Senin, 24 Juli 2023

IMAM YANG ENGGAN TIDAK MAU MELAYANI LITURGI


IMAM YANG ENGGAN TIDAK MAU MELAYANI LITURGI

Ini adalah sesuatu yang terjadi di setiap Liturgi Ilahi, meskipun kita mungkin tidak memiliki mata untuk melihat… tetapi itu sedang terjadi!!!


Pernah ada seorang imam yang tidak mau melayani liturgi karena hari itu musim dingin.  Suhu saat itu 10 derajat di bawah nol dan imam itu tahu bahwa satu-satunya orang yang mungkin datang ke Obadah adalah Pengidung.  Imam itu tidak tahu tentang ajaran Gereja tentang kehadiran "Gereja Kemenangan" dan bagaimana Liturgi Ilahi bermanfaat bagi yang hidup maupun yang mati.


Dia memaksakan diri untuk pergi ke gereja dengan susah payah.  Dalam perjalanan ke gereja, dia terus berharap agar si pengidung itu tidak datang agar dia tidak harus melayani Liturgi dan dia bisa pulang.


Namun, si Pengidung itu memang datang.  Imam buru-buru melakukan Proskomedia (pelayanan menyiapkan Benda-benda anugerah suci, yaitu roti dan anggur) dan memulai liturgi ilahi.  Segera setelah itu, beberapa uskup, imam, biarawan dan biarawati dan beberapa umat awam tiba.


Sebagian besar dari mereka duduk di bagian paduan suara dan mulai mengidung dengan sangat indah sehingga imam lupa betapa beku dan kesepiannya dia sebelumnya.  Seluruh tubuhnya terasa hangat, dan seluruh tubuhnya seperti nyala api .... Ketika dia melakukan arak-arakan, dia memperhatikan bahwa gereja itu penuh dengan orang - dan dari mereka orang terkenal - dia tidak terlalu memperhatikan dan hanya melanjutkan Liturgi Ilahi.  Ketika tiba waktunya untuk konsekrasi benda-benda anugerah suci, dia melihat tiga uskup, berpakaian cerah dan bersinar, memasuki Altar Suci.  Mereka berlutut bersamanya dan berdoa.  Kemudian imam itu dengan sangat hati-hati bangkit dengan ketakutan, mengambil pedupaan dan berkata dengan suara nyaring: "Teristinewa bagi Sang Theotokos  tersuci, murni terberkati dan Mulia serta Sang Perawan Maria ..."


Jiwa Imam itu dipenuhi kekaguman dan dengan kegembiraan ilahi.  Damai sejahtera dan keheningan surgawi, hesikhia, mendominasi suasana interior gereja.  Ketika tiba waktunya untuk mengangkat dan membagikan Roti (Anak Domba), seluruh gereja dipenuhi dengan melodi yang paling manis.  Banyak orang yang hadir bersama orang-orang beriman, imam dan uskup menyerukan bukan hanya sekali tetapi beberapa kali: 'Satu satu yang suci, satu saja yang Tuhan: Yesus Kristus, bagi kemuliaan Allah Bapa.  Amin'.  Kemudian mereka melanjutkan dengan menyanyikan kidung Perjamuan Kudus: 'Terinalah Tubuh Kristus, Kecaplah sumber ketakbinasaan. Haleluya.'


Imam itu bertanya-tanya apa yang harus dilakukan.  Haruskah dia terlebih dahulu menerima komuni atau mengundurkan diri untuk memberikan kepada ketiga uskup yang hadir?  Tepat ketika dia memikirkannya, salah satu uskup mengangguk kepadanya menunjukkan bahwa dia harus menerima komuni dan kemudian menyatukan dan menempatkan sisa bagian Anak Domba (Ekaristi) di Piala, bersama dengan bagian yang memperingati Bunda Suci Allah dan para Orang Suci.


Setelah selesai, imam itu kemudian membuka pintu Suci (Indah) ... dan dia tidak melihat siapa pun di Gereja ... dia berbalik dan melihat kembali ke altar suci, dia melihat ke kanan dan ke kiri, para uskup tadi menghilang, dia berdiri terdiam, takjub.  Dia perlahan membuka mulutnya dan mengucapkan permohonan berikut: 'Dengan rasa takut akan Allah dan iman dan kasih datang mendekatlah ...', dan penyanyi itu perlahan mendekat untuk menerima komuni.  Pendeta itu masih terheran-heran, masih bertanya-tanya!  Tiba-tiba, seluruh "Gereja Kemenangan" hadir.  Setiap orang yang hadir di gereja itu sangat familiar dengannya yaitu orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan ini dan yang namanya akan dia ingat dari waktu ke waktu di setiap liturgi: 'Itulah mengapa mereka hadir, itulah mengapa mereka semua tampak begitu akrab bagiku', pikirnya.


Adapun para uskup di altar, mereka adalah Tiga Hirarki: St Yohanes Krisostomos, St Basilius Agung, dan St Gregorius Sang Theolog.  Imam itu menghabiskan waktu bertahun-tahun belajar di universitas, begitu banyak penelitian dan begitu banyak malam tanpa tidur untuk belajar dan upaya itu tidak dapat memberinya setetes pun rasa manis dan damai serta pengetahuan ilahi yang diberikan oleh liturgi ilahi ini ...


Diterjemahkan oleh Reader Ireneus dari: 

https://ttatg.files.wordpress.com/2015/09/divine-liturgy-as-it-truly-is.png

Selasa, 11 Juli 2023

ARTI NILAI KELUARGA


 ARTI NILAI KELUARGA

Catatan masa perang Metropolitan Luke

Metropolitan Luke (Kovalenko) dari Zaporozhye dan Melitopol

Kristus di tengah kita, para pembaca yang budiman!

Hari ini (8 Juli), ketika Gereja kita merayakan kenangan akan St. Peter dan St. Febronia, saya ingin berbicara dengan Saudara sekalian tentang apa itu keluarga bagi orang Kristen, dalam semua aspeknya yang berbeda. Pernikahan pria dan wanita adalah peristiwa yang terjadi bahkan sebelum Kejatuhan ke dalam dosa. Oleh karena itu para bapa suci menyebut pernikahan sebagai sisa surga di bumi. Tetapi orang pertama itu mengkhianati Bapa mereka, Yang memberkati pernikahan ini, sehingga diusir dari Firdaus. Hari ini kita memahami pernikahan sebagai kesatuan suami dan istri di dalam Allah. Artinya, tujuan utamanya bukanlah kelahiran anak-anak, tetapi kembali ke keadaan firdaus tempat keluarga tinggal sebelum Kejatuhan. Namun seperti yang kita ketahui, dalam Kerajaan Allah, mereka tidak dinikahkan atau dikawinkan, melainkan seperti malaikat di surga. Artinya, tugas kita adalah mengubah kehidupan keluarga bukan hanya menjadi sebuah firdaus, tetapi juga hubungan timbal balik kita dengan orang lain. Jika suami, istri, dan anak adalah keluarga kecil, maka gereja, paroki, dan umat adalah keluarga besar kita. Mereka yang datang ke gereja semata-mata untuk tujuan pribadi tidak berbuat benar. Seperti halnya dalam sebuah keluarga, di paroki kita tidak bisa hidup hanya untuk diri kita sendiri. Kita harus hidup demi orang lain dan demi Allah. Kebutuhan komunitas gereja, seperti kebutuhan umatnya, menyentuh setiap anggota paroki—karena kita adalah keluarga besar. Alangkah baiknya jika semua orang yang pergi ke gereja tidak hanya mengenal satu sama lain dengan nama, tetapi juga akan mulai bekerja sama di luar gereja — saling mengunjungi rumah, belajar Alkitab bersama, berdoa, dan mendiskusikan literatur rohani. Keluarga adalah apa yang disatukan, karena Allah menghendaki persatuan kita. Hanya iblis yang berusaha menghancurkan, dan berjuang untuk ketidakteraturan dan kekacauan.

Itulah sebabnya orang-orang yang melayani iblis telah menyatakan perang terhadap keluarga dan nilai-nilai keluarga. Mereka paham betul bahwa tanpa keluarga tidak akan ada bangsa, tidak ada negara berdaulat, dan tidak ada masyarakat yang sehat, karena ini semua terbentuk dari sel-sel keluarga. Sangat menyedihkan untuk melihat bahwa hari ini, ketika orang-orang kita berada di ambang kepunahan, ketika jumlah orang Ukraina menurun dengan sangat cepat, beberapa politisi memaksakan kepada kita bentuk-bentuk pernikahan yang bejat, dan kemandulan yang tidak hanya fisik tetapi juga spiritual. Saya yakin bahwa politik seperti itu kriminal—baik terhadap rakyat maupun bangsa kita.

Metropolitan Luke (Kovalenko) dari Zaporozhye dan Melitopol

Diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris oleh OrthoChristian.com

7/10/2023

https://orthochristian.com/154716.html?fbclid=IwAR1AF94weGd5ZySbMvakb6GEXGXlPD_j2syF7jgchtH636-xO4V4NXE_Im4

Selasa, 04 Juli 2023

Istilah Musik Liturgi Orthodoks


Istilah Musik Liturgi Orthodoks

Gereja Orthodoks tentunya memiliki tradisi musik yang kaya dan dengan tradisi itu muncul istilah-istilah khusus dengan tujuan tertentu untuk berbagai kidung Gereja1. Istilah yang paling umum digunakan adalah:

Troparion

Apolitikon

Kontakion

Theotokion

Prokeimenon

Antifon

Stichera

Megalinarion

Troparion (Yunani, Τροπάριο; jamak troparia) adalah nama umum untuk kidung dalam musik Bizantium Orthodoks. Troparion bisa berupa kidung dari satu atau lebih rangkaian bait. Istilah ini diyakini berasal dari kata Yunani τρόπος yang salah satu definisinya adalah memutar atau mengulang.

Istilah troparion dapat diterapkan pada banyak jenis kidung yang dinyanyikan di hampir semua ibadah, liturgi, dan sakramen Orthodoks. Contohnya termasuk:

• Refrain singkat yang dinyanyikan di antara ayat-ayat mazmur Kitab Suci yang mendahului Antifon

• Kidung peringatan untuk Orang Suci atau hari raya Gereja

• Apolytikion dinyanyikan selama Liturgi atau pada Sembahyang Senja sebagai Kidung Pembubaran

• Kanon yang dinyanyikan pada Ibadah Singsing Fajar (Orthros).

• Pengurapan Kudus, Pemakaman dan Pernikahan

Troparia juga terkadang digunakan sebagai refrein untuk melantunkan syair mazmur, meskipun stichera lebih sering digunakan untuk fungsi ini.

Apolytikion (Yunani Απολυτίκιο, jamak apolytikia) Ini adalah kata majemuk, από + λυω + τικος (melepaskan dari atau membubarkan), dan diterjemahkan menjadi Kidung pembubaran. Apolytikion adalah jenis troparion khusus yang merangkum pencapaian dan/atau tujuan orang suci atau pesta yang dirayakan pada hari tertentu. Juga disebut sebagai "troparion hari raya" atau "troparion hari ini". Pada Pesta Besar dinyanyikan di akhir Sembahyang Senja dan segera setelah Doksologi Agung.

Engkau itu contoh iman dan gambar kelembutan, teladan hidupmu telah menunjukkanmu kepada kawananmu dengan menjadi ahli kesedrhanaan. Engkau memperolehnya melalui kerendahan hatimu, oleh karunia dari atas, dan kekayaan melalui kemiskinan. Wahai Nicholas, bapa kami dan imam dari para imam, berdoa syafaatlah kepada Kristus, Allah kita, agar Dia menyelamatkan jiwa kami.

Apolitikion St. Nicholas

Apolytikion juga diucapkan setelah Arak-arakan Kecil. Dalam istilah Protestan ini paling mirip dengan istilah Pengumpulan Harian.

1 Untuk informasi lebih lanjut lihat

1. Situs web ΛΕΞΙΚΟ ΛΕΙΤΟΥΡΓΙΚΗΣ

2. Daftar Istilah Hymnografi Ringkas oleh Elena Kolyada, Jurnal Masyarakat Internasional untuk Musik Gereja Orthodoks, Vol 4 Bagian 3

Kontakion (Yunani Κοντακιο, kontakia jamak) Kata ini berarti "tongkat" atau "tiang," (menunjukkan pada tongkat di mana suatu tulisan itu digulung) dan awalnya merujuk pada khotbah puitis yang agak panjang tentang tema tertentu, yang terdiri dari sekitar 24 bait maupun puisi atau lebih. Saat ini bait-bait ini jauh berkurang dan biasanya hanya bait pembuka yang dinyanyikan. Kontakion cenderung memiliki muatan theologis yang lebih banyak dibandingkan dengan jenis troparia lain yang lebih sederhana sifatnya.

Romanos, Melodis agung Gereja Orthodoks dikenal karena bentuk kontakia puitis yang panjang. Kidung Akathist kepada Bunda Allah adalah contoh kontakion di mana syair yang lebih panjang dipertahankan. Salah satu kontakio yang lebih terkenal adalah Τη υπερμάχω στρατηγώ... atau Ya Pemimpin Pemenang, yang keluar dari Kidung Akathist.

Orang Suci, (St. Nicholas) di Myra engkau membuktikan dirimu sebagai seorang imam; karena dalam memenuhi Injil Kristus, Ya yang terberkati, engkau menyerahkan hidupmu bagi umatmu dan menyelamatkan yang tak bersalah dari kematian. Untuk ini engkau telah disucikan sebagai Seseorang yang terpelajar dalam kasih karunia ilahi.

Kontakion St. Nicholas

Theotokion (Yunani Θεοτοκίο) Seperti namanya Theotokion adalah troparion yang khusus didedikasikan untuk Sang Theotokos. Sementara kidung berisi permohonan kepada Sang Perawan Maria, Theotokion juga berisi pernyataan Kristologis tentang kesatuan dua kodrat Kristus, kelahiran-Nya dan inkarnasi-Nya. Untuk alasan ini kontakion kadang-kadang disebut sebagai Θεοτοκία Δογματικά (Dogmatika Theotokia)

Wahai Maria, sebagai bejana suci Tuhan, kami berdoa agar engkau mengangkat kami, karena kami telah jatuh ke dalam jurang keputusasaan yang mengerikan, dan pelanggaran serta penderitaan. Karena engkau memang telah menjadi keselamatan orang berdosa,  pertolongan mereka yang membutuhkan dan perlindungan yang kokoh; serta engkau menyelamatkan hamba-hambamu.

Theotokion dari Sembahyang Singsing Fajar St. Nicholas

Prokeimenon (Yunani Προκείμενο, jamak prokeimena) Ini adalah kata gabungan (προ + κείμενο), yaitu “sebelum” dan “teks” atau “membaca.” Prokeimenon adalah ayat(-ayat) dari Mazmur dan dilantunkan tepat sebelum pembacaan Alkitab, baik dari Perjanjian Lama, seperti di SEmbahyang Senja atau sebelum Surat Epistel di Liturgi Ilahi. Untuk ibadah umum, Prokeimenon khusus untuk setiap hari dalam seminggu dan Prokeimena hari Minggu bergantian untuk masing-masing dari delapan nada hari itu. Ada tiga (3) jenis Prokeimena

1. Liturgi – khusus untuk pesta-pesta besar Tuhan dan Sang Theotokos dan liturgi umum

2. Sembahyang Senja/ Vesperal untuk ibadah umum – dilantunkan pada hari biasa dan Ibadah Sembahyang Senja malam Minggu

3. Sembahyang Senja/ Vesperal untuk Antiphon Pesta Perayaan Besar, Ini juga merupakan kata majemuk (αντι + φωνα), yaitu “bergantian” dan “suara.”

Antifon dinyanyikan atau dikidungkan di antara paduan suara atau pelantun kanan-kiri bergantian atau "berlawanan". Meskipun jenis lantunan ini adalah gaya sejarah dan merupakan metode yang umum di kebanyakan biara, namun tidak begitu sering dilakukan di paroki.

Antifon yang paling terkenal adalah yang dinyanyikan di bagian pertama Liturgi Ilahi, Ταις πρεσβείαις της Θεοτόκου, Σώτερ, σώσον ημάς» (Melalui doa-doa Sang Theotokos, selamatkan kami ) dan «Σώσον ημάς, Υιέ Θεού, ο αναστάς εκ νεκρών, ψάλλοντάς Σοι Αλληλούϊα» (Selamatkan kami Anak Allah, yang telah bangkit dari mati, Haleluya).

Antifon juga dinyanyikan dalam sembahyang singsing fajar setelah Eulogitaria Kebangkitan (Ευλογητάρια) dan Hypakoe (Υπακοή) ketika Antifon Anavathmoi dinyanyikan.

Stichera (Yunani Στιχηρά) adalah nama untuk troparia pendek yang dinyanyikan selama ibadah sembahyang singsing fajar dan paling sering keluar dari Octoechos. Contohnya adalah Kebangkitan Stichera menjelang akhir sembahyang singsing fajar.

Megalinarion (Yunani Μεγαλυναριον) Istilah ini berarti μεγαλύνω atau untuk memperbesar maka kata bahasa Inggris "Magnificat." Penggunaan Megalynaria dalam praktik liturgi Orthodoks dimulai pada abad ke-8 dengan St. Cosmas sang Melodis yang menulis megalynarion untuk Sang Theotokos yang dinyanyikan dalam Liturgi Ilahi hingga saat ini, "Lebih terhormat daripada Kerubim..." megalynaria lainnya mengagungkan berbagai Orang Kudus Orthodoks lainnya.

https://annunciationrochester.org/wp-content/uploads/2021/11/Hymnnological-Terms-Defined.pdf

Mengkritik Imam


Mengkritik Imam

Pernah hidup seorang Imam yang amat saleh.  Meskipun dia hampir tidak bisa membaca dan menulis, dia adalah seorang Imam, seorang Imam dengan iman yang kuat, kebajikan yang besar dan banyak perjuangan rohani.  Dia biasa berdiri tegak selama berjam-jam selama Proskomedi (Doa Imam persiapan Roti dan Anggur Perjamuan Kudus), meskipun urat kakinya telah terpengaruh dan menonjol akibat berdiri tegak memperingati nama banyak orang.  Dia adalah orang yang mau berkorban sampai nafas terakhirnya.


Karena dia hampir tidak tahu cara membaca dan menulis, karena kesalahpahaman, dia tidak menempatkan bagian-bagian di Piring Suci dengan benar.


Ketika kita meletakkan bagian dari Sang Theotokos tersuci di atas piring Suci, biasa dikatakan : "Ratu berdiri di sebelah kananMu ..."


Imam mendapat kesan bahwa, karena dia berkata "di sebelah kananMu," bagian Bunda Allah Yang tersuci harus ditempatkan di sisi kanan Anak Domba (saat dia melihat ke Piring Suci).  Dengan kata lain, dia menempatkan bagian itu ke belakang.


Suatu hari, seorang Uskup mengunjungi Biara Suci untuk Penahbisan Seorang Diaken.  Dalam Mazmur Pujian, ketika Uskup memasuki Altar Suci, ia mengenakan rompi, kemudian pergi ke Proskomedi, yang telah disiapkan sampai titik tertentu.  Mulai di titik itu Uskup sendiri yang terus memperingati.  Karena itu, Uskup memperhatikan bahwa bagian Sang Theotokos itu telah diletakkan di belakang oleh imam:


"Engkau tidak menempatkan potongan-potongan itu dengan benar, Romo," katanya.  “Romo, kemarilah sebentar.  Sang Theotokos tersuci harusnya ditempatkan di sini dan Tingkatan para Suci ditempatkan di sana.  Tidakkah ada yang memberi tahumu;  tidak ada yang melihat bagaimana engkau melakukan Proskomedi?”


“Tentu, Yang Mulia,” jawab Imam itu.  “Setiap hari, ketika saya merayakan (tidak satu haripun berlalu dia merayakan Liturgi Ilahi), Malaikat yang melayaniku melihat apa yang aku lakukan tetapi tidak memberi tahuku apa pun.  Saya minta maaf, karena saya buta huruf, karena membuat kesalahan seperti itu;  Aku akan berhati-hati mulai sekarang.”


“Siapa yang engkau katakan?  Siapa yang engkau katakan melayanimu di sini?  tanya uskup, “Bukankah dia seorang biarawan yang melayanimu?”


“Tidak,” jawab Imam itu, “Malaikat Tuhan.”


Uskup terdiam, apa yang bisa dia katakan?  Dia terheran-heran dan dia menyadari bahwa seorang imam suci sedang berdiri di hadapannya.


 Pada siang hari, setelah makan di trapeza, Uskup mengucapkan selamat tinggal kepada Kepala Biara serta para biarawan lainnya, dan pergi.  Keesokan harinya, karena hari masih malam, imam Geronda pergi ke Altar Suci untuk mengadakan Proskomedi.


Malaikat Tuhan turun.  Selama prosesi memecahkan Anak Domba, Malaikat memperhatikan bahwa Imam telah meletakkan bagian-bagiannya dengan benar.


"Benar Romo!"  katanya kepada Imam itu.  "Sekarang engkau telah menempatkannya dengan benar!"


"Ya, engkau tahu kesalahan yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun!"


“Dan kenapa engkau tidak memberitahuku apa pun;  kenapa engkau tidak mengoreksiku ?, ”tanyanya.


“Aku bisa melihatnya, tapi aku tidak punya hak untuk memberitahumu apapun.  Aku tidak layak untuk mengoreksi seorang Presbiter.”


 ~oleh Papa Stephanos Anagnostopoulos.  Kejadian ini diceritakan kepada penulis oleh Geronda Gabriel yang telah meninggal, yang untuk waktu yang lama menjadi kepala biara di Biara Suci Dionysios di Gunung Athos.~


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Yns7NVKwivJy2CBynPMxmSukkfgod2CLP35pYR2aACyXXSsPqb7NyqCKy3NBFUgpl&id=1005388773002456&mibextid=Nif5oz