IMAM YANG ENGGAN TIDAK MAU MELAYANI LITURGI
Ini adalah sesuatu yang terjadi di setiap Liturgi Ilahi, meskipun kita mungkin tidak memiliki mata untuk melihat… tetapi itu sedang terjadi!!!
Pernah ada seorang imam yang tidak mau melayani liturgi karena hari itu musim dingin. Suhu saat itu 10 derajat di bawah nol dan imam itu tahu bahwa satu-satunya orang yang mungkin datang ke Obadah adalah Pengidung. Imam itu tidak tahu tentang ajaran Gereja tentang kehadiran "Gereja Kemenangan" dan bagaimana Liturgi Ilahi bermanfaat bagi yang hidup maupun yang mati.
Dia memaksakan diri untuk pergi ke gereja dengan susah payah. Dalam perjalanan ke gereja, dia terus berharap agar si pengidung itu tidak datang agar dia tidak harus melayani Liturgi dan dia bisa pulang.
Namun, si Pengidung itu memang datang. Imam buru-buru melakukan Proskomedia (pelayanan menyiapkan Benda-benda anugerah suci, yaitu roti dan anggur) dan memulai liturgi ilahi. Segera setelah itu, beberapa uskup, imam, biarawan dan biarawati dan beberapa umat awam tiba.
Sebagian besar dari mereka duduk di bagian paduan suara dan mulai mengidung dengan sangat indah sehingga imam lupa betapa beku dan kesepiannya dia sebelumnya. Seluruh tubuhnya terasa hangat, dan seluruh tubuhnya seperti nyala api .... Ketika dia melakukan arak-arakan, dia memperhatikan bahwa gereja itu penuh dengan orang - dan dari mereka orang terkenal - dia tidak terlalu memperhatikan dan hanya melanjutkan Liturgi Ilahi. Ketika tiba waktunya untuk konsekrasi benda-benda anugerah suci, dia melihat tiga uskup, berpakaian cerah dan bersinar, memasuki Altar Suci. Mereka berlutut bersamanya dan berdoa. Kemudian imam itu dengan sangat hati-hati bangkit dengan ketakutan, mengambil pedupaan dan berkata dengan suara nyaring: "Teristinewa bagi Sang Theotokos tersuci, murni terberkati dan Mulia serta Sang Perawan Maria ..."
Jiwa Imam itu dipenuhi kekaguman dan dengan kegembiraan ilahi. Damai sejahtera dan keheningan surgawi, hesikhia, mendominasi suasana interior gereja. Ketika tiba waktunya untuk mengangkat dan membagikan Roti (Anak Domba), seluruh gereja dipenuhi dengan melodi yang paling manis. Banyak orang yang hadir bersama orang-orang beriman, imam dan uskup menyerukan bukan hanya sekali tetapi beberapa kali: 'Satu satu yang suci, satu saja yang Tuhan: Yesus Kristus, bagi kemuliaan Allah Bapa. Amin'. Kemudian mereka melanjutkan dengan menyanyikan kidung Perjamuan Kudus: 'Terinalah Tubuh Kristus, Kecaplah sumber ketakbinasaan. Haleluya.'
Imam itu bertanya-tanya apa yang harus dilakukan. Haruskah dia terlebih dahulu menerima komuni atau mengundurkan diri untuk memberikan kepada ketiga uskup yang hadir? Tepat ketika dia memikirkannya, salah satu uskup mengangguk kepadanya menunjukkan bahwa dia harus menerima komuni dan kemudian menyatukan dan menempatkan sisa bagian Anak Domba (Ekaristi) di Piala, bersama dengan bagian yang memperingati Bunda Suci Allah dan para Orang Suci.
Setelah selesai, imam itu kemudian membuka pintu Suci (Indah) ... dan dia tidak melihat siapa pun di Gereja ... dia berbalik dan melihat kembali ke altar suci, dia melihat ke kanan dan ke kiri, para uskup tadi menghilang, dia berdiri terdiam, takjub. Dia perlahan membuka mulutnya dan mengucapkan permohonan berikut: 'Dengan rasa takut akan Allah dan iman dan kasih datang mendekatlah ...', dan penyanyi itu perlahan mendekat untuk menerima komuni. Pendeta itu masih terheran-heran, masih bertanya-tanya! Tiba-tiba, seluruh "Gereja Kemenangan" hadir. Setiap orang yang hadir di gereja itu sangat familiar dengannya yaitu orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan ini dan yang namanya akan dia ingat dari waktu ke waktu di setiap liturgi: 'Itulah mengapa mereka hadir, itulah mengapa mereka semua tampak begitu akrab bagiku', pikirnya.
Adapun para uskup di altar, mereka adalah Tiga Hirarki: St Yohanes Krisostomos, St Basilius Agung, dan St Gregorius Sang Theolog. Imam itu menghabiskan waktu bertahun-tahun belajar di universitas, begitu banyak penelitian dan begitu banyak malam tanpa tidur untuk belajar dan upaya itu tidak dapat memberinya setetes pun rasa manis dan damai serta pengetahuan ilahi yang diberikan oleh liturgi ilahi ini ...
Diterjemahkan oleh Reader Ireneus dari:
https://ttatg.files.wordpress.com/2015/09/divine-liturgy-as-it-truly-is.png



