Kamis, 12 Mei 2022

PANDUAN WARNA LITURGI DI GEREJA ORTHODOKS

PANDUAN WARNA LITURGI DI GEREJA ORTHODOKS

Sepanjang tahun, Saudara mungkin memperhatikan bahwa "skema warna" gereja Orthodoks berubah-ubah. Jubah imam berubah dari satu warna ke warna lain, seperti halnya kain altar dan kain lain yang digunakan di seluruh Gereja. Di Gereja Orthodoks Timur, warna-warna ini menandai pesta dan musim tahun liturgis. Dan setiap warna memiliki makna tersendiri. Dalam panduan ini, kami memandu Saudara melalui setiap warna liturgi, dimulai dengan warna yang paling sering kita lihat: emas.

EMAS


Emas adalah warna liturgi untuk musim umum tahun Orthodoks. Dengan kata lain, setiap kali kita tidak menggunakan warna lain – seperti ungu, merah, atau hijau – kita menggunakan emas. Karena itu, Saudara akan melihat kain liturgi emas di gereja lebih sering daripada warna lain sepanjang tahun.

Kain emas menghiasi gereja dari Natal hingga Epiphany, dan di beberapa tempat, selama puasa Natal. Selain itu, kita menggunakan warna emas liturgi untuk setiap pesta** atau hari memperingati Tuhan kita Yesus Kristus, para Nabi, Rasul, dan Hierarki Suci. 

BIRU



Imam Orthodoks mengenakan jubah biru dan menghiasi Gereja dengan kain biru untuk semua pesta dan puasa yang memperingati Sang Theotokos, Kuasa Tak Berjasad Jasmani, dan Para Perawan Suci. Gereja Orthodoks juga menggunakan warna ini untuk Hari Raya Penyerahan Tuhan, Kabar Sukacita, dan dalam beberapa tradisi, Jumat kelima masa Prapaskah (Akathist).





MERAH

Warna liturgi lain yang sering digunakan di Gereja Orthodoks adalah merah, warna darah. Kita mendekorasi gereja dengan kain merah, dan Imam mengenakan jubah merah, untuk waktu-waktu berikut:

• Setiap hari raya dan hari memperingati Salib

• Puasa dan pesta St. Petrus dan Paulus (Juni)

• Puasa Adven (November dan Desember)

• Hari raya para martir suci

• Kamis Agung dan Suci (merah tua)

• Paskah dan Natal (di Moscow, di Gunung Athos, dan di Yerusalem)

Di beberapa tempat, oranye atau karat menggantikan warna merah selama puasa St. Petrus dan Paulus. Dan di tempat lain, mereka juga terus memakai warna oranye/karat melalui Hari Raya Transfigurasi (Agustus).


HIJAU

Selanjutnya, kita menggunakan jubah dan kain hijau untuk menandai hari raya Pentakosta (dan hari raya sesudahnya) dan Minggu Palma, serta hari-hari memperingati malaikat, nabi, biarawan Suci, pertapa, dan Yang Bodoh bagi Kristus.

Di beberapa tempat, warna hijau dipakai untuk Pengangkatan Salib Suci pada bulan September. Dalam praktek Carpatho-Rusia, hijau dipakai dari Pentakosta sampai Puasa St. Petrus dan Paulus.



 

 

HITAM / UNGU


Hitam dan/atau ungu adalah warna liturgi untuk Prapaskah. Dalam beberapa tradisi, Imam akan menggunakan warna biru tua, hijau tua, atau merah tua. Secara tradisional, ungu hanya dikenakan pada akhir pekan, sedangkan hitam (dengan ornamen berwarna) dikenakan selama hari-hari puasa, terutama selama Pekan Suci. Namun, di beberapa tempat, Imam mengenakan pakaian ungu pada hari kerja dan emas pada akhir pekan selama Masa Prapaskah Agung.




 

 

PUTIH

Warna terakhir dalam siklus liturgi Gereja Orthodoks adalah putih. Sebagai warna kematian (dan kebangkitan) dalam tradisi Timur, kita menggunakan warna putih untuk pemakaman dan upacara peringatan. Selain itu, para imam Orthodoks mengenakan pakaian putih untuk pesta dan setelah perayaan Epifani, Transfigurasi, dan Paskah. Di beberapa tempat, warna putih juga dikenakan pada hari Natal.



 

 

**Harap diperhatikan bahwa ketika kita mengatakan “pesta”, kita memasukkan periode dari Sembahyang Kawal Malam dari Pesta Perayaan tersebut sampai apodosisnya. Panjang pasca-pesta ini bervariasi, dan Saudara dapat menemukannya di Kalender dan Rubrik Liturgi. Secara umum, untuk masing-masing dari dua belas hari raya besar ada satu hari raya pasca-pesta sekitar satu minggu.

 https://www.saintjohnchurch.org/orthodox-liturgical-colors/

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar