Jumat, 26 Agustus 2022

JEPHONIAS DALAM PERISTIWA WAFATNYA SANG THEOTOKOS DAN NUBUATANNYA DALAM PERJANJIAN LAMA


JEPHONIAS DALAM PERISTIWA WAFATNYA SANG THEOTOKOS DAN NUBUATANNYA DALAM PERJANJIAN LAMA


Dalam banyak ikon Wafatnya Sang Theotokos, setiap orang dapat melihat lukisan aneh di bagian bawah Sang Theotokos yang tertidur : seorang malaikat secara tak nampak memotong kedua tangan seorang pria.


Apa kisah di balik lukisan tersebut?


Sambil meratapi keterpisahan mereka dari Sang Theotokos Maria, para Rasul bersiap untuk menguburkan tubuhnya yang murni. Mereka melakukan perjalanan prosesi pemakaman dari Sion melalui Yerusalem ke Taman Getsemani. Penduduk Yerusalem yang tidak percaya, kaget oleh prosesi pemakaman yang luar biasa agung dan juga kesal pada penghormatan yang diberikan kepada Bunda Yesus itu, mengeluhkan peristiwa itu kepada Imam Besar dan ahli-ahli Taurat.


Seorang Imam Yahudi, Jephonias (atau Athonios), karena dendam dan kebencian terhadap Bunda Yesus dari Nazareth, ingin menggulingkan usungan keranda di mana di dalamnya terdapat tubuh Sang Perawan Maria yang murni, tetapi seorang malaikat Allah, beberapa catatan sejarah mengatakan itu adalah Malaikat Agung Mikhael, secara tak nampak memotong tangannya, yang telah menyentuh usungan keranda itu. Melihat keajaiban itu, Jephonias bertobat dan dengan iman mengakui keagungan Sang Theotokos. Tangannya menerima kesembuhan kembali dan ia pun bergabung dengan kerumunan yang mengiringi tubuh Bunda Maria, dan dia menjadi pengikut Kristus yang bersemangat.

    

Sang Theotokos yang termurni dan selalu perawan Maria, dan Sang Anak Allah yang dikandung dalam rahimnya telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama sebagai Tabut Perjanjian. Prosesi jenazah Sang Theotokos oleh para Rasul dengan demikian juga dilihat sebagai penggenapan dari peristiwa tertentu dalam Perjanjian Lama, yaitu ketika Tabut Perjanjian direbut oleh bangsa Filistin, dan akhirnya dibawa ke Yerusalem.


Dalam 1 Samuel 5: 1-5 kita membaca:


1 Sesudah orang Filistin merampas tabut Allah, maka mereka membawanya dari Eben-Haezer ke Asdod.

2 Orang Filistin mengambil tabut Allah itu, dibawanya masuk ke kuil Dagon dan diletakkannya di sisi Dagon.

3 Ketika orang-orang Asdod bangun pagi-pagi pada keesokan harinya, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN; lalu mereka mengambil Dagon dan mengembalikannya ke tempatnya.

4 Tetapi ketika keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, tampaklah Dagon terjatuh dengan mukanya ke tanah di hadapan tabut TUHAN, tetapi kepala Dagon dan kedua belah tangannya terpenggal dan terpelanting ke ambang pintu, hanya badan Dagon itu yang masih tinggal.

5 Itulah sebabnya para imam Dagon dan semua orang yang masuk ke dalam kuil Dagon tidak menginjak ambang pintu rumah Dagon yang di Asdod, sampai hari ini.


Di sini dewa pagan, Dagon, digambarkan tidak mampu berdiri di hadapan Tabut TUHAN, sampai jatuh dan kepala serta tangannya putus. Banyak bencana lain dikatakan menimpa orang-orang Filistin karena mencuri Tabut TUHAN, sampai mereka akhirnya mengembalikannya kepada orang-orang Yahudi karena takut.

   

Bertahun-tahun kemudian Raja Daud ingin membawa Tabut TUHAN ke Yerusalem, dan sebuah prosesi besar mengikuti Tabut Perjanjian. 


Dalam 2 Samuel 6: 3, 4, 6 dan 7 kita membaca:


3 Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit. Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu.

4 Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu.

6 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.

7 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.


Kejadian ini dikatakan telah menimbulkan ketakutan di hati Raja Daud, dan itu membuatnya menyadari betapa besar dan pentingnya Tabut Perjanjian itu.


Dengan demikian, peristiwa yang dituangkan dalam ikonografi wafatnya bunda Maria ini adalah ilustrasi untuk peringatan bagi orang-orang percaya dan orang-orang kafir yang mempertanyakan dan memandang rendah suatu misteri Ilahi, dan tidak memiliki penghormatan yang tepat untuk misteri-misteri suci ini.


Sebuah mukjizat yang dicatat oleh St. Yohanes Moschos dalam The Spiritual Meadow(Leimonarion) lebih jauh merinci moral yang dijelaskan di atas. Ini menyangkut seorang aktor bernama Gaianas yang menghujat Bunda Allah di sebuah teater. Dia menulis:

Heliopolis adalah kota Phoenecia Lebanon. Ada seorang aktor di sana bernama Gaianas yang biasa tampil di teater di mana di situ dia menghujat Bunda Allah yang suci. Kemudian Bunda Allah menampakkan diri kepadanya, berkata: "Kejahatan apa yang telah aku lakukan kepadamu sehingga kamu menghinaku di depan begitu banyak orang dan menghujatku?" Dia bangkit dan, bukannya memperbaiki sikapnya, malah menghujatnya lebih dari sebelumnya. Tiga kali dia menampakkan diri kepadanya dengan hinaan dan peringatan yang sama. Karena dia tidak memperbaiki sikapnya sedikit pun, tetapi malah semakin menghujat, dia muncul kepadanya sekali ketika dia sedang tidur di tengah hari dan tidak mengatakan apa-apa sama sekali. Yang dia lakukan hanyalah memotong kedua tangan dan kakinya dengan jarinya. Ketika dia bangun, dia menemukan bahwa tangan dan kakinya sangat sakit sehingga dia hanya berbaring di sana seperti batang pohon. Dalam keadaan seperti ini, laki-laki malang itu mengaku kepada semua orang (menjadikan dirinya sebagai contoh publik) bahwa dia telah menerima balasan karena penghujatannya. Dan ini dia lakukan karena alasan kasih kepada sesamanya.

https://pravoslavie.ru/63664.html