Minggu, 26 Februari 2023

Kanon Agung St. Andreas, Uskup Kreta


Kanon Agung St. Andreas, Uskup Kreta

Kanon Agung St. Andreas, Uskup Kreta, adalah kanon terpanjang dalam semua ibadah Orthodoks, dan dikaitkan dengan Masa Prapaskah, karena satu-satunya waktu untuk dibaca di Gereja adalah empat malam pertama Masa Prapaskah Senin hingga Kamis Bersih, di Sembahyang Purna Bujana, dilakukan secara berseri) dan di Sembahyang Singsing Fajar untuk hari Kamis dari minggu kelima Masa Prapaskah, ketika dibaca secara keseluruhan (dalam ibadah terakhir ini, seluruh kehidupan St. Maria dari Mesir juga dibaca).


Tidak ada kidungan suci sakral yang sebanding dengan karya monumental ini, yang ditulis St. Andreas untuk meditasi pribadinya. Tidak ada lagi yang memiliki tipologi luas dan penjelasan mistikal tentang kitab suci, baik dari Perjanjian Lama dan Baru. Orang hampir dapat menganggap kidung pujian ini sebagai "survei Perjanjian Lama dan Baru." Ciri-ciri pembeda lainnya adalah semangat kerendahan hati yang penuh kesedihan, harapan pada Allah, dan doxologi/kidung pujian Tritunggal yang kompleks dan indah serta kidung pujian untuk Theotokos di setiap Ode.


Kanon ini adalah dialog antara St. Andreas dengan jiwanya. Tema yang dipakai adalah desakan untuk mengubah hidup seseorang. St.  Andreas selalu menyebutkan keberdosaannya sendiri yang ditempatkan di hadapan kemurahan Allah, dan secara harfiah menggunakan ratusan referensi untuk contoh-contoh baik dan buruk dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk "meyakinkan dirinya sendiri" untuk bertobat.


Sebuah kanon yang merupakan kidung liturgi kuno, dengan format yang sangat ketat. Kanon ini terdiri dari sejumlah bagian yang bisa berubah, masing-masing disebut "ode". Kanon yang paling umum memiliki delapan Ode, bernomor dari satu hingga sembilan, dengan Ode 2 dihilangkan. Kanon yang berisi penyesalan yang  sangat mendalam adalah Ode sembilan. Beberapa kanon hanya memiliki tiga ode, seperti banyak kanon dalam "Triodion" (yang berarti "Tiga Ode").


Bagaimanapun, semua Ode memiliki format dasar yang sama. "Irmos" dimulai setiap Ode. Ini umumnya dikidungkan, dan setiap Irmos memiliki referensi ke salah satu dari sembilan canticles/kidung dari alkitab, yang merupakan pilihan dari Perjanjian Lama dan Baru, yang dapat ditemukan dalam lampiran dalam setiap Mazmur liturgi lengkap (buku Mazmur, diatur untuk dibaca dalam Liturgi). Sejumlah variabel "troparia" mengikuti ibadah ini, yang merupakan kidung singkat tentang pokok tema kanon. Ini biasanya dikidungkan, dan bukan dilagukan. Setelah setiap troparion dan "refrain" dikidungkan. Pada akhir setiap Ode, nyanyian pujian lain, yang disebut "Katavasia", baik yang dikidungkan Irmos sebelumnya, atau yang seperti itu dikidungkan.

Troparia Kanon Agung dalam semua dua belas Ode biasanya dikidungkan oleh imam di tengah Gereja, dengan paduan suara menyanyikan Irmos dan Katavasia. Ada berbagai tradisi tentang membungkuk dan sujud. Beberapa bersujud dan beberapa membuat tanda salib dan membungkuk tiga kali setelah Irmos dan masing-masing troparion.


Tema Umum dari Kanon Agung


Bagaimana kita harus berpikir tentang diri kita sendiri.
Di mana aku harus mulai menyesali tindakan hidupku yang buruk? Buah pertama apa yang akan aku persembahkan, ya Kristus, untuk ratapanku saat ini? Namun dalam welas asih-Mu, aku dibebaskan dari kejatuhanku


Keinginan untuk berubah - - berdialog dengan jiwa.
Wahai jiwaku yang malang, dengan dagingmu, mengakulah kepada Pencipta segala sesuatu. Di masa depan, hindari kebrutalanmu yang sebelumnya, dan persembahkanlah kepada Allah air mata pertobatan

Senin: 1.2


Mengenali Realitas.
Akhir semakin dekat hai jiwaku, dan semakin dekat! Tetapi engkau tidak peduli atau mempersiapkan diri. Waktu semakin singkat. Naiklah! Sang Hakim ada di pintu. Seperti mimpi, seperti bunga, waktu hidup ini berlalu. Mengapa kita sibuk dengan sia-sia? Senin: 4.2

Bagaimana berdoa - Meratap dan memohon kepada Allah.
Engkau adalah Gembala yang Baik; carilah aku, anak domba-Mu, dan jangan mengabaikan aku yang sesat Senin: 3.5


Contoh Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang kebenaran dan ketidakbenaran, untuk tujuan perjuangan atau pantang.
Jangan menjadi tiang garam, jiwaku, dengan menengok ke belakang; tetapi biarkan contoh orang Sodom menakut-nakutimu, dan berlindung di Zoar. (Kejadian 19:26) Selasa Ode 3: 5


Aku telah mempelajari semua orang Perjanjian Lama sebagai contoh untukmu, hai jiwaku. Contohlah perbuatan-perbuatan yang mengasihi Allah dari dari orang benar dan jauhilah dosa-dosa orang fasik. Selasa Ode 8


HAL PALING PENTING UNTUK DIKETAHUI TENTANG KANON AGUNG.

Kanon Agung ditulis oleh orang suci untuk mengajar dirinya sendiri cara hidup yang benar. Kita tidak dapat mengambil manfaat darinya kecuali kita menjadikannya prioritas untuk berdiri dalam doa, di Gereja, dan mendengarkannya, dengan keinginan dan harapan yang besar akan rahmat Allah untuk mengajar kita dan menyembuhkan kita. Theologi kita itu yang pertama dan terpenting  adalah untuk dialami dan dihidupi dalam doa, dan bukan hanya "dipelajari".


https://www.orthodox.net/greatlent/great-canon-of-andrew-of-crete-explanation.html