Senin, 21 Februari 2022

ASPEK KANONIK BERKENAAN DENGAN PENERIMAAN GEREJA AFRIKA KE DALAM GEREJA ORTHODOKS RUSIA

 



ASPEK KANONIK BERKENAAN DENGAN PENERIMAAN GEREJA AFRIKA KE DALAM GEREJA ORTHODOKS RUSIA

Romo George Maximov

Pada Sinode Gereja Orthodoks Rusia baru-baru ini, yang berlangsung pada tanggal 23-24 September 2021, membahas “konsekuensi dari perayaan Liturgi Pemimpin Patriarkhat Alexandria bersama dengan kepala struktur skismatis yang aktif di Ukraina” (jurnal No. 61). Resolusi yang disahkan ditafsirkan oleh banyak orang mengatakan bahwa Gereja kita akan segera menerima ke dalam yurisdiksinya para imam Afrika dari Patriarkhat Alexandria yang sebelumnya telah berbicara kepada Patriarkhat Moskow dengan permintaan untuk diterima di bawah omoforionnya, setelah Patriarkh Theodoros dari Alexandria mengakui skismatis OCU tersebut pada tanggal 8 November 2019.

Sudah ada langkah untuk menerima Klerus Afrika

Dan meskipun jelas, keputusan akhir hanya akan dikeluarkan pada sesi Sinode berikutnya, sudah dapat dikatakan bahwa langkah pasti menuju keputusan positif untuk menerima klerus Afrika telah dibuat.

Banyak orang di Rusia bersukacita atas berita ini, tetapi ada juga yang merasa terganggu dengan hal itu. Sebagian, mereka memiliki pertanyaan tentang apakah ini sesuai dengan kanon, dan apakah itu tidak akan berubah menjadi invasi yang tidak dapat dibenarkan ke wilayah kanonik Gereja Lokal lain. Dalam artikel ini, saya ingin memberikan jawaban atas kekhawatiran tersebut.

Pada dasarnya, ada dua pertanyaan di sini:

1. Dapatkah Gereja Orthodoks Rusia membuat yurisdiksinya sendiri di Afrika ketika Patriarkh Aleksandria menganggap Afrika sebagai wilayah kanoniknya?

2. Dapatkah Gereja Orthodoks Rusia menerima, dalam situasi historis saat ini, di mana Klerus dari Patriarkhat Aleksandria tanpa mereka memiliki dokumen pelepasan dari hierarki mereka?

Saya telah mengatakan di depan bahwa saya secara pribadi akan menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan positif, dan di bawah ini akan saya paparkan apa yang menjadi dasar jawaban saya.

Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama. Sampai awal abad kedua puluh, gelar Patriarkh Alexandria terdengar seperti ini: "Paus dan Patriarkh Kota Alexandria, Libya, Pentapolis, Ethiopia, dan seluruh Mesir". Ini adalah wilayah kanonik yang secara tradisional dan umum diterima dalam Orthodoksi Patriarkhat Alexandria. Mesir, Libya, Ethiopia—dan itu saja. Dan menurut kanon keenam dari Konsili Ekumenis Pertama dan kanon kedua dari Konsili Ekumenis Kedua, otoritas uskup Aleksandria meluas tidak lebih dari “seluruh Mesir”. Hal ini terkait dengan fakta bahwa secara historis di benua Afrika terdapat beberapa Gereja Lokal: Gereja Aleksandria, Karthago, dan Ethiopia. Dan hanya setelah Gereja Ethiopia jatuh ke dalam Monofositisme, dan Gereja Karthago menghilang di bawah serangan Arab, Gereja Aleksandria tetap menjadi satu-satunya Gereja Orthodoks di Afrika—mengklaim hanya wilayah utara tertentu saja sebagai wilayah kanoniknya.

Hanya Meletius (Metaksakis) dari ingatan yang menyedihkan, yang menduduki tahta Aleksandria dari tahun 1926 hingga 1935, yang menambahkan kata-kata "dan Seluruh Afrika" pada gelarnya. Perluasan yang serius dari yurisdiksi Patriarkhat Aleksandria ini bukanlah hasil diskusi Pan-Orthodoks atau keputusan konsili, tetapi hanya keputusan sepihak dari satu tokoh sejarah yang ambigu. Selain itu, klaim ini hanya bertahan lama di atas kertas, dan hanya beberapa dekade kemudian, pada paruh kedua abad kedua puluh, orang Yunani memulai pekerjaan misionaris di antara penduduk asli sejumlah negara Afrika (di sejumlah negara di benua Afrika masih belum ada satu pun paroki Gereja Alexandria).

Dapat dimengerti bahwa mengingat peristiwa dramatis abad kedua puluh, Gereja Lokal lainnya tidak punya waktu untuk membahas yurisdiksi Afrika, apalagi terlibat dalam konflik apa pun di atasnya. Meskipun, saya telah mendengar bahwa Patriarkh Konstantinopel mengakui yurisdiksi Gereja Aleksandria atas seluruh Afrika hanya pada tahun 1970-an sebagai imbalan pemindahan Eksarkhat Aleksandria di Amerika ke yurisdiksi Konstantinopel.

Tentu saja, tidak satu pun di atas yang menggerakkan Gereja Orthodoks Rusia untuk membuka yurisdiksinya sendiri di Afrika; kami hanya menyediakan ekskursus sejarah singkat. Namun demikian, pantas untuk mengingat semua ini karena sekarang beberapa hierarki Yunani dari Patriarkhat Aleksandria memberi tahu Klerus mereka bahwa seharusnya Afrika selalu menjadi milik Gereja Aleksandria, dan hanya mereka yang dapat melakukan apa pun di sana. Ini tidak benar.

Tetapi alasan tindakan Gereja Orthodoks Rusia adalah pengakuan OCU yang disebutkan di atas oleh Patriarkh Alexandria pada tanggal 8 November 2019. Di sini juga tepat untuk menyebutkan bahwa sebenarnya sudah ada paroki Rusia di sejumlah negara Afrika. Mayoritas umat mereka adalah orang-orang dari negara-negara tanggung jawab kanonik Gereja Orthodoks Rusia; gereja-gereja ini dibangun oleh orang Rusia, dan para imam Rusia telah melayani di dalamnya—tetapi pada saat Liturgi mereka memperingati Patriarkh Aleksandria dan hierarki Yunani lokal di yurisdiksi mereka.

Ada orang Kristen Orthodoks Rusia di Afrika yang menolak untuk pergi ke paroki di Gereja Alexandria

Tindakan berbahaya Patriarkh Theodoros, yang sebelumnya mendukung Gereja Ortodoks Ukraina kanonik, telah menempatkan Gereja Rusia dalam situasi yang rumit. Ia telah beberapa kali memperingatkan umatnya terhadap persekutuan dengan skismatis, dan sekarang ada situasi di mana kaum awam yang dibaptis dan klerus yang dikirimnya ke Afrika dapat masuk ke dalam persekutuan dengan skisma melalui doa dan Perjamuan Ekaristi dengan Patriarkh dari Alexandria, yang telah menerima organisasi skismatis ini seolah-olah itu adalah Gereja. Dan ini bukan masalah fana; Saya pribadi mengenal orang-orang Kristen Orthodoks Rusia yang tinggal di Afrika yang, setelah tindakan Patriarkh Theodoros yang disebutkan di atas, menolak untuk menghadiri paroki-paroki Gereja Aleksandria.

Maka, untuk melindungi orang-orang ini dari persekutuan dengan para skismatik, Sinode Gereja Orthodoks Rusia, pada tanggal 26 Desember 2019, mengakui ketidakmungkinan memperingati Patriarkh Theodoros dari Alexandria di Dyptichs, atau doa dan persekutuan Ekaristi dengan dia, memutuskan untuk mengubah status "Perwakilan Patriarkh Moskow dan Seluruh Rusia di bawah Patriarkh Alexandria" menjadi paroki Gereja Orthodoks Rusia di Kairo; untuk mengambil paroki-paroki Gereja Orthodoks Rusia yang terletak di Benua Afrika dari yurisdiksi Patriarkhat Aleksandria, dan memberi mereka status stavropegik” (Jurnal No. 151).

Ini menandai pembukaan resmi yurisdiksi Gereja Orthodoks Rusia di Afrika. Secara de jure dan de facto telah ada selama hampir dua tahun dalam bentuk ini. Khususnya, pada saat itu tidak menimbulkan pertanyaan membingungkan yang muncul sekarang. Praktis semua resolusi yang diberikan diterima sebagai hal yang biasa.

Jika kita melakukan ini untuk orang Rusia yang tinggal di Afrika, lalu mengapa tidak untuk orang Afrika?

Sementara itu, sejumlah permintaan mulai dikirimkan kepada Yang Mulia Patriarkh Moskow dari Klerus Patriarkhat Aleksandria yang juga mengungkapkan keinginan mereka untuk melindungi diri mereka sendiri dan umat paroki mereka dari persekutuan dengan skismatis. Dan di sini muncul pertanyaan: Jika kita telah melakukan ini untuk orang Rusia yang tinggal di Afrika, lalu mengapa kita harus menolak permintaan serupa dari orang Afrika? Karena warna kulit mereka? Ini akan menjadi rasisme, dan Gereja Orthodoks Rusia pada prinsipnya menentang rasisme.

Tidak ada halangan apa pun untuk menerima kaum awam Afrika ke dalam Gereja Orthodoks Rusia. Tetapi ketika kita berbicara tentang Klerus, maka pertanyaan yang mungkin muncul tentang seberapa besar seorang Klerus bergantung pada hierarki yang berkuasa. Dan dalam situasi biasa, tanpa dokumen pelepasan dari hierarkinya, seorang Klerus tidak dapat dipindahkan ke mana pun.

Tetapi bagaimana jika hierarkinya telah masuk ke dalam persekutuan dengan skismatik? Situasi ini tidak biasa, tetapi inilah yang terjadi di Afrika. Saya mengingatkan bahwa para bapa suci dengan suara bulat mengajarkan bahwa tidak mungkin diselamatkan apabila masuk dalam Skisma/ Perpecahan, dan bahwa Slisma adalah kemurtadan dari Gereja dan jalan menuju kehancuran.

“Jangan tertipu, saudara-saudaraku! Siapapun yang mengikuti jalan skisma maka dia tidak akan mewarisi Kerajaan Allah”, tulis Martir AgungIgnatius yang suci Pemgemban Allah.1

Dan St. Agustinus berkata:

“Kami percaya pada Gereja Katolik yang kudus. Namun, bidat dan skismatik juga menyebut komunitas mereka gereja. Tetapi dalam pemikiran mereka yang salah tentang Allah, para bidat menyimpangkan iman itu sendiri; dan dengan perpecahan/ Skisma, mereka yang melanggar hukum, para skismatis menyimpang dari kasih persaudaraan, meskipun mereka percaya pada hal yang sama seperti kita. Oleh karena itu, baik bidat maupun skismatik tidak termasuk dalam Gereja Ekumenis, yang mencintai Allah, dan juga skismatik tidak termasuk di dalamnya.”2

Dan Hieromartir Suci Hilarion (Troitsky) menulis:

“Kami tahu dan yakin bahwa kemurtadan dari Gereja, baik itu skisma, bidat, atau sektarianisme, adalah kehancuran total dan kematian rohani. Jika Kristus menciptakan Gereja, dan Gereja adalah tubuh-Nya, maka melepaskan diri dari Tubuh-Nya berarti kematian.”3

Jadi, perpecahan sama sekali bukan masalah sepele atau perselisihan administratif, karena Patriarkh Theodoros sekarang mencoba untuk menyajikannya kepada para Klerus Afrika. Skisma adalah jalan lurus ke neraka. Dan jika kita pergi ke kanon Gereja, maka kita melihat bahwa kanon kedua dari Konsili Antiokhia mengatakan:

“Tidak diperbolehkan bersekutu dengan orang-orang yang diekskomunikasi, atau memasuki rumah mereka dan berdoa dengan mereka yang berada di luar persekutuan gerejawi: Mereka yang telah mengasingkan diri dari kumpulan dari Gereja yang satu tidak boleh diizinkan masuk ke gereja lain. Jika salah seorang dari para uskup, presbiter, diakon, atau klerus lain ditemukan berhubungan dengan orang yang diekskomunikasi, mereka sendiri harus berada di luar persekutuan gereja.”

Menurut kanon ini, masuk ke dalam persekutuan dengan skismatik membuat mereka yang melakukannya diekskomunikasi dari persekutuan gerejawi; yaitu, mereka ternyata berada dalam situasi yang sama sehubungan dengan Gereja dengan para skismatis yang dengannya mereka masuk ke dalam persekutuan tersebut. Kami berbicara, saya tekankan, bukan tentang pelanggaran kanonik apa pun, tetapi tentang sesuatu yang membawa seseorang keluar dari Gereja dan menghilangkan harapan keselamatannya—dan itu hanya berlaku untuk bidat dan skisma.

Menurut pendapat mereka yang mengajukan pertanyaan yang dibahas di sini, seorang klerus hanya dapat melepaskan diri dari uskupnya karena kebidatan uskup itu. Dan bahkan dalam kasus skisma yang mengancam, dia seharusnya tidak meninggalkannya. Namun, akan sulit bagi saya untuk menyebut posisi seperti itu sebagai sesuatu yang sesuai dengan eklesiologi Orthodoks. Karena dengan demikian kita akan memiliki kaum awam yang, menurut ajaran Patristik, tidak boleh mengikuti seorang imam yang mengalami skisma, sedangkan seorang imam apakah harus mengikuti hierarkinya ke dalam skisma? Absurditas seperti itu sama sekali tidak bisa disebut "pendekatan kanonik". Saya mengingatkan bahwa dalam kata-kata St. Yohanes Krisostomos, “Membuat skisma di Gereja tidak kurang dari kejahatan daripada jatuh ke dalam bidat … dosa skisma tidak dapat dibersihkan bahkan dengan darah kemartiran.”4

Ada kesaksian yang menyamakan bidat dengan skismatik dalam kanon enam dari Konsili Ekumenis Kedua, di mana dikatakan:

“Dan yang kami maksud dengan bidat adalah mereka yang sebelumnya diusir, dan mereka… yang mengaku memegang iman sejati tetapi yang telah memisahkan diri dari uskup kanonik kita, dan mendirikan kelompok mereka sendiri untuk menentang [uskupnya].”

Gagasan bahwa seorang klerus harus mengikuti langkah uskupnya ke dalam skisma bertentangan dengan kanon kedua Konsili Antiokhia yang dikutip di atas. Dalam pemenuhan kanon ini, Gereja kita telah memutuskan persekutuan Ekaristi dengan Patriarkh Aleksandria. Di sini kita tidak berbicara tentang pemaksaan atau pelanggaran pribadi oleh hierarki tertentu, tetapi tentang posisi resmi Pemimpin Gereja. Patriarkh Theodoros mengumumkan pengakuannya terhadap struktur skismatis dan secara terbuka mengadakan persekutuan dan konselebrasi dengan para skismatik.

Sinode telah bersaksi bahwa ada perpecahan di antara Gereja-Gereja

Sinode Gereja Orthodoks Rusia pada tanggal 24 September 2021 memutuskan bahwa dengan tindakan ini, Patriarkh Theodoros “semakin memperdalam perpecahan di antara Gereja-Gereja kita”. Saya ingatkan bahwa status Sinode adalah dewan kecil para uskup. Artinya, telah memberikan kesaksian konsili bahwa antara Gereja kita dan Gereja Alexandria ada skisma/perpecahan. Dan jika kita telah mengakui hal ini, lalu bagaimana kita bisa berargumentasi mendukung penolakan klerus yang ingin menjaga diri dari skisma?

Menurut kanon kedua Konsili Antiokhia, klerus di bawah Patriarkh Theodoros harus berada di luar persekutuan dengan pemimpin semacam itu. Namun, menurut kanon, seorang imam tanpa uskup tidak dapat melayani. Jika seorang uskup ditemukan di Patriarkhat Aleksandria yang akan menentang tindakan Patriarkh yang memasuki persekutuan dengan para skismatis, maka para klerus itu seharusnya mengajukan banding kepada uskup itu.

Tetapi seperti yang dicatat oleh Sinode kami dalam resolusinya, “Saat ini, tidak ada hierarki Gereja Orthodoks Aleksandria yang menolak untuk menyetujui tindakan Patriarkh Theodoros dalam mendukung skisma di Ukraina.” Setelah keputusan Sinode, Metropolitan Panteleimon (Lampadirios) dari Andinois menyatakan posisinya:


“Keputusan Patriarkhat Ekumenis dan Aleksandria sehubungan dengan pengakuan autokephali dari 'Gereja Orthodoks Ukraina' adalah tidak kanonik dan bertentangan dengan kanon suci Gereja Orthodoks. Sayangnya, keputusan ini telah menciptakan lebih banyak masalah tidak hanya di Ukraina, tetapi di seluruh dunia Orthodoks, terutama di Afrika… Adapun para imam Tanzania yang ingin bergabung dengan Gereja Orthodoks Rusia, ini adalah masalah yang harus mereka putuskan sendiri. Satu-satunya cara untuk mengatasi konflik ini adalah melalui pertobatan sejati di pihak Patriarkh Bartholomeus dan Theodoros, dan Uskup Agung Hieronymos dari Athena. Mereka harus mencabut keputusan kanonik mereka dan memulihkan perdamaian dan persatuan di dalam Gereja. Jika tidak, mereka akan menghadapi Penghakiman yang Mengerikan dari Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus, karena ini telah menjadi pencobaan bagi umat beriman.”5


Metropolitan menuntut agar klerus Tanzania menandatangani dokumen untuk mendukung tindakan Patriarkh Theodoros

Pernyataan berani dari hierarki Gereja Orthodoks Aleksandria ini patut dihormati; Namun, Metropolitan Panteleimon sudah pensiun dan bukan hierarki yang berkuasa lagi. Dia juga tidak mengambil tindakan apa pun untuk mengumpulkan para uskup Afrika di sekitar dirinya. Jika kita berbicara tentang hierarki yang berkuasa, maka tidak satu pun dari mereka yang mengeluarkan pernyataan seperti itu. Meskipun, sebagai salah satu contoh—ketika saya bertemu di awal tahun 2020 dengan Metropolitan Jonah (Luanga) dari Uganda yang baru saja diberhentikan, dalam percakapan pribadi dia mengakui kepada saya bahwa dia dengan tegas tidak menyetujui tindakan Patriarkh Theodoros terkait masalah Ukraina. Tapi dia tidak mengumumkan posisinya, seperti beberapa hierarki Gereja Alexandria lainnya yang khawatir akan kehilangan bantuan keuangan dari Yunani karena pendapat mereka yang berlawanan. Selain itu, hierarki lain telah membedakan diri mereka sebagai pendukung yang bersemangat untuk mengakui skismatis Ukraina,6 dan juga mulai menganiaya dan melecehkan klerus mereka yang menandatangani “Surat Terbuka Para Imam Patriarkhat Aleksandria”.7 Fr. David Lakvo diberhentikan dari posisinya sebagai rektor dan sebagai direktur sekolah Orthodoks, dikeluarkan dengan tidak hormat, dan dibiarkan tanpa mata pencaharian. Fr. Ambrose Chavalu dan sejumlah klerus Tanzania lainnya "diundang dengan karpet merah " oleh metropolitan Yunani mereka, yang menuntut agar mereka menandatangani dokumen persetujuan pengakuan Patriarkh Theodoros atas OCU. Ketika klerus ini menolak, mereka juga diusir dari gereja mereka dan dipindahkan dari posisi mereka. Selain itu, ancaman disuarakan bahwa mereka akan dianiaya lebih lanjut bahkan sampai ke titik pembalasan fisik.

Bisakah kita benar-benar menolak untuk menerima para Romo Afrika yang malang ini yang telah menderita karena mereka menyatakan dukungan mereka untuk Gereja kita?

Saya menulis ini bukan untuk mengutuk hierarki Gereja Aleksandria, tetapi hanya untuk menggambarkan situasi di mana para imam Afrika ini sekarang menemukan diri mereka sendiri. Tentu saja, tidak semua dari mereka menyadari peristiwa tragis dalam masyarakat Orthodoks Ukraina; Ukraina sangat jauh dari Afrika, dan tidak setiap imam lokal memiliki akses ke internet. Namun demikian, tidak sedikit Romo yang tahu apa yang sedang terjadi, dan ingin menjaga diri mereka sendiri dan kawanan mereka dari persekutuan dengan skismatis.

Apa yang harus mereka lakukan?

Karena hierarki penguasa yang dengan tegas menolak jalan skisma belum ditemukan di Gereja Alexandria, maka satu-satunya kemungkinan yang tersisa bagi para klerus ini adalah beralih ke uskup Gereja kanonik lain yang telah menjaga dirinya agar tidak masuk ke dalam skisma.

Oleh karena itu, mengingat ajaran Orthodoks tentang dosa skisma dan kanon kedua Konsili Antiokhia (seperti kanon apostolik kesepuluh, kesebelas, dan kedua belas) diterimanya klerus Afrika dalam situasi sekarang ke dalam Gereja Rusia (atau Gereja lain mana pun yang tidak berada dalam persekutuan dengan skismatis) adalah mungkin dan benar. Mungkin sebagai tindakan sementara—sampai Gereja Aleksandria dibebaskan dari persekutuan dengan para skismatis; atau mungkin secara permanen, dalam batas-batas yurisdiksi Gereja Orthodoks Rusia di Afrika yang sudah berdiri dua tahun lalu. Ini akan segera ditinjau dan diputuskan pada pertemuan Sinode, dan kemudian juga di Dewan Uskup.

Namun, saya ulangi bahwa gagasan menurut kanon, seorang klerus harus mengikuti pemimpinnya ke dalam skisma terdengar sama gilanya dengan gagasan bahwa seseorang harus mengikutinya ke dalam bidat "karena alasan ketaatan".

Tidak ada yang bisa mengkritik Gereja Orthodoks Rusia karena memiliki sedikit kesabaran

Dan meskipun sekarang banyak penutur bahasa Yunani yang berhubungan dengan Gereja Aleksandria sedang melontarkan kecaman murka kepada Gereja Rusia, mencoba membingkainya sebagai agresor, faktanya—seperti juga seluruh Orthodoksi—korban kecerobohan Patriarkh Konstantinopel Bartholomeus dan bahwa pemimpin dari hampir semua Gereja Yunani yang mendukung tindakannya yang melanggar hukum. Tidak ada yang bisa mengkritik Gereja Orthodoks Rusia karena memiliki kesabaran yang terlalu sedikit atau upaya dialog yang terlalu sedikit. Tetapi kesabaran dan kerendahan hati Kristen ini ditafsirkan oleh para penulis kebingungan ini sebagai tanda kelemahan, dan mereka terus memperdalam perpecahan. Hanya Gereja Rusia yang harus melindungi umatnya dari infeksi skisma yang mematikan dan mengulurkan tangan untuk membantu mereka yang ingin menjaga diri dan umat mereka dari bahaya. Ini telah terjadi dengan eksarkhat Rusia dan sejumlah klerus individu Patriarkhat Konstantinopel.

Sekarang giliran Afrika.

Para penulis kebingungan gerejawi ini hanya menyalahkan diri mereka sendiri. Selain itu, dasar ideologis tindakan skismatis Patriarkhat Konstantinopel sebenarnya adalah penerimaannya terhadap bidat papism baru,8 dan premis untuk gerakan para imam Afrika saat ini juga merupakan tindakan khusus para uskup Yunani di Afrika;9 tetapi saya sudah membahas tema-tema ini di artikel lain.

Adapun pertanyaan yang dikutip di awal artikel ini, saya harap saya telah berhasil menjelaskan mengapa saya secara pribadi menjawabnya dengan positif.

Romo George Maximov
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh OrthoChristian.com

Pravoslavie.ru

30/10/2021

 

1 Holy Hieromartyr Ignatius the God-Bearer. Epistle to the Philadelphians. // https://azbyka.ru/otechnik/Ignatij_Antiohijskij/poslanie-k-filadelfijtsam/

(Russian).

2 Blessed Augustine. On the Creed. https://azbyka.ru/otechnik/Avrelij_Avgustin/o-simvole-very/ (Russian).

3 Holy Hieromartyr Hilarion (Troitsky). On life in the Church and church life. // https://azbyka.ru/otechnik/Ilarion_Troitskij/o-zhizni-v-tserkvi-i-o-zhizni-tserkovnoj/ (Russian).

4 St. John Chrysostom. Exegesis on the Epistle to the Ephesianshttps://bible-teka.com/zlatoust/56/ (Russian).

5 Metropolitan Panteleimon (Lampadarios) of Antinois. https://zen.yandex.ru/media/id/5f244705fd3f2b5772973d28/edinstvennyi-sposob-preodolet-konflikt--istinnoe-pokaianie-patriarhov-varfolomeia-i-feodora-6167024e33373b5e80308676 (Russian).

6 https://www.ng.ru/ng_religii/2019-10-01/11_473_ukraina.html

7 https://pravoslavie.ru/126439.html

8 Priest George Maximov, “The Heresy of Constantinople Papism”. https://pravoslavie.ru/118507.html.

9 https://www.youtube.com/watch?v=9F1OklhFs-o

https://orthochristian.com/142656.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar