Arkhimandrit Tikhon (Shevkunov)
Kristus telah Bangkit!
Mungkin kisah hari ini tentang penyembuhan orang buta sangat penting bagi kita, bagi generasi kita. Ketika Sang Juruselamat berjalan di dekat orang buta itu — yang dikenal di seluruh Yerusalem — tetapi tidak menanyakan apa pun kepadanya, bahkan tentang imannya, ia melewatinya dan menyembuhkannya. Orang buta disembuhkan menjadi orang yang bisa melihat. Orang-orang Farisi mulai menginterogasinya, menanyakan siapa yang telah melakukan perbuatan sebaik ini baginya — sesuatu yang mereka sendiri tidak akan pernah bisa melakukannya.
Mereka membawa orang itu untuk diadili, menuduh Sang Juruselamat melakukan perbuatan besar ini pada hari Allah yaitu pada hari Sabbat. Karena tidak dapat menemukan satu kata pun untuk membantah Kebenaran yang bersinar cemerlang di hadapan mereka dalam mujizat yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, orang-orang Farisi yang tidak dapat menahan diri, dan dalam kecemburuan serta kemarahan mereka, mereka menghujat Allah dan Roh Kudus.
Beberapa orang bertanya, "Apa itu penghujatan terhadap Roh Kudus?" Dosa yang mengerikan ini dijelaskan dalam bacaan Injil hari ini: orang-orang Farisi melihat kuasa Allah yang dimanifestasikan dalam penyembuhan orang yang buta sejak lahir tetapi mereka dengan keras kepala menolak kuasa itu. Mereka berkata dengan mengejek, Berikan pujian pada Allah: kita tahu bahwa orang ini adalah orang berdosa. Tetapi orang yang disembuhkan itu berkata, Sekarang kita tahu bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya.
Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta.
Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian orang-orang Farisi mengusirnya dari sinagoga, dan mengasingkannya dari masyarakat Israel.
Dia dirampas semua hak-haknya. Sejak saat itu, menurut hukum Yahudi, tidak ada yang bisa bergaul dengannya, membantunya, atau hidup bersamanya. Ibu dan ayahnya tidak mengakuinya lagi.
Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku. (Mzm 27:10) ... Pada saat itu Sang Juruselamat Sendiri menemukan dia dan berkata kepadanya, Apakah engkau percaya kepada Anak Allah? Orang yang telah mendapatkan penglihatannya bertanya, Siapakah dia, Tuhan, supaya aku percaya padanya? Sang Juruselamat kemudian mengatakan kepadanya sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang Dia katakan kepada wanita Samaria minggu lalu: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" Orang buta yang terlahir buta itu tidak membutuhkan bukti lain. Dia menyembah Dia sebagai Tuhan dan berkata, Tuhan, aku percaya,
Bukan kebetulan bahwa minggu yang lalu Gereja Suci menekankan pernyataan yang sama dari sang Juruselamat kepada seorang wanita Samaria yang berdosa tetapi berhati murni. Kedua orang ini dalam Injil telah melihat Allah.
Kita semua adalah generasi orang yang lahir buta. Kita dilahirkan, sebagian besar, di luar iman kepada Tuhan. Menurut rencana awal di jaman dahulu, mata rohani kita seharusnya tetap tertutup sampai mati. Dan jutaan orang akan pergi ke kekekalan tanpa mengenal Allah, atau jiwa mereka sendiri, atau bahkan dunia spiritual itu sendiri. Semuanya dilakukan untuk memastikan bahwa kita, yang lahir buta dari orang tua yang sampai taraf tertentu lahir buta, akan tetap seperti itu selamanya.
Tetapi Allah melakukan mujizat bagi kita. Tanpa bertanya kepada kita apakah kita percaya atau tidak, tetapi sebaliknya mengetahui bahwa iman ini tidak ada di dalam kita, Tuhan mengurapi kita dengan tanah liat dan kesedihan seperti dengan rempah wangi yang suci, dan jutaan orang di negara kita disembuhkan. Mata rohani mereka terbuka.
Orang-orang sezaman kita, orang-orang buta yang disembuhkan seperti orang yang buta sejak lahir itu, di mana ia mengalami cobaan, interogasi, dan ejekan yang sulit oleh orang-orang Farisi pada zaman ini, dan banyak dari kita terputus dari masyarakat, teman dan saudara kita. Apa yang terjadi pada orang yang buta sejak lahir dalam Injil juga terjadi pada banyak dari kita.
Tetapi mengapa sang Juruselamat menyembuhkannya secara khusus? Mengapa mujizat Allah ini terwujud dalam diri orang ini, dan tidak kepada semua orang yang berdiri di dekatnya, yang sama-sama malang, terluka, atau sakit? Dua minggu lalu kita membaca dalam Injil bagaimana Sang Juruselamat menyembuhkan orang lumpuh. Orang itu haus dan berharap untuk memperoleh kesembuhan selama tiga puluh delapan tahun, tetapi orang yang buta sejak lahir bahkan tidak memiliki iman, karena dia tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Dia sama sekali tidak bisa melihat Tuhan; dia tidak melihat Dia yang berkata kepadanya, Pergilah ke kolam Siloam dan basuhlah dirimu. Sang Juruselamat menyatakan Keilahian-Nya kepada orang ini, karena Dia melihat pengakuannya yang berani di hadapan para musuh Kebenaran, musuh-musuh Allah.
Meski begitu, mengapa hanya satu orang disembuhkan, dan tidak ada orang lain? Mengapa Sang Juruselamat melewati kerumunan orang malang, miskin,, timpang, dan lumpuh, serta mengambil salah satu dari mereka, dan menyembuhkannya? Mengapa, dari jutaan dan milyaran orang yang dilahirkan buta hanya kawanan kecil saja yang dapat melihat secara rohani? Mengapa, dari ratusan negara berbeda yang hidup di dunia, hanya beberapa dari mereka yang mengakui Iman Orthodoks yang menyelamatkan?
Berbicara secara manusiawi, itu tidak adil. Berbicara secara manusiawi: Apa yang membuat orang buta lainnya lebih buruk daripada yang ini? Dan para orang lumpuh lainnya yang berbaring di tepi kolam Siloam — apa yang membuat mereka lebih buruk daripada orang lumpuh yang disembuhkan? Mengapa engkau dan saya (dan masing-masing dari kita tahu nilai keberadaan kita sendiri: tidak terlalu tinggi, tidak berharga) lebih baik daripada jutaan saudara-saudari kita di dunia ini, yang tidak diterangi oleh cahaya iman?
Bahkan selama kehidupan duniawi Sang Juruselamat, ketika Dia berjalan di bumi, Dia memilih hanya beberapa dari banyak orang ... yang Dia pilih. Hal yang sama terjadi sekarang. Bahkan dari semua bangsa itu bersama-sama, Tuhan memilih hanya mereka yang Dia pilih.
Jadi, siapakah yang dipilih oleh Sang Juruselamat?
Sebelum penderitaan-Nya, pada saat Perjamuan Terakhir, Dia berkata kepada murid-murid-Nya, Aku telah memilih kamu dari dunia (Yoh. 15:19). Kemudian, dalam doa Keimaman AgungNya, Dia berkata kepada Sang Bapa, ya Bapa yang Kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yaitu NamaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu (Yoh 17:11). Siapa mereka? Orang kaya dan hebat? Tentu saja tidak. Hanya orang miskin? Sekali lagi salah. Di antara yang dipilih Tuhan adalah orang-orang dari setiap kelas ekonomi. Atau mungkin mereka adalah orang-orang yang kaya akan hal lain — akal dan kebijaksanaan? Tidak ada yang semacam itu. Ada orang-orang bijak yang menyadari kelemahan pikiran mereka, dan ada orang-orang yang sama sekali tidak terpelajar, bahkan orang-orang bodoh yang suci, yang tiba-tiba dikirim pernyataan luar biasa kepadanya. Mungkin orang-orang ini kaya akan dosa, karena Tuhan diutus untuk menyelamatkan orang berdosa? Tetapi kita tahu bahwa semua orang berdosa di hadapan Allah. Atau mungkin mereka ini orang-orang yang kaya secara rohani? Ya, Tuhan menuntut iman orang-orang. Tetapi Dia menyembuhkan orang yang buta sejak lahir tanpa iman. Dia menyembuhkan orang yang sakit lumpuh, yang atap rumahnya dibuka dan dibongkarnya, dan orang lumpuh itu diturunkan di hadapan-Nya (lih. Mar. 2: 4), hanya karena iman otang-orang yang telah membawanya. Tetapi kita juga tahu bahwa iblis-iblis itu juga percaya, dan gemetar… Jadi siapa yang Tuhan pilih untuk menjadi ahli waris-Nya?
Rasul Paulus berkata dalam salah satu suratnya, namun aku hidup; tetapi bukan aku lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20). Inilah orang-orang yang dipilih Sang Juruselamat: mereka yang dapat menyangkal diri mereka dan menjadi tempat tinggal Allah.
Dengan kepedulian Allah yang tidak dapat dimengerti umat manusia, hanya orang-orang seperti itu yang dipilih, meskipun mereka mungkin lemah hati seperti orang lumpuh, yang mengkhianati Sang Juruselamat dua minggu lalu. Bahkan dia dapat mengatakan, jika hanya sekali dalam hidupnya, "Lihat — Kristus hidup di dalam aku." Dia bisa menjadi Bait Allah. Yudas juga merupakan Bait Allah pada satu waktu! Tetapi Allah akan menyerahkan orang-orang yang merusak bait Allah kepada kerusakan.
Aku hidup; tetapi bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Siapa pun yang telah dipilih oleh Tuhan dapat mengatakan hal yang sama. "manusia lama" disingkirkan, dan Kristus dilahirkan di dalam dia.
Namun, Kristus hidup di dalam kita dengan cara yang sama sekali bukan hanya spekulasi - tidak hanya dalam angan-angan kita. Ada banyak orang yang mengaku Kristen yang percaya pada Kristus dalam pikiran mereka: orang-orang di luar Gereja Para Rasul, dan GerejaNya Tuhan, dan mereka yang hanya berkata, ya, saya percaya pada Kristus, tetapi saya bukan milik Gereja. Ada orang yang berfilsafat tentang Kristus, yang membuat asumsi menerawang tentang Dia, dan ingin mendengar tentang Dia; tetapi kehidupan Kristus tidak ada di dalam mereka. Mereka berada di luar Tubuh Kristus, di luar Gereja Kristus. Karena itu, ternyata banyak orang yang telah mendengar tentang Kristus tetap hidup di luar tubuh-Nya, di luar Keilahian-Nya.
Tentu saja, kita membicarakan hal ini bukan untuk merasa sombong. Gereja Suci berbicara tentang orang-orang terpilih sebagai wujud belas kasihan Allah yang besar kepada orang-orang berdosa, tetapi sekaligus juga sebagai tanggung jawab besar. Karena orang-orang yang dipilih, sayangnya, juga bisa seperti Yudas; mereka bisa menjadi murtad, kepada Kristus yang dia imani, tetapi yang kemudian mengkhianati dan menyalib Sang Juruselamat mereka.
Penglihatan yang kita peroleh terjadi pada mulanya supaya kita melihat diri kita sendiri penuh dengan dosa dan telah melakukan segala kejahatan dan pengkhianatan. Penglihatan yang kita peroleh terjadi pada mulanya supaya kita melihat dunia sebagaimana adanya: yang di bawah kuasa si jahat. Penglihatan yang kita peroleh terjadi pada mulanya untuk melihat dan menghargai belas kasihan Allah saja kepada kita dan semua umat manusia yang buta di dunia ini. Tetapi jika kita tidak melihat semua ini, maka itu berarti kita hanya mengira bahwa kita telah melihat, tetapi sebenarnya kita tetap berada dalam kebutaan kita — yang darinya semoga Tuhan membebaskan kita dari keadaan tersebut!
Kristus telah Bangkit!
%20-%202022-05-29T102423.841.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar