Anti-Patristik: Sikap Kelompok Kalender Lama (Old Calendarist)) yang
Zealot.
Biarawan Basilius dari Biara
Suci Js. Gregorius (Grigoriou) Gunung Athos.
Diharapkan bahwa artikel berikut ini yang diterjemahkan beberapa tahun yang lalu, tetapi tidak diposting sampai sekarang — akan bermanfaat bagi orang Kristen Orthodoks yang sedang bergulat dengan apakah mereka harus tetap dalam persekutuan dengan Uskup mereka atau “lompat kapal” ke salah satu dari kelompok Old Calendarist/ kalender lama. Ini juga dapat membantu mereka yang bergumul dengan apakah dengan rekonsiliasi baru-baru ini antara Kepatriarkhan Moscow dan Gereja Orthodoks Rusia Di Luar Rusia berarti mereka harus meninggalkan ROCOR untuk bergabung dengan salah satu gereja yang memisahkan diri dari ROCOR yang menentang persatuan kembali.
Artikel ini bukan tanpa kelemahan, misalnya, ketika penulis menulis "... justru karena [orang zealot] juga tidak memiliki alasan iman untuk skisma mereka." Yang disebut zealot kemudian membaca artikel ini kemungkinan akan merespons, "Kalender pada hakekatnya adalah masalah kanonik; tetapi motivasi di balik pengadopsiannya yang tidak lazim adalah agenda ekumenis yang lebih luas. Kalender Julian bukanlah dogma, dan perjuangan kita yang terutama bukan atas Kalender. Sebaliknya, perjuangan kita melawan Ekumenisme, yang merupakan bidat eklesiologis, dan dengan demikian merupakan masalah dogmatis. Perubahan Kalender harus dilihat dalam konteks yang tepat. ”Ini adalah poin yang masuk akal yang tidak cukup ditangani oleh penulis. Pertanyaannya adalah apakah mengakui poin-poin kekurangan ini merusak argumen penulis. Saya tidak berpikir demikian (lihat poin-poin penutup).
Penulis juga menyerang perpecahan kelompok Studite, dia menulis bahwa mereka "tidak diakui oleh siapa pun, tetapi malah dikutuk." Ini diakui bertentangan setidaknya oleh dua kehidupan Js. Theodore Studite. Sebagai contoh, Synaxarion yang diterbitkan oleh Biara Suci Annunciation of Our Lady, Ormylia, Yunani, diterimanya Js. Theodore Studite dan para pengikutnya setelah kembali dari pengasingan tampaknya mengindikasikan bahwa perlawanannya sangat dihormati. Namun demikian, saya tidak berpikir kemungkinan kesalahan ini memperdebatkan poin penulis. Ada Orang-Orang Suci di kedua sisi kontroversi ini: dua Patriarkh berturut-turut dari Konstantinopel, Js. Tarasius (25 Februari) dan Js. Nikephorus (2 Juni). Dalam membaca Kehidupan mereka, tidak ada kesimpulan yang dapat ditarik tentang bagaimana Gereja pada akhirnya memandang tindakan mereka sebagai kebalikan dari tindakan kelompok Studite.
Terlebih lagi, bahkan jika kita mengijinkan kepatutan dari perpecahan Studite masih ada fakta bahwa kunci Kanon yang dikutip oleh orang-orang Zealot/fanatik, yaitu Kanon XV dari Konsili Pertama-Kedua, ditetapkan sekitar enam puluh tahun kemudian untuk mengklarifikasi alasan yang tepat akan pecahnya persekutuan. dengan seorang hierarki:
Para Patriarkh timur dan lebih dari tiga ratus uskup, termasuk utusan kepausan, hadir [di Konsili Pertama-Kedua]. Semua membenarkan dan meratifikasi pernyataan Konsili Suci Ketujuh (Konsili Ekumenis, dan sekali lagi mengutuk bidat Ikonoklasme. Patriarkh Photios diterima sebagai Patriarkh yang sah dan kanonik. Juga di konsili ini, tujuh belas kanon suci ditulis dengan tujuan membawa ketidaktaatan para biarawan dan uskup menjadi selaras dengan tatanan dan tradisi gerejawi. Para biarawan yang tidak taat secara tegas dilarang meninggalkan uskup mereka yang sah dengan alasan dosa yang dilakukan oleh sang uskup, yaitu, dosa-dosa pribadi, karena hal ini akan membawa kekacauan dan perpecahan dalam Gereja sebab dikatakan bahwa hanya dengan keputusan konsiliar saja seorang klerus dapat menolak seorang uskup yang telah jatuh dalam dosa. Peraturan ini diadopsi sebagai tanggapan langsung kepada para biarawan yang secara tidak masuk akal telah melakukan kesalahan dengan memisahkan diri dari Patriarkh mereka yang baru. (Holy Apostles Convent, trans., The Great Synaxaristes of the Orthodox Church, February hal. 195)
Mungkinkah Kanon ini sebagian didorong oleh Kontroversi Moechian, yang menyangkut Kanon tertentu, bukan dogma?
Kelemahan ketiga dari artikel ini adalah penulis menempatkan semua kaum Zealot dalam keranjang yang sama, gagal membedakan antara banyak kelompok yang menyangkal keberadaan Rahmat Gerejawi di Gereja Kalender Baru, dan kelompok-kelompok yang lebih moderat, seperti ( Kalender Lama) Gereja Orthodoks Yunani Sejati, Sinode Metropolitan Cyprian, dan mereka yang bersekutu dengannya (Gereja [Kalender Lama] Orthodoks Sejati Rumania dan Bulgaria). "Penentang" kelompok moderat ini tidak menyangkal kehadiran Rahmat dalam Misteri Gereja-Gereja yang dengannya mereka tidak berada dalam persekutuan, juga tidak menganggap para Klerus Gereja-Gereja ini hanya orang awam, jika bukan di luar Gereja sama sekali. Mereka mungkin akan berbagi kritik yang ditulis oleh penulis artikel ini tentang orang-orang Zealot/ fanatik.
Terlepas dari kelemahan ini dan lainnya, saya pikir artikel ini cukup berharga. Ini memberikan banyak pernyataan yang membangkitkan pemikiran dan contoh-contoh sejarah penting yang mempertanyakan posisi kaum Zealot/fanatik saat ini yang berhadapan dengan Gereja-Gereja Orthodoks yang mentolerir, pada tingkat tertentu, para klerus yang membuat pernyataan ekumenis atau melanggar Kanon Suci di Konsili ekumenis. Kesan jelas yang didapat adalah bahwa sejarah Gereja, terutama selama masa kontroversi, tidak “hitam-putih” seperti yang banyak orang Zealot/fanatik dewasa ini ingin orang lain percayai. Dalam terang artikel ini, beberapa argumen kunci yang mendasari sikap fanatik tampaknya sederhana dan kaku.
Sebagai catatan, saya pribadi menahan diri dari menempelkan label "skismatik" atau "tidak kanonik" ke kelompok-kelompok Zealot/ fanatik ini. Itu bukan penilaian yang ingin saya buat. Masalah resistensi yang sah terhadap bidat cukup kabur sehingga saya lebih memilih untuk tetap berhati-hati, menunggu keputusan Konsili di masa depan. Mungkin sekali lagi kita akan menyadari bahwa ada Orang Suci di kedua sisi. Sampai saat itu Kanon XV membutuhkan studi ilmiah lebih lanjut untuk menentukan apakah orang Zealot/ fanatik benar-benar dibenarkan dalam menerapkan kepada mereka kutipan dari padanya:
“Akan tetapi, konsili suci membedakan antara pemberontakan yang tidak masuk akal dan perlawanan yang terpuji, untuk membela Iman yang didukungnya. Berkenaan dengan hal ini, diputuskan bahwa seandainya seorang uskup secara terbuka mengakui atau mematuhi beberapa ajaran sesat, sudah dikutuk oleh para bapa suci dan konsili-konsili sebelumnya, seorang yang berhenti untuk memperingati seorang uskup seperti itu bahkan sebelum pengutukan konsili, tidak hanya tidak akan dikutuk. tetapi juga harus dipuji sebagai mengutuk uskup palsu. Terlebih lagi, dengan melakukan itu, seseorang tidak memecah belah Gereja, tetapi berjuang untuk kesatuan Iman.”
Penggunaan Kanon ini oleh kelompok Zealot/fanatik menimbulkan banyak pertanyaan; dan pertanyaan-pertanyaan ini adalah alasan utama mengapa orang-orang Kristen Orthodoks terpecah-pecah atas tanggapan yang pantas terhadap masalah Ekumenisme yang diakui serius di Gereja dewasa ini:
Apakah Ekumenisme sebagai bidat eklesiologis sudah “dikutuk oleh para bapa suci dan konsili-konsili sebelumnya”?
Apakah Ekumenisme diajarkan
dengan terang-terangan, yaitu, secara terbuka, secara resmi, "dari ambon/
depan pintu altar", dan diumumkan secara resmi sebagai ajaran Gereja?
Apakah Kanon XV membenarkan pembentukan konsili paralel, bahkan saingan? Di mana contohnya dari sejarah Gereja?
Adalah satu hal untuk
menghentikan “[peringatan] uskup seperti itu bahkan sebelum pengutukan
konsili”, tetapi apakah Kanon ini mengizinkan menghentikan persekutuan dengan
semua Uskup lain yang mungkin berhubungan dengan Uskup itu?
Bagaimana para penentang kelompok moderat mengatakan bahwa para Uskup dengan siapa mereka telah melanggar persekutuan masih menjadi Uskup ketika Kanon XV menyatakan, “Karena mereka telah menentang, bukan para Uskup, tetapi uskup palsu dan guru palsu;”
Ini adalah pertanyaan serius yang
hanya dapat dijawab oleh penelitian ilmiah tentang sejarah Gereja selama masa
kontroversi, serta Kanon XV. Saya menantikan hari ketika studi semacam itu ada.
Di majalah "Holy Kollyvades" 1 sebuah artikel oleh Romo. Nicholas Demaras diterbitkan, di mana Biara Suci St. Gregorius dikritik karena pendiriannya tentang Ekumenisme dan Zealotisme.
Kesempatan penulisan artikel ini adalah saat kepergian saya dari para Bapa Zealot di Gunung Suci dan saya yang tinggal di Biara Suci yang disebutkan sebelumnya. Alasan saya untuk pergi adalah garis gerejawi yang sepenuhnya keliru yang ditinggalkan oleh orang-orang Zealot dan G.O.C. [Kristen Orthodoks Sejati] yang telah mengadopsi Kalendar Lama. Di antara banyak argumen saya untuk keputusan ini adalah sikap Js. Sophronius tentang bidat Monothelit.
Dalam artikelnya Romo Nicholas berurusan terutama dengan sikap Js. Sophronius. Para uskup Gereja juga dituduh mengkhotbahkan ajaran sesat Ekumenisme melalui perubahan kalender, dialog, doa bersama, dan inovasi lainnya. Secara bersamaan, Biara Suci kita juga dikritik karena kita tidak memutuskan persekutuan gerejawi dengan para uskup kita, meskipun ada perintah eksplisit dari para Bapa Suci dan persyaratan Kanon ke-15 dari Konsili Pertama-Kedua (861) [2].
Saya tinggal bersama para bapa kaum Zealot yang, dalam semua hal lain, adalah biarawan yang saleh. Saya mengagumi kesalehan mereka, cinta mereka terhadap monastisisme, dan semangat perjuangan mereka. Saya memastikan, namun disayangkan bahwa mereka mempertahankan perpecahan/skisma yang antikanonik, salah menafsirkan ajaran Bapa Suci dan sejarah gereja.
Dengan berkat dari elder saya yang terhormat, Romo George, untuk saat ini saya akan menanggapi dengan tegas tuduhan-tuduhan artikel itu untuk membuktikan bahwa pendirian kami benar-benar sesuai dengan Eklesiologi Orthodoks. Kriteria dasar untuk jawaban ini berasal dari pengajaran patristik mengenai bidat dan uskup yang bertindak secara antikanon.
A. PENGAJARAN PATRISTIK
1. Tentang bidat yang dikutuk
Pendirian para Bapa Suci tentang bidat selalu sama. Js. Tarasius dari Konstantinopel mengatakan bahwa "tidak ada yang dapat kami temukan dari para bapa yang tidak setuju, tetapi karena mereka berasal dari roh yang sama, mereka semua berkhotbah dan mengajarkan hal yang sama" 3. Dengan demikian, Js. Gregorius sang theolog mengajarkan bahwa kita harus berpaling dari bidat sebagai orang asing ke Gereja yang Katolik [4]. Para bidat, menurut Athanasios Agung, adalah serigala dan cikal bakal dari Antikristus [5], sedangkan, menurut Basilius Agung, dikatakan bahwa bidat lebih buruk daripada Yudas [6]. Js. Yohanes dari Damaskus memerintahkan agar kita tidak memberikan komuni kepada bidat, atau mengambil komuni dari mereka, [7] karena, menurut Js. Theodore Studite, persekutuan dengan bidat adalah racun yang menggelapkan dan menghitamkan jiwa [8].
Peringatan terhadap uskup yang sesat adalah kekotoran batin [9], sedangkan menurut Js. Symeon dari Tesalonika, bahkan dilarang hadir Bersama di Gereja dengan bidat [10]. Para Jana Suci mendesak para bidat untuk meninggalkan ajaran sesat mereka dan memasuki Gereja yang Katolik, jika tidak mereka tidak diuntungkan oleh perbuatan baik mereka [11], dan mereka juga tidak dapat mewarisi kerajaan Allah [12].
2. Tentang mereka yang bersatu
dengan bidat yang dikutuk
Menurut Kanon 1 dan 2 dari Konsili ekumenis ke-3, [13] siapa pun yang berafiliasi dengan bidat maka dia jatuh dari persekutuan gereja dan imamat. Karena itu, Js. Savvas dan Js. Theodosios, bersama dengan semua biarawan Palestina, menyatakan bahwa mereka bersedia untuk menumpahkan darah mereka daripada menerima persatuan dengan orang-orang Monofisit [14]. Persekutuan dengan orang Latin yang tidak bertobat pada tahun 1274 dan 1439 dihadapkan dengan cara yang sama. Dengan kata lain, para bapa memutuskan persekutuan gerejawi dengan siapa pun yang menerima persatuan Lyons (1274). Mereka juga lebih memilih mengalami penyiksaan dan kematian, seperti para martir Gunung Athos yang terhormat [15] dan Js. Meletius dan Js. Galaktion [16]. Js. Markus Eugenikos juga mendesak kaum Orthodoks untuk tidak ambil bagian dalam komuni dengan siapa pun yang menerima persatuan palsu Florence (1439). Dia biasa berkata: "Larilah dari mereka, seperti orang melarikan diri dari ular" 17.
3. Tentang mereka yang
memberitakan bidat,
Dositheos suci dari Yerusalem, yang menafsirkan Eklesiologi Orthodoks dengan sangat indah, menghadirkan cara di mana Gereja menghadapi orang-orang yang berkhotbah di dalam dogma-dogma sesat-nya: “Bidat yang muncul, jika menyebar, maka konsili Ekumenis mengadili dan mengutuknya” 18. Sementara setelah Konsili, bidat yang tidak bertobat sepenuhnya terputus dari persekutuan Gereja.
Dalam beberapa kasus persekutuan gerejawi dengan para inovator ini terputus bahkan sebelum pengadilan Sinode/konsili. [19] Kanon ke-15 Konsili Pertama-Kedua memungkinkan tindakan ini, asalkan dilakukan dengan tujuan membebaskan Gereja dari perpecahan/skisma dan bidat dari para uskup yang keliru [20]. Karena perpecahan/ skisma gerejawi bukanlah sesuatu yang sederhana, namun, pengadilan final dan pemutusan terhadap para bidat dari Gereja, seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, dipercayakan kepada konsili ekumenis.
Alasan yang disebutkan di atas adalah bahwa ajaran sesat tidak mudah dan segera disadari oleh umat beriman dalam Gereja. Beberapa orang ambil bagian dalam komuni dengan para uskup yang mengkhotbahkan kepercayaan sesat karena ketidaktahuan, yang lain karena alasan ekonomi atau alasan lain yang bisa dibenarkan. Karena itu, tidak tepat bagi mereka untuk dianggap sebagai bidat sebelum keputusan akhir konsili ekumenis. Oleh karena itu, tidak ada Kanon suci atau Bapa suci yang pernah memaksakan pleroma /pemikiran bersama yang Orthodoks untuk memutuskan komuni gerejawi dengan bidat sebelum pengutukan konsili, juga tidak ada imam yang dihukum karena mempertahankan persekutuan sebelum pengutukan tersebut. Tentu saja, ini tidak terjadi pada mereka yang terus memelihara persekutuan [dengan para bidat] setelah pengutukan konsili.
Cukup banyak contoh dari Sejarah Gereja yang membuktikan bahwa dari kemunculan ajaran sesat hingga penghukuman akhir, ada periode di mana Gereja berusaha, melalui perwakilan-nya, untuk membawa kepada pertobatan para guru "baru", menerapkan jalan ekonomia, yang diakui oleh semua Bapa Suci. Sebagai contoh, ketika bidat Monotheletisme pertama kali diberitakan pada tahun 615, lawan utamanya, Js. Sophronios dan Js. Maximos, tampaknya tidak pernah menghentikan persekutuan dengan para bidat sebelum sinode/ Konsili-konsili Barat (640-649), yang meng-anathema mereka.
Ekonomia juga ditemui dalam kasus sikap kepada orang Latin. Kita mencapai kesimpulan di atas bahkan jika kita menerima kasus ekstrem, yaitu, para paus secara resmi mengkhotbahkan bidat Filioque pada tahun 1009 yang bertentangan dengan menyebarkannya tanpa ragu dari abad ke-10. [21] Orang Zealot menyatakan bahwa perpecahan itu terjadi segera, karena Sergius dari Konstantinopel menghapus Paus dari diptych pada tahun 1009 [22]. Mereka selanjutnya memberikan kesaksian terkait tentang Dositheos yang kudus.
Penyimpangan sejarah dan kekaburan kata-kata Bapa suci ini sangat jelas. Dositheos yang kudus menulis bahwa para Patriarkh yang lain tidak mengeluarkan Paus dari Diptychs pada tahun 1009, tetapi sebaliknya baru setelah empat puluh lima tahun (1054). Tentu saja dipahami bahwa Konstantinopel dipersatukan dengan para Patriarkh di atas selama seluruh periode ini. Ekonomia terhadap orang Latin ini terjadi karena "para Patriarkh, menurut tradisi gerejawi kuno, alih-alih menerapkan keadilan kanonik Keroularios, tetapi menunggu koreksi Gereja Roma, maka mereka juga sangat bersabar" 23. “Orang-orang Timur (dengan kata lain), telah, melalui ekonomia, berdiam diri untuk waktu yang lama, berpikir bahwa orang Italia akan menggerakkan inovasi mereka ke arah yang lebih baik, tetapi [orang Italia] tetap bertahan dalam kekeraskepalaan mereka sendiri, sehingga [orang-orang Timur] memutus mereka dari kesatuan gerejawi ”24.
Juga ketika Js. Gregorius (ayah Js. Gregorius Sang Theolog) karena kepolosannya menandatangani kredo semi-Arian (361), para biarawan memutus persekutuan dengannya [25]. Namun, Js. Gregorius dan yang lainnya, tidak berpisah darinya. Kenyataan ini, oleh orang-orang Zealot biasanya disembunyikan, demikian pula penilaian Bapa Suci mengenai para biarawan [26]. Persatuan itu tercapai setelah Gregorius meyakinkan ayahnya untuk secara terbuka mengucapkan Pengakuan Iman Orthodoks (364) [27]. Terlebih lagi, dalam homili Peramaian pertamanya, yang disampaikan pada saat persatuan, sang theolog agung mengecam para biarawan [zealot] secara tidak langsung karena pemberontakan, ketergesaan dan keberanian mereka. Dia menyarankan mereka untuk tidak memakan lagi "muntahan mereka sendiri", karena bahwa lebih disukai kita tetap berada dalam tubuh bersama Gereja ketika kita tidak sepenuhnya yakin. [28].
4. Tentang mereka yang melanggar
Kanon suci
Bagaimana mereka menyikapi mereka yang melanggar (lebih atau kurang) Kanon suci tetapi yang tanpa menyentuh dogma, sama sekali berbeda. Kanon 13, 14 dan 15 dari Konsili Pertama-Kedua secara tegas melarang menghentikan persekutuan gerejawi dengan para uskup yang jatuh ke dalam “kejahatan” apa pun sebelum pengadilan sinode/ konsili. Para Rasul kudus telah mengijinkan menghentikan persekutuan dengan alasan “kesalehan dan kebenaran” 29. Kata “kebenaran”, bagaimanapun, dengan mudah disalahartikan, dan menghasilkan berbagai perpecahan/ skisma yang dikutuk oleh Gereja. Perpecahan-perpecahan/ skisma yang berurutan ini — yang terutama oleh orang-orang Studite, dan yang berlanjut sampai zaman Js. Photius Agung - adalah alasan mengapa Para Jana Suci dan konsilinya mengatur peraturan-peraturan ini.
Juga, sekitar lima belas tahun sebelum Sinode Js. Photios, “Methodios yang kudus secara sinode mengeluarkan anathema terhadap para biarawan Studite yang memisahkan diri dari Gereja, karena mereka menentang apa yang dikatakan dan ditulis oleh Theodore guna melawan Tarasius dan Nikephorus” 30. Taktik Js. Methodios untuk menerima ekonomia penahbisan pengikut Ikonoklas telah menyebabkan perpecahan. Yang Mulia Js. Ioannikios mengutuk perpecahan ini dengan berbagai cara, dengan mempertahankan bahwa Gereja harus dipersatukan karena tidak ada pembenaran atas perpecahan ini karena alasan iman [31].
Demikian juga, perpecahan jangka pendek yang lebih tua dari Js. Theodore Studit dalam menanggapi ekonomia yang diterapkan oleh patriarkh suci Tarasius dan Nikephorus “tidak tampak seperti kejatuhan kecil atas para bapa, tetapi bagaimanapun juga mereka dikoreksi” 32. Bahkan penulis biografinya, Michael Studite, tidak berani mendukung tindakan Js. Theodore [33]. Perpecahan/ skisma ini dikutuk oleh antara lain Js. Methodius [34] dan Js. Dositheos [35]. Banyak biarawan pada masa itu - terutama mereka yang bersinar sebagai Orang Suci yang agung - juga tidak mengikuti kaum Studit. Di antara mereka ada pengaku iman yang agung Js. Theophanis, yang dalam “Kronografinya” menyebutkan pemutusan Js. Theodore dari “Gereja suci” dan dari “Patriarkh suci” 36 Nikephoros. Sekali lagi, penyebab kutukan mereka adalah bahwa tidak ada alasan pembenaran karena masalah iman, melainkan lebih kepada penyimpangan dari Kanon-Kanon yang kudus.
Tentu saja, terlepas dari hal tersebut di atas, Js. Theodore adalah seorang pengaku iman; dan dia adalah seorang model perjuangan heroik melawan bidat ikonoklastik. Hanya skismanya yang berumur pendek untuk tindakan ekonomia di atas tidak dapat membentuk aturan bagi Gereja.
Sayangnya, kaum Zealot mempublikasikan perpecahan ini tanpa henti, menampilkannya sebagai hukum gerejawi dan aturan yang tidak bisa dilanggar, justru karena mereka juga tidak memiliki alasan iman untuk perpecahan mereka. Mereka selanjutnya menyebut "pezina" sebagai lawan dari Studite — sebagaimana dia juga menyebut mereka untuk sementara waktu; dan sebagian besar waktu mereka menyembunyikan nama lawannya, atau gagal menyebut mereka Para Jana Suci! [37] Referensinya merujuk pada Para Jana Suci dan Para Pengaku Iman Js. Nikeforos dari Konstantinopel, Js. Michael dari Synnada, Js. Euthymios dari Sardeon, Js. Aimilianos dari Kyzikus, Js. Theophylactus dari Nikomedia dan para bapa Gereja agung lainnya.
Js. Daniel Stylite juga menyerukan untuk bertobat kepada para biarawan yang memisahkan diri dari Gereja tanpa alasan iman. Dia menasihati mereka sebagai berikut: “bukan tanpa bahaya kita memisahkan diri kita dari ibu suci kita” 38.
Secara umum, semua perpecahan/ skisma yang terjadi dengan dalih ketepatan tidak pernah benar-benar mengungkapkan pikiran Gereja secara Bersama-sama. Tak perlu dikatakan, mereka yang tidak berpartisipasi dalam perpecahan ini juga tidak dianggap berada di luar Gereja.
B. EKUMENISME DAN ZEALOTISME
1. Evaluasi keliru kaum Zealot
tentang Ekumenisme
Pada abad terakhir, kecenderungan modernistik — elemen penting yang diamati lebih awal — mulai terbentuk di pangkuan Gereja. Ini bertepatan dengan upaya yang intens untuk mendekati berbagai bidat. Salah satu dari banyak catatan pahit yang terdengar selama ini adalah koreksi dari kalender gerejawi (1923-1924). Ini adalah saat perpecahan kaum Zealot dari Gereja. Tentu saja, akan menjadi berkat besar jika kalender tetap tidak diubah dan seluruh Gereja Orthodoks terus merayakan pesta secara bersama-sama.
Tiga Sinode Agung mengutuk kalender Gregorian pada akhir abad ke-16. Sejarawan F. Vafeidis menulis bahwa ”selama tahun itu (1583) sebuah Sinode berkumpul di Konstantinopel, yang terutama mengutuk penanggalan Gregorian; karena menurut kalender ini terjadi bahwa kami merayakan [Paskah] dengan orang-orang Yahudi, yang bertentangan dengan Konsili di Nikea. ”39 Kaum Zealot, ketika mereka menyebutkan frasa di atas, [sering] berhenti setelah kata “kalender”, menghilangkan kalimat sisanya! [40] Tampaknya mereka percaya bahwa tugas utama Sinode adalah mengutuk kalender Gregorian itu saja.
Faktanya, seperti yang dinyatakan oleh sejarawan, alasan utama kutukan atas kalender Gregorian adalah karena konselebrasi dengan orang-orang Yahudi — yaitu, perubahan Paskah [sehingga Paskah (Pascha) kadang-kadang bertepatan dengan (Passover) Paskahnya Yahudi — red.]. Ini, bagaimanapun, tidak pernah terjadi, dan kami berharap itu tidak akan pernah terjadi. * Dengan kata lain, arti penuh dari kutipan di atas menghilangkan alasan perpecahan dari Zealot, karena perubahan kalender perayaan [yaitu, Menaion— ed.] tidak menyentuh sifat dogmatis dari Sinode Ekumenis Pertama [41], dan karenanya tidak mengandung bidat.
Oleh karena itu, berdasarkan Kanon yang paling ketat dari Konsili Pertama-Kedua, dan terutama pada Kanon 15 — yang terus-menerus diserukan oleh kaum Zealot —, skisma kalender sepenuhnya anti-kanonik.
Selain itu, sebagian besar kaum Zealot berkhotbah bahwa semua orang yang menerima kalender baru, atau yang berkomuni dengan penganut kalender baru, dikucilkan dan karenanya dianggap tanpa Rahmat ilahi!
Tentu saja, orang Zealot tidak
begitu naif seperti yang dibayangkan berdasarkan eklesiologi mereka yang aneh.
Mereka tahu bahwa mereka membutuhkan alasan dogmatis. Sesuatu yang harus
ditemukan dengan segala cara.
Sayangnya, mereka dibantu oleh mereka yang mempromosikan ekumenisme sinkretistik melalui dialog ekumenis; kerinduan yang berlebihan untuk bersatu dengan bidat; kadang-kadang menyampaikan kepada mereka Misteri suci; kasus-kasus asing dari pengakuan misteri mereka sebagai valid; penerimaan karakter gerejawi dalam pengakuan mereka; dan doa bersama, di antara pelanggaran-pelanggaran kanonik.
Oleh karena itu, kaum Zealot
menyatakan mereka yang bertanggung jawab atas tindakan di atas sebagai bidat,
dan dengan demikian ditemukan alasan yang dirindukan, meskipun tertunda. Bagi
mereka, tidak penting bahwa skisma kalender terjadi beberapa dekade sebelumnya.
Yang penting adalah ditemukannya pembenaran dogmatis akan hal itu! Mereka juga
bersukacita bahwa mereka dibebaskan "tepat pada waktunya" dari para
Ekumenis.
Bagaimanapun, berkali-kali, selama periode ajaran sesat dikhotbahkan, para Bapa Suci menerapkan ekonomia terpuji terhadap bidat untuk membantu mereka mengubah alur pemikiran mereka. Namun, mereka tidak pernah memicu perpecahan karena beberapa kemampuan melihat jauh ke depan [yang memberi mereka wawasan tentang hasil kontroversi — red.].
Sayangnya bagi kaum Zealot, harus ditekankan bahwa pelanggaran kanonik di atas, tidak peduli betapa pedih dan mengkhawatirkannya mereka, tidak termasuk dalam bidat. Pelanggaran-pelanggaran kanonik itu terdiri dari "kejahatan" terhadap Kanon Sinode Pertama-Kedua, serta pelanggaran Kanon suci lainnya, tetapi bukan bidat. Bidat adalah “menyimpang dalam sesuatu atas dogma yang diletakkan di hadapan kita, tentang iman yang benar,” 42 dan keterasingan dari iman [43].
Bagaimana dengan pengakuan secara sporadis dan tidak resmi — yaitu, tanpa pengakuan Sinodis mengenai deklarasi, kesepakatan, atau teori yang tidak orthodoks mengenai Ekumenisme? Ini bukan pernyataan pernyataan resmi bidat. Bahkan yang paling ekstrim Kaum Zelot mengajarkan bahwa pernyataan sporadis dari ajaran sesat Filioque - yang dikhotbahkan selama berabad-abad, dan pada tingkat yang jauh lebih besar [44] daripada teori cabang Protestan - tidak menjadi penyebab perpecahan/ skisma [45]. Oleh karena itu, karena ajaran-ajaran heterodoks ini belum [secara resmi] diakui atau secara tegas dan ditetapkan, maka ajaran-ajaran heterodoks tersebut tidak menyebabkan perpecahan.
Umat beriman memang memiliki tanggung jawab, tentu saja, terus-menerus dan sungguh-sungguh untuk berjuang melawan ajaran-ajaran heterodoks ini, untuk menghapus atau setidaknya membatasinya, sehingga akhirnya sikap dan taktik Ekumenisme yang muncul darinya dapat terhenti.
Bahkan pencabutan kutukan tahun 1054 terhadap para kepausan oleh Patriarkh [Athenagoras] dari Konstantinopel — suatu tindakan yang dikutuk oleh banyak orang Orthodoks sebagai "pencapaian" yang sangat besar dari kaum Ekumenis — adalah "tanda isyarat kasih" formal, tanpa hubungan apa pun dengan posisi theologis Orthodoks dan Kepausan. Itu tidak berarti Skisma sudah berakhir, juga tidak ada perubahan dalam ajaran, tatanan kanonik, penyembahan ilahi atau kehidupan gerejawi Gereja, juga tidak ada pemulihan persekutuan sakramental [46].
2. Situasi serupa dari waktu
sebelumnya
Pelanggaran kanonik serupa, serta penyimpangan langsung atau tidak langsung dari Eklesiologi Orthodoks, telah terjadi di masa lalu, terutama di bagian dunia di mana heterodoks menjadi mayoritas. Khususnya, pelanggaran ini tidak mengakibatkan perpecahan. Sayangnya, diaspora Orthodoks telah menyebabkan peningkatan pelanggaran dan penyimpangan yang mengkhawatirkan dan tidak dapat diterima.
Selanjutnya kami akan menyebutkan beberapa kejadian ekonomia, pelanggaran kanonik dan penyimpangan eklesiologi tidak resmi (langsung atau tidak langsung), tetapi tidak menyebabkan para Bapa Suci untuk, memutuskan persekutuan gerejawi dengan mereka yang bertanggung jawab atas penyimpangan tersebut. Kasus-kasus ini, tentu saja, jauh lebih ringan daripada pernyataan resmi Filioque dalam Pengakuan Iman/ Kredo, atau penyebaran besar-besaran bidat Monotheletisme. Meskipun demikian, seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, selama bertahun-tahun para Bapa Gereja menggunakan metode ekonomia yang sudah mapan dalam kasus-kasus yang lebih serius ini.
1. Para Bapa Sinode Ekumenis Ketiga mengutuk Nestorius. Namun, mereka tidak mencaci “bapaknya” 47 dan gurunya Theodore dari Mopsuestia, yang telah meninggal, “sehingga beberapa orang tidak akan, dengan berbakti kepada orang itu karena rasa hormat, memisahkan diri dari gereja. Penerapan ekonomia mereka dalam hal ini sangat baik dan bijaksana ”, menurut Js. Kyrill [48].
Kemudian, ketika sebuah masalah muncul apakah akan diputuskan untuk meng-anathema Theodore yang bidat, Js. Kyiril menulis kepada Js. Proklus dari Konstantinopel dan mendesaknya demi "ekonomia" 49 "untuk tidak mengijinkan dia di-anathema, karena ini akan menjadi penyebab untuk gangguan”[50]. Seperti yang ditulis oleh Js. Theodore Studite, "Js. Kyril mempraktikkan ekonomia sehingga orang-orang Barat tidak akan terputus (oleh ekonomia ia tetap saling komuni dengan mereka), yang dalam diptych menyebutkan Theodore dari Mopsuestia sebagai benar-benar bidat" 51.
2. Kanon ke-95 dari Sinode Penthekte [Konsili ekumenis Kelima] mendefinisikan bahwa dengan 'ekonomia, pengikut Nestorian dan Monofisit dapat diterima dengan libellum sederhana [52]. Kanon ini juga digunakan oleh Js. Theodore bagi pengikut Ikonoklas [53].
Oleh karena itu, penerapan ekonomia ini diterima oleh Orthodoks tanpa menimbulkan perpecahan. Namun, para "super-Studites" hari ini, mereka menerima kaum kalender baru dengan cara krisma. Terlebih lagi, mereka mengklaim bertindak "di luar ekonomia ekstrim," mengatakan bahwa secara kanonik mereka harus membaptis ulang mereka (seolah-olah itu adalah kasus seperti kaum bidat Manikean!).
3. Js. Photius menanggung kebiasaan salah Roma selama mereka tidak memaksakannya di Gereja Konstantinopel. Dia tahu bahwa “yang diabaikan bukanlah iman” 54, dan akibatnya tidak ada alasan untuk perpecahan/ skisma. Penyimpangan termasuk puasa pada hari Sabat, makan makanan non-puasa selama minggu pertama Prapaskah Agung, melarang Imam untuk menikah, mengizinkan Krisma untuk diberikan hanya oleh para uskup [55], dan membatalkan larangan apostolik mengenai makan hewan yang mati dicekik dan makan darah. Jadi, menurut Sinode Ekumenis Kedelapan (879), pemulihan hubungan antara Js. Photius dan Roma terjadi melalui pengakuan Simbol Iman/ Pengakuan Iman tanpa penambahan [56], meskipun Roma tidak membuang kebiasaan yang disebutkan di atas.
4. Para Bapa Suci menerima gereja Barat di abad ke-10, yang saat itu sedang menjalani zaman "pemerintahan para pezina" 57.
5. Selama masa pendudukan Latin, Js. Germanos di Konstantinopel Baru, bersama dengan Sinode-nya, mengizinkan kat 'oikonomia para Uskup Siprus untuk menerima permintaan pencatutan dari orang-orang Latin. Secara khusus “untuk penerus/ suksesor mereka yang harus ditunjuk oleh uskup agung Latin, yang juga memiliki hak untuk menghakimi bahkan setiap keputusan uskup yang telah diajukan banding oleh salah satu penggugat.” 58
6. Setelah perpecahan/ skisma tahun 1054 selalu ada kerinduan akan persatuan. Pada saat banyak surat dipertukarkan dan dialog terjadi, khususnya tahun 1098, 1113, 1136, 1154, 1169, 1175, 1206, 1214, 1232, 1234, 1250, 1253, 1254, 1272, 1333, 1339, 1366, dan 1438. Selanjutnya, pada tahun 1253 konsesi juga terjadi [59]; dan pada tahun 1136 dan 1234, solusi perdamaian disarankan oleh Orthodoks, seperti ungkapan "Roh Kudus yang keluar dari Sang Bapa melalui Sang Putera" 60. Dialog-dialog mengenai Skisma ini bagaimanapun, tidak terjadi, kecuali saat penyatuan palsu di tahun 1274 dan 1439.
Saat ini, baik bapa Gunung Athos maupun semua orang Kristen yang saleh menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah menerima persatuan dengan orang Latin, Monofisit atau bidat lainnya jika mereka tidak menolak dogma sesat mereka.
Sayangnya, dalam teks-teks Zealot, kami melihat banyak kebingungan. Orang-orang yang berpikiran Latin yang menerima Persatuan tahun 1274 disamakan dengan mereka yang saat ini terlibat dalam doa bersama, dialog, upaya pro- penyatuan yang berlebihan, atau kegiatan serupa lainnya. Demikian pula, kata-kata Js. Markus dari Efesus tentang mereka yang menerima Persatuan palsu Florence juga diterapkan pada mereka, seolah-olah mereka sama dengan mereka yang benar-benar masuk ke dalam persatuan dengan bidat! Jika masalahnya begitu sederhana, Orthodoksi akan hilang berabad-abad yang lalu.
7. Js. Markus, ketika membahas prospek persatuan sejati dengan orang Latin, menyebut mereka bukan saudara tapi "bapa" 61. Guru dan lawan berat dari orang Latin, Joseph Vryennios, sebelumnya telah mengadakan diskusi persatuan dengan orang Latin. Dia selanjutnya menulis homili konsultatif tentang persatuan yang sedang dipertimbangkan. Di dalamnya, bagaimanapun, dia dengan keras mengutuk para “Ekumenis” pada zamannya: dengan kata lain, mereka yang ingin — menurut “teori cabang” pada hari itu — untuk bersatu dengan paus meskipun Filioque tetap berada di Simbol/ Pengakuan Iman. Dia mendesak, tanpa memisahkan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, bahwa persatuan apa pun itu harus terjadi dengan cara yang benar — yaitu, agar Orthodoks tidak mengalami kesalahan, sehingga “kita tidak jatuh karena niat baik” 62 (persatuan sejati di dalam Kristus. )
8. Banyak pelanggaran atau penyimpangan (langsung dan tidak langsung) dari Pikiran dan keyakinan bersama Orthodoks — pelanggaran yang mirip dengan masa kini — terjadi pada masa-masa itu, terutama di bagian dunia tempat orang Latin begitu banyak. Banyak kesaksian selama abad ke-16 dan ke-17 menunjukkan bahwa merupakan kebiasaan bagi Orthodoks untuk berkomuni dengan orang Latin, dan sebaliknya. Untuk ini kami menambahkan peringatan dan pengakuan para uskup Latin, konselebrasi asing, Misteri Suci campuran, pemberian Misteri Suci kepada bidat, pemakaman bidat, Belajar/studi di sekolah bidat, [63] pemberian izin pergi kepada kepausan Kapusin untuk mengaku dosa dan mengajar, dll Bahkan para Metropolitan dan biarawan mengaku dosa ke Latin (di daerah yang diduduki oleh Turki dan Latin), sesuatu yang oleh Js. Makarios dari Patmos dikutuk dengan keras, namun, tanpa memulai perpecahan/skisma. [64]
Selama pertengahan abad ke-17 "biara-biara Gunung Athos berulang kali memanggil para Yesuit untuk mendirikan sekolah di Gunung Suci untuk pelatihan spiritual para biarawan"! 65 Juga dalam periode yang sama "di banyak tempat, di Yerusalem, di Aleksandria dan tempat lainnya, di satu gereja, di satu daerah, orang-orang mengidung dengan kidung timur, dan di daerah lain [orang-orang mengidungkan kidung barat] "! 66 Selama periode yang sama, dialog juga terjadi dengan berbagai cabang Monofisit dan Protestan, yang disukai dan dipertahankan oleh begitu banyak orang Kristen Orthodoks. Namun demikian, perpecahan tidak terjadi dalam Gereja Orthodoks, meskipun para Bapa Suci berjuang melawan persatuan dengan kelompok-kelompok seperti "Lutheran Calvinis" 67.
9. Js. Nikodemos mengutuk "orang-orang yang berpikiran Latin" pada jamannya, atau "sukarelawan pembela baptisan palsu Latin", seperti yang ia sebutkan [68]. Pada tahun 1755, para Patriarkh Timur secara sinodis memutuskan bahwa orang Orthodoks “yang berasal dari Latin harus dibaptis, karena sampai saat itu orang Latin diterima menjadi Orthodoks terutama melalui Krisma. Meskipun demikian, orang-orang yang berpikiran Latin menentang keputusan ini dan terus menerima mereka yang memiliki percikan kepausan dari orang Latin diterima hanya dengan melalui krisma.
Js. Nikodemos berduka atas pemalsuan besar, korupsi dan salah tafsir dari Kanon suci, dan untuk "buah yang fatal dan aksesori untuk kehancuran jiwa" yang lahir dari mereka [69]. Dia juga berduka atas pelanggaran berat Kanon suci (khususnya Kanon 6 dari Konsili keempat, dan Kanon 14, 19, dan 23 dari Konsili keenam). Juga dia berduka untuk Simoniak, yang, menurut Js. Tarasius, lebih buruk dari Bidat Pnevmatomachi [70]. Dia menulis bahwa bidat yang dibenci Tuhan (menurut Js. Gennadios) ini telah menjadi kebajikan [71], dan sebagian besar mereka ditahbiskan demi uang [72]. Bersamaan dengan itu ia dengan bijaksana mengecam para theolog sejamannya karena pola pikir mereka yang sesat dan menghujat [73].
Jana Suci itu bersama dengan bapa Kollyvades lainnya, berjuang keras bagi tradisi suci. Namun tidak ada yang dapat kami temukan bahwa mereka memutuskan persekutuan dengan orang-orang yang berpikiran Latin atau Orthodoks yang salah. Orang-orang zealot/ fanatik yang bijaksana ini, bertentangan dengan orang-orang zaman sekarang, mereka mampu membedakan antara orang-orang yang berpikiran Latin pada zaman mereka dan orang-orang yang berpikiran Latin lebih mengerikan yang masuk ke dalam persatuan palsu tahun 1274 dan 1439.
Js. Nikodemos tahu bahwa ada "dua jenis pemerintahan di Gereja" 74: ketepatan (akribeia) dan ekonomi (oikonomia). Meskipun ia pencinta akribeia, ia melaksanakan oikonomia, selama tidak ada ajaran sesat yang secara resmi diberitakan. Dia mengajarkan bahwa ketika seorang hierarki atau imam melakukan pelanggaran, kita harus berupaya keras untuk meyakinkan mereka bahwa kehendak Tuhan harus dilakukan, namun tanpa membuat perpecahan yang menghancurkan jiwa kita [75].
10. Sinode suci Gereja Yunani, dalam keputusannya di tahun 1834, secara resmi mengizinkan pernikahan dengan bidat (mereka secara tidak resmi telah melakukan sebelumnya), sebuah keputusan yang “ilegal dan bertentangan dengan Kanon yang sakral” 76. Constantine Economos juga menceritakan pembubaran lebih dari empat ratus biara, persetujuan hubungan perkawinan terlarang, pendirian sekolah theologi menurut model Protestan, dan banyak hal menyakitkan lainnya yang terjadi selama waktu itu.
Jelaslah, tentu saja, bahwa pelanggaran kanonik di atas dapat dikecam. Selain itu, siapa pun yang menjadikan mereka sebagai model untuk hubungan mereka dengan heterodoks tidak meneladani para Bapa suci, yang berjuang untuk mengapus mereka.
3. Zealotisme Kontemporer
Kami percaya bahwa ketidakkonsistenan orang Zealot menjadi jelas ketika mereka menyamakan tingkat keparahan perubahan kalender atau doa bersama dengan bidat sebagai yang lebih menakutkan dari Nestorius, yang membalikkan "misteri yang ditunggu di sepanjang zaman" [81] dan merusak makna keselamatan dari ras manusia.
Zelotisme kontemporer tidak dapat dilihat sesuai dengan ajaran dan tindakan para Bapa Suci. Ini lebih menyerupai perpecahan Studite [yang timbul dari pelanggaran kanonik] (tentu saja kami tidak memaksudkan hal-hal yang terjadi dengan cara yang terpuji dan dengan pola pikir yang benar-benar mengakui melawan bidat Ikonoklasme). Kemiripan ini mengarah pada kecamannya, karena perpecahan Studite ini tidak dikenali oleh siapa pun, tetapi malah dikutuk. Namun dalam kenyataannya, perpecahan saat ini juga tidak persis sama dengan perpecahan Studite ini, karena pada saat itu tidak banyak yang saling mencopot jubah dan banyak "Gereja-gereja ". Pencopotan jubah/ pemecatan yang tidak terduga dan secepat kilat serta "pencoptan jubah/ pemecatan" dari klerus fanatik tidak dapat menemukan paralelnya dalam sejarah gereja.
Kaum Zealot telah jatuh ke dalam banyak kontradiksi, yang darinya tidak mungkin bagi mereka untuk dibebaskan, karena mereka bertahan dalam posisi mereka. Secara khusus:
1. Ketika mereka ingin membenarkan perpecahan/ skisma mereka karena perubahan kalender (1924) atau salah satu perpecahan internal mereka (dengan kata lain, situasi yang tidak melibatkan bidat), mereka menyerukan perpecahan Studite (yang membenarkan perpecahan karena pelanggaran kanonik) atau Kanon Apostolik ke-31, yang mengizinkan perpecahan/skisma karena alasan "kesalehan dan kebenaran". Mereka melakukan ini, seperti yang telah kami catat, dengan salah menafsirkan kata "kebenaran".
2. Bagaimanapun juga, ketika mereka ingin membenarkan perpecahan mereka karena Ekumenisme, atau untuk mencegah salah satu perpecahan internal mereka, mereka menyerukan Kanon ke-15 dari Sinode Pertama-Kedua (yang mengizinkan perpecahan hanya karena alasan bidat).
Kontradiksi di atas adalah yang berkontribusi pada perpecahan Zealot. Kaum Zealot biasanya menjelaskan keberadaan sembilan gereja Kristen Orthodoks Sejati serta kelompok independen lainnya, sebagai buah dari administrasi yang buruk dan nafsu manusia. Kami tidak setuju. Sebaliknya, perpecahan mereka adalah hasil dari eklesiologi mereka yang sepenuhnya tertipu dan menyimpang. Perpecahan mereka tidak akan pernah berakhir selama mereka menggunakan skisma Studite dan Kanon Apostolik ke-31 untuk ketidaksepakatan mengenai penahbisan metropolitan [82], penahbisan [83], konstitusi [84], penerbitan ensiklik terhadap kartu identitas baru [85], ikonografi [86] dan masalah kecil lainnya. (Bahkan ada sekelompok "Hexagonis"!) Ketua presiden dari "Sinode dalam Perlawanan" diciptakan dari tiga perpecahan, yang menghasilkan jumlah pemecatan yang sama. Kegiatan ini mengingatkan kita pada perpecahan mereka yang ditinggalkan oleh Rahmat ilahi, seperti Monofisit, Protestan dan Old Believers.
Perpecahan internal mereka membuktikan betapa tidak berdasarnya perpecahan mereka dari Gereja. Kemudahan yang mereka gunakan untuk mencirikan kaum Zealot yang tersisa sebagai bidat mengungkapkan bahwa dahulu kala bahwa mereka telah kehilangan pemahaman tentang arti sebenarnya dari bidat dan skisma gerejawi. Orang-orang sederhana menjadi bingung karena mereka terus-menerus ditemukan dalam kelompok yang berbeda bahkan tanpa menyadarinya!
Setiap kelompok percaya bahwa mereka sendirilah yang membentuk Gereja Kristus, menghasilkan kinerja pengulangan di antara mereka sendiri. Menurut informasi yang kami terima, seorang uskup agung bahkan ditahbiskan kembali. Mereka memiliki sekitar lima puluh uskup di Yunani untuk hanya 60-70.000 orang. Bertahun-tahun yang lalu kelompok "Andrewite" di Yunani memiliki sepuluh uskup dan delapan belas imam. Setengah dari kelompok memiliki uskup yang ditahbiskan oleh satu hierarki atau tanpa hierarki sama sekali.
Pada tahun 1955 salah satu dari
dua kelompok itu dibiarkan tanpa seorang uskup. Karena kebutuhan mereka
berlindung pada gereja tanpa rahmat (menurut teori mereka, karena mereka
berkomuni dengan para pengikut kalender baru) yaitu Gereja Orang- orang Rusia di
Diaspora [87]. Tujuan akhir membenarkan caranya yang
dianggap salah. Sayangnya mereka tidak dapat menyadari bahwa ini adalah masalah
pengabaian oleh Tuhan, di mana kebuntuan mereka telah terungkap.
Kaum Zealot, terlepas dari polemik mereka terhadap Ekumenisme, tampaknya menerapkan praktik Ekumenis sepenuhnya. Ini demikian, karena kelompok kalender baru yang "sesat" [sering] diizinkan untuk menerima Komuni suci dan Misteri lain [di gereja mereka].
Kami tegaskan kembali bahwa cara mereka menipu dan mengumpulkan pengikut bagi diri mereka sendiri adalah penyalahgunaan atau penafsiran yang salah tentang sejarah Gereja. Pada waktunya hal ini harus lebih terungkap secara lebih lengkap dalam sanggahan yang rinci dan sistematis dari eklesiologi kaum Zealot.
Untuk semua hal ini kami percaya bahwa siapa pun yang bergabung dengan skisma Zealot untuk melawan ekumenisme sinkretik, membuat kesalahan serius di hadapan Tuhan. Mereka merugikan diri mereka sendiri, serta mereka yang berjuang melawan Ekumenisme, dan yang membutuhkan penguatan. Terlepas dari kata-kata koreksi kami yang kuat, kami mengasihi kaum Zealot dan berdoa agar Tuhan menerangi mereka untuk Kembali terdaftar di Gereja, yang akan memungkinkan mereka untuk mengikuti kalender lama, seperti yang telah terjadi pada contoh sebelumnya. Kami yakin bahwa Gereja akan menghabiskan setiap oikonomia untuk mengembalikan mereka dan akan menunjukkan perhatian utama kepada mereka, karena, terlebih lagi, mereka bukanlah bidat.
C. KASUS JS. SOPHRONIOS
Romo Nicholas mengkritik saya
atas apa yang saya tulis tentang sikap Js. Sophronius selama periode
Monotheletisme. Dia berkata bahwa dari sini saya menyimpulkan bahwa para Bapa
Gereja tidak berhenti memperingati bidat sebelum diagnosis Sinode terjadi. Saya
tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Sebaliknya, saya menulis bahwa,
berdasarkan pendirian Js. Sophronius, terutama dalam pidatonya "kepada
konselebran" 88 mengenai bidat Sergius dari
Konstantinopel pada tahun 634, kesabaran dan oikonomia Gereja yang jelas bagi
mereka yang secara resmi menyatakan bidat terbukti. Implikasinya, tentu saja,
oikonomia ini seharusnya berlaku jauh lebih lagi dewasa ini — zaman di mana
tidak ada ajaran sesat serupa yang diberitakan secara terbuka. Romo Nicholas
menggambarkan kondisi gerejawi pada masa itu dan menyimpulkan bahwa pada tahun
634 tidak ada ajaran sesat yang diberitakan secara resmi. Karena itu, dia
berpendapat bahwa tidak ada alasan untuk menghentikan persekutuan atau
menerapkan oikonomia.
1. Peristiwa yang mengarah pada “Eksposisi” sesat Sergius (638) terdiri dari diskusi dan upaya lain untuk memastikan kemenangan posisi Orthodoks. Diperlukan klarifikasi tentang definisi Kalsedon, yang memecahkan masalah ideologis yang sangat sulit.
2. Pada tahun 634 Js. Sophronius dengan tepat menyebut Sergius seorang konselebran karena Monothelitisme yang terakhir tidak secara resmi ditetapkan hingga tahun 638.
Saya menjawab pertanyaan di atas sebagai berikut:
Argumen pertamanya mengejutkan.
Setelah meneliti dengan cermat tulisan-tulisan lebih dari dua puluh delapan
sejarawan, saya menyadari bahwa klarifikasi tentang Definisi Kalsedon (yang
terjadi 170 tahun sebelumnya) sama sekali tidak terlihat pada saat itu.
Sebaliknya, satu-satunya tujuan adalah sarana persatuan dengan kaum Monofisit.
Akibatnya, ungkapan berikut: "dua kodrat di dalam Kristus di satu sisi,
tetapi satu energi dan kehendak" 89. Pengakuan ini
terdiri dari ambang minimum minimal untuk Monofisitisme, karena semua Monofisit
menerima satu energi dan kehendak [90 ..
Selain itu, dalam sepuluh poin artikel Romo Nicholas mengakui bahwa Sergius memiliki fonema (pola pikir) sesat, bahwa ia merundingkan persatuan (yang juga tercapai), dan bahwa Js. Sophronius bereaksi terhadap persatuan tersebut dan mengutuk Monoenergitisme. Namun, peristiwa ini tidak dijelaskan dalam urutan kronologis. Selain itu, istilah “persatuan dengan bidat” dan “bidat” juga dihindari, sehingga menimbulkan kebingungan. Sebagian besar miliknya adalah salinan dari sejarah sinoptik Stephanidis.
Berikut ini adalah daftar yang tepat menggambarkan tentang situasi gerejawi pada saat yang akan membuktikan betapa tidak berdasarnya argumen kedua Romo Nicholas:
Sergius dari Konstantinopel mengirimkan kepada uskup Pharan Theodore sebuah libellum palsu dari Minas dari Konstantinopel (+552), menanyakan pendapatnya tentang posisi monenergetik dan monothelite dari libellum ini. Theodore menerimanya. Sergius juga mengirimkan libellum ini kepada seorang bidat, Paul, yang menyatakan persetujuan Paul dan Theodore dengannya. Kedua peristiwa ini, yang tentunya bukan satu-satunya, disebutkan oleh Js. Maximus dalam dialognya dengan Pyrrus [91]. Para sejarawan menempatkannya sekitar tahun 615-618, karena kemudian ditegaskan dalam homili Js. Maximus.
Js. Maximus menyebutkan bahwa Sergius juga menulis kepada Severian George Arsa dan memintanya untuk mengirimkan pernyataan patristik tentang satu energi. Dia selanjutnya mengatakan kepadanya bahwa berdasarkan pernyataan ini dia akan masuk ke dalam persatuan dengan mereka. Js. Yohanes yang penuh belas kasih mengetahui surat ini dan ingin menggulingkan Sergius. Namun invasi Persia (619) [92] pada tahun itu mencegahnya.
Sekitar waktu ini Js. Maximus memasuki kehidupan biara. Dia frustrasi dengan kondisi Gereja karena meluasnya Monotheletisme [93]. Akibatnya, ketika dia melihat bidat itu “berkembang agak sepenuhnya” 94, sekitar tahun 626 dia pergi ke Afrika, di mana Orthodoksi masih bertahan.
Pada tahun 626 Sergius juga menulis kepada Cyros dari Phasidos, menyatakan sebagai bidat [95]. Pada tahun 629, berdasarkan penerimaannya atas pemahaman satu energi dan satu kehendak, dia dipersatukan dengan uskup monofisit Athanasius, yang sebenarnya dia akui sebagai Patriarkh Antiokhia [96]. Cyrus naik ke tahta Aleksandria pada tahun 630 dan mulai berjuang untuk bersatu dengan Monofisit [97]. Js. Sophronius dan Js. Maximus gagal mencoba mencegahnya [98]. Cyrus bersatu dengan Monofisit pada tahun 633 berdasarkan pengakuan sesat “satu energi teandrik (keilahian dan kemanusiaan) di dalam Kristus” 99.
Sergius, yang telah memproyeksikan “dengan banyak cara mengenai penyakitnya sendiri” dan merusak “mayoritas Gereja” 100, menerima persatuan ini. Selanjutnya dia disatukan pada tahun yang sama dengan kaum Armenia yang sesat, berdasarkan pengakuan sesat yang sama [101]. Js. Sophronius kemudian pergi ke Konstantinopel, dan "dengan kerendahan hati yang sesuai skema biara yang disandangnya" 102, memohon kepada Sergius untuk tidak memperbarui bidat lama ini. Frustrasi oleh kurangnya pertobatan Sergius, maka Js. Sophronius pergi ke Yerusalem dan memberitahu orang-orang beriman bahwa patriarkh dan paus adalah bidat [103].
Pada tahun 634 Js. Sophronius naik ke tahta Yerusalem. Dia mengirimkan surat penobatannya kepada Sergius dan para Patriarkh lain, menyerang bidat dari satu energi dan satu kehendak. Namun demikian, ia menyebut Sergius sebagai "yang paling suci dari semua uskup, dan saudara dan konselebran Sergius yang paling diberkati" 107. Dia memintanya untuk menerima surat dogmatisnya dan mengiriminya "surat yang dirindukan", yang dengan jelas akan mengungkapkan iman yang benar [108]. Sayangnya, Sergius tidak berubah, dan pada tahun 638 dia menerbitkan “Eksposisi” sesatnya.
Jadi kita melihat bahwa Js. Sophronius berada dalam persekutuan dengan Sergius sampai dengan tahun 634, meskipun Sergius mengajarkan bidat sejak tahun 615, yang telah menyebabkan frustrasi Js. Yohanes pada tahun 619, dan telah merusak mayoritas Gereja, serta telah menerima persatuan dengan bidat pada tahun 629 dan 633. ** Kami tidak memiliki saksi sejarah bahwa Js. Sophronius memutuskan persekutuan Komuni sampai wafatnya pada tahun 638.
Peristiwa ini dengan gemilang membuktikan poin yang saya bicarakan, yaitu, bahwa Gereja sudah lama menderita dan menggunakan ekonomia terhadap para uskup yang kemudian mengkhotbahkan bidat. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa kaum Zealot salah ketika mereka berpendapat bahwa Kanon ke-15 dari Sinode/ Konsili Pertama-Kedua adalah wajib [109]. Dalam Sinode Lateran (649) guna melawan kaum Monothelit ada pembicaraan yang sangat jelas tentang ekonomia ini. Dalam bukunya Sergius, uskup Siprus menulis yang berikut: “Karena sampai hari ini kami tetap diam karena ekonomia, berpikir/ berharap mereka akan mengoreksi ajaran mereka sendiri” 110.
Saya akan menyimpulkan dengan menyangkal satu argumen lagi dari artikel tersebut. Romo Nicholas menyebutkan bahwa Js. Maximus tidak menerima "Formula" (Typos) yang bersifat mendamaikan dan memutuskan persekutuan dengan bidat. “Akhirnya”, Romo Nicholas menyimpulkan, “karena dia dikejar dari Konstantinopel, Js. Maximus berhasil dengan keyakinan ajarannya untuk memanggil Sinode Lokal di Kalsedon (646) dan di Roma (641) pada masa pemerintahan Paus Yohanes Keempat, dan di tahun 649 dengan Js. Martin, yang mengutuk Monofisitisme dan ekspresi Monofisitnya ”.
Ini adalah penyimpangan sejarah. Demi pembaca yang lebih sederhana, saya hanya akan mengatakan yang berikut: Kurangnya pertobatan Sergius akhirnya menjadi jelas pada tahun 638 [111]. Js. Maximus kemudian memulai perjuangan baru untuk mengadakan Sinode yang mengutuk Monothelitisme (tahun 641, 646, 649). Selama periode ini, Js. Maximus juga harus memutuskan persekutuan dengan para bidat. "Formula (Typos)" yang disebutkan Romo Nicholas, diterbitkan pada tahun 648 [112]. Js.Maximus pada tahun 653 dibawa ke Konstantinopel untuk diadili [113]. Dia diusir pada tahun 655 dan dikirim ke pengasingan di Vizyi dari Thrace, dan akhirnya ke Laziki [114], di mana dia wafat sebagai seorang pengaku iman.
Jadi Romo Nicholas dalam artikelnya melakukan kesalahan sejarah ketika dia menulis bahwa Js.. Maximus, setelah diusir pada tahun 650, berhasil mengadakan Sinode 641.646 dan 649! Dengan demikian, hasilnya adalah [jika sejarah menurut Romo Nicholas itu benar] maka menjadi kesimpulan yang disukai oleh kaum Zealot, yaitu, pertama-tama pemutusan persekutuan dan kemudian baru pengadilan sinode.
Akhirnya, kami mengandaikan bahwa Zealotisme dan Sinkretisme Ekumenisme sebenarnya merupakan dua penyimpangan besar gerejawi, di mana keduanya membawa banyak hal yang merugikan bagi Gereja. Kami berdoa agar Sang Allah Manusia Yesus akan melindungi Gereja-Nya dari kedua ekstrem ini, dengan melimpah mencurahkan rahmat-Nya yang menerangi, “sehingga kita semua akan mengatakan hal yang sama, dan perpecahan tidak akan ada di antara kita” 115.
Catatan Akhir
* Penulis mungkin hanya memikirkan Gereja Yunani. Mengenai seluruh Gereja Orthodoks, “Satu-satunya pengecualian adalah Gereja otonom Finlandia, yang mengadopsi Paschalion Barat yang tidak kanonik atas dorongan Patriarkh Konstantinopel, setelah apa yang disebut Konggres" Pan-Orthodoks" tahun 1923, serta beberapa paroki di Eropa Barat, termasuk di Froisek (Swiss), yang merayakan Paskah pada waktu yang sama dengan Katolik Roma dan Protestan dan karenanya, kadang-kadang, bersamaan dengan orang Yahudi, di mana ini bertentangan dengan Kanon Pertama Konsili Antiokhia ....( A Scientific Examination of the Orthodox Church Calendar, hal. 173.)
** Lihat juga Kisah Hidup Js. Meletius Sang Pengaku Iman. Selama Skisma Antiokhia ia ditahbiskan sebagian oleh kaum Arian, dengan pengetahuan penuh darinya. Kepribadiannya yang penuh damai mirip dengan Js. Sophronius.
1. Volume 27 July-December 1999.
2. P.G. 137, 1068 A-C. Presided over by St. Photios the Great.
3. S. Milia “Of the sacred synods...collection, Paris 1761, vol. 2, p. 737.
4. Letter 102, P.G. 37, 196A.
5. Faith of the saints...The Fathers in Nicaea, P.G. 28, 1641C.
6. Letter 240, P.G. 32, 897A.
7. Precise exposition of the Orthodox faith, ch. 13, (86), P.G. 94, 1153B.
8. Letter 24, book 2, P.G. 99, 1189C.
9. Saint Theodore the Studite, Letter 220, book 2, P.G. 99, 1669A.
10. Interpretation concerning the divine temple, ch. 28, P.G. 155, 708D.
11. Saint Anastasius of Antioch, Guide, P.G. 89, 48C.
12. Saint Ignatius the Godbearer, P.G. 96, 508C
13. P.G. 137, 349-353.
14. Saint Symeon Metaphrastes, Life and lifestyle of our venerable and godbearing father Theodosius the Ceonobiarch, 49, P.G. 114, 517C.
15. A. Dimitrakopoulou, History of the schism, Leipsia, 1867, p. 70-74.
16. Saint Nikodemos, New Eklogion, p. 320-322.
17. Orthodox Christians...everywhere upon the earth, 6 in Jn. Karmiris, The dogmatic and symbolic monuments of the Orthodox and catholic Church, in Athens 1960, vol. 1, p. 427.
18. Dodekabiblos, book 4, ch. 10, 3.
19. Saint Cyrill of Alexandria, letter 11, P.G. 77, 81BC.
20. Saint Nikodemos the Haghiorite, Rudder, Athens 1970, p. 358.
21. F. Vafeidou, Ecclesiastical History, 113:1.
22. Concerning ecclesiastical communion and the memorial and the 15th sacred canon of the 1st and 2nd holy synod, related to them. Holy Mountain 1993, p. 62.
23. Op.cit. book 8, ch. 2:6.
24. Op.cit. book 6, ch. 7:9.
25. Presbyter Gregory, Life of Saint Gregory, P.G. 35, 261C.
26. Orthodox Informer, Sacred Metropolis of Oropos and Filis, vol. 27, p. 1, 2.
27. Presbyter Gregory, op. cit. P.G. 35, 261D-264A.
28. Ch. 19-20, P.G. 35, 745-748.
29. Canon 31, P.G. 137, 96C.
30. M. Gedeon, Patriarchal Charts, Athens 1996, p. 185.
31. Saint Symeon Metaphrastes, Life.....of our venerable father Ioannikios, ch. 51, 52, .P.G. 116, 85A-88B.
32. Concerning Tarasius and Nicephorus the holy patriarchs, P.G. 99, 1853C.
33. P.G. 99, 157CD.
34. Concerning Tarasius and Nicephorus the holy patriarchs, P.G. 99, 1853D.
35. Op. cit. book 7, ch. 4:5.
36. P.G. 108, 992B.
37. Orthodox Informer, Sacred Metropolis of Oropos and Filis, vol. 3427, p. 1.
38. Les Saints Stylites, Bryxelles 1923, p. 85.
39. Op. cit. 216.
40. Voice from the Holy Mountain, that is: Response to...the censure of the Calendar accusations,” Holy Mountain 1981, p. 16.
41. 1st canon of the synod in Antioch, P.G. 137, 1276B-1277A.
42. Saint Symeon the new Theologian, Catechism 32.
43. Basil the Great, Canonical epistle 1 (188), ch. 1, P.G. 32, 665A.
44. V. Stefanidou, Ecclesiastical History, Athens 1970, 22, p. 343-344.
45. Concerning ecclesiastical communion and the memorial and the 15th sacred canon of the 1st and 2nd holy synod, related to them. Holy Mountain 1993, p. 62.
46. Jn. Karmiris, The dogmatic and symbolic monuments of the Orthodox and Catholic Church, Graz ..1968, vol. 2, p. 1024 (1104).
47. Saint Cyrill of Alexandria, letter 79, P.G. 77, 341A.
48. Letter 72, P.G. 77, 345B.
49. Op. cit. P.G. 77, 345D.
50. Op. cit. P.G. 77, 344B.
51. Letter 49, book 1, P.G. 99, 1085C.
52. Saint Nikodemos the
Haghiorite Rudder, Athens 1970, p. 305.
Catatan editor bahasa Inggris: “Adapun Manikhean, dan Valentinian, dan Markionis, dan mereka yang berasal dari bidat serupa, mereka harus memberi kami sertifikat (disebut libelli) dan menganathema bidat mereka, Nestorian, dan Nestorius, dan Eutyches dan Dioskorus, dan Severus, dan pemimpin lain dari bidat semacam itu, dan mereka yang menjunjung keyakinan mereka, dan semua bidat yang disebutkan di atas, dan dengan demikian mereka diizinkan untuk mengambil bagian dalam Komuni Kudus. " (The Rudder, hlm. 401)
53. Letter 40, book 1, P.G. 99, 1052C.
54. Saint Photios, Letter 2, book 1: P.G. 102, 605C.
55. Saint Photios, Letter 13 book 1: P.G. 102, 724-725.
56. F. Vafeidou, op. cit. 112, 1.
57. Op. cit. 136, 1.
58. K. N. Satha, Library of the Middle Ages, Venice 1873, vol. 2, p. 85.
59. V. Stefanidou, op. cit. 23, p. 384, Feida, Ecclesiastical History, Athens 1994, vol. 2, p. 588.
60. F. Vafeidou, op. cit. 146, 4.
61. Op. cit. 149, 2.
62. The discovered texts, Thessalonica 1991, p. 400.
63. V. Stefanidou, op. cit. 51, 52.
64. Evangelical Trumpet, in Athens 1867, p. 327.
65. Theodoretus monk, Eucharistic participation in the Holy Mountain, 1972, p. 35-37.
66. Op. cit.
67. Saint Nikodemos the Haghiorite, Christoetheia, in Chios 1887, p. 377.
68. Rudder, Athens 1970, footnote on the 46th apostolic canon, p. 56.
69. Op. cit. p. 12.
70. Op. cit. p. 719.
71. Op. cit. interpretation of the 22nd of the 6th, p. 238.
72. Op. cit. footnote 6, p. 696.
73. Op. cit. footnote on the 124th of the synod in Carthage, p. 527.
74. Op. cit. footnote on the 46th apostolic canon p. 53.
75. Concerning constant communion, Volos 1961, part 3, objection, 12, p. 117.
76. Constantine Oikonomos of the Okonomons, The preserved ecclesiastical writings, Athens 1864, vol. 2, p. 246.
81. Eph. 3:9.
82. Periodical “Church G.O.C. (Genuine Orthodox Christians) of Greece”, Athens, vol. 1, p. 15.
83. Periodical “The voice of Orthodoxy”, Athens, issue 880, p. 10.
84. Periodical “Ecclesiastical tradition”, Athens, issue 104, p. 39.
85. Periodical “Church G.O.C. Greece, Athens, issue 1, p. 24.
86. Periodical “Preacher of genuine Orthodox” Athens, issue 214, p. 214-265.
87. S. Karamitsou, The ordinations of the G.O.C. from a canonical viewpoint, Athens 1997, p. 19.
88. Synodical epistle, P.G. 87, 3, 314A.
89. F. Vafeidou, op. cit. 74, 1.
90. V. Stefanidou, op. cit. 14, p. 242.
91. P.G. 91, 332B-333A.
92. Op. cit.
93. As the biographers of Saint Symeon Metaphrastes, Nikodemos, Agapios, mention, Life and struggles of Saint...Maximus, P.G. 90, 68-110.
94. Life and struggles of Saint Maximus, P.G. 90, 73D-76A.
95. Dialogue...concerning the ecclesiastical dogmas, P.G. 91, 333A.
96. Religious and ethical encyclopedia, Athens 1962-1968, vol. 11, p. 103.
97. P. Christou, Hellenic Patrology, Thessalonica 1992, vol. 5, p. 260.
98. Op. cit. p. 268.
99. F. Vafeidou, op. cit. .74, 2.
100. Dialogue...concerning the ecclesiastical dogmas, P.G. 91, 333A.
101. Religious and ethical encyclopedia, Athens 1962-1968, vol. 11, p. 103
102. Dialogue...concerning the ecclesiastical dogmas, P.G. 91, 333B.
103. Dositheos of Jerusalem, op. cit. book 6, ch. 6:4.
104. F. Stefanidou, op. cit. 14: p. 244.
105. Maximus the Confessor, letter 19, .P.G. 91, 592
106. Op. cit.
107. Synodical epistle P.G. 87, 3, 3148A.
108. Op. cit. .87, 3, 3200B.
109. Theodoretus monk, Orthodoxy and heresy, Athens 1982, p. 63.
110. Dositheos of Jerusalem, op. cit. book 6, ch. 7:9.
111. A. D. Kyriakou, Ecclesiastical History, 101.
112. Op. cit.
113. Maximus the Confessor, Explanation of the movement...during secretus, ch. 1, P.G. 90, 110C.
114. Maximus the Confessor, Concerning what was done...discussed, ch. 33, P.G. 90, 172B.
115. 1 Cor. 1:10.
Diterjemahkan dari bahasa Yunani oleh Seorang Imam Orthodoks Yunani yang ingin dirahasiakan. Monograf aslinya diterbitkan pada tahun 2000 oleh Biara Suci Js. Gregorius. Dan Diposting ke (Orthodox Christian Information Center/ OCIC pada tanggal 17 Juni 2007.
Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia
oleh Ireneus EW dari:
http://orthodoxinfo.com/ecumenism/anti-patristic-stance-old-calendarist-zealots.aspx