonton ke alam yang lebih tinggi—jadi dia, bukan dengan
harmoni nada, tetapi dengan keserasian ucapan dan tindakannya, sangat
bermanfaat bagi kita.12
Maka jelaslah, dengan cara apa Js. Krisostomos
membimbing Umat Allah dan menolong mereka memperoleh etos gerejawi sejati:
Tidak adanya Hierarki/ Uskup-nya akan menjadi masalah pengabaian seorang Presbiter
yang tidak mengakui pentingnya Uskup di gereja; sedangkan Js. Krisostomos saja menderita
dan menangis. Kehadiran Uskup, di sisi lain, tidak akan bertindak sebagai rem
bagi pengkhotbah yang cerewet, sedangkan Krisostomos justru mempersingkat
khotbahnya, sehingga memungkinkan Uskupnya berbicara, sementara ia memujinya
dengan tepat, merendahkan dirinya sendiri dan meninggikan kemuliaan dari Hierarki/
Uskup.
E.
Berdasarkan perbandingan yang dibuat oleh Js.
Yohanes Krisostomos antara seorang Presbiter (seorang anak gembala dengan sulingnya)
dan seorang Uskup (seorang musisi yang hebat dengan kecapinya), izinkan saya
untuk merangkum hanya dalam beberapa kalimat—agar tidak membosankan—pandangan theologis
dan eklesiologis murni dari Orthodoksi tersuci kita mengenai tempat Uskup dalam
Gereja.
Apa itu Gereja?
1. Gereja adalah Kumpulan Umat Allah untuk
merayakan Misteri Ekaristi Ilahi, di mana Gereja lokal benar-benar menjadi dan
dinyatakan sebagai Tubuh Kristus, sebagai organisme Theandric (yang ilahi dan
manusiawi), di mana Tritunggal Mahakudus bersemayam. 13
2. Pusat dan kepala Kumpulan Ekaristi yang
terlihat adalah Uskup: Dialah yang memimpin Kumpulan dan mewartakan sabda
Allah; dialah yang mempersembahkan Ekaristi, sebagai Ikon Kristus, Imam Besar
Agung, dan sebagai orang yang memimpin tempat Allah,14 menurut Js.
Ignatius dari Antiokhia.
3. Dalam Gereja perdana, hanya Uskup yang
mempersembahkan Ekaristi Ilahi di setiap Gereja lokal; yaitu, hanya ada satu
Ekaristi, dan ini berpusat pada Uskup.14a
4. Uskup, ketika mempersembahkan Ekaristi Ilahi,
mempersembahkan Kristus dalam keutuhan-Nya, menyampaikan Misteri Kudus kepada
umat beriman dengan tangannya sendiri; di zaman kuno, Umat Allah mengambil
bagian dari Kristus hanya dari Ikon Kristus yang hidup, yaitu Uskup.15
5. Oleh karena itu, Uskup tidak hanya
mengejawantahkan Gereja lokal, tetapi juga mengungkapkan dalam ruang dan waktu
Gereja yang Katolik, yaitu seluruh Gereja; karena apa yang mewujudkan Kristus
dalam keutuhan-Nya, dan di mana seseorang menerima Kristus dalam keutuhan-Nya,
adalah apa yang mewujudkan Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Di
mana pun Yesus Kristus berada, kata Js. Ignatius, di situ ada Gereja yang Katolik.16
6. Justru karena alasan inilah, bila seseorang
dipersatukan dengan Uskup dalam Misteri Ekaristi Ilahi, maka ia juga
dipersatukan dengan Gereja yang Katolik. Js. Kyprianus dari Kartago menekankan
kebenaran eklesiologis ini dalam istilah-istilah mencolok berikut ini: Uskup
ada di dalam Gereja dan Gereja di dalam Uskup; dan jika seseorang tidak berada
dalam persekutuan dengan Uskup, dia tidak berada di dalam Gereja.17
F.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus:
Saya berharap bahwa semua yang telah kita rujuk
sejauh ini akan cukup untuk meno;ong kita memahami mengapa Umat Allah, setiap
kali Uskup Liturgi, mereka rindu untuk menerima komuni dari tangannya; mengapa
ada arak-arakan yang sesungguhnya di desa-desa, setiap kali Uskup berkunjung;
mengapa orang beriman menyambutnya dengan bunyi lonceng, dengan pohon palem dan
ranting; mengapa mereka membentangkan karpet untuk diinjaknya; dan mengapa
gadis-gadis memberikan mahar (mas kawin) mereka kepadanya untuk
diberkati—mengapa, singkatnya, Umat beriman memiliki kasih dan dedikasi seperti
itu kepada Uskup mereka.
Penatua Silouan dari GUnung Athos, dalam
usahanya untuk menyajikan kepada kita ajaran Orthodoks tentang Keuskupan,
menceritakan kejadian menakjubkan berikut ini:
Seorang yang rendah hati dan lemah lembut sedang
berjalan bersama istri dan ketiga anaknya. Di jalan, mereka bertemu dengan
seorang Hierarki/ Uskup, yang sedang lewat dengan keretanya; dan ketika petani
itu membungkuk dengan hormat kepadanya, dia menyaksikan bahwa Hierarki yang
memberkati dia diselimuti oleh api Kasih Karunia.18
Saya pikir mujizat yang memiliki sifat mengajar
ini, bersama dengan kesaksian Patristik yang disebutkan di atas, cukup untuk
membuat kita, baik klerus maupun awam, sadar akan kewajiban kita di hadapan
seorang Uskup. Tradisi Orthodoks selalu menempatkan Uskup pada tempat sentral
dalam Gereja, sehingga melalui Patriarkh Suci Dositheos dari Yerusalem (1707)
menyatakan kebenaran agung berikut: Sebagaimana Allah itu menjadi yang pertama di
dalam Gereja surgawi, dan matahari menjadi yang pertama di dunia, demikianlah
setiap Uskup di Gereja lokal.19
1. Kemudian, dengan asumsi-asumsi ini Apakah
mungkin bagi kita untuk memperlakukan seorang Uskup dengan tidak hormat, Ketika
kita memperhitungkan bahwa Kanon Apostolik pasal Ketiga Puluh Lima
menetapkan bahwa seorang Klerus yang menghina seorang Uskup maka dia harus digulingkan
(dicopot jabatannya),20 sementara Kanon Sinode Ketiga di Hagia
Sophia meng-anathema seorang awam yang berani menyerang seorang Uskup?21
2. Apakah mungkin bagi kita untuk melakukan
sesuatu yang berhubungan dengan Gereja secara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan
dan berkat para Uskup, mengingat para Orang Suci memerintahkan kita: Untuk tidak
melakukan apa pun tanpa Uskup?22
3. Apakah mungkin bagi siapa saja—khususnya,
tentu saja, klerus untuk mandiri dan mengikuti agenda pastoral mereka sendiri,
ketika Kanon Apostolik Ketiga Puluh Sembilan memerintahkan: Biarlah para Presbiter
dan Diakon untuk tidak melakukan apa pun tanpa sepengetahuan Uskup? 23
4. Mungkinkah kita yang sebagai murid menjadi
kurang ajar, berani mengajar Uskup, Guru Gereja, ketika Konstitusi Apostolik
menasihati kita sebagai berikut:
Uskup, dia adalah pelayan firman, penjaga
pengetahuan, perantara antara Allah dan Saudara dalam penyembahan Saudara
kepada-Nya. Dia adalah guru kesalehan; dan, selanjutnya setelah Allah, dia
adalah bapa saudara...; dia adalah penguasa dan gubernur saudara; dia adalah
raja dan penguasa saudara; dia, selanjutnya setelah Allah, adalah allah duniawi
saudara, yang seharusnya menerima penghormmatan dari saudara...; karena biarlah
Uskup memimpin saudara sebagai orang yang dihormati dengan martabat Allah, yang
harus dijalankannya atas para klerus, dan yang dengannya ia akan memerintah
semua orang.24
5. Apakah mungkin bagi kita untuk berkumpul
secara tidak sah tanpa sepengetahuan Uskup dan bertindak skismatis, ketika para
Orang Suci mengajari kita: Sama seperti Tuhan tidak melakukan apa-apa tanpa Sang
Bapa, maka saudara tidak boleh melakukan apa pun tanpa Uskup...?25
6. Apakah mungkin, akhirnya, bagi kita untuk
menghakimi dan menghukum seorang Uskup, ketika Js. Krisostomos melarang ini
dalam istilah yang paling ketat, ... bahkan jika hidupnya (bapa rohani)
sangat rusak?26 ...Dan ketika Orang Suci yang sama, dalam menjawab
pertanyaan kepada mereka yang mempersalahkan para Imam, bahkan melarang mereka
memasuki gereja?
Ketika Saudara menuduh Bapa rohani saudara,
bagaimana saudara menganggap diri saudara layak untuk melangkahi ambang suci
[Gereja]? ...Dan bukankah sehatrusnya orang seperti itu (penuduh Imam) takut,
kalau-kalau bumi terbuka dan menyebabkan dia menghilang sama sekali, atau petir
jatuh dari tempat tinggi dan membakar lidahnya yang melakukan tuduhan?27
G.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus:
Aku harap engkau memaafkanku karena menjagamu. Aku
terbawa oleh keseriusan topik ini dan oleh keinginanku untuk membangunmu di
dalam Kristus.
1. Kerusakan etos Orthodoks oleh faktor-faktor exstra-eklesiastik
telah menyentuh salah satu karakteristik paling mendasar dari etos ini:
kesadaran yang mendalam akan tempat sentral Uskup dalam Gereja.
Semoga upaya kecil kita ini dianggap sebagai
kontribusi kecil untuk perbaikan kejahatan ini, kerusakan ini.
Saya sangat yakin bahwa, hanya ketika hubungan
kita dengan Uskup di Gereja dihidupkan dengan cara Orthodoks, secara Patristik,
Tuhan akan mengasihani kita dan mengijinkan kita untuk melihat Gembala yang baik,
dan sebagai hasilnya kita akan menikmati hari-hari yang lebih baik.
2. Demikian juga, sebagai penutup, kami juga
ingin engkau menerima perlakuan kami, malam ini, tentang sikap yang benar yang
harus dimiliki seseorang terhadap Uskup sebagai tanggapan yang diperlukan untuk
saudara-saudara kita yang malang yang mengubah makna rohani dari sebuah karunia
yang kami persembahkan kepada Yang terhormat Metropolitan kami pada tahun 1987.
Dalam karunia itu—sebuah lukisan dari studio
Ikon Biara Suci Para Malaikat Suci di Aphidnai, Attika, dibuat dengan bimbingan
saya sendiri dan dengan saran saya—Gereja lokal kami secara simbolis
digambarkan sebagai Tubuh Kristus, dengan Uskupnya dan Ekaristi Ilahi sebagai
pusatnya. Ini, bagi kami, adalah pemahaman Patristik Gereja; wajar bahwa semua
orang yang tidak mengetahui aspek Gereja ini atau mengalaminya dalam kehidupan
mereka sendiri, harus merusak karunia simbolis itu, untuk merusak reputasi
Gembala Utama kita yang terhormat.
Semoga Tuhan kita mengampuni mereka dan menuntun
mereka pada pertobatan!
Bapa Rohani kita Yang Terhormat, Gembala Pilihan
Ilahi dari Kawanan Kecil kita:
Pada kesempatan Hari Namamu, terimalah harapan
kami yang rendah hati namun tulus agar engkau dilindungi dengan Rahmat Allah,
sepanjang tahun dalam keselamatan, kehormatan, dan kesehatan, agar mengajarkan
dengan benar firman Kebenaran Injili.
Semoga Bunda Juruselamat kita yang Terberkati
menguatkanmu dan memberimu kesabaran, dan terutama ketika kami, anak-anak
rohanimu, mengendurkan kewaspadaan kami dan berperilaku tidak pantas terhadapmu.
Sebagai Uskup kita, sebagai Ikon Kristus yang
hidup, Imam Besar Agung, selanjutnya—kami mohon—untuk berdoa lebih khusyuk di
hadapan Altar yang menakutkan bagi Kawanan yang diberkahi akal budi, agar tidak
ada domba yang tersesat dan ditangkap oleh binatang buas liar., terputus dari
kesatuan denganmu, kesatuan dengan Gereja, dan kesatuan dengan Kristus.**
Catatan akhir
* Kita harus menjelaskan sejak awal bahwa umat
beriman wajib menghormati dan mentaati Hierarki/ Uskup selama mereka benar-benar
Orthodoks dan mengajarkan firman Kebenaran dengan benar.
Js. Yohanes Krisostomos, dalam menanggapi nasihat Rasul Paulus mengatakan, Taati mereka yang berkuasa atas kamu (Uskup, Guru, dan Pemimpin Rohani), dan tundukkanlah dirimu (Ibrani 13:17), menghadapi pertanyaan yang sering muncul ini: Tetapi bagaimana jika...dia jahat; haruskah kita taat kepadanya? Jawabannya adalah sebagai berikut: Jahat? Dalam arti apa? Jika memang berkaitan dengan Iman, larilah dan hindari dia; bukan hanya jika dia seorang manusia, tetapi bahkan jika dia seorang Malaikat yang turun dari Surga; tetapi jika menyangkut hidupnya, jangan terlalu ingin tahu (Patrologia Græca, Vol. LXIII, col. 231 [Homilies on the Epistle to the Hebrews, XXXIV, 1]).
**Kami ingin mengakui bahwa kami telah terbantu
secara khusus dalam pekerjaan ini dengan bahan dari majalah Thymiama (No. 13
[Mei 1993]).
1. Js.. Yohanes dari Sinai, Tangga Ilahi, Langkah
26.1, 23.
2. Js. Nikodemos dari Gunung Athos, Pemahaman Kanon
Apostolik pasal 36 (Pedalion [Rudder], hal. 40).
3. Kanon Apostolik XXXVI (36).
4. Solon G. Ninikas, The Spiritual Resiliency
of the Russian People [dalam bahasa Yunani] (Athena: 1991), hlm.
21-22.
5. Uskup Alexander (Semenoff-Tian-Sansky), Father
John of Kronstadt [dalam bahasa Yunani] (Oropos, Attika: Parakletos
Monastery Publications, 1976), hlm. 113.
6. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 665A (Surat kepada Magnesia, III.2).
7. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 649AB (Surat kepada Jemaat, VI.1).
8. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 700A (Surat ke Filadelfia, III.2).
9. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 713A, 713C, 716A (Surat kepada umat di Smirna, VIII.1-IX.1).
10. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca,
Vol. XLIX, kol. 47 (Homili tentang Patung, III.1).
11. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca,
Vol. XLVIII, kol. 953 (Homili tentang Kalends, Ketika Uskup Flavianus dari
Antiokhia Tidak Hadir, 1).
12. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca,
Vol. XLIX, kol. 314 (Homili tentang Puasa, V.5).
13. mengenai Efesus 4:5-6 dan I Korintus
10:15-16, tentang pertemuan gerejawi dan sakramental dan arti Tubuh Kristus.
14. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 668A (Surat kepada Magnesia, VI.1).
Dalam bentuk perluasan Surat kepada umat di Smirna,
ia menulis sebagai berikut: Hormatilah...Uskup sebagai Hierarki, yang
menyandang gambar Allah...[,] yaitu Kristus, dalam kapasitasnya sebagai seorang
Imam (Patrologia Græca , Jil. V, kol. 853A [Surat kepada Umat
Smirna, IX]).
14a. Js.. Ignatios, Patrologia Graca,
Vol. V, kol. 668C (Surat kepada Magnesia, VII.2) dan kol. 700B (Surat kepada
Filadelfia, IV): Satu Bapa, satu Yesus Kristus, satu Gereja, satu Altar, satu
Ekaristi, satu Daging Tuhan, satu Piala, dan satu Uskup.
15. Js. Hippolytos dari Roma, The Apostolic
Tradition, 22 (Sumber Chrtiennes, No. 11 bis [Paris: Cerf, 1968]), hlm.
96-97.
16. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 713B (Surat ke Smirna, VIII.2).
17. Js. Kyprianus, Surat 66.
18. Archimandrit Sophrony, Elder Silouan of
Athos (1866-1938) [dalam bahasa Yunani] (Thessaloniki: Orthodoxos Kypsele
Publications, n.d.), hlm. 392.
19. Dositheos dari Yerusalem, Confession of
Faith (1672), Definition 10, in J. N. Karmiris, Dogmatic and Credal
Monuments of the Orthodox Catholic Church [dalam bahasa Yunani], Vol. II (Graz,
Austria: Akademische Druck u. Verlagsanstalt, 1968), hlm. 753 [833].
20. Jika ada Klerus yang menghina Uskup, biarkan
dia digulingkan; karena engkau tidak akan berbicara buruk tentang pengatur
umatmu [Keluaran 22:28].
Lihat juga Penafsiran Js. Nikodemos, serta
catatannya, yang menyimpulkan sebagai berikut:
Hukum Kaisar, yang mempromosikan kesalehan,
menetapkan bahwa siapa pun yang memasuki gereja ketika Misteri atau ibadah suci
lainnya sedang dirayakan dan menghina Uskup, atau mencegah ibadah dirayakan,
harus dikenakan hukuman mati. Prinsip yang sama ini harus dipertahankan juga
ketika litani dan ibadah permohonan sedang dirayakan dan para uskup serta
klerus hadir; yaitu, siapa pun yang menghina klerus harus diasingkan dan siapa
pun yang mengganggu litani atau ibadah permohonan harus dihukum mati.
Dari Kanon ini orang dapat menyimpulkan bahwa
siapa pun yang menghina ayahnya secara fisik atau Penatua rohaninya harus
diberi epitimia; karena Kitab Suci berkata, Dia yang mengutuk ayah atau ibunya,
siapa pun dia, apakah seorang klerus, orang awam, atau biarawan, biarkan dia dihukum
mati [Js. Matius 15:4; lihat Imamat 20:9]. Kematian dalam kasus ini adalah
perampasan Komuni Ilahi, yang di antara mereka yang diberkahi dengan pemahaman
benar-benar dianggap sebagai kematian, seperti yang kita lihat dalam Kanon
Kelima Puluh Lima Js. Basilius Agung (Pedalion, hal. 72, n. 1) .
21. Jika ada orang awam yang berwenang,
meremehkan tata cara Ilahi dan Kekaisaran dan mengejek undang-undang dan hukum
Gereja yang menakutkan, berani mencelakai atau memenjarakan Uskup mana pun
tanpa alasan, atau mengarang alasan, biarlah dia di-anathema.
Lihat Penafsiran Js. Nikodemos, serta catatannya
(Pedalion, hal. 366). [Sinode di Hagia Sophia adalah Sinode Ekumenis Kedelapan,
di bawah Js. Photios Agung, diadakan pada tahun 879].
Js. Ignatius dari Antiokhia mengatakan sebagai
berikut: Dia yang menghormati seorang Uskup akan dihormati oleh Allah; sama
seperti dia yang tidak menghormatinya akan dihukum oleh Allah (Patrologia
Græca, Vol. V, col. 853A [Surat pada Umat di Smyrna, versi yang lebih
panjang, VII.2]).
22. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 668A (Surat kepada Umat Filadelfia, VII.2).
Js. Ignatius dengan tegas menekankan hal ini:
Janganlah seorang pun melakukan hal-hal yang berkaitan dengan Gereja tanpa
Uskup (Patrologia Græca, Vol. V, col. 713B (Surat kepada Jemaat di
Smyrna, VIII.1).
Lihat catatan kaki 9 dan 25.
23. Lihat Penafsiran Js. Nikodemos, serta Concord
(Pedalion, hlm. 43-45).
Menurut Konstitusi Apostolik, Diakon tidak
melakukan apa-apa tanpa Uskup, dan diperintahkan agar semua hal yang harus dia
lakukan dengan siapa pun diberitahukan kepada Uskup, dan pada akhirnya
diperintahkan olehnya (Buku II, bab 30); ...Biarlah dia tidak melakukan apa pun
tanpa Uskupnya, atau memberikan apa pun kepada siapa pun tanpa persetujuannya
(Buku II, bab 31); ...Jangan melakukan apa pun secara sembunyi-sembunyi,
sehingga cenderung menghinanya (Buku II, bab 32) (Patrologia Græca, Vol.
I, col. 677BCD).
24. Konstitusi Apostolik, Patrologia Græca,
Vol. I, kol. 665B-668A (Buku II, bab 26).
25. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol.
V, kol. 668B (Surat kepada Magnesia, VII.1).
Khususnya yang dapat diterapkan adalah pandangan
yang berhubungan dengan Orang Suci berikut ini: Maka, benar bahwa kita tidak
hanya disebut orang Kristen, tetapi juga menjadi seperti itu; bahkan ada
beberapa yang mengakui Uskup dalam kata-kata mereka, tetapi dalam segala hal
bertindak terpisah darinya. Orang-orang seperti itu bagi saya tampaknya tidak
bertindak dengan hati nurani yang baik, karena mereka tidak secara sah
bertindak sebagai pendamping (ibid., IV).
26. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca,
Vol. LIX, kol. 472 (Homili tentang Injil Js. Yohanes, LXXXVI, 4).
27. Js. Yohanes Krisostomos,
Patrologia Graca, Vol. LI, Kol. 201 (Tentang Akwila dan Priskila, Tulisan
II, 5).
Dari Orthodox Tradition,
Vol. XVI, No.3&4, hal.8-17. Diterjemahkan dari bahasa Yunani dan aslinya
diambil dari sebuah pidato yang disampaikan oleh Romo (sekarang Uskup) Cyprian
dari Biara Suci Js. Kyprian dan Justina di Fili, Yunani, pada tanggal 6 Oktober
1997 (Kalender Lama), pada pertemuan tahunan (diadakan tahun itu di Novotel
Convention Center di Athena) untuk menghormati Hari Nama Metropolitan Cyprian
dari Oropos dan Fili


