Memperingati St. Yohanes pada Minggu Keempat Masa Prapaskah Agung mengingatkan kita bahwa komponen utama dari perjuangan di masa puasa prapaskah kita terfokus pada tingkat asketis sampai taraf tertentu, dan bahwa segala upaya asketis harus ditempatkan dalam konteks perang yang lebih besar melawan hawa nafsu dan pencapaian dari kebajikan-kebajikan kunci yang menandai kehidupan seorang Kristen yang berkomitmen. St. Yohanes memberikan contoh dan kumpulan pengajaran baik melalui cara hidupnya maupun sekali lagi, melalui karya klasik spiritualnya yang abadi, Tangga Pendakian Ilahi — sesuatu yang perlu diingat karena perjuangan di masa puasa prapaskah kita mungkin mulai merosot pada titik ini yaitu hanya sebatas rutinitas.
Tidak ada keraguan, sejak awal karyanya, bahwa St. Yohanes menulis sebagai biarawan, yang ditujukan untuk sesama biarawan. Tetapi itu juga tidak membatasi ruang lingkup pembaca yang dimaksudkan St. Yohanes. Kita kembali beralih ke pernyataan Metropolitan Kallistos, “Namun apakah karena itu Tangga Pendakian Ilahi tidak menarik bagi mereka yang berada di 'dunia' di luar biara? Tentunya tidak. Itu sebenarnya telah dibaca dengan manfaat maksimal oleh ribuan orang Kristen yang sudah menikah, dan apa pun maksud asli penulisnya, tidak ada yang mengejutkan dalam hal itu…. Apakah biarawan atau awam menikah, semua yang dibaptis menanggapi panggilan Injil yang sama; apa yang tampak kelihatan dari respons mereka mungkin berbeda, tetapi tujuannya pada dasarnya adalah satu. ”
Oleh karena itu, definisi singkat St. Yohanes tentang apa artinya menjadi seorang Kristen mencakup baik orang-orang yang hidup di tengah-tengah “dunia,” maupun mereka yang mempraktikkan kehidupan membiara yang menarik diri “dari dunia.” Seorang Kristen adalah "peniru Kristus dalam pemikiran, perkataan dan perbuatan, sejauh itu dimungkinkan secara manusiawi, dan yang percaya dengan benar dan tidak bercela tentang Tritunggal Kudus," lanjut St. Yohanes (LANGKAH 1).
Bertentangan dengan banyak penulis Kristen “self help” pada jaman ini, yang terbukti kurang wawasan tentang pemberontakan pikiran dan tubuh kita yang berdosa, St. Yohanes sangat sadar dan realistis — kita dapat mengatakan “dengan jujur” — bahwa kehidupan berdasarkan ajaran Injil para pencari kebenaran yang jujur akan menghadapi tantangan kuat dari : "*Kekerasan* [lih. Matius 11:12] dan rasa sakit yang tak berkesudahan banyak dialami mereka yang bertujuan untuk naik ke surga dengan tubuh, dan ini terutama pada tahap awal dari usaha, ketika kecenderungan kita yang suka kesenangan dan hati kita yang tidak berperasaan harus berjalan melalui penderitaan yang luar biasa menuju kasih dan kekudusan Allah. Ini sulit, sangat sulit ”(LANGKAH 1).
Mengenai peran tubuh dalam keseluruhan kehidupan Kristen, dan pertanyaan sulit tentang hubungan antara jiwa dan tubuh, dan ketegangan yang melekat — jika bukan perjuangan / peperangan langsung — dalam hubungan itu, St. Yohanes menyediakan teks wawasan yang luar biasa. tentang "misteri" hubungan antara tubuh dan jiwa yang hampir tidak cocok. Dia menulis, “Dengan aturan atau cara apa aku dapat mengikat tubuhku ini? Dengan pertimbangan apa aku dapat menghakiminya? Sebelum aku bisa mengikatnya, dia dilepaskan, sebelum aku bisa menghukumnya, aku berdamai dengannya, sebelum aku bisa menghukumnya, aku sujud kepadanya dan merasa kasihan padanya. Bagaimana aku bisa membencinya ketika sifat alamiahku membuatku mencintainya? Bagaimana aku bisa melepaskan diri darinya ketika aku terikat padanya selamanya? Bagaimana aku bisa melarikan diri darinya ketika dia akan bangkit bersama aku? Bagaimana aku bisa membuatnya tidak rusak ketika ia telah menerima sifat yang fana? Bagaimana aku bisa berdebat dengannya ketika semua argumen alam ada di pihaknya ...? Jika aku menjatuhkannya, aku tidak punya apa-apa untuk mendapatkan kebajikan. aku memeluknya. Dan berbalik darinya. Misteri apa yang ada dalam diriku? Apa prinsip campuran tubuh dan jiwa ini? ” (LANGKAH 15).
Bagian utama dari Tangga Pendakian Ilahi terdiri dari Langkah-langkah di mana St. Yohanes membuat daftar dan menganalisa hawa nafsu yang paling menonjol dan mengganggu, sehingga dapat menawarkan bimbingan tentang bagaimana cara mengatasinya dan menggantinya dengan kebajikan yang sesuai. Salah satu cara orang untuk menggambarkan komponen utama kehidupan spiritual adalah dengan mengatakan bahwa itu adalah "perang melawan hawa nafsu." Tanpa keberhasilan dalam pertempuran ini, maka kita tidak bisa berharap untuk mencapai kemurnian hati. Menurut Metropolitan Kallistos bagaimana beliau membantu untuk meringkas isi Tangga Pendakian Ilahi/ The Ladder, bahwa "hawa nafsu" dapat didaftar sebagai yang bersifat fisik dan material, seperti:
*kerakusan*. “Kerakusan adalah kemunafikan perut. Diisi, ia merintih tentang kekurangan; disuapi ia meratap karena kelaparan ”(LANGKAH 14).
*nafsu sex*. “Setan itu terutama mencari saat-saat lemah kita dan akan menyerang kita dengan kejam ketika kita secara fisik tidak dapat berdoa menentangnya” (LANGKAH 15).
Dia juga membuat daftar hawa nafsu yang non-fisik, seperti
*marah*. “Kemarahan adalah indikasi kebencian tersembunyi, keluhan yang dipelihara. Kemarahan adalah keinginan untuk menyakiti seseorang yang telah memprovokasimu ”(LANGKAH 8).
*kebencian*. “Cacing hidup di pohon busuk; kedengkian tumbuh subur dalam diri orang yang lemah lembut dan diam yang menipu”(LANGKAH 9).
*fitnah*. "Fitnah adalah keturunan dari kebencian, penyakit yang halus namun kasar, lintah yang bersembunyi dan melarikan diri, membuang dan menguras darah kasih" (LANGKAH 10).
*banyak bicara.* “Sulit menahan air tanpa tanggul. Tetapi masih lebih sulit untuk menahan lidah seseorang ”(LANGKAH 11).
*dusta*. "Berbohong adalah penghancuran amal, dan mengingkari penyangkalan terhadap Allah" (LANGKAH 12).
*Putus asa*. “keputus-asaan adalah kelumpuhan jiwa, kelambanan dalam berpikir, pengabaian latihan rohani ... kemalasan dalam membaca kidung mazmur, kelemahan dalam doa” (LANGKAH 13).f
*kurang-peka*. "Tindakan sendiri dia puji, dan dia tanpa malu melakukan keributan ... Dia menatap mata orang-orang dengan penuh nafsu tetapi berbicara tentang kemurnian. ”(LANGKAH 18-20).
*takut*. “Ketakutan adalah bahaya yang terasa sebelumnya, jantung kita bergetar ketika melarikan diri sebelum terjadi bencana yang tidak disebutkan namanya. Ketakutan adalah hilangnya keyakinan. ”(LANGKAH 21).
*kesombongan*. “Orang yang angkuh adalah orang beriman tetapi pada saat yang sama seorang penyembah berhala. Kelihatannya menghormati Allah tetapi dia sebenarnya bukan untuk menyenangkan Allah, tetapi menyenangkan manusia ”(LANGKAH 22).
*Keangkuhan*. “Sebagian besar orang yang sombong tidak pernah benar-benar menemukan diri sejati mereka. Mereka pikir mereka telah menaklukkan hawa nafsu mereka dan mereka mengetahui seberapa miskin mereka sebenarnya hanya setelah mereka mati ”(LANGKAH 23).
Akan tetapi, St. Yohanes tidak puas hanya dengan menganalisa hawa nafsu yang menyiksa kita dan menjauhkan kita dari Allah. Dia juga menulis dengan sangat fasih tentang kebajikan-kebajikan yang harus kita “dapatkan” dengan dan oleh anugerah Allah, sehingga ketika hawa nafsu diatasi, kita memulihkan dan mengembalikan kodrat manusiawi kita dengan menjadi apa yang diinginkan dari penciptaan kita yaitu menjadi bejana dari kebajikan-kebajikan yang datang dari Allah, yang pada dasarnya adalah karunia Roh Kudus yang hadir di dalam kita.
Ini, seperti yang kita catat sebelumnya, adalah kerja keras. Tetapi itu adalah pekerjaan yang layak yang membedakan kita sebagai makhluk rasional dan spiritual, yang diciptakan "sesuai dengan gambar dan rupa Allah." Meskipun St. Yohanes menyebutkan jumlah kebajikan yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah hawa nafsu yang ia gambarkan, perikop-perikop yang berhubungan dengan kebajikan seringkali jauh lebih panjang. Beberapa dari kebajikan ini adalah kebajikan "mendasar" seperti:
*ketaatan*. “Ketaatan adalah tindakan yang tidak perlu mempertanyakan, kematian diterima dengan bebas, hidup secara sederhana, bahaya yang dihadapi tanpa khawatir, pertahanan yang tidak perlu persiapan di hadapan Allah” (LANGKAH 4).
*rasa sesal*. “Pertobatan adalah buah dari harapan dan penolakan terhadap keputusasaan. (Orang yang berdosa bersalah, tetapi bukan tanpa anugerah.) Itu adalah pemurnian nurani ”(LANGKAH 5).
*ingatan akan kematian*. “Ketakutan akan kematian adalah sifat alami hasil ketidaktaatan, tetapi kengerian atas kematian adalah tanda dosa yang tidak mau bertobat” (LANGKAH 6).
*kesedihan*. “Berpegang teguhlah pada kesedihan yang penuh sukacita dari pertobatan kudus dan jangan berhenti berjuang untuknya sampai hal itu mengangkatmu tinggi di atas hal-hal dunia” (LANGKAH 7).
Pada akhirnya, ketika seseorang naik tangga "kebajikan yang lebih tinggi" mungkin dia mengalaminya. Karena kebajikan-kebajikan yang lebih tinggi ini termasuk dalam langkah-langkah di luar langkah-langkah yang menggambarkan hawa nafsu, maka disiratkan bahwa ketika mengalami kebajikan-kebajikan ini berarti telah mencapai tingkat "ketiadaan hawa nafsu", yang tentu saja, tidak ada hubungannya dengan sikap acuh tak acuh atau ketidakpedulian. (Seringkali apatheia diterjemahkan sebagai "apatis," dan ini sepenuhnya menyesatkan). Orang suci sebelumnya, Diachochus dari Photice, berbicara tentang “api ketiadaan hawa nafsu.” Seperti yang ditulis St. Yohanes, "ketiadaan hawa nafsu adalah memiliki kepenuhan kasih, yang aku maksudkan adalah berdiamnya Allah secara penuh." Dengan kata lain, "peperangan melawan hawa nafsu" yang berhasil memiliki ganjarannya sendiri ketika rahmat Allah mulai menerangi pertobatan sejati. Inilah "kebajikan yang lebih tinggi" yaitu:
*kesederhanaan*. "Kesederhanaan adalah kebiasaan yang terus menerus dalam jiwa di mana telah tumbuh tidak mempan lagi terhadap pikiran jahat" (LANGKAH 24).
*kerendahan hati*. "Orang dengan kerendahan hati ... akan lembut, baik hati, cenderung tenang, simpatik, tenang dalam setiap situasi, menerangi, tidak menyerang, waspada, dan aktif" (LANGKAH 25).
Di puncak tangga, kita menemukan apa yang bisa digambarkan sebagai "masa peralihan kepada kehidupan kontemplatif," menurut Metropolitan Kallistos. Dengan kata-kata yang harus mengungkapkan pengalaman nyata, St. Yohanes menjelaskan
*keheningan*. "Keheningan jiwa adalah pengetahuan yang akurat dari pikiran seseorang dan merupakan pikiran yang tidak dapat disangkal" (LANGKAH 27).
*doa*. "Adalah suka cita di masa depan, tindakan tanpa akhir, sumber kebajikan, sumber rahmat, kemajuan yang tersembunyi, makanan jiwa ... kapak untuk melawan keputusasaan, harapan yang diperlihatkan" (LANGKAH 28).
*Ketiadaan hawa nafsu*. “oleh ketiadaan hawa nafsu yang aku maksudkan adalah surga pikiran di dalam hati, yang menganggap kelicikan setan sebagai lelucon yang hina” (LANGKAH 29).
*Kasih*. “Orang yang ingin berbicara tentang kasih berusaha berbicara tentang Allah. Tetapi berbicara tentang Allah itu berisiko bahkan bisa berbahaya bagi yang tidak waspada. Malaikat tahu bagaimana berbicara tentang kasih, tetapi bahkan mereka melakukannya hanya sebagian dari cahaya di dalam diri mereka. "Allah adalah kasih" [1 Yohanes 4:16]. Tetapi seseorang yang ingin mendefinisikan kasih itu buta, seperti berusaha mengukur pasir di lautan. Kasih, menurut sifatnya, adalah kemiripan dengan Allah, sejauh ini mungkin secara manusiawi. Dalam aktivitasnya itu adalah kemabukan jiwa. Karakternya yang khas adalah menjadi sumber mata air iman, jurang kesabaran, lautan kerendahan hati. Kasih adalah pengusiran segala jenis perselisihan, karena kasih tidak pernah memikirkan kejahatan ”(LANGKAH 30).
St. Yohanes adalah seorang psikolog spiritual yang tak ada bandingannya yang memimpin menaiki Tangga Pendakian Ilahi /The Ladder of Divine Ascent melalui kemenangan atas hawa nafsu dan pencapaian kebajikan. Namun secara sederhana, itulah tujuan kita selama Masa Prapaskah Agung — dan pada kenyataannya perjuangan sepanjang hidup kita,. Sungguh suatu berkat, untuk memiliki seorang ahli pembimbing kehidupan Kristen yang dapat mengilhami kita untuk bangkit dari kematian kodrat kita yang telah jatuh. St. Yohanes menutup karya klasiknya tentang kehidupan spiritual dengan nasihat berikut: "Naik ... naiklah dengan penuh semangat. Biarkan hatimu memutuskan untuk memanjat. Dengarkan suara orang yang berkata, 'Mari, mari kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah kita' [Yesaya 2: 3], yang membuat kaki kita menjadi seperti kaki rusa , “Siapa yang menempatkan kita di tempat-tempat tinggi, supaya kita dapat menang di jalan-Nya” [Ibrani 3:19]. Larilah, kumohon, larilah bersama dia yang berkata, 'Marilah kita bergegas sampai kita tiba pada kesatuan iman dan pengetahuan tentang Allah, pada kedewasaan yang penuh, pada ukuran kepenuhan Kristus' [Efesus 4:13 ] Dibaptis pada tahun ke tiga puluh dari usia duniawi-Nya, Kristus mencapai langkah ketigabelas di tangga rohani, karena Allah memang adalah kasih, dan bagi-Nyalah pujian kemuliaan dan kekuasaan. Di dalam Dia adalah penyebab, masa lalu, sekarang, dan masa depan, dari segala hal yang baik sekarang dan selamanya. Amin."
https://oca.org/reflections/fr.-steven-kostoff/the-ladder-of-divine-ascent-for-us-today
%20-%202022-04-02T111119.255.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar