Kamis, 29 Juli 2021

Posisi Uskup di Gereja Orthodoks


Posisi Uskup di Gereja Orthodoks

Oleh Archimandrit Kyprian

Yang Mulia Metropolitan dan Bapa Rohani; Hirarki Suci; para Bapa dan Persaudaraan; Para Biarawan yang Terhormat; Saudara-saudari terkasih dalam Kristus:

A.

Aku memohon berkat dan doamu, agar aku dapat memenuhi tugas ketaatan ini—pelayanan yang diberikan kepadaku, dalam ketidaklayakanku, oleh Persaudaraan monastik kita.

1. Sedikit pemikiran yang akan diungkapkan malam ini memiliki dasar ajaran Patristik yang terkenal bahwa Malaikat adalah terang para biarawan, dan biarawan adalah cahaya kaum awam: Malaikat adalah terang bagi para biarawan; cara hidup monastik adalah cahaya bagi semua orang.1 [Catatan gambaran di sebelah kanan] Monastik adalah cahaya, pertama dan terutama, karena mereka berjuang untuk menjadi contoh yang baik bagi semua, contoh dan model kebajikan.

Mereka juga menjadi terang ketika, dengan doa, kasih, dan kerendahan hati, mereka mendorong dan membimbing umat beriman dalam memperoleh etos gerejawi yang sejati.

Pelayanan kasih persaudaraan yang menjadi ciri monastik ini sangat berharga di zaman kita, karena saudara dan saudari kita di dunia terpapar oleh berbagai pengaruh, dengan akibat—biasanya karena ketidaktahuan—mereka berpikir dan bertindak dengan cara yang bertentangan. dengan Gereja.

Perkenankanlah aku malam ini, oleh karenanya, untuk berkontribusi— tentunya dengan pertolongan  dari Panagia, Jana Suci kita Kyprianus dan Justina, yang kita hormati—untuk pelayanan kasih ini, dengan berurusan melalui karakteristik mendasar dari etos gerejawi sejati, yaitu: pengakuan mendalam akan tempat sentral Uskup dalam Gereja dan penghormatan mendalam bagi pribadinya.

Pada pertemuan tahun ini kami ingin membahas topik ini, yang bagi setiap orang Kristen yang saleh secara harfiah merupakan faktor penentu penting dalam kehidupan Gerejanya, dengan singkat dan sederhana.

2. Tapi topik ini, secara khusus, memicu rasa takut dalam diri kita. Apa yang saya maksud?

Kanon Para Rasul Suci pasal ke Tiga Puluh Enam menetapkan bahwa klerus dari sebuah keuskupan dihukum sangat berat untuk satu dosa yang sangat serius karena sebuah pelanggaran gerejawi.

Apa pelanggaran ini?

Jika orang-orang di keuskupan, karena pembangkangan dan kedengkian mereka sendiri,2 tidak taat kepada Uskup mereka dan tidak menerima dia sebagai Gembala mereka, maka klerus di keuskupan ini harus di-ekskomunikasi, karena mereka tidak memperbaikinya sebagai orang-orang yang tidak taat;3 karena, menurut penafsiran Js. Nikodemos dari Gunung Athos, bahwa mereka tidak mengajar orang-orang yang tidak taat itu melalui pengajaran dan teladan yang baik (lihat catatan 2).

Oleh karena itu, kita para klerus berkewajiban untuk memberikan pengajaran dan contoh yang baik kepada umat kita, jika kita ingin menghindari hukuman ekskomunikasi yang sangat berat.

B.

Kami terus-menerus terkesan dengan penghormatan besar yang ditunjukkan oleh orang-orang Rusia, Rumania, dan orang-orang Orthodoks lainnya terhadap Hirarki/ Uskup mereka. Di negeri-negeri orang-orang ini, bahkan setelah penaklukan di bawah atheisme dan pukulan keras terhadap Gereja namun demikian Gereja Orthodoks tetap bertahan, telah mempertahankan dedikasi populer, dan penghormatan untuk pribadi Uskup yang mungkin tidak ada bandingannya.

1. Beginilah cara seorang Klerus yang mengambil bagian dalam tur ke Rusia yang dilakukan oleh seorang Hierarki/ Uskup dalam menggambarkan beberapa pandangannya:

Di kota-kota yang kami lewati, Umat beriman membentangkan pakaian mereka di jalan para Uskup dan kemudian mencium tempat di mana Uskup telah melangkah....

Di salah satu kota kecil..., jalan yang akan dilalui Uskup benar-benar dipenuhi dengan bunga.... Uskup Agung disambut oleh cahaya ratusan lilin yang dipegang oleh Umat beriman. Di salah satu paroki keuskupan..., hampir semua umat memenuhi jalan menuju Gereja membersihkan ambang pintu rumah mereka dan menyiapkan meja-meja yang dibentangkan taplak meja putih dari tempat tinggal mereka. Setelah beberapa saat, kain putih dan berkelok-kelok berbagai warna—di mana ikon, roti, dan garam (simbol keramahtamahan tradisional) ditempatkan—dan bunga menunjukkan kepada Uskup jalan mana yang harus dia ikuti. Uskup...mendekati salah satu meja, memberkatinya, dan menyapa penghuninya.4

2. Tetapi dedikasi orang-orang kepada pribadi Uskup mereka mencapai klimaks pada saat wafatnya.

Di satu kota Rusia, dua atau tiga jam setelah pengumuman wafatnya seorang Metropolitan tua, sudah sulit untuk membuat jalan masuk ke kediamannya.... Selama beberapa malam, orang-orang melngunjungi Gembala mereka. Selama pemakaman, Katedral yang besar hanya dapat menampung sebagian kecil dari Umat beriman, yang sebagian besar dipaksa untuk tetap berada di halaman Gereja dan di jalan-jalan tetangga. Ribuan orang beriman datang untuk bersujud di hadapan jenazah almarhum yang terhormat (lihat catatan 4).

Dan pada kesempatan lain puluhan ribu Umat mengiringi dalam prosesi jenasah Metropolitan mereka dari Katedral ke pemakaman, yang berjarak tujuh kilometer (lihat catatan 4).

C.

Seseorang mungkin bertanya: Apakah perilaku masyarakat ini tidak sedikit hiperbolis (berlebihan)? Bukankah fokus devosinya jadi bergeser dari Kristus kepada Uskup?

Para Bapa Suci dengan jelas menjawab, Tidak!

Uskup di keuskupannya dikatakan oleh Js. Yohanes dari Kronstadt, setelah Tuhan dan Sang Theotokos, merupakan sumber pengudusan bagi semua umat Kristiani dari kawanannya, dan inilah mengapa mereka semua harus sangat menghormati dan mencintai dia sebagai yang paling sempurna dari pelaksana Misteri Suci.5

Ajaran ini, yang benar dalam segala hal, bukan hal yang baru dalam Orthodoksi, tetapi merupakan ide mendasar dari Gereja Apostolik.

1. Js. Ignatius Sang Pengemban Allah, Uskup Antiokhia, menghubungkan Uskup dan Yesus Kristus bersama-sama sedemikian rupa sehingga segala sesuatu yang terjadi pada Uskup Gereja yang terlihat, itu dikaitkan dan dianggap berasal dari Uskup yang tidak terlihat yaitu Kristus Juru Selamat kita.

Berikut ini persis apa yang dikatakan Js. Ignatius:

Oleh karena itu untuk penghormatan, Dia yang menginginkan kita, adalah benar bahwa kita mentaati (Uskup) tanpa kemunafikan; karena seseorang tidak hanya tidak mentaati Uskup yang terlihat ini, tetapi juga berusaha menipu Dia yang tidak terlihat. 6

2. Dalam contoh lain, Js. Ignatius mendesak kita untuk melihat Uskup sebagai Tuhan itu sendiri: Oleh karena itu, jelaslah bahwa kita harus memandang Uskup seperti kita memandang Tuhan sendiri.7

3. Js. Ignatius melanjutkan untuk meninggikan tempat Uskup di Gereja sedemikian tinggi untuk mengajarkan bahwa semua yang ingin bersama Allah harus bersama Uskup: Karena seberapa banyak yang menjadi milik Allah dan Yesus Kristus—merekalah yang bersama-sama dengan Uskup.8

4. Dan begitu pentingnya masalah kesatuan kita dengan Uskup, dan melalui dia dengan Allah, menurut Js. Ignatius, sehingga kesatuan ini membuat batas terhadap dua dunia yang sama sekali berbeda yaitu dunia Allah dan dunia Iblis: Oleh karena itu hendaklah semua orang mengikuti Uskup, seperti Yesus Kristus mengikuti Sang Bapa...; Adalah baik untuk mengenal Allah dan Uskup; barangsiapa yang melakukan apa pun tanpa sepengetahuan Uskup, dia sedang melayani Iblis.9

D.

Js. Yohanes Krisostomos adalah contoh yang menjelaskan /eksponen sejati dari Tradisi Apostolik ini.

Dari banyak contoh yang membuktikan penghormatan dan ketaatan yang mendalam dari Krisostomos terhadap Keuskupan, kami hanya akan mengutip tiga, yang berkaitan dengan periode aktivitasnya di Antiokhia.

1. Suatu kali, ketika Orang Suci itu masih seorang Presbiter, pada pertemuan umat beriman dia tidak melihat Flavianus, Uskup Antiokhia hadir, seperti biasanya; ini mendukakan Orang Suci ini, dan dia berkata sambil menangis: Ketika saya melihat Tahta itu, yang ditinggalkan dan kehilangan guru kita, ... saya menangis; Saya menangis, karena saya tidak melihat bapa kita bersama kita! 10

2. Di lain waktu, Uskup Flavianus yang kudus tidak hadir lagi, karena dia sedang sakit di rumah; maka, Krisostomos memulai khotbahnya dengan ekspresi kasih yang sungguh-sungguh kepada Uskupnya:

Sama seperti paduan suara merindukan pemimpinnya dan kru pelaut kehilangan juru mudinya, demikian juga kelompok Imam hari ini ini kehilangan Hirarki/ Uskup dan bapa bersamanya,.... Tetapi bahkan jika dia tidak hadir dalam daging, dia tetap ada, di sini dalam roh, dan dia bersama kita sekarang saat dia duduk di rumah, sama seperti kita bersamanya saat kita berdiri di sini; karena begitulah kekuatan kasih yang biasa mengumpulkan dan menyatukan mereka yang terpisah oleh jarak yang sangat jauh.11

3. Dalam contoh lain, Flavianus yang tersuci hadir, dan Krisostomos mempersingkat khotbahnya, menyampaikan alasannya sebagai berikut:

Jadi saya harus mengakhiri khotbah saya, karena saya ingin mendengar suara Bapaku (dan Uskup). Karena kami—seperti anak gembala di bawah naungan pohon ek atau poplar—bermain seruling saat kami duduk di bawah naungan fondasi suci ini; sedangkan dia (Bapa dan Uskup kita), seperti seorang musisi ulung yang memainkan kecapi emas dan dengan harmoni nada-nadanya, mengangkat seluruh penonton ke alam yang lebih tinggi—jadi dia, bukan dengan harmoni nada, tetapi dengan keserasian ucapan dan tindakannya, sangat bermanfaat bagi kita.12

Maka jelaslah, dengan cara apa Js. Krisostomos membimbing Umat Allah dan menolong mereka memperoleh etos gerejawi sejati: Tidak adanya Hierarki/ Uskup-nya akan menjadi masalah pengabaian seorang Presbiter yang tidak mengakui pentingnya Uskup di gereja; sedangkan Js. Krisostomos saja menderita dan menangis. Kehadiran Uskup, di sisi lain, tidak akan bertindak sebagai rem bagi pengkhotbah yang cerewet, sedangkan Krisostomos justru mempersingkat khotbahnya, sehingga memungkinkan Uskupnya berbicara, sementara ia memujinya dengan tepat, merendahkan dirinya sendiri dan meninggikan kemuliaan dari Hierarki/ Uskup.

E.

Berdasarkan perbandingan yang dibuat oleh Js. Yohanes Krisostomos antara seorang Presbiter (seorang anak gembala dengan sulingnya) dan seorang Uskup (seorang musisi yang hebat dengan kecapinya), izinkan saya untuk merangkum hanya dalam beberapa kalimat—agar tidak membosankan—pandangan theologis dan eklesiologis murni dari Orthodoksi tersuci kita mengenai tempat Uskup dalam Gereja.

Apa itu Gereja?

1. Gereja adalah Kumpulan Umat Allah untuk merayakan Misteri Ekaristi Ilahi, di mana Gereja lokal benar-benar menjadi dan dinyatakan sebagai Tubuh Kristus, sebagai organisme Theandric (yang ilahi dan manusiawi), di mana Tritunggal Mahakudus bersemayam. 13

2. Pusat dan kepala Kumpulan Ekaristi yang terlihat adalah Uskup: Dialah yang memimpin Kumpulan dan mewartakan sabda Allah; dialah yang mempersembahkan Ekaristi, sebagai Ikon Kristus, Imam Besar Agung, dan sebagai orang yang memimpin tempat Allah,14 menurut Js. Ignatius dari Antiokhia.

3. Dalam Gereja perdana, hanya Uskup yang mempersembahkan Ekaristi Ilahi di setiap Gereja lokal; yaitu, hanya ada satu Ekaristi, dan ini berpusat pada Uskup.14a

4. Uskup, ketika mempersembahkan Ekaristi Ilahi, mempersembahkan Kristus dalam keutuhan-Nya, menyampaikan Misteri Kudus kepada umat beriman dengan tangannya sendiri; di zaman kuno, Umat Allah mengambil bagian dari Kristus hanya dari Ikon Kristus yang hidup, yaitu Uskup.15

5. Oleh karena itu, Uskup tidak hanya mengejawantahkan Gereja lokal, tetapi juga mengungkapkan dalam ruang dan waktu Gereja yang Katolik, yaitu seluruh Gereja; karena apa yang mewujudkan Kristus dalam keutuhan-Nya, dan di mana seseorang menerima Kristus dalam keutuhan-Nya, adalah apa yang mewujudkan Gereja Yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Di mana pun Yesus Kristus berada, kata Js. Ignatius, di situ ada Gereja yang Katolik.16

6. Justru karena alasan inilah, bila seseorang dipersatukan dengan Uskup dalam Misteri Ekaristi Ilahi, maka ia juga dipersatukan dengan Gereja yang Katolik. Js. Kyprianus dari Kartago menekankan kebenaran eklesiologis ini dalam istilah-istilah mencolok berikut ini: Uskup ada di dalam Gereja dan Gereja di dalam Uskup; dan jika seseorang tidak berada dalam persekutuan dengan Uskup, dia tidak berada di dalam Gereja.17

F.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus:

Saya berharap bahwa semua yang telah kita rujuk sejauh ini akan cukup untuk meno;ong kita memahami mengapa Umat Allah, setiap kali Uskup Liturgi, mereka rindu untuk menerima komuni dari tangannya; mengapa ada arak-arakan yang sesungguhnya di desa-desa, setiap kali Uskup berkunjung; mengapa orang beriman menyambutnya dengan bunyi lonceng, dengan pohon palem dan ranting; mengapa mereka membentangkan karpet untuk diinjaknya; dan mengapa gadis-gadis memberikan mahar (mas kawin) mereka kepadanya untuk diberkati—mengapa, singkatnya, Umat beriman memiliki kasih dan dedikasi seperti itu kepada Uskup mereka.

Penatua Silouan dari GUnung Athos, dalam usahanya untuk menyajikan kepada kita ajaran Orthodoks tentang Keuskupan, menceritakan kejadian menakjubkan berikut ini:

Seorang yang rendah hati dan lemah lembut sedang berjalan bersama istri dan ketiga anaknya. Di jalan, mereka bertemu dengan seorang Hierarki/ Uskup, yang sedang lewat dengan keretanya; dan ketika petani itu membungkuk dengan hormat kepadanya, dia menyaksikan bahwa Hierarki yang memberkati dia diselimuti oleh api Kasih Karunia.18

Saya pikir mujizat yang memiliki sifat mengajar ini, bersama dengan kesaksian Patristik yang disebutkan di atas, cukup untuk membuat kita, baik klerus maupun awam, sadar akan kewajiban kita di hadapan seorang Uskup. Tradisi Orthodoks selalu menempatkan Uskup pada tempat sentral dalam Gereja, sehingga melalui Patriarkh Suci Dositheos dari Yerusalem (1707) menyatakan kebenaran agung berikut: Sebagaimana Allah itu menjadi yang pertama di dalam Gereja surgawi, dan matahari menjadi yang pertama di dunia, demikianlah setiap Uskup di Gereja lokal.19

1. Kemudian, dengan asumsi-asumsi ini Apakah mungkin bagi kita untuk memperlakukan seorang Uskup dengan tidak hormat, Ketika kita memperhitungkan bahwa Kanon Apostolik pasal Ketiga Puluh Lima menetapkan bahwa seorang Klerus yang menghina seorang Uskup maka dia harus digulingkan (dicopot jabatannya),20 sementara Kanon Sinode Ketiga di Hagia Sophia meng-anathema seorang awam yang berani menyerang seorang Uskup?21

2. Apakah mungkin bagi kita untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja secara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan dan berkat para Uskup, mengingat para Orang Suci memerintahkan kita: Untuk tidak melakukan apa pun tanpa Uskup?22

3. Apakah mungkin bagi siapa saja—khususnya, tentu saja, klerus untuk mandiri dan mengikuti agenda pastoral mereka sendiri, ketika Kanon Apostolik Ketiga Puluh Sembilan memerintahkan: Biarlah para Presbiter dan Diakon untuk tidak melakukan apa pun tanpa sepengetahuan Uskup? 23

4. Mungkinkah kita yang sebagai murid menjadi kurang ajar, berani mengajar Uskup, Guru Gereja, ketika Konstitusi Apostolik menasihati kita sebagai berikut:

Uskup, dia adalah pelayan firman, penjaga pengetahuan, perantara antara Allah dan Saudara dalam penyembahan Saudara kepada-Nya. Dia adalah guru kesalehan; dan, selanjutnya setelah Allah, dia adalah bapa saudara...; dia adalah penguasa dan gubernur saudara; dia adalah raja dan penguasa saudara; dia, selanjutnya setelah Allah, adalah allah duniawi saudara, yang seharusnya menerima penghormmatan dari saudara...; karena biarlah Uskup memimpin saudara sebagai orang yang dihormati dengan martabat Allah, yang harus dijalankannya atas para klerus, dan yang dengannya ia akan memerintah semua orang.24

5. Apakah mungkin bagi kita untuk berkumpul secara tidak sah tanpa sepengetahuan Uskup dan bertindak skismatis, ketika para Orang Suci mengajari kita: Sama seperti Tuhan tidak melakukan apa-apa tanpa Sang Bapa, maka saudara tidak boleh melakukan apa pun tanpa Uskup...?25

6. Apakah mungkin, akhirnya, bagi kita untuk menghakimi dan menghukum seorang Uskup, ketika Js. Krisostomos melarang ini dalam istilah yang paling ketat, ... bahkan jika hidupnya (bapa rohani) sangat rusak?26 ...Dan ketika Orang Suci yang sama, dalam menjawab pertanyaan kepada mereka yang mempersalahkan para Imam, bahkan melarang mereka memasuki gereja?

Ketika Saudara menuduh Bapa rohani saudara, bagaimana saudara menganggap diri saudara layak untuk melangkahi ambang suci [Gereja]? ...Dan bukankah sehatrusnya orang seperti itu (penuduh Imam) takut, kalau-kalau bumi terbuka dan menyebabkan dia menghilang sama sekali, atau petir jatuh dari tempat tinggi dan membakar lidahnya yang melakukan tuduhan?27

G.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus:

Aku harap engkau memaafkanku karena menjagamu. Aku terbawa oleh keseriusan topik ini dan oleh keinginanku untuk membangunmu di dalam Kristus.

1. Kerusakan etos Orthodoks oleh faktor-faktor exstra-eklesiastik telah menyentuh salah satu karakteristik paling mendasar dari etos ini: kesadaran yang mendalam akan tempat sentral Uskup dalam Gereja.

Semoga upaya kecil kita ini dianggap sebagai kontribusi kecil untuk perbaikan kejahatan ini, kerusakan ini.

Saya sangat yakin bahwa, hanya ketika hubungan kita dengan Uskup di Gereja dihidupkan dengan cara Orthodoks, secara Patristik, Tuhan akan mengasihani kita dan mengijinkan kita untuk melihat Gembala yang baik, dan sebagai hasilnya kita akan menikmati hari-hari yang lebih baik.

2. Demikian juga, sebagai penutup, kami juga ingin engkau menerima perlakuan kami, malam ini, tentang sikap yang benar yang harus dimiliki seseorang terhadap Uskup sebagai tanggapan yang diperlukan untuk saudara-saudara kita yang malang yang mengubah makna rohani dari sebuah karunia yang kami persembahkan kepada Yang terhormat Metropolitan kami pada tahun 1987.

Dalam karunia itu—sebuah lukisan dari studio Ikon Biara Suci Para Malaikat Suci di Aphidnai, Attika, dibuat dengan bimbingan saya sendiri dan dengan saran saya—Gereja lokal kami secara simbolis digambarkan sebagai Tubuh Kristus, dengan Uskupnya dan Ekaristi Ilahi sebagai pusatnya. Ini, bagi kami, adalah pemahaman Patristik Gereja; wajar bahwa semua orang yang tidak mengetahui aspek Gereja ini atau mengalaminya dalam kehidupan mereka sendiri, harus merusak karunia simbolis itu, untuk merusak reputasi Gembala Utama kita yang terhormat.

Semoga Tuhan kita mengampuni mereka dan menuntun mereka pada pertobatan!

Bapa Rohani kita Yang Terhormat, Gembala Pilihan Ilahi dari Kawanan Kecil kita:

Pada kesempatan Hari Namamu, terimalah harapan kami yang rendah hati namun tulus agar engkau dilindungi dengan Rahmat Allah, sepanjang tahun dalam keselamatan, kehormatan, dan kesehatan, agar mengajarkan dengan benar firman Kebenaran Injili.

Semoga Bunda Juruselamat kita yang Terberkati menguatkanmu dan memberimu kesabaran, dan terutama ketika kami, anak-anak rohanimu, mengendurkan kewaspadaan kami dan berperilaku tidak pantas terhadapmu.

Sebagai Uskup kita, sebagai Ikon Kristus yang hidup, Imam Besar Agung, selanjutnya—kami mohon—untuk berdoa lebih khusyuk di hadapan Altar yang menakutkan bagi Kawanan yang diberkahi akal budi, agar tidak ada domba yang tersesat dan ditangkap oleh binatang buas liar., terputus dari kesatuan denganmu, kesatuan dengan Gereja, dan kesatuan dengan Kristus.**

Catatan akhir

* Kita harus menjelaskan sejak awal bahwa umat beriman wajib menghormati dan mentaati Hierarki/ Uskup selama mereka benar-benar Orthodoks dan mengajarkan firman Kebenaran dengan benar.

Js. Yohanes Krisostomos, dalam menanggapi nasihat Rasul Paulus mengatakan, Taati mereka yang berkuasa atas kamu (Uskup, Guru, dan Pemimpin Rohani), dan tundukkanlah dirimu (Ibrani 13:17), menghadapi pertanyaan yang sering muncul ini: Tetapi bagaimana jika...dia jahat; haruskah kita taat kepadanya? Jawabannya adalah sebagai berikut: Jahat? Dalam arti apa? Jika memang berkaitan dengan Iman, larilah dan hindari dia; bukan hanya jika dia seorang manusia, tetapi bahkan jika dia seorang Malaikat yang turun dari Surga; tetapi jika menyangkut hidupnya, jangan terlalu ingin tahu (Patrologia Græca, Vol. LXIII, col. 231 [Homilies on the Epistle to the Hebrews, XXXIV, 1]). 

**Kami ingin mengakui bahwa kami telah terbantu secara khusus dalam pekerjaan ini dengan bahan dari majalah Thymiama (No. 13 [Mei 1993]).

1. Js.. Yohanes dari Sinai, Tangga Ilahi, Langkah 26.1, 23.

2. Js. Nikodemos dari Gunung Athos, Pemahaman Kanon Apostolik pasal 36 (Pedalion [Rudder], hal. 40).

3. Kanon Apostolik XXXVI (36).

4. Solon G. Ninikas, The Spiritual Resiliency of the Russian People  [dalam bahasa Yunani] (Athena: 1991), hlm. 21-22.

5. Uskup Alexander (Semenoff-Tian-Sansky), Father John of Kronstadt  [dalam bahasa Yunani] (Oropos, Attika: Parakletos Monastery Publications, 1976), hlm. 113.

6. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 665A (Surat kepada Magnesia, III.2).

7. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 649AB (Surat kepada Jemaat, VI.1).

8. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 700A (Surat ke Filadelfia, III.2).

9. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 713A, 713C, 716A (Surat kepada umat di Smirna, VIII.1-IX.1).

10. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca, Vol. XLIX, kol. 47 (Homili tentang Patung, III.1).

11. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca, Vol. XLVIII, kol. 953 (Homili tentang Kalends, Ketika Uskup Flavianus dari Antiokhia Tidak Hadir, 1).

12. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca, Vol. XLIX, kol. 314 (Homili tentang Puasa, V.5).

13. mengenai Efesus 4:5-6 dan I Korintus 10:15-16, tentang pertemuan gerejawi dan sakramental dan arti Tubuh Kristus.

14. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 668A (Surat kepada Magnesia, VI.1).

Dalam bentuk perluasan Surat kepada umat di Smirna, ia menulis sebagai berikut: Hormatilah...Uskup sebagai Hierarki, yang menyandang gambar Allah...[,] yaitu Kristus, dalam kapasitasnya sebagai seorang Imam (Patrologia Græca , Jil. V, kol. 853A [Surat kepada Umat Smirna, IX]).

14a. Js.. Ignatios, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 668C (Surat kepada Magnesia, VII.2) dan kol. 700B (Surat kepada Filadelfia, IV): Satu Bapa, satu Yesus Kristus, satu Gereja, satu Altar, satu Ekaristi, satu Daging Tuhan, satu Piala, dan satu Uskup.

15. Js. Hippolytos dari Roma, The Apostolic Tradition, 22 (Sumber Chrtiennes, No. 11 bis [Paris: Cerf, 1968]), hlm. 96-97.

16. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 713B (Surat ke Smirna, VIII.2).

17. Js. Kyprianus, Surat 66.

18. Archimandrit Sophrony, Elder Silouan of Athos (1866-1938) [dalam bahasa Yunani] (Thessaloniki: Orthodoxos Kypsele Publications, n.d.), hlm. 392.

19. Dositheos dari Yerusalem, Confession of Faith (1672), Definition 10, in J. N. Karmiris, Dogmatic and Credal Monuments of the Orthodox Catholic Church [dalam bahasa Yunani], Vol. II (Graz, Austria: Akademische Druck u. Verlagsanstalt, 1968), hlm. 753 [833].

20. Jika ada Klerus yang menghina Uskup, biarkan dia digulingkan; karena engkau tidak akan berbicara buruk tentang pengatur umatmu [Keluaran 22:28].

Lihat juga Penafsiran Js. Nikodemos, serta catatannya, yang menyimpulkan sebagai berikut:

Hukum Kaisar, yang mempromosikan kesalehan, menetapkan bahwa siapa pun yang memasuki gereja ketika Misteri atau ibadah suci lainnya sedang dirayakan dan menghina Uskup, atau mencegah ibadah dirayakan, harus dikenakan hukuman mati. Prinsip yang sama ini harus dipertahankan juga ketika litani dan ibadah permohonan sedang dirayakan dan para uskup serta klerus hadir; yaitu, siapa pun yang menghina klerus harus diasingkan dan siapa pun yang mengganggu litani atau ibadah permohonan harus dihukum mati.

Dari Kanon ini orang dapat menyimpulkan bahwa siapa pun yang menghina ayahnya secara fisik atau Penatua rohaninya harus diberi epitimia; karena Kitab Suci berkata, Dia yang mengutuk ayah atau ibunya, siapa pun dia, apakah seorang klerus, orang awam, atau biarawan, biarkan dia dihukum mati [Js. Matius 15:4; lihat Imamat 20:9]. Kematian dalam kasus ini adalah perampasan Komuni Ilahi, yang di antara mereka yang diberkahi dengan pemahaman benar-benar dianggap sebagai kematian, seperti yang kita lihat dalam Kanon Kelima Puluh Lima Js. Basilius Agung (Pedalion, hal. 72, n. 1) .

21. Jika ada orang awam yang berwenang, meremehkan tata cara Ilahi dan Kekaisaran dan mengejek undang-undang dan hukum Gereja yang menakutkan, berani mencelakai atau memenjarakan Uskup mana pun tanpa alasan, atau mengarang alasan, biarlah dia di-anathema.

Lihat Penafsiran Js. Nikodemos, serta catatannya (Pedalion, hal. 366). [Sinode di Hagia Sophia adalah Sinode Ekumenis Kedelapan, di bawah Js. Photios Agung, diadakan pada tahun 879].

Js. Ignatius dari Antiokhia mengatakan sebagai berikut: Dia yang menghormati seorang Uskup akan dihormati oleh Allah; sama seperti dia yang tidak menghormatinya akan dihukum oleh Allah (Patrologia Græca, Vol. V, col. 853A [Surat pada Umat di Smyrna, versi yang lebih panjang, VII.2]).

22. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 668A (Surat kepada Umat Filadelfia, VII.2).

Js. Ignatius dengan tegas menekankan hal ini: Janganlah seorang pun melakukan hal-hal yang berkaitan dengan Gereja tanpa Uskup (Patrologia Græca, Vol. V, col. 713B (Surat kepada Jemaat di Smyrna, VIII.1).

Lihat catatan kaki 9 dan 25.

23. Lihat Penafsiran Js. Nikodemos, serta Concord (Pedalion, hlm. 43-45).

Menurut Konstitusi Apostolik, Diakon tidak melakukan apa-apa tanpa Uskup, dan diperintahkan agar semua hal yang harus dia lakukan dengan siapa pun diberitahukan kepada Uskup, dan pada akhirnya diperintahkan olehnya (Buku II, bab 30); ...Biarlah dia tidak melakukan apa pun tanpa Uskupnya, atau memberikan apa pun kepada siapa pun tanpa persetujuannya (Buku II, bab 31); ...Jangan melakukan apa pun secara sembunyi-sembunyi, sehingga cenderung menghinanya (Buku II, bab 32) (Patrologia Græca, Vol. I, col. 677BCD).

24. Konstitusi Apostolik, Patrologia Græca, Vol. I, kol. 665B-668A (Buku II, bab 26).

25. Js. Ignatius, Patrologia Graca, Vol. V, kol. 668B (Surat kepada Magnesia, VII.1).

Khususnya yang dapat diterapkan adalah pandangan yang berhubungan dengan Orang Suci berikut ini: Maka, benar bahwa kita tidak hanya disebut orang Kristen, tetapi juga menjadi seperti itu; bahkan ada beberapa yang mengakui Uskup dalam kata-kata mereka, tetapi dalam segala hal bertindak terpisah darinya. Orang-orang seperti itu bagi saya tampaknya tidak bertindak dengan hati nurani yang baik, karena mereka tidak secara sah bertindak sebagai pendamping (ibid., IV).

26. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca, Vol. LIX, kol. 472 (Homili tentang Injil Js. Yohanes, LXXXVI, 4).

27. Js. Yohanes Krisostomos, Patrologia Graca, Vol. LI, Kol. 201 (Tentang Akwila dan Priskila, Tulisan II, 5).

Dari Orthodox Tradition, Vol. XVI, No.3&4, hal.8-17. Diterjemahkan dari bahasa Yunani dan aslinya diambil dari sebuah pidato yang disampaikan oleh Romo (sekarang Uskup) Cyprian dari Biara Suci Js. Kyprian dan Justina di Fili, Yunani, pada tanggal 6 Oktober 1997 (Kalender Lama), pada pertemuan tahunan (diadakan tahun itu di Novotel Convention Center di Athena) untuk menghormati Hari Nama Metropolitan Cyprian dari Oropos dan Fili

http://orthodoxinfo.com/praxis/bishop_place.aspx

Senin, 26 Juli 2021

Apakah Kita Tahu Seperti Apa Cawan yang Digunakan Yesus untuk Perjamuan Terakhir?


Apakah Kita Tahu Seperti Apa Cawan yang Digunakan Yesus untuk Perjamuan Terakhir?

Oleh Archimandrite Alypius (Svetlichny)

Arkhimandrit Alypius (Svetlichny) tentang sejarah dan simbolisme peralatan liturgi.

Terkadang disesalkan bahwa ada begitu sedikit penggambaran dan perincian dalam Injil. Padahal jika bisa secara rinci maka akan sangat membantu dalam menciptakan latar belakang sejarah saat Yesus berjalan di bumi.

Pembaca yang malas ingin semua peristiwa yang disebutkan dalam Alkitab cocok dengan kronik dan arkeologi Tanah Suci. Karena itu, Alkitab tetap merupakan buku yang "dikunci" sepenuhnya untuk orang-orang seperti itu. Karena itu, mereka lebih suka mengklaim bahwa Buku ini tidak konsisten daripada mencoba dan mencari tahu.

Sejauh yang saya ketahui, saya suka hal sepele yang sepi dan tidak disengaja ini, yang membuat Kitab Suci itu sakral dan membantu para pembacanya untuk mempelajari Firman Allah yang sebenarnya dari halaman-halamannya daripada memuaskan diri mereka sendiri dengan perincian berlebihan.

Cawan Perjamuan Terakhir: Sakral atau Mitos?

Menjadi populer untuk membawa sejumlah besar peninggalan-peninggalan Kristen ke Eropa sejak Abad Pertengahan. Sayangnya, mereka tidak hanya dibawa ke Eropa tetapi juga dipalsukan. Belakangan, hal itu membuat Gereja tidak nyaman: kesalehan populer menuntut agar benda-benda suci yang baru diperoleh dihormati, sementara para uskup menghindari menyebut benda-benda itu otentik. Sebagian besar dibuktikan oleh waktu, pendapat para uskup ini benar.

Pada waktu itu ketika beberapa cawan muncul, masing-masing dianggap sebagai Cawan yang digunakan pada Perjamuan Terakhir.

Cawan-cawan itu dikaitkan dengan Cawan Suci yang legendaris, yang disesuaikan oleh dongeng Ksatria Meja Bundar dari dongeng Raja Arthur dari mitos Keltik.

Belakangan, sebuah legenda muncul, di mana Yusuf yang benar dari Arimathea mengambil Cawan ini, yaitu cawan yang telah Juruselamat pegang di tangannya selama Perjamuan Terakhir, dan dibawa ke Glastonbury di mana Cawan itu tersembunyi di dasar sumur. Untuk membantu, ada desas-desus bahwa Js. Yusuf juga mengambil darah Kristus yang Tersalib ke dalam cawan yang sama. Ada beberapa legenda lain tentang Cawan Suci.

Namun, masalah Cawan yang digunakan untuk Perjamuan Terakhir muncul karena Cawan itu dipakai untuk rekonstruksi dan digunakan sebagai cawan liturgi.

Seperti apakah Cawan yang Digunakan Kristus pada Perjamuan Paskah Terakhir?

Jadi, apakah kita tahu seperti apa Cawan yang digunakan Kristus selama Perjamuan Paskah terakhir? Tentu saja tidak! Cawan pada masa itu ada dalam berbagai bentuk dan terbuat dari berbagai bahan.

Orang miskin pada masa itu biasa menggunakan cangkir keramik. Itulah yang menggoda banyak orang untuk berpikir bahwa Yesus menggunakan cawan yang terbuat dari tanah liat, karena Ia adalah seorang pengkhotbah yang miskin.

Marilah kita mengingatkan diri kita sendiri bahwa Sang Juruselamat memasuki rumah seorang yang menyiapkan makanan untuk mereka di sebuah kamar di Gunung Sion. Sion di Yerusalem pada masa itu adalah lingkungan yang sangat makmur di mana kaum bangsawan Yahudi tinggal di sana. Kamar Sion terletak di sebelah istana Raja Herodes Agung dan Imam Besar. Jelas ada peralatan makan yang mahal di rumah orang kaya. Itu bisa terbuat dari kaca berwarna atau perak, yang populer di lingkungan orang Israel pada waktu itu.

Namun, Cawan itu bisa dibuat dari batu juga. Benar, saudara telah membacanya dengan benar: cawan batu. Ternyata orang-orang Yahudi percaya bahwa agar sepenuhnya halal, makanan harus disajikan dalam peralatan berbahan dari batu, yang hanya mampu dilakukan oleh orang kaya dan saleh.

Beberapa rekonstruksi serius dari Perjamuan Terakhir yang dilakukan oleh para sarjana terkenal menyiratkan bahwa Cawan untuk anggur terbuat dari batu dan cawan untuk ritual terbuat dari perak. Cawan tersebut berongga dengan dudukan bulat pendek.

Tidak perlu nampan untuk roti: kemungkinan besar, roti diletakkan dalam irisan tepat di atas meja, di antara makanan ritual lainnya.

Peralatan Liturgi yang seperti apa yang digunakan Orang Kristen mula-mula?

Kami memiliki pemahaman yang kabur tentang Peralatan Liturgi, yang digunakan untuk Ekaristi selama perjamuan agape yang diadakan oleh orang-orang Kristen mula-mula. Dikatakan, ada gambar peralatan makan di lukisan dinding yang ditemukan di katakombe. Kemungkinan besar, peralatan makan itu terbuat dari tanah liat. Sulit untuk mengatakan apakah ada Peralatan liturgi pada gambar-gambar itu.

Faktanya, nama Rusia yang terkenal dari Cawan Ekaristi adalah “Potir”, yang tidak merujuk pada cawan tetapi pada alat yang digunakan untuk minum. Itulah arti aslinya dalam bahasa Yunani Kuno. Jadi itu memungkinkan alat minum dari segala bentuk yang bisa kita minum. Namun demikian, para sejarawan tidak membuang gagasan bahwa orang Kristen mula-mula menggunakan Cawan yang terbuat dari logam mulia atau batu permata, yang paling dihargai oleh orang Romawi, misalnya onyx, agate, alabaster, purple, dan marmer.

Dapat dikatakan bahwa bentuk cawan liturgi dengan kaki panjang tipis yang dibentuk pada abad ke-4 dan bentuk ini menjadi populer.

Di era Kekristenan awal, Piring (paten) untuk memecahkan roti mulai digunakan. Kemungkinan besar, itu terbuat dari bahan yang mahal agar sesuai dengan cawannya.

Benda-benda suci ini dibeli oleh komunitas. Benda-benda suci ini dapat digunakan untuk beberapa generasi orang Kristen. Pencuri akan menyitanya di masa penganiayaan karena mereka bisa menjadi satu-satunya benda berharga yang dapat ditemukan di gereja.

Orang-orang Kristen nyaris tidak menghabiskan waktu memikirkan Perjamuan Terakhir sebagai peristiwa bersejarah. Mereka tidak perlu merekonstruksi itu. Kristus dan Ekaristi-Nya selalu sezaman, dan orang-orang Kristen kuno tidak berpartisipasi dalam acara peringatan tetapi untuk mengantisipasi pertemuan nyata dengan Sang Guru. Itulah sebabnya Peralatan Liturgi itu kurang berharga bagi mereka daripada isinya: Tubuh dan Darah Kristus. Mereka tidak berspekulasi tentang masalah keakuratan historis: sebaliknya, mereka mengalami suka cita atas partisipasi nyata mereka dalam Perjamuan Terakhir.

Diterjemahkan oleh The Catalog of Good Deeds

Membentuk Jiwa – Roh, Jiwa dan Tubuh


Membentuk Jiwa – Roh, Jiwa dan Tubuh

Dari “Orthodoks Amerika” oleh Hieromonk Seraphim

Jiwa yang datang ke iman Orthodoksi saat ini sering menemukan dirinya dalam keadaan kurang beruntung atau bahkan lumpuh. Seringkali seseorang mendengar pernyataan ini dari para petobat setelah beberapa tahun perjuangan yang tampaknya tidak membuahkan hasil  “Saya tidak tahu apa yang saya hadapi ketika saya menjadi Orthodoks.” Beberapa orang merasakan hal ini ketika mereka pertama kali mengenal Iman Orthodoks, dan ini dapat menyebabkan mereka menunda pertemuan mereka dengan Orthodoksi atau bahkan melarikan diri darinya sama sekali. Hal serupa sering terjadi pada mereka yang dibaptis pada masa kanak-kanak ketika mereka mencapai usia dewasa dan harus memilih apakah akan mengikatkan diri pada iman masa kanak-kanak mereka atau tidak.

Dari suatu sudut pandang, ini adalah hasil dari komitmen mendalam yang dibutuhkan dari mereka yang serius dengan Iman Orthodoks – sebuah komitmen yang sangat berbeda dari mereka yang hanya bergabung dengan denominasi baru. atau sekte. Ada banyak denominasi dengan berbagai interpretasi mereka tentang kehidupan Kristen, tetapi hanya Satu Gereja Kristus yang menghayati kehidupan sejati di dalam Kristus dan ajaran dan praktik para Rasul dan Bapa Gereja yang tidak berubah.

Tetapi dari sudut pandang yang lebih praktis, masalahnya terletak pada kemiskinan jiwa modern kita, yang tidak dipersiapkan atau dilatih untuk menerima kedalaman pengalaman Kristen yang sejati. Ada aspek budaya dan psikologis dari kemiskinan kita ini: Pendidikan kaum muda saat ini, terutama di Amerika, terkenal kurang dalam mengembangkan daya tanggap terhadap ekspresi terbaik seni manusia, sastra, dan musik, sebagai akibatnya kaum muda terbentuk secara serampangan di bawah pengaruh televisi, musik rock, dan manifestasi lain dari budaya saat ini (atau lebih tepatnya, anti-budaya); dan, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat dari ini – tetapi terutama karena ketidakhadiran orang tua dan guru dari gagasan sadar tentang apa itu Kehidupan Kristen dan bagaimana orang muda harus dibesarkan di dalamnya – jiwa seseorang yang telah bertahan selama bertahun-tahun masa muda sering kali merupakan gurun emosional, dan paling tidak mengungkapkan kekurangan dalam sikap dasar terhadap kehidupan yang pernah dianggap normal dan tak tergantikan:

Hanya sedikit dari mereka yang saat ini dapat dengan jelas mengekspresikan emosi dan ide mereka dan menghadapinya dengan cara yang dewasa; banyak yang bahkan tidak tahu apa yang terjadi di dalam diri mereka sendiri. Hidup secara artifisial dibagi menjadi pekerjaan (dan sangat sedikit yang dapat menempatkan bagian terbaik dari diri mereka, hati mereka, di mana dalam hatinya dimasukkan "hanya untuk uang"); bermain (di mana banyak orang melihat arti sebenarnya dari hidup mereka), agama (biasanya tidak lebih dari satu atau dua jam seminggu untuk ibadah), dan sejenisnya, tanpa kesatuan mendasar yang memberi makna pada keseluruhan hidup seseorang. Banyak yang merasa kehidupan sehari-hari tidak memuaskan, mencoba hidup dalam dunia fantasi ciptaan mereka sendiri (di mana mereka juga mencoba menyesuaikan diri dengan agama). Dan yang mendasari seluruh budaya modern adalah kesamaan penyembahan diri sendiri dan kenyamanan diri sendiri, yang mematikan bagi setiap gagasan tentang kehidupan spiritual.

Itulah latar belakang, "Kopor Budaya", yang dibawa seseorang saat ini ketika ia menjadi Orthodoks. Tentu saja banyak yang bertahan sebagai Orthodoks terlepas dari latar belakang mereka; beberapa mengalami bencana spiritual karena itu; tetapi sejumlah besar tetap lumpuh atau setidaknya belum berkembang secara spiritual karena mereka tidak siap dan tidak menyadari tuntutan kehidupan spiritual yang sebenarnya.. 

Sebagai permulaan untuk menghadapi pertanyaan ini (dan mudah-mudahan, membantu beberapa dari mereka yang bermasalah dengannya), mari kita lihat di sini secara singkat ajaran Orthodoks tentang sifat manusia seperti yang dikemukakan oleh seorang penulis Orthodoks yang mendalam dari abad ke-19, seorang Suci sejati. Bapa Gereja dari zaman terakhir ini—Uskup Theophan Sang Penyendiri (+1892). Dalam bukunya, What the Spiritual Life Is and How to Attune Oneself to it (dicetak ulang Jordanville, 1962), beliau menulis:

“Kehidupan manusia itu kompleks dan memiliki banyak sisi. Di dalamnya ada sisi tubuh, sisi jiwa, dan sisi roh. Masing-masing memiliki kemampuan dan kebutuhannya sendiri, metodenya sendiri dan latihan serta kepuasannya. Hanya ketika semua kemampuan kita bergerak dan semua kebutuhan kita terpenuhi barulah seorang dikatakan hidup. Tapi ketika hanya satu bagian kecil dari ini. Kemampuan ini sedang bergerak tetapi hanya satu bagian kecil dari kebutuhan kita yang terpenuhi – kehidupan seperti itu bukanlah kehidupan …Seseorang tidak hidup dengan cara manusia kecuali segala sesuatu, di dalam dirinya bergerak…. Seseorang harus hidup sebagaimana Allah menciptakan kita, dan ketika seseorang tidak hidup seperti itu, dia dapat dengan berani dikatakan bahwa dia tidak hidup sama sekali” (hal. 7). 

Perbedaan yang dibuat di sini antara "jiwa" dan "roh" tidak berarti bahwa ini adalah entitas yang terpisah dalam sifat manusia; sebaliknya, "roh" adalah bagian yang lebih tinggi, "jiwa" bagian di bawahnya, dari satu bagian manusia yang tidak terlihat (yang secara keseluruhan biasanya disebut "jiwa"). “Jiwa” dalam pengertian ini adalah adanya ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak disibukkan secara langsung dengan kehidupan spiritual—sebagian besar seni, pengetahuan, dan budaya manusia; sedangkan pada “roh” adalah usaha manusia menuju kepada Allah melalui doa, seni suci, dan ketaatan pada hukum Allah. 

Dari kata-kata Uskup Theophan ini, orang sudah dapat melihat kesalahan umum para pencari kehidupan spiritual saat ini: Tidak semua sisi dari sifat mereka bergerak; mereka berusaha memuaskan kebutuhan keagamaan (kebutuhan roh) tanpa harus memenuhi beberapa kebutuhan mereka yang lain (lebih khusus, psikologis dan emosional), atau lebih buruk lagi: mereka menggunakan agama secara tidak sah untuk memenuhi kebutuhan psikologis ini. Pada orang-orang seperti itu, agama adalah sesuatu yang artifisial yang belum menyentuh bagian terdalam mereka, dan seringkali beberapa peristiwa yang mengganggu dalam hidup mereka, atau hanya daya tarik alamiah dunia, sudah cukup untuk menghancurkan alam semesta plastik mereka dan menjauhkan mereka dari agama. . Kadang-kadang orang seperti itu, setelah pengalaman pahit dalam hidup, kembali ke agama: tetapi karena terlalu sering mereka menjadi tersesat, atau setidaknya lumpuh dan tidak berbuah.

Uskup Theophan melanjutkan ajarannya: “Seseorang memiliki tiga lapisan kehidupan: kehidupan roh, jiwa, dan tubuh. Masing-masing memiliki jumlah kebutuhan, yang alami dan tepat untuk seseorang. Kebutuhan-kebutuhan ini tidak semuanya sama nilainya, tetapi ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah; dan kepuasan yang seimbang darinya memberi seseorang kedamaian. Kebutuhan spiritual adalah yang tertinggi dari semuanya, dan ketika mereka terpuaskan, maka ada kedamaian bahkan jika yang lain tidak terpuaskan; tetapi ketika kebutuhan spiritual tidak terpenuhi, maka bahkan jika yang lain terpuaskan secara melimpah, tidak akan ada kedamaian. Oleh karena itu, kepuasan ketiga kebutuhan tersebut menjadi sebagai satu hal yang perlu. 

“Ketika kebutuhan spiritual terpenuhi, mereka mengarahkan seseorang untuk menyelaraskan dengan mereka akan kepuasan kebutuhan lain seseorang juga, sehingga kepuasan jiwa maupun tubuh tidak bertentangan dengan kehidupan spiritual, tetapi membantunya; dan kemudian ada keselarasan penuh dalam diri seseorang dari semua gerakan dan pengungkapan hidupnya, keselarasan pikiran, perasaan, keinginan, usaha, hubungan, kesenangan. Dan inilah Firdaus!” (hal. 65). 

Di zaman kita sekarang, unsur utama yang hilang dari keselarasan ideal kehidupan manusia ini adalah sesuatu yang bisa disebut perkembangan emosional jiwa. Ini adalah sesuatu yang tidak secara langsung bersifat spiritual, tetapi sangat sering menghambat perkembangan spiritual. Ini adalah keadaan seseorang yang, sementara dia mungkin berpikir dia haus akan perjuangan spiritual dan kehidupan doa yang tinggi, tidak mampu menanggapi cinta dan persahabatan manusia yang normal; karena Jika seseorang berkata, "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (I Yohanes 4:20) 

Pada beberapa orang cacat ini ada dalam bentuk yang ekstrim; tetapi sebagai suatu kecenderungan itu hadir sampai batas tertentu dalam diri kita semua yang telah dibesarkan di gurun emosional dan spiritual zaman kita.

Karena itu, seringkali kita perlu merendahkan dorongan dan perjuangan spiritual kita dan menguji kesiapan manusiawi dan emosional kita untuk itu. Kadang-kadang seorang bapa rohani akan melarang anak rohaninya membaca beberapa buku spiritual dan memberinya novel Dostoevsky atau Dickens, atau akan mendorongnya untuk menjadi akrab dengan jenis musik klasik tertentu, bukan dengan tujuan "estetis" dalam pikiran—untuk seseorang agar dapat menjadi "ahli" dalam hal-hal seperti itu dan bahkan "berkembang secara emosional" tanpa minat sedikit pun pada perjuangan spiritual, karena hal itu juga merupakan keadaan yang tidak seimbang - tetapi semata-mata untuk memperbaiki dan membentuk jiwanya dan membuatnya lebih siap untuk memahami teks-teks spiritual yang asli.

Uskup Theophan, dalam nasihatnya kepada seorang wanita muda yang sedang mempersiapkan untuk masuk di kehidupan monastik, mengizinkannya untuk membaca (di samping buku-buku non-spiritual lainnya) novel-novel tertentu yang “direkomendasikan oleh orang-orang yang yang telah membacanya sebagai mengarahkan kepada kebaikan” (What the Spiritual Life Is, hlm. 252): Dengan pemikiran ini, kolom baru di “Orthodoks Amerika” ini akan merekomendasikan dan memperkenalkan karya sastra dan seni tertentu (tidak termasuk bentuk seni modern dari film) yang dapat digunakan dalam pembentukan jiwa, khususnya kaum muda, dalam sikap dan emosi dasar manusia yang dapat mengarahkan mereka untuk memahami dan mengejar hal-hal yang lebih tinggi dari kehidupan spiritual. 

Hieromonk Seraphim

https://stnektariosroc.org/2014/10/forming-soul-spirit-soul-body/