ASPEK KANONIK BERKENAAN
DENGAN PENERIMAAN GEREJA AFRIKA KE DALAM GEREJA ORTHODOKS RUSIA
Romo George Maximov
Pada Sinode Gereja Orthodoks Rusia baru-baru ini, yang berlangsung
pada tanggal 23-24 September 2021, membahas “konsekuensi dari perayaan Liturgi Pemimpin
Patriarkhat Alexandria bersama dengan kepala struktur skismatis yang aktif di
Ukraina” (jurnal No. 61). Resolusi yang disahkan ditafsirkan oleh banyak orang mengatakan
bahwa Gereja kita akan segera menerima ke dalam yurisdiksinya para imam Afrika
dari Patriarkhat Alexandria yang sebelumnya telah berbicara kepada Patriarkhat
Moskow dengan permintaan untuk diterima di bawah omoforionnya, setelah Patriarkh
Theodoros dari Alexandria mengakui skismatis OCU tersebut pada tanggal 8
November 2019.
Sudah ada langkah untuk
menerima Klerus Afrika
Dan meskipun jelas, keputusan akhir hanya akan dikeluarkan pada
sesi Sinode berikutnya, sudah dapat dikatakan bahwa langkah pasti menuju
keputusan positif untuk menerima klerus Afrika telah dibuat.
Banyak orang di Rusia bersukacita atas berita ini, tetapi ada juga
yang merasa terganggu dengan hal itu. Sebagian, mereka memiliki pertanyaan
tentang apakah ini sesuai dengan kanon, dan apakah itu tidak akan berubah
menjadi invasi yang tidak dapat dibenarkan ke wilayah kanonik Gereja Lokal
lain. Dalam artikel ini, saya ingin memberikan jawaban atas kekhawatiran
tersebut.
Pada dasarnya, ada dua pertanyaan di sini:
1. Dapatkah Gereja Orthodoks Rusia membuat yurisdiksinya sendiri
di Afrika ketika Patriarkh Aleksandria menganggap Afrika sebagai wilayah
kanoniknya?
2. Dapatkah Gereja Orthodoks Rusia menerima, dalam situasi
historis saat ini, di mana Klerus dari Patriarkhat Aleksandria tanpa mereka
memiliki dokumen pelepasan dari hierarki mereka?
Saya telah mengatakan di depan bahwa saya secara pribadi akan
menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan positif, dan di bawah ini akan saya
paparkan apa yang menjadi dasar jawaban saya.
Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama. Sampai awal abad kedua
puluh, gelar Patriarkh Alexandria terdengar seperti ini: "Paus dan
Patriarkh Kota Alexandria, Libya, Pentapolis, Ethiopia, dan seluruh
Mesir". Ini adalah wilayah kanonik yang secara tradisional dan umum
diterima dalam Orthodoksi Patriarkhat Alexandria. Mesir, Libya, Ethiopia—dan
itu saja. Dan menurut kanon keenam dari Konsili Ekumenis Pertama dan kanon kedua
dari Konsili Ekumenis Kedua, otoritas uskup Aleksandria meluas tidak lebih dari
“seluruh Mesir”. Hal ini terkait dengan fakta bahwa secara historis di benua
Afrika terdapat beberapa Gereja Lokal: Gereja Aleksandria, Karthago, dan Ethiopia.
Dan hanya setelah Gereja Ethiopia jatuh ke dalam Monofositisme, dan Gereja Karthago
menghilang di bawah serangan Arab, Gereja Aleksandria tetap menjadi
satu-satunya Gereja Orthodoks di Afrika—mengklaim hanya wilayah utara tertentu saja
sebagai wilayah kanoniknya.
Hanya Meletius (Metaksakis) dari ingatan yang menyedihkan, yang
menduduki tahta Aleksandria dari tahun 1926 hingga 1935, yang menambahkan
kata-kata "dan Seluruh Afrika" pada gelarnya. Perluasan yang serius
dari yurisdiksi Patriarkhat Aleksandria ini bukanlah hasil diskusi Pan-Orthodoks
atau keputusan konsili, tetapi hanya keputusan sepihak dari satu tokoh sejarah
yang ambigu. Selain itu, klaim ini hanya bertahan lama di atas kertas, dan
hanya beberapa dekade kemudian, pada paruh kedua abad kedua puluh, orang Yunani
memulai pekerjaan misionaris di antara penduduk asli sejumlah negara Afrika (di
sejumlah negara di benua Afrika masih belum ada satu pun paroki Gereja
Alexandria).
Dapat dimengerti bahwa mengingat peristiwa dramatis abad kedua
puluh, Gereja Lokal lainnya tidak punya waktu untuk membahas yurisdiksi Afrika,
apalagi terlibat dalam konflik apa pun di atasnya. Meskipun, saya telah
mendengar bahwa Patriarkh Konstantinopel mengakui yurisdiksi Gereja Aleksandria
atas seluruh Afrika hanya pada tahun 1970-an sebagai imbalan pemindahan Eksarkhat
Aleksandria di Amerika ke yurisdiksi Konstantinopel.
Tentu saja, tidak satu pun di atas yang menggerakkan Gereja Orthodoks
Rusia untuk membuka yurisdiksinya sendiri di Afrika; kami hanya menyediakan
ekskursus sejarah singkat. Namun demikian, pantas untuk mengingat semua ini
karena sekarang beberapa hierarki Yunani dari Patriarkhat Aleksandria memberi
tahu Klerus mereka bahwa seharusnya Afrika selalu menjadi milik Gereja
Aleksandria, dan hanya mereka yang dapat melakukan apa pun di sana. Ini tidak
benar.
Tetapi alasan tindakan Gereja Orthodoks Rusia adalah pengakuan OCU
yang disebutkan di atas oleh Patriarkh Alexandria pada tanggal 8 November 2019.
Di sini juga tepat untuk menyebutkan bahwa sebenarnya sudah ada paroki Rusia di
sejumlah negara Afrika. Mayoritas umat mereka adalah orang-orang dari
negara-negara tanggung jawab kanonik Gereja Orthodoks Rusia; gereja-gereja ini dibangun
oleh orang Rusia, dan para imam Rusia telah melayani di dalamnya—tetapi pada saat
Liturgi mereka memperingati Patriarkh Aleksandria dan hierarki Yunani lokal di
yurisdiksi mereka.
Ada orang Kristen Orthodoks
Rusia di Afrika yang menolak untuk pergi ke paroki di Gereja Alexandria
Tindakan berbahaya Patriarkh Theodoros, yang sebelumnya mendukung
Gereja Ortodoks Ukraina kanonik, telah menempatkan Gereja Rusia dalam situasi
yang rumit. Ia telah beberapa kali memperingatkan umatnya terhadap persekutuan
dengan skismatis, dan sekarang ada situasi di mana kaum awam yang dibaptis dan
klerus yang dikirimnya ke Afrika dapat masuk ke dalam persekutuan dengan skisma
melalui doa dan Perjamuan Ekaristi dengan Patriarkh dari Alexandria, yang telah
menerima organisasi skismatis ini seolah-olah itu adalah Gereja. Dan ini bukan
masalah fana; Saya pribadi mengenal orang-orang Kristen Orthodoks Rusia yang
tinggal di Afrika yang, setelah tindakan Patriarkh Theodoros yang disebutkan di
atas, menolak untuk menghadiri paroki-paroki Gereja Aleksandria.
Maka, untuk melindungi orang-orang ini dari persekutuan dengan
para skismatik, Sinode Gereja Orthodoks Rusia, pada tanggal 26 Desember 2019,
mengakui ketidakmungkinan memperingati Patriarkh Theodoros dari Alexandria di
Dyptichs, atau doa dan persekutuan Ekaristi dengan dia, memutuskan untuk
mengubah status "Perwakilan Patriarkh Moskow dan Seluruh Rusia di bawah
Patriarkh Alexandria" menjadi paroki Gereja Orthodoks Rusia di Kairo;
untuk mengambil paroki-paroki Gereja Orthodoks Rusia yang terletak di Benua
Afrika dari yurisdiksi Patriarkhat Aleksandria, dan memberi mereka status
stavropegik” (Jurnal No. 151).
Ini menandai pembukaan resmi yurisdiksi Gereja Orthodoks Rusia di
Afrika. Secara de jure dan de facto telah ada selama hampir dua tahun dalam
bentuk ini. Khususnya, pada saat itu tidak menimbulkan pertanyaan membingungkan
yang muncul sekarang. Praktis semua resolusi yang diberikan diterima sebagai
hal yang biasa.
Jika kita melakukan ini
untuk orang Rusia yang tinggal di Afrika, lalu mengapa tidak untuk orang
Afrika?
Sementara itu, sejumlah permintaan mulai dikirimkan kepada Yang
Mulia Patriarkh Moskow dari Klerus Patriarkhat Aleksandria yang juga mengungkapkan
keinginan mereka untuk melindungi diri mereka sendiri dan umat paroki mereka
dari persekutuan dengan skismatis. Dan di sini muncul pertanyaan: Jika kita
telah melakukan ini untuk orang Rusia yang tinggal di Afrika, lalu mengapa kita
harus menolak permintaan serupa dari orang Afrika? Karena warna kulit mereka?
Ini akan menjadi rasisme, dan Gereja Orthodoks Rusia pada prinsipnya menentang
rasisme.
Tidak ada halangan apa pun untuk menerima kaum awam Afrika ke
dalam Gereja Orthodoks Rusia. Tetapi ketika kita berbicara tentang Klerus, maka
pertanyaan yang mungkin muncul tentang seberapa besar seorang Klerus bergantung
pada hierarki yang berkuasa. Dan dalam situasi biasa, tanpa dokumen pelepasan
dari hierarkinya, seorang Klerus tidak dapat dipindahkan ke mana pun.
Tetapi bagaimana jika hierarkinya telah masuk ke dalam persekutuan
dengan skismatik? Situasi ini tidak biasa, tetapi inilah yang terjadi di
Afrika. Saya mengingatkan bahwa para bapa suci dengan suara bulat mengajarkan
bahwa tidak mungkin diselamatkan apabila masuk dalam Skisma/ Perpecahan, dan
bahwa Slisma adalah kemurtadan dari Gereja dan jalan menuju kehancuran.
“Jangan
tertipu, saudara-saudaraku! Siapapun yang mengikuti jalan skisma maka dia tidak
akan mewarisi Kerajaan Allah”, tulis Martir AgungIgnatius yang suci
Pemgemban Allah.1
Dan St. Agustinus berkata:
“Kami
percaya pada Gereja Katolik yang kudus. Namun, bidat dan skismatik juga
menyebut komunitas mereka gereja. Tetapi dalam pemikiran mereka yang salah
tentang Allah, para bidat menyimpangkan iman itu sendiri; dan dengan perpecahan/
Skisma, mereka yang melanggar hukum, para skismatis menyimpang dari kasih
persaudaraan, meskipun mereka percaya pada hal yang sama seperti kita. Oleh
karena itu, baik bidat maupun skismatik tidak termasuk dalam Gereja Ekumenis,
yang mencintai Allah, dan juga skismatik tidak termasuk di dalamnya.”2
Dan Hieromartir Suci Hilarion (Troitsky) menulis:
“Kami tahu dan yakin bahwa kemurtadan dari Gereja, baik itu skisma,
bidat, atau sektarianisme, adalah kehancuran total dan kematian rohani. Jika
Kristus menciptakan Gereja, dan Gereja adalah tubuh-Nya, maka melepaskan diri
dari Tubuh-Nya berarti kematian.”3
Jadi, perpecahan sama sekali bukan masalah sepele atau
perselisihan administratif, karena Patriarkh Theodoros sekarang mencoba untuk
menyajikannya kepada para Klerus Afrika. Skisma adalah jalan lurus ke neraka.
Dan jika kita pergi ke kanon Gereja, maka kita melihat bahwa kanon kedua dari
Konsili Antiokhia mengatakan:
“Tidak diperbolehkan bersekutu dengan orang-orang yang diekskomunikasi,
atau memasuki rumah mereka dan berdoa dengan mereka yang berada di luar
persekutuan gerejawi: Mereka yang telah mengasingkan diri dari kumpulan dari Gereja
yang satu tidak boleh diizinkan masuk ke gereja lain. Jika salah seorang dari
para uskup, presbiter, diakon, atau klerus lain ditemukan berhubungan dengan
orang yang diekskomunikasi, mereka sendiri harus berada di luar persekutuan gereja.”
Menurut kanon ini, masuk ke dalam persekutuan dengan skismatik
membuat mereka yang melakukannya diekskomunikasi dari persekutuan gerejawi;
yaitu, mereka ternyata berada dalam situasi yang sama sehubungan dengan Gereja
dengan para skismatis yang dengannya mereka masuk ke dalam persekutuan tersebut.
Kami berbicara, saya tekankan, bukan tentang pelanggaran kanonik apa pun,
tetapi tentang sesuatu yang membawa seseorang keluar dari Gereja dan
menghilangkan harapan keselamatannya—dan itu hanya berlaku untuk bidat dan skisma.
Menurut pendapat mereka yang mengajukan pertanyaan yang dibahas di
sini, seorang klerus hanya dapat melepaskan diri dari uskupnya karena kebidatan
uskup itu. Dan bahkan dalam kasus skisma yang mengancam, dia seharusnya tidak
meninggalkannya. Namun, akan sulit bagi saya untuk menyebut posisi seperti itu
sebagai sesuatu yang sesuai dengan eklesiologi Orthodoks. Karena dengan
demikian kita akan memiliki kaum awam yang, menurut ajaran Patristik, tidak
boleh mengikuti seorang imam yang mengalami skisma, sedangkan seorang imam apakah
harus mengikuti hierarkinya ke dalam skisma? Absurditas seperti itu sama sekali
tidak bisa disebut "pendekatan kanonik". Saya mengingatkan bahwa
dalam kata-kata St. Yohanes Krisostomos, “Membuat skisma di Gereja tidak kurang
dari kejahatan daripada jatuh ke dalam bidat … dosa skisma tidak dapat
dibersihkan bahkan dengan darah kemartiran.”4
Ada kesaksian yang menyamakan bidat dengan skismatik dalam kanon
enam dari Konsili Ekumenis Kedua, di mana dikatakan:
“Dan yang
kami maksud dengan bidat adalah mereka yang sebelumnya diusir, dan mereka… yang
mengaku memegang iman sejati tetapi yang telah memisahkan diri dari uskup
kanonik kita, dan mendirikan kelompok mereka sendiri untuk menentang [uskupnya].”
Gagasan bahwa seorang klerus harus mengikuti langkah uskupnya ke
dalam skisma bertentangan dengan kanon kedua Konsili Antiokhia yang dikutip di
atas. Dalam pemenuhan kanon ini, Gereja kita telah memutuskan persekutuan
Ekaristi dengan Patriarkh Aleksandria. Di sini kita tidak berbicara tentang pemaksaan
atau pelanggaran pribadi oleh hierarki tertentu, tetapi tentang posisi resmi Pemimpin
Gereja. Patriarkh Theodoros mengumumkan pengakuannya terhadap struktur
skismatis dan secara terbuka mengadakan persekutuan dan konselebrasi dengan
para skismatik.
Sinode telah bersaksi bahwa
ada perpecahan di antara Gereja-Gereja
Sinode Gereja Orthodoks Rusia pada tanggal 24 September 2021
memutuskan bahwa dengan tindakan ini, Patriarkh Theodoros “semakin memperdalam
perpecahan di antara Gereja-Gereja kita”. Saya ingatkan bahwa status Sinode
adalah dewan kecil para uskup. Artinya, telah memberikan kesaksian konsili
bahwa antara Gereja kita dan Gereja Alexandria ada skisma/perpecahan. Dan jika
kita telah mengakui hal ini, lalu bagaimana kita bisa berargumentasi mendukung
penolakan klerus yang ingin menjaga diri dari skisma?
Menurut kanon kedua Konsili Antiokhia, klerus di bawah Patriarkh
Theodoros harus berada di luar persekutuan dengan pemimpin semacam itu. Namun,
menurut kanon, seorang imam tanpa uskup tidak dapat melayani. Jika seorang
uskup ditemukan di Patriarkhat Aleksandria yang akan menentang tindakan
Patriarkh yang memasuki persekutuan dengan para skismatis, maka para klerus itu
seharusnya mengajukan banding kepada uskup itu.
Tetapi seperti yang dicatat oleh Sinode kami dalam resolusinya,
“Saat ini, tidak ada hierarki Gereja Orthodoks Aleksandria yang menolak untuk
menyetujui tindakan Patriarkh Theodoros dalam mendukung skisma di Ukraina.”
Setelah keputusan Sinode, Metropolitan Panteleimon (Lampadirios) dari Andinois
menyatakan posisinya:
“Keputusan
Patriarkhat Ekumenis dan Aleksandria sehubungan dengan pengakuan autokephali
dari 'Gereja Orthodoks Ukraina' adalah tidak kanonik dan bertentangan dengan
kanon suci Gereja Orthodoks. Sayangnya, keputusan ini telah menciptakan lebih
banyak masalah tidak hanya di Ukraina, tetapi di seluruh dunia Orthodoks,
terutama di Afrika… Adapun para imam Tanzania yang ingin bergabung dengan
Gereja Orthodoks Rusia, ini adalah masalah yang harus mereka putuskan sendiri.
Satu-satunya cara untuk mengatasi konflik ini adalah melalui pertobatan sejati
di pihak Patriarkh Bartholomeus dan Theodoros, dan Uskup Agung Hieronymos dari
Athena. Mereka harus mencabut keputusan kanonik mereka dan memulihkan
perdamaian dan persatuan di dalam Gereja. Jika tidak, mereka akan menghadapi
Penghakiman yang Mengerikan dari Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
karena ini telah menjadi pencobaan bagi umat beriman.”5
Metropolitan menuntut agar klerus
Tanzania menandatangani dokumen untuk mendukung tindakan Patriarkh Theodoros
Pernyataan berani dari hierarki Gereja Orthodoks Aleksandria ini
patut dihormati; Namun, Metropolitan Panteleimon sudah pensiun dan bukan
hierarki yang berkuasa lagi. Dia juga tidak mengambil tindakan apa pun untuk
mengumpulkan para uskup Afrika di sekitar dirinya. Jika kita berbicara tentang
hierarki yang berkuasa, maka tidak satu pun dari mereka yang mengeluarkan
pernyataan seperti itu. Meskipun, sebagai salah satu contoh—ketika saya bertemu
di awal tahun 2020 dengan Metropolitan Jonah (Luanga) dari Uganda yang baru
saja diberhentikan, dalam percakapan pribadi dia mengakui kepada saya bahwa dia
dengan tegas tidak menyetujui tindakan Patriarkh Theodoros terkait masalah
Ukraina. Tapi dia tidak mengumumkan posisinya, seperti beberapa hierarki Gereja
Alexandria lainnya yang khawatir akan kehilangan bantuan keuangan dari Yunani
karena pendapat mereka yang berlawanan. Selain itu, hierarki lain telah
membedakan diri mereka sebagai pendukung yang bersemangat untuk mengakui
skismatis Ukraina,6 dan juga mulai menganiaya dan melecehkan klerus
mereka yang menandatangani “Surat Terbuka Para Imam Patriarkhat Aleksandria”.7
Fr. David Lakvo diberhentikan dari posisinya sebagai rektor dan sebagai
direktur sekolah Orthodoks, dikeluarkan dengan tidak hormat, dan dibiarkan
tanpa mata pencaharian. Fr. Ambrose Chavalu dan sejumlah klerus Tanzania
lainnya "diundang dengan karpet merah " oleh metropolitan Yunani
mereka, yang menuntut agar mereka menandatangani dokumen persetujuan pengakuan
Patriarkh Theodoros atas OCU. Ketika klerus ini menolak, mereka juga diusir dari
gereja mereka dan dipindahkan dari posisi mereka. Selain itu, ancaman
disuarakan bahwa mereka akan dianiaya lebih lanjut bahkan sampai ke titik
pembalasan fisik.
Bisakah kita benar-benar menolak untuk menerima para Romo Afrika
yang malang ini yang telah menderita karena mereka menyatakan dukungan mereka
untuk Gereja kita?
Saya menulis ini bukan untuk mengutuk hierarki Gereja Aleksandria,
tetapi hanya untuk menggambarkan situasi di mana para imam Afrika ini sekarang
menemukan diri mereka sendiri. Tentu saja, tidak semua dari mereka menyadari
peristiwa tragis dalam masyarakat Orthodoks Ukraina; Ukraina sangat jauh dari
Afrika, dan tidak setiap imam lokal memiliki akses ke internet. Namun demikian,
tidak sedikit Romo yang tahu apa yang sedang terjadi, dan ingin menjaga diri
mereka sendiri dan kawanan mereka dari persekutuan dengan skismatis.
Apa yang harus mereka lakukan?
Karena hierarki penguasa yang dengan tegas menolak jalan skisma
belum ditemukan di Gereja Alexandria, maka satu-satunya kemungkinan yang
tersisa bagi para klerus ini adalah beralih ke uskup Gereja kanonik lain yang
telah menjaga dirinya agar tidak masuk ke dalam skisma.
Oleh karena itu, mengingat ajaran Orthodoks tentang dosa skisma
dan kanon kedua Konsili Antiokhia (seperti kanon apostolik kesepuluh,
kesebelas, dan kedua belas) diterimanya klerus Afrika dalam situasi sekarang ke
dalam Gereja Rusia (atau Gereja lain mana pun yang tidak berada dalam
persekutuan dengan skismatis) adalah mungkin dan benar. Mungkin sebagai
tindakan sementara—sampai Gereja Aleksandria dibebaskan dari persekutuan dengan
para skismatis; atau mungkin secara permanen, dalam batas-batas yurisdiksi
Gereja Orthodoks Rusia di Afrika yang sudah berdiri dua tahun lalu. Ini akan
segera ditinjau dan diputuskan pada pertemuan Sinode, dan kemudian juga di
Dewan Uskup.
Namun, saya ulangi bahwa gagasan menurut kanon, seorang klerus
harus mengikuti pemimpinnya ke dalam skisma terdengar sama gilanya dengan
gagasan bahwa seseorang harus mengikutinya ke dalam bidat "karena alasan ketaatan".
Tidak ada yang bisa
mengkritik Gereja Orthodoks Rusia karena memiliki sedikit kesabaran
Dan meskipun sekarang banyak penutur bahasa Yunani yang
berhubungan dengan Gereja Aleksandria sedang melontarkan kecaman murka kepada
Gereja Rusia, mencoba membingkainya sebagai agresor, faktanya—seperti juga
seluruh Orthodoksi—korban kecerobohan Patriarkh Konstantinopel Bartholomeus dan
bahwa pemimpin dari hampir semua Gereja Yunani yang mendukung tindakannya yang
melanggar hukum. Tidak ada yang bisa mengkritik Gereja Orthodoks Rusia karena
memiliki kesabaran yang terlalu sedikit atau upaya dialog yang terlalu sedikit.
Tetapi kesabaran dan kerendahan hati Kristen ini ditafsirkan oleh para penulis
kebingungan ini sebagai tanda kelemahan, dan mereka terus memperdalam
perpecahan. Hanya Gereja Rusia yang harus melindungi umatnya dari infeksi skisma
yang mematikan dan mengulurkan tangan untuk membantu mereka yang ingin menjaga
diri dan umat mereka dari bahaya. Ini telah terjadi dengan eksarkhat Rusia dan
sejumlah klerus individu Patriarkhat Konstantinopel.
Sekarang giliran Afrika.
Para penulis kebingungan gerejawi ini hanya menyalahkan diri mereka
sendiri. Selain itu, dasar ideologis tindakan skismatis Patriarkhat
Konstantinopel sebenarnya adalah penerimaannya terhadap bidat papism baru,8
dan premis untuk gerakan para imam Afrika saat ini juga merupakan tindakan
khusus para uskup Yunani di Afrika;9 tetapi saya sudah membahas
tema-tema ini di artikel lain.
Adapun pertanyaan yang dikutip di awal artikel ini, saya harap
saya telah berhasil menjelaskan mengapa saya secara pribadi menjawabnya dengan
positif.
Romo George
Maximov
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh OrthoChristian.com
Pravoslavie.ru
30/10/2021
1 Holy Hieromartyr
Ignatius the God-Bearer. Epistle to the Philadelphians. // https://azbyka.ru/otechnik/Ignatij_Antiohijskij/poslanie-k-filadelfijtsam/
(Russian).
2 Blessed Augustine. On
the Creed. https://azbyka.ru/otechnik/Avrelij_Avgustin/o-simvole-very/ (Russian).
3 Holy Hieromartyr
Hilarion (Troitsky). On life in the Church and church life. // https://azbyka.ru/otechnik/Ilarion_Troitskij/o-zhizni-v-tserkvi-i-o-zhizni-tserkovnoj/ (Russian).
4 St. John
Chrysostom. Exegesis on the Epistle to the Ephesians. https://bible-teka.com/zlatoust/56/ (Russian).
5 Metropolitan
Panteleimon (Lampadarios) of Antinois. https://zen.yandex.ru/media/id/5f244705fd3f2b5772973d28/edinstvennyi-sposob-preodolet-konflikt--istinnoe-pokaianie-patriarhov-varfolomeia-i-feodora-6167024e33373b5e80308676 (Russian).
6 https://www.ng.ru/ng_religii/2019-10-01/11_473_ukraina.html
7 https://pravoslavie.ru/126439.html
8 Priest George
Maximov, “The Heresy of Constantinople Papism”. https://pravoslavie.ru/118507.html.
9 https://www.youtube.com/watch?v=9F1OklhFs-o
https://orthochristian.com/142656.html