Rabu, 02 Agustus 2023

Karpet Elang Sebagai Simbol Pelayanan Uskup


Karpet Elang Sebagai Simbol Pelayanan Uskup

oleh Reader John Nichiporuk

Ibadah Orthodoks adalah salah satu praktik agama Kristen terkaya dalam hal simbolismenya. Selain teks dan ritual liturgi, tradisi Orthodoks juga diwariskan melalui berbagai aksesoris gereja. Kelimpahan keseluruhan benda-benda liturgi di gereja Orthodoks mungkin mengejutkan petobat baru atau mereka yang tertarik dengan Orthodoksi, tetapi begitu banyaknya benda-benda suci yang nyata ini menegaskan kebaikan materi yang diciptakan Alah. Allah Sendiri mengambil daging manusia, memasuki dunia materi dan menguduskannya, menjadikannya sarana komunikasi dengan diri-Nya. Mari kita cermati salah satu alat liturgi semacam itu, mengingat kembali sejarah kemunculannya di Gereja, serta mencoba memahami makna tersembunyi di baliknya.

Apa itu karpet elang? Elang berkepala dua adalah simbol kerajaan kuno dan lambang negara Bizantium. Lambang ini digambarkan di atas takhta kerajaan, karpet, dan bahkan sepatu kaisar Orthodoks. Sejak abad ke-13, Kaisar biasa memberikan hak kepada Patriarkh Konstantinopel, Aleksandria, dan Antiokhia untuk memakai sepatu dengan lambang kerajaan sebagai penghargaan kehormatan khusus. Seiring waktu, elang kekaisaran mulai disulam pada karpet bundar atau persegi panjang khusus, yang sekarang disebut karpet elang, sebagai tempat berdiri bagi mereka yang telah terpilih sebagai Patriarkh, untuk menunjukkan iman Orthodoks mereka kepada seluruh dunia. Karpet Elang juga digunakan pada saat-saat ibadah lainnya, khususnya saat seruan doa awal Uskup. Selain itu, Uskup akan berdiri di atas karpet ini dan membungkuk untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan gereja. Di beberapa gereja, Karpet elang ditata dengan mozaik atau barang lain tepat di lantai di tengah-tengah Ruang Bahtera/ Nave (ruang untuk umat beriman). Ketika Kekaisaran Romawi Orthodoks runtuh di bawah serangan Turki, elang kerajaan tetap dipelihara oleh Patriarkh Konstantinopel, dan juga menjadi lambang Kerajaan Moscow muda. Menjadi atribut kaisar pertama, dan kemudian Patriarkh, karpet elang akhirnya menjadi atribut liturgi integral dari setiap Uskup Orthodoks. Apa makna tersembunyi dari obyek liturgi ini?

Karpet elang Rusia digambarkan bukan berkepala dua, tetapi elang biasa, yang segera mengingatkan kita pada elang surgawi, makhluk misterius, yang dilihat oleh Rasul Suci Yohanes Sang Theolog dalam penglihatan kenabiannya. Makhluk ini, bersama dengan tiga makhluk lainnya, berdiri di tengah-tengah dan di sekitar takhta Allah semesta alam, dan mereka tidak berhenti siang dan malam berseru, Kudus, kudus, kuduslah, Tuhan Allah yang Maha Kuasa, yang sudah ada  dan yang ada dan yang akan datang (Wahyu 4: 8). Seorang uskup juga harus, seperti elang surgawi, tanpa lelah memuliakan Kristus Sang Juruselamat melalui pekerjaan dan perkataannya siang dan malam. Elang adalah simbol Rasul Yohanes, yang menulis Injil yang paling luhur dan berorientasi theologis, dan sering digambarkan dengan lingkaran cahaya halo dan sinar gemilang, sehingga setiap uskup yang berdiri di atas karpet elang haruslah seorang theolog; theologi yang benar pertama dan terutama dimanifestasikan dalam kesucian hidupnya. Ketika seorang Uskup melangkah ke atas karpet elang, itu adalah pengingat khusus akan tugas besar, menakutkan, dan bertanggung jawab dari seorang imam agung. Saat berdiri di atas elang, uskup menyerupai Allah sendiri, yang duduk di atas makhluk-makhluk itu, yang terlihat jelas pada ikon Kristus Tuhan Semesta Alam. Seorang uskup adalah ikon Kristus dalam Gereja dan, seperti yang dikatakan St. Ignatius dari Antiokhia († 108), “Uskup harus dipandang sebagai Tuhan sendiri” (Surat Efesus 6). Orang-orang yang percaya mula-mula mengira bahwa elang adalah satu-satunya burung yang dapat melihat langsung ke matahari, dan juga dapat melihat mangsa di tanah dari ketinggian saat terbang. Uskup harus meniru elang dalam hal ini, setiap saat tetap memandang Yesus Kristus, Sang Surya Kebenaran, dan membersihkan hatinya dengan segala cara yang mungkin, karena hanya yang "murni hatinya akan melihat Allah" (lih. Mat 5: 8), seperti yang Tuhan katakan. Murnikanlah jiwanya agar bisa melihat Tuhan, seorang uskup tidak boleh hanya sibuk dengan kehidupan bathinnya, karena dia bukan hanya seorang biarawan, tetapi dipanggil untuk mengatur Gereja dan melihat apa yang terjadi dengan kawanannya.

Kawanan dan Gereja yang dilayani oleh Uskup dilambangkan dengan kota bersulam dengan dinding di atas karpet elang. Di zaman kuno, kota adalah pusat kehidupan Kristen dan hampir setiap kota memiliki tahta Uskupnya sendiri. Seorang Uskup, seperti elang, harus terbang tinggi di atas kota, melindunginya dari musuh eksternal dan kekacauan internal. Kota itu dikelilingi tembok, yaitu orosis yang tak tertembus (Yunani: ρος - border, batas) dari dogma Orthodoks yang diadopsi di Konsili Ekumenis, pilar kebenaran yang tak tergoyahkan ini. Tanpa tembok, kota mana pun bisa runtuh, jadi tugas utama uskup adalah menjaga dan memelihara iman yang dipercayakan kepadanya oleh para rasul.

Jadi, inilah makna Kristiani dari karpet yang tampak sederhana dengan gambar elang. Itu juga mengingatkan kita pada masa lalu kita, sejarah Gereja kita, yang terkait erat dengan Byzantium, bahkan ada yang menyebut Gereja Orthodoks "Byzantium setelah Byzantium". Karpet elang menunjukkan kepada kita betapa mengerikan dan suci tanggung jawab yang harus dipikul seorang Uskup di pundaknya dan kita harus dengan hormat memperlakukan pelayanan khusus ini. Karpet elang juga mengingatkan siapa Uskup itu yang harus dimuliakan siang dan malam, seberapa tinggi kesucian dia dipanggil dan seberapa suci yang mungkin dia capai. Di Gereja Orthodoks, bahkan Karpet Uskup sederhana bisa menjadi sarana untuk mengkhotbahkan Kristus.

Diterjemahkan oleh Reader Ireneus dari:

https://blog.obitel-minsk.com/2019/11/eagle-rug-as-a-symbol-of-bishops-ministry.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar