Senin, 06 Januari 2020

Kotbah Natal St. Isaac dari Syria


Kristus Telah Lahir

Muliakanlah Dia.....
Selamat Natal Saudara Saudariku yang masih menggunakan Kalender Julian.

Khotbah Natal
St. Isaac dari Syria,

Malam Natal ini memberikan kedamaian di seluruh dunia;
Jadi janganlah ada yang mengancam;

Ini adalah malam dari Yang Maha Lembut - Janganlah ada yang berlaku kejam;

Ini adalah malam Sang Rendah Hati - Janganlah ada yang sombong.

Sekarang adalah hari sukacita - Janganlah kita balas dendam;

Sekarang adalah hari Niat Baik - Janganlah kita menjadi jahat.

Di Hari yang Damai ini - Janganlah kita ditaklukkan oleh kemarahan.

Hari ini Yang Penuh Kelimpahan memiskinkan diri-Nya demi kita;
Jadi, yang kaya, undanglah yang miskin ke meja makanmu.

Hari ini kita menerima anugerah yang tidak kita minta;
Jadi marilah kita memberi sedekah kepada mereka yang memohon dan meminta kepada kita.

Hari ini Allah membuka pintu surgawi untuk doa kita;
Mari kita buka pintu bagi mereka yang meminta pengampunan.

Hari ini Yang Ilahi  mengambil ke atas diri-Nya meterai kemanusiaan kita,
Agar umat manusia dihiasi dengan meterai keilahian..

Penjelasan Ikon Kelahiran Kristus

Penjelasan Ikon Kelahiran Kristus
Di atas adalah ikon kelahiran Kristus di Gereja Orthodoks Timur, yang penuh dengan simbolisme yang indah dengan kedalaman theologis yang luar biasa.  Melalui tulisan ini, saya ingin menjelaskan arti ikon tersebut.  Beberapa bagian ikon ini dapat ditemukan dalam buku di luar-Alkitab yang disebut Protoevangelium Yakobus, yang sangat saya rekomendasikan.  Ini adalah dokumen abad kedua (ditulis pada tahun 100-an) yang berisi beberapa tradisi lisan tertua yang diturunkan dalam beberapa generasi pertama Gereja.

Ikon adalah gambar realitas - ikon itu menunjukkan kepada kita bagaimana dunia ada.  Ikon bukan hanya foto dari suatu peristiwa karena tidak semua yang digambarkan terjadi sekaligus.  Dengan cara ini, mereka mengungkapkan makna batiniah dari suatu peristiwa.  Signifikansi simbolis dalam ikon lebih penting daripada hanya dipahami secara literal;  Gereja membuat kita menjadi theolog, bukan kritikus sejarah.  Ikon mengajarkan kita makna sejarah, bukan hanya daftar fakta.

BAGIAN TENGAH IKON
 Di bagian tengah adalah bayi Kristus berbaring di palungan.  Perawan Maria (Theotokos) ada di samping-Nya, dan seekor lembu dan seekor keledai ada di belakang-Nya.  Kristus dilahirkan di goa tidak diceritakan di dalam Alkitab, tetapi itu adalah tradisi kuno, yang berasal dari abad pertama dan kedua.  Bayi Kristus mengenakan pakaian penguburan (dibalut dengan kain lampin seperti kafan) untuk menubuatkan kematian-Nya.  Lokasinya di sebuah goa juga memberi bayangan akan kuburan di mana Dia akan dimakamkan dan di mana Dia akan dibangkitkan.

Ketika Adam dan Hawa pertama kali diciptakan, mereka berpakaian dalam kemuliaan Allah.  Itu adalah keadaan alami mereka.  Tetapi ketika mereka jatuh ke dalam dosa, mereka kehilangan pakaian kemuliaan ini dan menjadi sadar akan ketelanjangan mereka.  Berbaju kulit binatang (yang mewakili kematian), mereka pergi ke pengasingan di luar Taman.  Kristus juga merendahkan diri dari kemuliaan-Nya untuk menjadi salah satu dari kita, membungkus diri-Nya dalam dosa dan kematian daging manusia, seperti yang dinyatakan oleh Alkitab, Allah menjadikan Kristus yang tidak mengenal dosa menjadi berdosa bagi kita, sehingga kita bisa dibenarkan di dalam Kristus Allah kita (2 Kor. 5:21).

BAGIAN KIRI BAWAH
 Tidak seperti kebanyakan ikon yang menonjolkan Kristus dan Perawan Maria, Sang Perawan Maria tidak sedang memandang Kristus.  Sebagai gantinya, Maria memandang suaminya, Yusuf, Maria memohon bagi Yusuf.  Setelah kelahiran Yesus, Yusuf berjalan keluar dari goa, melawan keraguan.  Sosok di sebelahnya adalah iblis yang, tentu saja, mengisi pikirannya dengan segala macam keraguan dan mungkin pikiran kemarahan.

Kita menyanyikan "Anak Apa Ini?" Tetapi pertanyaan Yusuf adalah "Anak siapa ini ?!" karena dia tahu dengan jelas bahwa dia bukan ayah bayi itu.  Namun Yusuf memiliki lingkaran cahaya, yang menunjukkan kesuciannya.

Terkadang ketika Allah muncul dalam hidup kita, sering menimbulkan pertanyaan dan keraguan.  Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, tetapi kemudian Dia tampaknya menarik diri sedikit, membiarkan kesulitan untuk menguji dan memperdalam iman kita.  Kita mungkin bertanya-tanya mengapa terjadi seperti itu.  Tetapi jika kita bertekun, kita memiliki orang suci yang peragu yang kepadanya kita dapat melihat sebagai teladan kita.

BAGIAN ATAS & TENGAH
 Di bagian paling atas adalah lingkaran biru yang kadang-kadang disebut mandorla.  Itu menandakan kehadiran dan kemuliaan Allah.  Yang bersinar dari surga, menunjuk ke bayi Kristus, yang menunjukkan turun-Nya dari surga ke bumi.

Di sebelah kiri, ketiga raja (orang majus) bepergian dari jauh, mengikuti bintang di langit.

Malaikat muncul di langit di atas dan menyampaikan kabar baik kepada para gembala (di sebelah kanan) di ladang sehingga mereka dapat melihat bayi ilahi ini lahir di kota kecil Betlehem.

 Terkadang saya bertanya-tanya apakah gembala dan paduan suara malaikat muncul setelah kelahiran Yesus lebih banyak demi kepentingan Yusuf daripada yang lain.  Intervensi ilahi ini menegaskan mimpi bahwa Allah mengaruniakan kepada Yusuf, dan membantu-Nya untuk mempercayai Allah.  Kidung pujian Gereja menyebutkan perjuangan ini dan kemenangan Yusuf atas keraguan:

Yusuf, ketika dia melihat keagungan mukjizat ini, berpikir bahwa dia melihat seorang manusia dibungkus sebagai seorang bayi dalam sebuah lampin;  tetapi dari semua yang terjadi dia mengerti bahwa bayi itu adalah Allah yang benar, yang menganugerahkan rahmat yang besar kepada dunia.  - kidung Vesper/Sembahyang Senja Perayaan Natal Kelahiran Kristus.

Semoga kita terhibur dengan kenyataan bahwa Juruselamat kita telah datang ke dunia ini untuk menyembuhkan setiap bagian kita yang rusak, ragu, dan berdosa. Tidak ada yang telah kita lakukan yang belum Dia lakukan untuk membantu orang lain, melalui orang lain yang dianggap suci.

BAGIAN KANAN BAWAH
 Para wanita di kanan bawah adalah bidan yang memperlihatkan bahwa Anak Allah benar-benar dilahirkan sebagai manusia, dan tidak hanya tampak sebagai manusia seperti yang dikatakan oleh beberapa bidat awal.  Ada sumber mata air di mana mereka akan membasuh bayi Kristus karena Dia, dalam beberapa hal, memiliki kelahiran yang kotor dan biasa-biasa saja.

SIMBOLISME  SAPI DAN KELEDAI

 Sapi dan keledai adalah dua simbol paling kuno yang muncul dalam ikon kelahiran.  Di sebelah kiri adalah salah satu dari banyak lukisan Natal (Kelahiran) dari tahun 1200-an yang menampilkan sapi dan keledai.

Di Gereja kuno, sapi itu melambangkan orang-orang Yahudi, karena itu adalah binatang yang bersih dan halal yang bisa mereka makan.  Bisa juga dilatih dengan mudah untuk menarik bajak dan membantu dengan berbagai cara.  Orang-orang Yahudi memiliki Hukum Musa dan itu membantu mereka tetap bersih dan taat kepada Allah.

Keledai, di sisi lain, adalah binatang yang keras kepala dan liar.  Itu haram dan tidak halal, oleh karena itu, itu mewakili bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki Hukum Musa untuk membimbing mereka menjauh dari pengejaran mereka terhadap perilaku tidak senonoh dan tidak bermoral.

Di dalam Kristus, dua kelompok yang tampaknya berlawanan ini berkumpul untuk membentuk satu orang.  Seperti yang Alkitab katakan, Karena Dia sendiri adalah damai sejahtera kita, yang telah menjadikan kedua pihak itu satu dan telah menghancurkan penghalang, tembok pemisah yaitu permusuhan (Ef. 2:14).

PERTEMUAN DI TENGAH IKON

 Di atas adalah para malaikat, di bawah ini adalah para gembala, bidan, dan orang-orang.  Di sebelah kiri adalah tiga orang bijak, tiga raja, orang majus yang bepergian jauh membawa hadiah mahal.  Di sebelah kanan adalah gembala yang sederhana, miskin, dan tidak berpendidikan.  Di tengah adalah Kristus, yang menyatukan semua orang yang berbeda ini dalam diri-Nya.  Dia menyatukan surga dan bumi, kaya dan miskin, bijaksana dan sederhana, berpendidikan dan tidak berpendidikan, penduduk setempat dan orang asing, orang-orang yang taat dan pemberontak, percaya diri dan ragu-ragu;  semua ini menemukan tempat mereka di dalam Kristus.

GOA DAN HATI

 Kristus adalah misteri yang tersembunyi sepanjang zaman - sama seperti kedatanganNya di goa yang tersembunyi dari kebanyakan orang.  Tetapi kemuliaan misteri ini adalah Kristus di dalam-mu.  Dengan cara ini, goa menjadi ikon dari setiap hati yang membuka dirinya bagi Kristus (lih. Kol 1: 26-27).

Goa, dengan semua misteri dan kegelapannya, ruang tersembunyi dan tempat rahasia, benar-benar merupakan refleksi dari hati yang gelap dan misterius di dalam diri kita masing-masing.  Tetapi seperti goa yang dimasuki Kristus pada hari Natal, hati kita dapat menjadi tempat tinggal kemuliaan-Nya yang agung.  Seperti sapi dan keledai, kita memiliki hati yang bersih dan hati yang najis di dalam diri kita - hal-hal yang baik dan tidak begitu baik.  Setan membisikkan keraguan atau hal-hal jahat kepada kita.  Tapi kita juga berdoa: Sang Theotokos doakan kami.

Semua gangguan dalam hidup kita menarik kita keluar dari hati kita.  Karena itu, kita memiliki kesadaran diri yang mengerikan.  Tetapi ketika kita masuk ke dalam hati kita, kita menemukan bahwa Kristus ada di sana.  Tapi apa artinya itu?

Bayangkan Yusuf bangun dan berjalan menjauh dari iblis, serta berkata, "Aku bosan mendengarkanmu dan kebohonganmu." Dia berdoa kepada Allah untuk menolongnya;  Yusuf bangkit dan berjalan ke goa di mana Kristus dan Bunda Allah berada.  Itulah awal turun ke dalam hati.  Menemukan misteri yang tersembunyi dari kekekalan, berdiam di dalam hati kita ketika Dia pernah berdiam di sebuah gua dekat kota kecil Betlehem.

"SELAMAT NATAL"

https://www.orthodoxroad.com/nativity-icon-explained/

Sabtu, 04 Januari 2020

HIDUP SETELAH KEMATIAN oleh Uskup Agung Yohanes Maximovitch

HIDUP SETELAH KEMATIAN
oleh Uskup Agung Yohanes Maximovitch
dikenal sebagai St. Yohanes dari Shanghai dan San Francisco

Ini adalah homili St. Yohanes sebagaimana diterbitkan dalam The Soul After Death, oleh Fr. Seraphim Rose, edisi 1980. St. Seraphim menggunakan homili ini sebagai garis besar untuk bab penutupnya. Versi internet homili ini di mana-mana sangat berbeda dari aslinya. Karena memiliki perubahan, penambahan, dan berisi catatan kaki yang semua dibuat oleh seorang imam Antiokhia yang murtad yang meninggalkan Gereja Orthodoks dan bergabung dengan umat Katolik 2007.

Aku menunggu kebangkitan orang-orang mati,
dan kehidupan di jaman yang akan datang.
(Pengakuan Iman Nikea)

Tak habis-habisnya dan tanpa penghiburan kesedihan kita bagi orang-orang dekat yang sedang mendekati kematian, jika Tuhan tidak memberi kita kehidupan kekal. Hidup kita akan sia-sia jika berakhir dengan kematian. Lalu, apa manfaatnya kebajikan dan perbuatan baik? Maka benarlah mereka yang mengatakan: "Mari kita makan dan minum, karena besok kita mati!" Tetapi manusia diciptakan untuk keabadian, dan dengan kebangkitan-Nya Kristus membuka gerbang Kerajaan Surgawi, memberikan berkat kekal bagi mereka yang telah percaya kepada-Nya dan telah hidup dengan saleh. Kehidupan duniawi kita adalah persiapan untuk kehidupan masa depan, dan persiapan ini berakhir saat kematian kita. "Sekali manusia ditetapkan untuk mati, tetapi sesudah itu dihakimi" (Ibr 9:27). Kemudian seseorang meninggalkan semua kehidupan dan perhatian duniawinya; tubuhnya hancur, untuk bangkit kembali di Kebangkitan Umum.

Tetapi jiwanya terus hidup, dan kematian tidak sesaat pun menghentikan keberadaannya. Dengan banyaknya manifestasi orang mati, hal itu telah diberikan kepada kita untuk mengetahui sebagian apa yang terjadi pada jiwa ketika meninggalkan tubuh. Ketika penglihatan mata jasmaninya berhenti, maka penglihatan spiritualnya dimulai.

Seringkali (penglihatan spiritual) ini dimulai pada saat kematian bahkan sebelum kematian, dan sementara masih melihat orang-orang di sekitar mereka dan bahkan berbicara dengan mereka, mereka melihat apa yang orang lain tidak lihat

Tetapi ketika ia meninggalkan tubuh, jiwa menemukan dirinya di antara roh-roh lain, baik dan jahat. Biasanya itu condong ke arah orang-orang yang lebih mirip dengannya dalam roh, dan jika sementara di dalam tubuh ia berada di bawah pengaruh orang-orang tertentu, ia akan tetap bergantung pada mereka ketika meninggalkan tubuh, betapapun tidak menyenangkannya mereka berubah saat bertemu mereka.

Selama dua hari jiwa menikmati kebebasan relatif dan dapat mengunjungi tempat-tempat di bumi yang disayangi, tetapi pada hari ketiga ia bergerak ke tempat lain.

Pada saat ini (hari ketiga), ia melewati banyak sekali roh-roh jahat yang menghalangi jalannya dan menuduhnya melakukan berbagai dosa, yang mereka sendiri telah tergoda karenanya. Menurut berbagai pernyataaan ada dua puluh hambatan seperti itu, yang disebut "Toll Houses (di sini penterjemah gunakan istilah Gerbang kematian sebagai terjemahannya)", di mana masing-masing dari mereka diuji dengan satu bentuk dosa; setelah melewati satu gerbang  jiwa menuju ke gerbang berikutnya, dan hanya setelah berhasil melewatinya maka semua jiwa dapat melanjutkan jalannya tanpa dilemparkan ke gehenna. Betapa mengerikan iblis-iblis ini dan gerbang kematian mereka, terlihat dalam kenyataan bahwa Bunda Allah Sendiri, ketika diberitahu oleh Malaikat Gabriel tentang kematian-nya yang semakin dekat, memohon pada Putra-Nya untuk membebaskan jiwanya dari setan-setan ini,  dan menjawab doa-nya, Tuhan Yesus Kristus Sendiri muncul dari surga untuk menerima jiwa Bunda-Nya yang paling Murni dan membawanya ke surga. Mengerikan memang hari ketiga bagi jiwa orang yang sudah meninggal, dan untuk alasan inilah membutuhkan doa untuk dirinya.

Kemudian, setelah berhasil melewati gerbang kematian dan bersujud di hadapan Allah, jiwa selama 37 hari lagi mengunjungi tempat-tempat surgawi dan jurang neraka, belum tahu di mana ia akan ditetapkan, dan hanya pada hari keempat puluh. tempatnya ditetapkan sampai saat kebangkitan orang mati. Beberapa jiwa menemukan diri mereka (setelah empat puluh hari) dalam kondisi mencicipi kegembiraan dan berkat kekal, dan yang lain mencicipi ketakutan akan siksaan kekal yang akan datang sepenuhnya setelah Penghakiman Terakhir. Sampai saat itu perubahan kondisi dimungkinkan bagi jiwa, terutama melalui persembahan korban tanpa tercurahnya darah (peringatan di Liturgi), dan juga dengan doa-doa lainnya.

Seberapa penting peringatan di Liturgi dapat dilihat dalam kejadian berikut: Sebelum membuka relik St. Theodosius dari Chernigov (1896), imam-biarawan (Biarawan Alexis dari Goloseyevsky Hermitage, di Kiev-Caves Lavra , yang meninggal pada tahun 1916) yang sedang melakukan penggantian jubah dari relik St. Theodosius, menjadi lelah saat duduk di samping relik, tertidur dan melihat di hadapannya St. Theodosius, yang mengatakan kepadanya: "Aku berterima kasih karena telah bekerja untukku. Aku mohon juga, ketika engkau melayani Liturgi, agar memperingati orang tuaku juga"- dan dia memberikan nama mereka (Imam Nikita dan Maria). "Bagaimana bisa engkau, wahai St. Theodosius minta doaku, ketika engkau sendiri berdiri di Singgasana surga dan menganugerahkan rahmat Tuhan kepada manusia?" Biarawan itu bertanya. "Ya, itu benar," jawab St.  Theodosius, "tetapi persembahan di Liturgi Suci lebih kuat daripada doaku."

Oleh karena itu, panikhida dan doa di rumah untuk orang mati bermanfaat bagi mereka, seperti juga perbuatan baik yang dilakukan dalam ingatan mereka, seperti sedekah atau sumbangan kepada gereja. Tetapi khususnya sangat bermanfaat bagi mereka adalah peringatan di Liturgi Ilahi. Ada banyak penampakan orang mati dan kejadian lain yang menegaskan betapa bermanfaatnya peringatan orang mati. Banyak yang mati dalam pertobatan, tetapi yang tidak dapat mewujudkan hal ini ketika mereka masih hidup, telah dibebaskan dari siksaan dan telah mendapatkan istirahat. Di Gereja, doa-doa selalu dipersembahkan untuk istirahat orang mati, dan pada hari turunnya Roh Kudus, dalam doa-doa sambil berlutut di Vespers/ Sembahyang senja, bahkan ada permohonan khusus "untuk mereka yang ada di neraka."

Setiap orang dari kita yang ingin menunjukkan kasihnya bagi orang mati dan memberi mereka bantuan nyata, dapat melakukan yang terbaik dari semuanya melalui doa untuk mereka, dan khususnya dengan memperingati mereka di Liturgi, ketika partikel-partikel yang dipotong untuk yang hidup dan yang mati dibiarkan jatuh ke dalam Darah Tuhan dengan kata-kata: "Basuhlah, ya Tuhan, dosa-dosa orang-orang yang diperingati di sini oleh Darah-Mu yang Mulia dan oleh doa-doa orang suci-Mu." Kita tidak dapat melakukan apa pun yang lebih baik atau lebih besar bagi orang mati daripada berdoa untuk mereka, mempersembahkan peringatan bagi mereka di Liturgi. Tentang hal ini mereka selalu membutuhkan, dan terutama selama empat puluh hari itu ketika jiwa orang yang meninggal sedang melanjutkan perjalanannya menuju tempat tinggal yang kekal. Tubuh tidak merasakan apa-apa saat itu: ia tidak melihat orang-orang terdekatnya yang telah berkumpul, tidak mencium aroma bunga, tidak mendengar kotbah pemakaman. Tetapi jiwa merasakan doa yang dipersembahkan untuk itu dan berterima kasih kepada mereka yang membuatnya dan secara spiritual dekat dengan mereka.

Hai kerabat dan orang-orang dekat orang yang meninggal! Lakukan untuk mereka apa yang diperlukan bagi mereka dan dengan kekuatanmu. Gunakan uangmu bukan untuk perhiasan peti mati dan kuburan, tetapi untuk membantu mereka yang membutuhkan, untuk mengenang orang-orang terdekatmu yang telah meninggal, untuk Gereja, di mana doa untuk mereka dipersembahkan. Perlihatkan belas kasihan kepada orang mati, rawatlah jiwa mereka. Di hadapan kita semua berdiri di jalan yang sama, dan bagaimana kita kemudian berharap bahwa kita akan diingat dalam doa! Karena itu, marilah kita berbelas kasihan kepada orang yang telah meninggal.

Segera setelah seseorang beristirahat, segera hubungi atau beri tahu seorang imam, sehingga ia dapat membaca "Doa Keberangkatan Jiwa," yang ditetapkan untuk dibaca oleh semua orang Kristen Orthodoks setelah kematian. Cobalah, jika mungkin, untuk mengadakan pemakaman di Gereja dan agar Pemazmur membaca Mazmur untuk yang meninggal sampai pemakaman. Pemakaman tidak perlu dilakukan dengan rumit, tetapi yang paling pasti itu harus lengkap tanpa singkatan; pikirkan saat ini bukan tentang dirimu dan kenyamananmu, tetapi tentang orang yang sudah meninggal, dengan siapa kau berpisah selamanya. Jika ada beberapa orang yang meninggal di Gereja pada saat yang sama, jangan menolak jika itu diusulkan untuk melayani pemakaman bersama. Lebih baik bagi pemakaman untuk dilayani untuk dua atau lebih dari yang meninggal pada saat yang sama, ketika doa dari orang-orang dekat yang telah berkumpul akan lebih kuat, daripada untuk beberapa pemakaman yang akan dilayani secara berturut-turut dan ibadah, karena kekurangan waktu dan energi, disingkat; karena setiap kata doa untuk yang beristirahat itu bagaikan setetes air bagi orang yang haus.

Yang paling penting adalah mengatur untuk melayani peringatan empat puluh hari, yaitu, peringatan harian di Liturgi selama empat puluh hari. Biasanya di Gereja di mana ada Liturgi harian, almarhum yang pemakamannya telah dilayani di sana diperingati selama empat puluh hari dan lebih lama. Tetapi jika pemakaman ada di sebuah Gereja di mana tidak ada Liturgi harian, keluarganya harus berusaha untuk memesan peringatan empat puluh hari di mana ada Liturgi harian. Juga baik untuk mengirimkan sumbangan untuk peringatan ke biara-biara, serta ke Yerusalem, di mana ada doa terus-menerus di tempat-tempat suci. Tetapi peringatan empat puluh hari harus dimulai segera setelah kematian, ketika jiwa sangat membutuhkan bantuan dalam doa, dan karena itu seseorang harus memulai peringatan di tempat terdekat di mana ada Liturgi harian.

Marilah kita menjaga mereka yang telah pergi ke dunia lain mendahului kita, untuk melakukan semua yang kita bisa, dengan mengingat bahwa "Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan."

KRITIK EKLESIOLOGI KELOMPOK OLD CALENDAR

KRITIK EKLESIOLOGI KELOMPOK OLD CALENDAR
Panagiotis M.

Penulis penelitian ini adalah orang awam dengan minat dalam subjek tersebut di atas. Dia telah dengan rajin meneliti fenomena Kelompok Old Calendar Yunani, dan menghasilkan apa yang mungkin merupakan analisis dan sanggahan paling menyeluruh yang tersedia dalam bahasa Inggris.
Kami menyajikannya di sini untuk para pembaca kami sebagai pandangan seimbang dari contoh sesuatu yang dimulai dengan semangat pembelaan demi Orthodoksi tetapi berakhir dengan perpecahan/skisma - godaan akan kebenaran, yang terhadapnya para bapa Gereja kita berulang kali memperingatkan dengan bijak. Ada perbedaan antara menjalankan Old Calendar dan menjadi "Old Calendarist" —seperti perbedaan antara menjadi seorang Muslim dan seorang "Islamist". Situs web ini pada prinsipnya tidak mendukung kalender baru, tetapi lebih menyajikan studi ini sebagai diskusi yang cerdas tentang masalah di mana secara individual banyak yang menyatakan gereja-gereja disebut "tanpa rahmat" hanya karena mereka berada di / menjalankan kalender baru.

Sejak awal, gerakan Old Calendarist telah menghasilkan tingkat perdebatan yang substansial. Meskipun tidak semua kelompok Old Calendarist memiliki kepercayaan yang sama, tiga pandangan berikut ini tentu saja di antaranya yang paling umum:

1) Menghentikan peringatan hierarki sesat adalah wajib (bukan pilihan)

2) Persekutuan seharusnya dihentikan tidak hanya dengan para imam yang sesat, tetapi juga dengan mereka yang, meskipun Orthodoks tetapi mempertahankan persekutuan dengan mereka.

3) Klerus bidat kehilangan rahmat misteri bahkan sebelum penghukuman oleh sinode

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkritik prinsip-prinsip ini menggunakan serangkaian contoh dari sejarah Gereja. Selain itu, karena beberapa hal lain yang berkaitan dengan zealotry (kekakuan) (seperti perubahan dalam Kalender Gereja) juga tetap sangat disalahpahami di antara para Old Calendarist dan penganut Kalender Baru, keduanya juga harus ditangani.

Kalender Baru

Mari kita mulai dengan membahas klaim, yang luar biasa tersebar luas dalam literatur Old Calendarist, bahwa kalender yang saat ini digunakan oleh berbagai Kepatriarkhan dibenci oleh Sinode Pan-Orthodoks abad ke-16. Pertama, demi keakuratan, harus dicatat bahwa kecaman abad ke-16 hanya ditujukan pada Kalender kepausan atau Gregorian, yang berbeda dari Kalender Julian yang direvisi yang digunakan saat ini. Penting juga untuk dicatat bahwa Kalender Gregorian memiliki Paskah yang direvisi (seperangkat aturan untuk menentukan tanggal Paskah), tidak seperti Kalender Julian yang Direvisi, yang masih mempertahankan Paskah tradisional. Meskipun Menaion Kalender Julian yang Direvisi (siklus liturgi tahunan) memang berubah, satu-satunya kecaman yang berlaku untuk Menaion baru - kadang-kadang disebut Menologion - terkandung dalam apa yang disebut Sigillion 1583. Namun, tidak diketahui oleh banyak orang, adalah fakta bahwa Sigillion ini sebenarnya adalah sebuah pemalsuan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa sinode 1583 itu sendiri tidak terjadi, namun - fakta sejarah jauh lebih menunjukkan hal tersebut..

Untuk meringkas masalah ini secara singkat terdapat pemalsuan seorang biarawan Gunung Athos, Romo Iakovos dari Skete Baru yang akhirnya dikompilasi ke dalam Codex No. 722 dari Biara Js.. Panteleimon. Sampai hari ini, kodeks tersebut dikutip berulang kali oleh kaum Zealot/ fanatik dalam mendukung klaim bahwa Kalender Julian yang Direvisi adalah “di bawah anathema.” Namun, sebaiknya mengutip sebuah studi Old Calendarist yang terdokumentasi dengan baik tentang Sigillion1 yang seharusnya (hal5-6):

a. Judul: Pendapat murni dari penyusun

b. Tanggal: dokumen ini diduga disusun pada tanggal 20 November 1583, yang sebenarnya merupakan tanggal surat epistel bersama dari Patriarkh Yeremia dan Patriarkh Sylvester, sedangkan teks yang disajikan dalam Sigillion disusun pada tahun 1616.

c. Tanda tangan: Patriarkh Yeremia († 1595) dan Patriarkh Sylvester († 1590) sudah tidak lagi hidup pada tahun1616, dan Patriarkh Sophronios sudah turun tahta pada tahun 1608.

d. Teks: itu sebenarnya milik Loukaris (1616) dan bukan milik Sinode 1583, dan isinya tidak hanya sepenuhnya tidak terkait dengan pertanyaan kalender, tetapi juga kacau berantakan.

e. Anathema: sedangkan dalam teks Loukaris, ada enam anathema, yang berkaitan dengan ajaran Katholik Roma, penyusun telah menambahkan kepada Sigillion sebuah anathema ketujuh tentang semua yang mengikuti “Paschalion yang baru dan Menologion baru dari para astronom atheis Paus [sic]. "

Menurut "bapa gereja" dari Old Calendarist, Metropolitan Chrysostomos dari Florina (hal. 59), sinode-sinode abad ke-16  mengutuk Kalender Gregorian, tapi ... kecaman ini ditujukan kepada orang Latin, yang menerapkan kalender ini secara keseluruhan, sedangkan Uskup Agung mengadopsi setengah darinya, menerapkannya pada Perayaan tetap dan mempertahankan Kalender Lama untuk Paskah dan Perayaan yang bergerak, tepatnya dengan tujuan agar bisa melewati rintangan/ancaman dari pengutukan ini.

Memang, harus diperjelas bahwa Paskah yang direvisi adalah alasan utama mengapa kalender Gregorian sendiri dikutuk. (p3)

“Karena itu, para Bapa Gereja Timur, setelah mengadakan Sinode di Konstantinopel [tahun 1583], ketika apa yang disebut koreksi tanggal Paskah yang dirancang oleh Gereja Roma pertama kali diproklamirkan, diputuskan untuk menegakkan Tradisi Para Bapa dengan segala cara yang mungkin ... Saya sebelumnya mengirim berita ke Roma, membuktikan bahwa yang benar adalah merayakan Paskah sesuai dengan aturan (Kανόνιον) para bapa Gereja dan memohon kepada mereka untuk tidak meningkatkan ketidaksepakatan di antara Gereja-Gereja ... ”(Meletios Pegas, Epistle XXIII)

Dalam "tahun keselamatan 1587 ... mereka yang hadir di sinode menolak koreksi tanggal Paskah Suci yang dibuat oleh Paus Gregorius XIII dan dinyatakan sebagai berbahaya, tidak perlu, dan penyebab banyak skandal bagi semua negara Kristen ..." (Hypselantes, Tὰ Mετὰ τὴν Ἅλωσιν, hlm. 113)

Pada tanggal 12 Februari 1593 ... Sinode [Suci dan Agung, 'Pleno'] permanen diadakan ... Keputusan-keputusan Sinode ini diterbitkan dalam "Ketetapan Sinode", yang mencakup "penolakan terhadap Kalender Baru, yaitu, inovasi orang Latin mengenai Paskah.” (Paraskevaïdes, Mελέτιος ὁ Πηγᾶς, hlm. 113 dst)

Patriarkh Dositheos dari Yerusalem, dalam Paralipomena dari Buku XI dari Δωδεκάβιβλος (bab 11, §18), mengulangi dalam bentuk ringkasan bahwa Sinode “Pleno” di Konstantinopel pada tahun 1593 memutuskan “bahwa Paskah harus dilakukan sebagaimana ditentukan oleh Sinode Pertama dan bahwa kalender yang dibuat oleh orang-orang Latin harus di-anathema. ”

[Sinode 1593] “kemudian mengumumkan kanon yang berkaitan dengan tata tertib Gereja,” kanon yang kedelapan menyebutkan keinginan para Hierarki bahwa “apa yang diputuskan oleh para Bapa Suci mengenai Paskah yang Kudus dan menyelamatkan harus tetap tidak tergantikan” - “apa yang diputuskan ”Menjadi Kanon Pertama Sinode Antiokhia (341), di mana di Sinode 1593 diulangi kata demi kata (Paraskevaïdes, Mελέτιος ὁ Πηγᾶς, hlm. 113 dst) 

Mempertimbangkan hal di atas, jelaslah bahwa peng-anathema-an kalender Gregorian oleh Sinode Pan-Orthodox berasal dari perubahan Paskahnya, sementara kalender yang digunakan saat ini (tanpa inovasi yang dikutuk ini) tidak sama dengan apa yang “disusun”. oleh orang Latin. "Untuk mengutip sumber "True Orthodox" yang lain, :

... itu diakui oleh semua kelompok Zealot/fanatik yang percaya bahwa pada tahun 1930-an Sinode Pan-Orthodox hanya mengutuk adopsi Menaion Kalender Gregorian dan kalender Paschalion atau penggunaan dari Penanggalan Paskah/ Paschalion Gregorian.

Jelas, Kalender Julian yang Direvisi tetap tidak tersentuh oleh pengutukan ini. Ini tidak berarti, tentu saja, bahwa pengenalan Kalender ini adalah tindakan terbaik. Memang, itu tentu saja dapat dikritik - terutama karena fakta bahwa ia diperkenalkan secara sepihak dengan cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip eklesiologis Orthodoks. Namun, seperti yang akan ditunjukkan oleh tulisan ini secara meyakinkan, perpecahan/skisma bukanlah solusi yang tepat untuk masalah tersebut.

Pertama, mungkin berguna untuk memeriksa secara singkat pandangan Gereja Orthodoks Rusia di Luar Rusia (ROCOR) terhadap Kalender Baru. Karena, ROCOR sendiri memungkinkan Kalender Baru untuk digunakan di beberapa yurisdiksinya untuk mengakomodasi para petobat baru. Selain itu, dalam suratnya kepada Hieroschemamonk Theodosius, yang mempertimbangkan untuk memutuskan hubungan dengan Uskup Agungnya, Metropolitan Anthony (Khrapovitsky) menyatakan hal berikut:

Tentu saja, saya tidak setuju sama sekali dengan kesimpulan Saudara. Pertanyaannya tetap bahwa sementara mengakui tradisi suci dan menyaksikan pelanggaran mereka, dalam hal ini oleh orang-orang Yunani, seseorang masih harus mengajukan pertanyaan berikut: apakah pelanggaran seperti itu membenarkan perpisahan gerejawi atau hanya cukup dengan teguran?, Romo, engkau satu langkah lagi jatuh ke dalam [khayalan spiritual] yang paling awal. Semoga Bunda Allah melindungimu dari langkah selanjutnya. Saya menulis kepadamu sebagai teman yang baik hati: jangan hancurkan 40 tahun podvig [perjuangan spiritual] mu dengan penghakiman atas Gereja berdasarkan formalisme relatif dan juga sewenang-wenang. Kalender yang baru tidak kalah tidak menyenangkan bagiku daripada bagimu, tetapi yang lebih buruk adalah pemutusan dari Orthodoksi dan hierarkinya oleh para biarawan yang mencintai diri sendiri.

Sinode para uskup itu sendiri bisa dikategorikan:

Gereja kami memelihara Old Calendar dan menganggap pengenalan Kalender Baru sebagai kesalahan. Namun demikian, menurut kebijakan Patriarkh Tikhon dari ingatan akan beliau yang diberkati, kami tidak pernah memutuskan persekutuan rohani dengan Gereja-gereja kanonik tempat Kalender Baru diperkenalkan.

Apakah hukuman gerejawi berlaku secara otomatis?

Mari kita asumsikan, demi suatu argumen yang menyatakan bahwa Kalender Julian yang direvisi yang saat ini digunakan dikutuk oleh sinode-sinode abad ke-16. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang sangat penting - apakah hukuman gerejawi atas ekskomunikasi, pemecatan, dan anathema berlaku secara otomatis bagi pelaku kesalahan? Jika ini masalahnya, maka legitimasi setiap hierarki Old Calendarist yang ada akan diragukan (seperti yang akan kita lihat). Tetapi pertama-tama, mari kita perhatikan sudut pandang Js. Nikodemos dari Gunung Athos dalam Rudder-nya yang terkenal (hal 5-6):

Kita harus tahu bahwa hukuman yang diberikan oleh Kanon, seperti pemecatan, ekskomunikasi, dan anathema, dikenakan pada orang ketiga sesuai penggunaan tata bahasa, karena tidak ada keharusan yang tersedia. Dalam kasus seperti itu untuk mengekspresikan suatu perintah, orang kedua diperlukan. Saya akan menjelaskan masalah ini dengan lebih baik. Kanon memerintahkan dewan uskup yang masih hidup untuk memecat para imam, atau mengucilkan mereka, atau untuk menganathema orang awam yang melanggar kanon. Namun, jika konsili tidak benar-benar memutuskan pemecatan para imam, atau ekskomunikasi, atau anathema orang awam, para imam dan orang awam ini, tidak benar-benar dipecat, tidak di-ekskomunikasi, atau dianathema. Mereka bertanggung jawab untuk diadili, namun secara hukum, di sini seperti pemecatan, ekskomunikasi, atau anathema, hal ini adalah mengenai pembalasan ilahi …

Jadi orang-orang bodoh itu membuat kesalahan besar yang mengatakan bahwa pada masa sekarang semua orang dalam hierarki suci yang ditahbiskan telah bertentangan dengan/melawan kanon sebenarnya/otomatis dipecat dari jabatannya. Ini adalah bahasa penyelidikan yang dengan bodohnya mengoceh demikian: tanpa memahami makna perintah kanon, tanpa aktivitas praktis dari orang kedua, atau, lebih jelasnya, dari dewan Uskup, maka tetap tidak bisa dieksekusi hukuman yang dinyatakan di kanon tersebut, karena ia tidak bertindak dengan sendirinya dan dengan sendirinya segera dan sebelum penghakiman. Para Rasul sendiri menjelaskan diri mereka sendiri dalam Kanon Para Rasul XLVI (46) tidak salah lagi, karena mereka tidak mengatakan bahwa setiap uskup atau presbiter yang menerima baptisan yang dilakukan oleh bidat sudah dan pada saat yang sama benar-benar dalam keadaan dipecat, tetapi mereka memerintahkan agar dia dipecat, atau, pada setiap penilaian, agar dia diadili, dan, jika terbukti dia melakukannya, maka "kami perintahkan agar dia dilucuti/dipecat dari hierarki suci oleh keputusanmu," kata mereka. 

Kata-kata Js. Nikodemos jelas dan konklusif - hukuman kanonik tidak berlaku secara otomatis sebelum sidang dan putusan sinode. Otoritas gerejawi yang kompeten harus benar-benar menerapkan hukuman (mis. Pemecatan, ekskomunikasi, atau anathema) kepada pelaku yang dimaksud. Selain itu, dapat dipahami bahwa berbagai kanon (seperti Karthago, yang melatarbelakangi Pelagianisme) mengutuk tidak hanya kesalahan disiplin, tetapi juga ajaran sesat. Dengan demikian, menarik bahwa Js. Nikodemos menggunakan Kanon XLVI (46) dari para Rasul Suci sebagai contoh dalam perikop yang dikutip di atas. Kanon itu sendiri berbunyi sebagai berikut (hal. 68):

Kami memerintahkan Uskup, atau Presbiter, yang menerima Pembaptisan bidat, atau persembahan korban, agar dipecat; karena "kesesuaian apa yang dimiliki Kristus dengan Beliar [Belial]? Atau bagian apa yang dimiliki orang percaya dengan seorang kafir?"

Masalahnya di sini bukan hanya disiplin (setelah semua, menurut Js Nikodemos sendiri, Gereja sering mengizinkan penggunaan oikonomia), tetapi juga mengandung komponen dogmatis yang relevan dengan ekumenisme kontemporer. Memang, Orang Suci ini mencatat dalam komentarnya bahwa kanon berlaku bagi mereka yang menerima pembaptisan / persembahan korban bidat sebagai “suatu kebenaran.”  (hal. 68) Memberitahu bahwa kanon ini digunakan sebagai contoh oleh Orang Suci dalam bagian yang menjelaskan bahwa tidak ada yang diekskomunikasi, atau dipecat, atau di-anathema secara otomatis. Tampaknya Js. Nikodemos dengan halus menegur orang-orang Old Calendarist yang mendeklarasikan bahwa kelompok Kalendar Baru itu tanpa rahmat dan secara otomatis dikutuk, pandangan ini bertentangan langsung dengan kanon-kanon suci.

Simoni
Salah satu contoh pelanggaran yang agak parah selama masa Js. Nikodemos adalah simoni yang tersebar luas (pembelian atau penjualan kantor / peran gereja) yang menjangkiti Gereja di bawah para Sultan. Menurut Kanon 22 dari Trullo (hal315) (lih. Kanon Apostolik 29; Kanon 2 dari Konsili Kalsedon; Kanon 90 dari Js. Basilius Agung; Surat-surat Js. Gennadius Scholarius dan Js. Tarasius dari Konstantinopel, dll.)

Kami memerintahkan agar orang-orang itu dicopot dari jabatannya, baik mereka adalah Uskup atau imam, yang telah ditahbiskan atau ditahbiskan karena uang, dan tidak sesuai dengan ujian dan pilihan hidup.

Mengomentari ini dalam Rudder, Js. Nikodemos berkomentar (hal315)

Baca, dan sungguh sedih, saudaraku, atas pelanggaran Kanon yang sangat sakral dan sedemikian penting; karena hari ini itulah cara di mana simoni dipraktikkan, seolah-olah itu suatu kebajikan, dan bukan bidat yang dibenci  Allah, seperti yang dikatakan oleh Gennadius yang suci.

Memang, imam pada masa itu sering membeli pesanan mereka dan kemudian memaksa kaum awam untuk membayarnya untuk pengeluaran mereka, sebuah praktik yang sangat dikritik dalam sebuah dokumen 18068 (p134):

… Oh, engkau mengutuk Sinode Konstantinopel, dalam hal apa engkau menyerupai rasul-rasul kudus dan yang takut akan Allah yang membawa firman dan hikmat Yesus Kristus? Mungkin dalam kemiskinan dan ketidaktertarikan yang engkau khotbahkan? Tetapi engkau penuh dengan uang yang engkau curi setiap hari dari orang-orang Kristen yang menderita ... Kegemaranmu akan uang tidak dapat digambarkan.

Js  Nikodemos menyajikan perspektif patristik tentang pelaku simoni (hal. 44, 958-959) sebagai berikut:

Paus Gregorius secara tertulis kepada Regas Carolus mengatakan bahwa “para pelaku simoni adalah yang terburuk dari semua bidat” (hlm. 323 dari Volume Cinta); dan Gennadius Scholarius mengatakan bahwa simoni adalah penyebab orang-orang Kristen yang menimbulkan bencana karena uang yang disebabkan oleh orang-orang barbar yang tidak bertuhan, karena itu adalah dosa terbesar dan bagian dari kefasikan yang paling mengerikan, dan karena simoni adalah ajaran sesat mengenai pasal pertama dari iman ”( . 207 dari volume yang sama). Isidore Pelousiotes mengatakan, “Jadi, semua orang yang membeli hierarki Suci termasuk dalam kategori yang sama dengan Kayafas, pembunuh Kristus. Karena apa yang tidak dapat dia percayakan kepadanya melalui pekerjaan, dia berhasil mengamankan dengan dogma-dogma yang tidak benar ”(Epistle 315)…

Pada titik ini Js. [Tarasius] mengatakan kepada Paus bahwa bidat yang tidak benar dari para simoniak lebih buruk daripada bidat dari Pneumatomach Macedonius dan kelompoknya. Sebab orang-orang itu biasa mengatakan bahwa Roh Kudus adalah makhluk dan hamba Bapa, sedangkan orang-orang yang sama membuat Roh Kudus menjadi hamba mereka sendiri. 

Dengan demikian, Js. Tarasius berduka atas pelanggaran kanon pada masanya sendiri, namun ia tidak masuk ke dalam perpecahan atau membangun hierarki paralel sendiri. Meskipun banyak pelanggaran lainnya (juga dikritik oleh oleh Jana suci Tarasius) terjadi pada masa itu, contoh ini penting karena simoni, seperti yang disebutkan di atas, dapat dianggap tidak hanya pelanggaran kanonik tetapi juga bidat yang sangat dikutuk oleh konsili dan bapa suci [“yang terbesar dari semua bidat ”; "Lebih buruk daripada bidat dari Pneumatomach Macedonius" dll]. Fakta bahwa Kollyvades tidak menutup diri menimbulkan pertanyaan - apakah mereka “terinfeksi” oleh kesalahan hierarki mereka? Apakah mereka berdosa karena tidak memutuskan persekutuan komuni? Jika tindakan semacam itu entah bagaimana wajib, kita akan dipaksa untuk mengutuk orang-orang kudus ini (dan banyak lainnya), sebuah absurditas yang tidak akan diakui oleh Old Calendarist. Selain itu, seperti yang akan kita lihat, contoh ini hanyalah "puncak gunung es."

Penolakan terhadap Hesikasme
    
Pada tahun 1341, 1347, dan 1351, sinode-sinode otoritatif (yang pada intinya telah diterima sebagai Ekumenis oleh Gereja Orthodoks, dengan deklarasi formal yang kemungkinan akan menyusul di masa depan) membela doktrin Js. Gregorius Palamas mengenai perbedaan esensi dan energi dan mengutuk yang berlawanan dengannya. Namun, yang sedikit diketahui adalah bahwa perbedaan itu sendiri bukan satu-satunya masalah yang diperdebatkan. Jadi, dalam Tomos dari sinode 13419 (hal.329-330, 332-333) kita membaca:

Selain itu, Barlaam ditemukan telah membuat banyak pernyataan keliru dan tuduhan secara tertulis terhadap para praktisi kehidupan sunyi/ Hesikasme. Pada saat yang sama ia menyerang doa yang lazim dilakukan mereka, atau lebih tepatnya dengan semua orang Kristen, "Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, kasihanilah aku." ...

Jadi dengan kata-kata ini Barlaam telah disangkal dan dinyatakan menghujat dan dinyatakan sebagai bidat baik tentang cahaya ilahi di Gunung Tabor dan dalam tuduhannya terhadap para biarawan mengenai doa suci yang mereka praktekkan dan baca berulang-ulang ...

Oleh karena itu kami menyatakan bahwa jika, di satu sisi, ia [Barlaam] menunjukkan pertobatan sejati dan mengoreksi dirinya sendiri, dan tidak lagi ditemukan berbicara dan menulis mengenai hal-hal semacam itu, itu baik; tetapi jika tidak, ia akan di-ekskomunikasi dan disingkirkan dari Gereja Kristus yang kudus, katolik dan apostolik dan dari komunitas Kristen orthodoks.

Lebih jauh lagi, jika ada orang lain yang muncul lagi mengulangi salah satu penghujatannya dan pandangan sesat terhadap para biarawan atau dengan cara apa pun melecehkan mereka dalam hal-hal seperti itu, ia akan dikenakan kutukan yang sama, ia juga akan di-ekskomunikasi dan disingkirkan dari gereja Kristus yang kudus, katolik dan apostolik dan dari komunitas Kristen orthodoks. 

Kecaman terhadap mereka yang menolak Doa Yesus / Hesikasme ini penting karena fakta bahwa ada banyak kasus dalam sejarah Gereja di mana hal itu secara eksplisit dilanggar. Contoh utama dari ini adalah di Gereja Rusia. Menurut Grillaert (hal.191),

Meskipun jenis spiritualitas Nil menarik banyak pengikut di kalangan biara dan awam, hesikasme dan jenis monastik terkait ditekan oleh otoritas gereja dan didorong ke pinggiran Orthodoksi Rusia: ada serangkaian penganiayaan terhadap para pengikut spiritualitas Nil. Gereja mulai secara sadar menekan gerakan hesikasme (Billington 1966: 63-64; Figes 2003: 294). Larangan terhadap monastisisme Nil memotong kesadaran religius Rusia dari tradisi hesikasme, seperti yang dipraktikkan di Gunung Athos dan berakar pada tradisi patristik. Kehidupan spiritual Rusia dan monastisisme semakin menurun setelah reformasi gereja oleh Peter Agung pada awal abad ke-18. Penetapan "Regulasi Spiritual" Peter Agung (dan Feofan Prokopovic) pada tahun 1721 ternyata merusak spiritualitas Rusia: gereja Rusia diubah menjadi institusi yang dikendalikan oleh negara dan sekuler yang melayani ambisi politik Tsar daripada menjaga kehidupan kerohaniannya..

Syukurlah, kebangkitan patristik yang diprakarsai oleh Js. Paisius Velichkovsky, para Tetua Optina, dan Js. Seraphim dari Sarov secara bertahap memulihkan kembali keresahan di Rusia. Namun, hingga tahun 1913, buku pegangan S.V Bulgakov untuk para Pelayan gereja (hal. 85), yang secara resmi disetujui dan diterbitkan oleh Gereja Orthodoks Rusia, merujuk pada hesikasme dengan cara yang sangat mirip dengan Barlaam sendiri:

Seseorang menemukan distorsi/penyimpangan yang menakjubkan dari Hesikasme di Nastol'naia Kniga [Buku Pegangan], yang memiliki catatan tentang Hesikasme di bagian yang ditujukan untuk “Skisma, Ajaran sesat, Sekte, dll.” Yang menginformasikan kepada kita bahwa para Hesikas adalah

“Sekelompok mistikus monastik di Yunani pada abad keempat belas yang dibedakan oleh angan-angan yang paling aneh. Mereka menghormati pusar sebagai pusat energi spiritual dan, sebagai konsekuensinya, pusat kontemplasi; mereka berpikir bahwa, dengan menurunkan dagunya ke arah dada dan menatap pusar mereka, mereka akan melihat cahaya Surga dan bersukacita ketika melihat penghuni surga. "

Bahasan ini menyimpulkan dengan mengatakan kepada kita bahwa, dengan senang hati, "pendapat yang tidak masuk akal dari para Hesikas tentang cara-cara memahami cahaya yang tidak tercipta segera diberikan untuk dilupakan dengan sendirinya" ...

Adapun praktik Hesikas di biara-biara Rusia pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh, orang hanya perlu mengingat surat-surat Uskup Ignatii (Brianchaninov) atau penganiayaan yang dialami oleh banyak Tetua Optina Pustyn 'untuk kebaruan yang dirasakan dari Kepemimpinan Tetua.

Apakah para uskup Rusia pra-revolusioner secara otomatis dicopot jabatannya karena menganut sebuah doktrin “ yang dikutuk oleh Dewan Suci, atau Para Bapa?” ​​7 (hal 471) Jawaban atas pertanyaan ini pastilah ya hanya jika interpretasi kelompok Kalender Lama yang cacat tentang kanon 15 (dari Konsili yang pertama- Kedua) ditaati.

Selain itu, St Barsanuphius dari Optina 12 (hal 138-139), dalam ceramahnya pada 11 Agustus 1909, mencatat bahwa Doa Yesus diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak dipercaya oleh orang-orang sezamannya:

Dia (Romo Benediktus) diberi beberapa tugas untuk dilakukan oleh penatua itu — di antaranya, untuk mengetahui apakah Doa Yesus dilakukan di biara-biara. Dia melakukan perjalanan ke banyak biara dan sampai pada kesimpulan yang menyedihkan: doa yang paling penting ini telah ditinggalkan di hampir semua tempat, terutama di biara. Mereka yang masih melakukannya seperti lilin yang hampir terbakar habis.
Sebelumnya, bukan hanya para biarawan yang melakukan Doa Yesus - doa ini juga dilakukan tanpa gagal oleh orang-orang di dunia (misalnya, tokoh sejarah terkenal Speransky melakukan Doa Yesus dan selalu bersukacita, meskipun sibuk dengan kerja kerasnya). Tetapi sekarang bahkan para biarawan menganggap pekerjaan ini tidak patut. Misalnya, seseorang mungkin berkata kepada yang lain, "Pernahkah engkau mendengar?"
"Mendengar Apa?"
“Fr. Petrus mulai melakukan Doa Yesus. "
"Benarkah? Yah, dia mungkin agak gila. "

Romo John Romanides merujuk pada fenomena serupa di Yunani 13:

Itu [hesikasme] dianiaya karena negara-negara di mana ia berkembang mulai menjadi kebarat-baratan secara politis seperti halnya di Rusia setelah reformasi Peter Agung dan di Yunani setelah revolusi 1821 ...

Orang-orang Frank tahu betul bahwa mereka telah dengan tepat mengidentifikasi hesikasme sebagai sumber kekuatan Orthodoxy. Jadi cara apa yang mereka lakukan untuk menyingkirkannya? Setelah Revolusi 1821 dan berdirinya Negara Yunani Modern, kaum Frank dengan sengaja berusaha untuk melemahkan hesikasme, dan Adamantios Korais memutuskan untuk melakukan hal itu. Setelah revolusi 1821, Korais menyatakan perang melawan hesikasme pada saat yang sama ketika Rusia dan Eropa juga mengarahkan pandangan mereka pada pelemahan hesikasme dan mencabutnya dari tradisi Kristen. Ini adalah bagaimana kita telah mencapai titik di mana hari ini kita menganggap hesikasme sebagai detail yang tidak penting dalam tradisi Orthodoks dan fenomena yang tidak penting dari masa lalu. Faktanya, kami belajar dari buku teks yang kami gunakan di SMP bahwa hesikasme adalah ajaran sesat, tradisi yang sepele dan marjinal ... [Penekanan ditambahkan]
Sementara itu, seorang spesialis Katolik Roma terkenal di bidang mata pelajaran Orthodoks bernama Martin Jugie (1878-1954) menulis sebuah buku dalam bahasa Latin tentang ajaran dogmatis Gereja Timur. Dalam buku ini, ia mengumumkan kematian hesikasme. Dia menulis, “Kita sekarang dapat mengatakan bahwa hesikasme telah menghilang.” Seorang sejarawan Yunani kontemporer dan penulis The History of the Greek Nation telah mengatakan hal yang sama. Dengan penuh kemenangan ia mengumumkan bahwa hesikasme sudah mati, bahwa kata-kata romaios, romios, dan romaiosyni kini telah lenyap dari bahasa Yunani, dan bahwa orang Yunani modern tidak lagi memiliki masalah dengan identitas etnis mereka. Karena hesikasme dan budaya Romawi tidak berhubungan, rencananya adalah untuk melenyapkan keduanya. 

Tentu saja, Jugie tidak sepenuhnya benar - hesikasme tidak pernah sepenuhnya dilupakan, meskipun kadang-kadang itu sudah ada di pinggiran. Jadi, di Rusia, melalui upaya St. Paisius14 (hal 37),

Hesikasme Gunung Athos menghidupkan kembali mayat monastik Rusia pada akhir abad ke-18, yang berpuncak di Optina. Namun demikian, kelompok-kelompok ini, meskipun secara nyata suci, ada di pinggiran kehidupan Rusia, dan ditahan dalam kecurigaan oleh Sinode yang semakin sekuler dan lemah.

Namun, karena tidak ada pengadilan sinodal atau pengutukan, Gereja Rusia tetap berada di dalam pangkuan Gereja meskipun ada Barlaamisme yang meluas yang keberadaannya, tidak diragukan lagi dikutuk oleh bapa Gereja dan sinode suci. Fakta bahwa ajaran-ajaran semacam itu diumumkan secara resmi, dan bahwa ini tidak hanya menyentuh hierarki tetapi bahkan para biarawan dan kaum awam, adalah sangat berpengaruh. Ekumenisme kontemporer sebagai bidat eklesiologis diumumkan dewasa ini terutama dengan hierarki yang beryindak salah, yang bertentangan dengan banyak biarawan, umat awam, dan klerus yang sangat sering menentang pelanggaran semacam itu.

Namun bahkan hierarki di zaman modern tidak sepenuhnya dikompromikan. Memang, yurisdiksi Georgia dan Bulgaria telah secara sinode menolak bidat ekumenisme sementara juga menahan diri untuk tidak berpartisipasi dalam Dewan Gereja Dunia / WCC, dan sebagian besar uskup dalam hierarki Serbia dan Yunani juga sangat menentang ekumenisme yang sinkretistik - untuk memberikan contoh yang lebih jelas15. Selain itu, banyak imam dan umat awam bahkan di Kepatriarkhan Ekumenis mempertahankan kepercayaan sepenuhnya Orthodoks (di samping itu, tentu saja, untuk para biarawan Gunung Athos), dan bahkan dapat diperdebatkan bahwa bidat anti-hesikasme lebih tersebar luas di Rusia di abad pertengahan daripada ekumenisme. di beberapa yurisdiksi "Kalender Baru". Karena Calon Kalender yang bersemangat menyatakan Calon Kalender Baru tidak memiliki rahmat, dengan alasan mereka sendiri pelanggaran yang disebutkan di atas seharusnya membuat Gereja Rusia (dan Yunani) sama-sama tidak bernafsu. Lebih jauh lagi, jika mereka yang tetap dalam persekutuan dengan mereka yang bidat juga berada di bawah anathema, maka Orthodoksi itu sendiri tidak akan ada lagi pada masa itu, karena tidak ada “pelarian” yang terjadi. Memang, tidak satu pun Gereja lokal lainnya yang memisahkan diri dari Gereja Rusia - terlepas dari kenyataan bahwa pada tahun 1727 para patriarkh Antiokhia, Yerusalem dan Konstantinopel, serta uskup Yunani Trnovo, secara sinonim menegaskan kembali theologi St. Gregorius Palamas16 (vol 37 ) - dan tidak juga para hesikas / Jana Suci Rusia yang dianiaya masuk dalam skisma. Pada akhirnya, kelompok-kelompok Kalender Lama hari ini harus - dengan alasan mereka sendiri - menelusuri akarnya ke hierarki yang mereka anathema sendiri dan hirarki tidak valid.

Anti-Palamisme di abad ke-14

Mengenai masalah pemecatan yang terjadi secara otomatis, ada baiknya mengutip sinode Palamite dari 13519 (hal.336-337, 345-346):
Tetapi dia yang selalu bersukacita karena malapetaka kita [iblis] bahkan tidak tahu bagaimana menjaga perdamaian, dan dia juga tidak berkeliling mencari cara untuk memperbaiki kekurangan perantaranya. Dia masih memiliki beberapa yang menemani Barlaam dan Akindynos itu, dan sakit parah dengan penyakit mereka. Melalui mereka dia menundukkan dirinya sendiri yang disebut sebagai uskup Efesus dan uskup Gannos, Gregory dan Decius. Orang-orang ini membentuk sebuah masyarakat dan mengumpulkan orang-orang lain sebagai sahabat, tidak pernah memikirkan sesuatu yang sehat kapan saja, membangkitkan pertikaian dengan gereja Allah, dengan semangat berjuang untuk memimpin banyak orang yang tersesat dan untuk memotong persekutuan mereka dari gereja, dengan anggapan bahwa mereka akan mendapatkan kemuliaan untuk diri mereka sendiri. Jadi itu perlu karena ini untuk mengumpulkan Konsili agung, karena kaisar kita yang paling baik hati mengasihani jiwa-jiwa yang binasa ...

Ketika orang-orang ini telah ditolak sama sekali dengan cara ini, mereka dipanggil oleh gereja untuk bertobat. Pertama kaisar kita yang begitu baik dengan kata-kata yang menarik dan lembut mendesak mereka untuk tidak berpaling dari obat pertobatan. Tetapi mereka tidak menerima, dan mengatakan secara terbuka, "Aku tidak ingin tahu jalanmu." Karena mereka bertahan pada apa yang mereka pahami dengan buruk sejak awal. Karena itu, atas perintah agung dari kaisar kita yang perkasa dan Patriarkh tersuci, sebuah buku tebal telah dibacakan yang telah diputuskan beberapa waktu sebelumnya untuk pemecatan para uskup di Efesus dan Gannos dan yang lainnya, dengan alasan bahwa mereka telah terjangkit penyakit Barlaam. dan Akindynos. Itu belum berlaku, karena mereka sedang menunggu perubahan hati dan pertobatan mereka, dan berusaha dengan segala cara untuk memperolehnya dengan segala keinginan dan semangat ...

Tetapi ketika dia melihat bahwa orang-orang yang sakit ini tidak dapat disembuhkan, memegang sekali dan untuk selamanya hujatan dan sama sekali menolak pertobatan, mengambil semangat yang layak tidak hanya untuk dirinya sendiri dan kebajikannya sejak masa kanak-kanak, tetapi juga layak atas takhta kepatriarkhan, mencopot para uskup dari Efesus dan Gannos dari jabatan episkopal mereka dan semua fungsi imamatnya, dengan persetujuan sinode suci… [Penekanan ditambahkan]

Jelas, terlepas dari kenyataan bahwa para uskup di Efesus dan Gannos memberitakan bidat, dan memiliki buku tebal yang disiapkan untuk pemecatan mereka, Tomos 1351 secara eksplisit menyatakan bahwa itu "belum berlaku" karena gereja dengan sabar menunggu pertobatan mereka. Jelas, para uskup yang disebutkan di atas tidak secara otomatis dikutuk / diusir dari Gereja, meskipun sinode-sinode tahun 1341 dan 1347 telah mengutuk bidat Barlaamisme. Bisakah orang membayangkan sinode "True Orthodox" /“Orthodoks Sejati” mengadopsi sikap yang sama ini?

Mari kita periksa juga bagaimana sinode 1351 memperlakukan Barlaamites lainnya, setelah pencopotan para uskup yang disebutkan di atas9 (hal 346):

tetapi yang lainnya bersama mereka, para pemimpin bidat dan orang-orang yang mengikuti kejahatan  mereka dan memperoleh kutukan bersama mereka, dipecat. Beberapa dari mereka mencari pengampunan dan mendapatkannya melalui pertobatan. Dan sesi ini berakhir.

Sejak saat itu beberapa hari berlalu, seperti yang diperintahkan kaisar kita yang tersuci, dengan bijaksana membuka pintu pertobatan bagi para pembangkang. Tetapi karena mereka masih tidak dapat disembuhkan, ia memutuskan untuk mengumpulkan sinode lain lagi [sesi kelima], sehingga melalui pemeriksaan kebenaran Orthodoksi mengenai masalah yang diangkat akan menjadi lebih jelas dari tulisan-tulisan theologis para Jana Suci. [Penekanan ditambahkan]

Pada akhir sesi kelima ini, para pembangkang yang tidak bertobat yang telah dihadapkan dengan kesaksian patristik yang signifikan dan masih menolak untuk menerima Orthodoks “diusir dari gereja Kristus yang Katolik dan apostolik.” 9 (p371) Jelas, sebelum vonis sinode mereka dipahami berada di dalam Gereja, karena Gereja tidak perlu “mengusir” atau mengusir mereka yang sudah di luar batasnya.

Pada akhirnya, dalam pasal-pasal di atas orang dapat mengamati etos yang benar-benar Orthodoks. Daripada penghinaan fanatik terhadap heterodoks, kita melihat keprihatinan yang mendalam bagi mereka yang bidat, dan keinginan tulus untuk pertobatan mereka. Jelas bahwa pemecatan hierarki sesat tidak terjadi secara mekanis, melainkan bergantung pada kehendak Gereja. Gereja pada akhirnya memutuskan siapa yang akan diusir dari tengah-tengahnya, dan jika dia memilih untuk memberi waktu bagi bidat untuk bertobat, ini adalah hak prerogatifnya.

Untuk memberikan contoh lain, pada tahun 1368 (setelah sinode resmi tahun 1341, 1347 dan 1351), Prochoros Kydones mengajukan klaim yang sudah dikutuk bahwa cahaya transfigurasi itu diciptakan, di antara bidat-bidat lainnya. Namun, ia sama sekali tidak dianggap secara otomatis digulingkan sehubungan dengan masalah Barlaamism. Menurut Russell17 (hal. 82, 85),

sebuah Konsili lokal diadakan, dipimpin oleh uskup Hierissos dan Gunung Suci, yang meng-anathema Prochoros sebagai bidat yang tidak dapat diperbaiki. Ketika Patriarch [St. Philotheos Kokkinos] menerima laporan konsili, bersama dengan salinan keputusan atas Prochoros, ia memutuskan bahwa masalah itu harus dibawa sesegera mungkin di depan 'sinode agung dan suci para metropolitan dan para uskup yang tinggal di ibukota. Sampai titik ini Philotheos berharap untuk menangani perdebatan itu sendiri pada tingkat administrasi. Peristiwa sekarang memaksanya untuk memulai proses hukum. Sinode bertemu pada musim semi 1368. Philotheos memimpin sidang dan juga memimpin interogasi Prochoros…

Philotheos mengistirahatkan masalahnya. Setelah bukti dihasilkan pada beberapa panjang kultus yang diberikan kepada Gregory Palamas di berbagai tempat, masing-masing dari para metropolitan dan uskup yang berkumpul ditanyai putusannya. Semua menganggap tulisan-tulisan Prochoros sesat - lebih buruk daripada Barlaam dan Acindynus - dan merekomendasikan pengucilannya dan pencopotan dari jabatan imamat. Prochoros meminta penundaan satu hari untuk merenungkan masalah ini dan menyiapkan pembelaan, yang diberikan. Tetapi ketika sinode itu dimulai kembali, dia menolak untuk muncul. Setelah dua pemanggilan kanonik oleh petugas hukum Gereja Agung, ia dinyatakan keras kepala dan hukumannya ditegaskan. [Penekanan ditambahkan]

Jelas, konsili awal yang dipimpin hanya oleh satu uskup tidak dianggap cukup oleh St. Philotheos, Patriarkh Konstantinopel. Lebih penting lagi, fakta bahwa Prochoros menghadapi "proses hukum" menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak dianggap secara otomatis digulingkan oleh, atau secara mekanis "di bawah," anathema sinode sebelumnya dari tahun 1341, 1347 dan 1351. Ia masih dianggap sebagai imam, subjek untuk pemecatan, yang penting. Selain itu, ia dipanggil secara kanonik, diberi kesempatan untuk mempersiapkan pembelaan, dan dihukum / dikutuk dengan baik oleh sinode. Dengan membandingkan ringkasan sinode 1368 ini dengan berbagai tindakan kelompok Kalender Lama terhadap “Dunia Orthodoks” (yang akan segera kita analisis), akan menjadi agak jelas bahwa perspektif kelompok Kalender Lama mengenai kutukan sinodal jauh dari status “patristik.”

Singkatnya, kemudian, sinode Palamite abad ke-14 menunjukkan bahwa ketika seorang imam dituduh “jatuh di bawah” kutukan di masa lalu, sebuah sinode yang kompeten akan memanggil uskup atau imam itu untuk diadili guna menentukan kebenaran tuduhan, dan kemudian (jika tuduhan terbukti benar dan mereka menolak untuk bertobat) maka mereka memberikan hukuman atasnya.

Kanon 15 dan kesalahpahaman kelompok Kalender Lama lainnya

Sebelum menyajikan contoh-contoh tambahan dari sejarah Gereja, perlu sekali lagi merujuk secara singkat kepada kanon 15 dari konsili pertama-kedua yang banyak disalahgunakan. Dapat dicatat bahwa putusan khusus ini jelas tidak dapat digunakan sebagai sarana untuk membentuk badan-badan gerejawi yang baru, seperti halnya "True Orthodox"/ “Orthodoks Sejati.” Sebaliknya, itu hanya sanksi pemisahan pendahuluan dari seorang uskup yang mengkhotbahkan ajaran sesat (secara terbuka) di depan pengadilan gerejawi . Dengan demikian, telah benar dikatakan adanya istilah “pseudo-uskup”

sebelum suatu keputusan sinode itu semua bersifat heuristik atau diagnostik dan bukan bersifat final dan yuridis atau menghukum. Sebagai konsekuensinya maka misteri yang dilakukan masih dipenuhi rahmat meskipun dilakukan oleh "uskup palsu"/"pseudo-bishop sebelum adanya kutukan Sinode.

Mengingat contoh-contoh yang telah (dan akan) disajikan dalam makalah ini, tidak mungkin untuk membaca kanon 15 sebagai yang diwajibkan.

Sebagai tambahan, harus juga disebutkan bahwa mayoritas (mungkin semua) dari teks-teks bukti patristik yang dikutip oleh kelompok Kalendar Lama/ Old Calendarist  dalam mendukung pemutusan persekutuan dengan “bidat” sebenarnya cocok dalam salah satu dari tiga kategori berikut:

Pemisahan awal dari hierarki sesat (tanpa menetapkan yurisdiksi paralel atau putus dari hierarki Orthodoks yang dalam persekutuan dengannya), sesuai dengan kanon 15. Dalam kasus ini, rahmat belum hilang, karena hierarki belum dipecat dari jabatannya..

Memutus persekutuan dengan hierarki yang dikutuk oleh sinode, itu adalah yang memang diperlukan.

Menghindari persekutuan dengan kelompok skismatik (yang mungkin tidak memiliki iman yang sesat). Sering dilupakan bahwa, terlepas dari kutukan sinode, individu juga dapat memisahkan diri dari Gereja - bukan dengan mengemukakan bidat, tetapi dengan memasuki perpecahan dan dengan demikian kehilangan rahmat ilahi. Misalnya, bahkan jika tidak ada sinode yang pernah mengutuk orang-orang Papis atas ajaran sesat mereka, mereka tetap akan berada di luar Gereja sebagaimana dikatakan menurut Balsamon19 (tulisan pada tahun 1190),

Selama bertahun-tahun Gereja Barat telah terpisah dalam persekutuan spiritual dengan empat Kepatriarkhan lainnya dan telah menjadi asing bagi Gereja Orthodoks..

Paus akhirnya menetapkan yurisdiksi paralel dalam tahta Antiokhia, Konstantinopel, dan Yerusalem, jelas menunjukkan adanya skisma20. St Basilius, dengan mengacu pada pandangan St. Kiprianus dan St. Firmillian, menyatakan hal berikut mengenai skismatik dalam kanon pertamanya21:

Karena permulaan perpisahan muncul karena perpecahan, dan mereka yang memberontak dari Gereja tidak lagi memiliki rahmat Roh Kudus. Karena pemberiannya berhenti dengan terputusnya kesinambungan ... Tetapi dengan memisahkan diri, mereka menjadi orang awam, dan dengan demikian mereka tidak memiliki wewenang untuk membaptis atau menahbiskan, karena mereka tidak lagi memiliki kuasa untuk memberi orang lain rahmat Roh Kudus kepada orang lain. di mana mereka sendiri telah jatuh atau kehilangan Rahmat tersebut. .
Para skismatik yang dirujuk oleh St Basilius umumnya Orthodoks dalam kepercayaan/iman mereka, tetapi membentuk gereja mereka sendiri dan dengan demikian "tidak lagi memiliki rahmat Roh Kudus." 

Skismatik yang dirujuk oleh St Basilius umumnya Orthodoks dalam iman mereka, tetapi membentuk gereja mereka sendiri dan dengan demikian “tidak lagi memiliki Rahmat Toh Kudus".
Dengan demikian, kepercayaan skismatik tidak selalu relevan dengan fakta bahwa mereka menemukan diri mereka sendiri di luar Gereja (meskipun tentu saja perbedaan dogmatis memang ada antara Gereja Orthodoks dan Katolik Roma). Satu contoh tambahan dari sejarah Gereja yang melibatkan skismatik sesat dapat ditemukan dalam kelompok Non-Kalsedon, yang menolak Konsili Ekumenis Keempat, mereka membangun hierarki mereka sendiri, dan terpecah menjadi berbagai sekte berbeda22. Pada prinsipnya, bagaimanapun, tidak ada persidangan yang diperlukan untuk masing-masing hierarki mereka karena melanggar Konsili Kalsedon, karena mereka telah meninggalkan kesatuan Gereja dengan mendirikan hierarki mereka sendiri.

Dengan demikian, terbukti bahwa penghukuman secara sinode tidak hanya diperlukan dalam kasus tubuh skismatik. Namun, dalam situasi saat ini, yurisdiksi Kalender Baru memang belum membuat skisma atau hierarki paralel yang didirikan, yang disebut "True Orthodox" yang telah melakukann penghukuman  sebelum vonis sinode (dengan cara setidaknya agak mirip) kepada "Old Believers" di abad ke-17, yang juga terpecah-pecah di antara mereka sendiri). Jelas, ini tidak dapat dipertahankan atas dasar kanon. Untuk mengakhiri bagian ini, kami mengutip kata-kata ringkas dari archimandrite dan ahli Kanon Epiphanius dari Athena dalam suratnya kepada Romo Nikodemos (tanggal 22 Juli 1971):

ada dua jenis bidat: Mereka yang telah diadili oleh Gereja dan telah dihukum dan dikeluarkan dari Tubuh-Nya, dan mereka yang belum dihukum oleh Gereja, juga tidak meninggalkan Gereja atas kemauan mereka sendiri, tetapi sebaliknya tetap berada di Tubuh Gereja. Satu kasus seperti itu adalah kasus Patriarkh. Patriarkh Athenagoras telah mengkhotbahkan kepercayaan sesat. Tetapi dia belum dihukum oleh Gereja, dia juga belum meninggalkan Gereja dan menjauhkan dirinya dari-Nya. Dia tetap di dalam Gereja dan terus melayani di dalam Gereja dan akibatnya, dia masih merupakan saluran Rahmat; saat dia melakukan Sakramen.

Konsili Ekumenis Ketujuh

Konsili Ekumenis ke-7. Miniatur dari Menologion Basilius II. 976-1025. (Vat. Gr. 1613. Fol. 108). Foto: pravenc.ru

Marilah kita sekarang kembali ke penyelidikan kita tentang contoh-contoh dari sejarah Gereja saat menghadirkan suatu kutuk yang diundangkan oleh Konsili Ekumenis Ketujuh (prosiding kedelapan), yang menyatakan bahwa “Jika seseorang melanggar tradisi gerejawi, baik tertulis maupun tidak tertulis, biarkan ia menjadi terkutuk.” 16 ( vol 3, p416) Tentu saja, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak tradisi Gereja telah tidak digunakan, atau digantikan, sejak abad ke-8. Salah satu praktik seperti itu adalah tonsur "papalethra" para imam (potongan rambut kuno yang dirancang menyerupai mahkota duri, seperti yang terlihat dalam beberapa ikon St. Gregorius Palamas) yang, dikutip St Nikodemos, "diadopsi oleh seluruh Gereja, baik Timur dan Barat ”7 (hal315). Memang, kanon 21 dari Trullo menyinggung praktik kuno7, yang merupakan ciri khas klerus. Menariknya, "tradisi gerejawi" ini (mengutip kutukan) yang sudah tidak digunakan lagi sejak berabad-abad yang lalu, dan hari ini bahkan tidak ada klerus Kalender Lama yang menerapkan bentuk tonsur ini. Jika kutukan sinode entah bagaimana "otomatis", maka para imam dan bahkan seluruh gereja lokal selama berabad-abad telah secara mekanis dan tanpa sadar ditempatkan "di bawah anathema," tanpa si pelanggar dipanggil ke pengadilan. Memang, para klerus Kalender Lama, sebagai manusia, kemungkinan besar telah melanggar serangkaian "tradisi gerejawi" tertulis atau tidak tertulis sepanjang hidup mereka (termasuk, tetapi tidak terbatas pada, tonsur yang disebutkan di atas). Agar konsisten dengan eklesiologi yang terlalu kaku dan “ketat” yang dikemukakan oleh banyak orang fanatik/zelot, tampaknya mereka harus menganggap diri mereka di bawah kutukan dan secara mekanis dikeluarkan dari Gereja. 

Dengan memperlakukan kutukan gerejawi sebagai otomatis, dan menepis perlunya pengadilan konsili, banyak kelompok ,"True Orthodox'/ "Orthodoks Sejati" telah memaksa diri mereka ke dalam posisi eklesiologi yang absurd.

Sinode Rusia 1913

Di sebuah sinode Rusia pada tahun 1913, theologi St. Gregorius Palamas sekali lagi dipertentangkan. Menurut Kenworthy, 23 (hal.99-101)

Oleh karena ketidaktahuan umum theologi Palamas, oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa laporan dan surat terakhir Sinode tidak konsisten dan bertentangan dengan cara-cara di mana mereka bergulat dengan perbedaan antara esensi dan karya Allah. [Archbishop] Nikon juga berjuang untuk menentukan posisinya ...

Singkatnya, ia bersedia untuk mendefinisikan energi sebagai "ilahi" dan sebagai milik Allah, tetapi menyatakan bahwa tidak benar untuk menyebutnya "Allah" karena ia menyamakan istilah ini dengan esensi ilahi. Meskipun Nikon menyadari perbedaan antara esensi dan Karya Allah, dia (seperti yang lain dalam perdebatan) hanya secara dangkal akrab dengan theologi St Gregorius Palamas dan karena itu mencari-cari bahasa dan konsep untuk mengartikulasikan bahwa energi adalah ilahi namun tidak sama dengan esensi Allah. Hasilnya membingungkan dan kontradiktif ...

Nikon ... menyamakannya [istilah "Allah"] hanya dengan esensi ilahi. Poin ini terus berlanjut dalam debat yang lebih baru, di mana Alfeev dan yang lainnya menyatakan bahwa para lawan ... tidak memahami theologi Palamas, yang tidak membuat perbedaan tegas antara theos dan theotis, sehingga akan pantas untuk menyebut energi ilahi sebagai "Allah."

Sinode itu sendiri membuat kesalahan yang sama, seperti yang ditunjukkan oleh sarjana lain24:

... sekali lagi harus ditekankan bahwa dogma-dogma Palamite sebenarnya tetap terra incognita bagi masyarakat gerejawi Rusia: bahkan jika Gregorius Palamas diingat pada abad ke-19, ini tidak mencerminkan theologi Rusia. Ketidaktahuan ini terungkap dengan baik dalam Surat Sinode di mana dikatakan bahwa Gregorius Palamas “tidak pernah menyebut energi sebagai 'Allah', tetapi diajari untuk menyebutnya 'divinity’/keilahian' (bukan Theos, tetapi Theótis),” yang sama sekali bertentangan dengan doktrin Palamit

Memang, St Gregorius tentu saja menyebut energi sebagai / karya / kegiatan "Allah" (Theos), sedangkan Tomos dari sinode 13519 (hal. 357) melaporkan dan menegaskan hal berikut:

St. Anastasius berkata, "sebutan 'Allah' jelas mengacu pada energi. Itu tidak mewakili esensi Allah; karena tidak mungkin untuk mengetahui hal ini; tetapi 'Allah' mewakili dan mengungkapkan energi teoretisnya kepada kita." Dan lagi orang suci yang sama mengatakan: "Nama 'Allah' tidak menandakan esensi KeAllahan, karena ini tidak dapat dipahami dan tidak bernama; tetapi dari energi teoretisnya ia disebut 'Allah' [theos], seperti yang dikatakan oleh Dionysius agung, bahwa theein itu adalah 'lari,' atau dari aithein, yang artinya 'terbakar'. "

Tetapi Dionysius agung berkata, "Jika kita harus menyebut ketersembunyian supersubstansial sebagai 'Allah' atau 'kehidupan' atau 'esensi' atau 'Terang' atau 'firman,' kita tidak memiliki pikiran apa pun selain kekuatan yang dihasilkan darinya untuk kita, yang mengilahikan atau membuat esensi atau pencipta kehidupan atau pemberian kebijaksanaan ...

Selain itu, karunia dan energi Roh Kudus yang agung, yaitu pengilahian, yang olehnya orang-orang kudus diilahikan, disebut "KeAllahan" oleh orang-orang kudus, tetapi para penentang Metropolitan Tesalonika mengatakan itu KeAllahan yang diciptakan. "[Penekanan ditambahkan ]

Menurut Sinkewicz25 (hal.137)

Sinode [dari 1351] menetapkan enam prinsip ajaran utama: 
[1] di dalam Allah ada perbedaan antara substansi dan energinya; 
[2] energi Allah tidak tercipta; 
[3] perbedaan ini tidak melibatkan komposisi dalam Allah, karena itu bukan masalah dua realitas substansial, karena keduanya milik satu Allah yang unik; 
[4] Para Bapa Gereja menggunakan istilah 'keilahian' atau 'Allah' (theotis, theos) untuk energi; 
[5] Para Bapa Gereja juga berbicara tentang substansi yang melampaui atau melebihi energi; 
[6] demikian pula, para Bapa Gereja dengan sangat jelas menyatakan tidak dapat berpartisipasi dalam substansi ilahi, sementara pada saat yang sama mereka berbicara tentang partisipasi nyata dalam kehidupan atau energi ilahi (PG 151, 732 C 754 B). [Penekanan ditambahkan]

Tentu saja, dapat dikatakan bahwa jarangnya digunakan karya-karya Palamas di Rusia menyebabkan kesalahan pemahaman pada beberapa bagian di sinode, bahwa itu dibuat dalam ketidaktahuan, atau bahwa ada kesalahpahaman. Ini mungkin benar, dan itu bukan maksud penulis ini untuk secara umum menyebut sinode Rusia sebagai bidat. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dari sudut pandang faktual murni, Uskup Agung Nikon dan sinode 1913 bertentangan dengan Tomos tahun 1351 dengan menyatakan dengan tegas bahwa “Allah” - istilah yang tidak kecil pentingnya- tidak dapat diterapkan pada energi. Paling tidak ini tampaknya menempatkan mereka “di bawah” anathema sinode yang disebutkan di atas9 - hanya jika, tentu saja, anathema diperlakukan sebagai otomatis dan bertindak dengan sendirinya.

Lebih jauh, bagaimana seseorang menilai apakah ada pertahanan yang memadai berlaku untuk para uskup Rusia dalam kasus ini? Bukankah ini tepatnya tujuan pengadilan sinodal (yang dianggap tidak perlu oleh orang Zealot/fanatik)? Tentu saja, jika Patriarkh Ekumenis saat ini akan membuat pernyataan yang sama, tidak dapat disangkal bahwa ia akan segera dilabeli sebagai Barlaamite oleh orang-orang Zealot/fanatik tanpa sedikit pun niat baik atau kepedulian terhadap keadaannya. Namun, jika kelompok Kalendar Lama konsisten dengan "logika" mereka sendiri, Gereja Rusia jatuh ke dalam ajaran sesat pada tahun 1913 (atau jauh sebelumnya, karena contoh-contoh Barlaamisme yang tersebar luas sepanjang sejarahnya) dan kehilangan semua rahmat - seolah-olah absolutisme semacam itu memiliki tempat di Gereja.

Anathema 1983

Mari kita kembali ke keadaan saat ini. Apa yang harus dilakukan dengan anathema ROCOR tahun 1983 terhadap ekumenisme? Apakah ini "pistol asap" yang diinginkan banyak penulis "True Orthodox"/ "Ortodoks Sejati"? Benar-benar bukan. Karena satu, sebagian besar kelompok Kalender Lama membuat perpecahan sebelum anathema. Kedua, mari kita perhatikan surat yang ditujukan kepada Fr. Ephraim dari Holy Transfiguration Monastery tanggal 22 Desember / 4 Januari 1986/7, ditulis oleh starets John Hudanish:
Ini [anathema tahun 1983] adalah anathema terhadap ekumenisme dan pernyataan yang jelas tentang penolakan Sinode kita terhadapnya. Namun, yang tidak begitu jelas adalah fakta bahwa anathema ini sifatnya legislatif, bukan yudisial, yaitu, kodifikasi prinsip theologis menjadi hukum, tetapi bukan keputusan — apalagi vonis… Ini adalah legislasi/aturan. Itu bukan penghakiman. Dan ini dibuktikan oleh Metropolitan Vitaly dalam sebuah artikel yang ditulisnya untuk "Orthodox Life" (No. 4, 1984, hlm. 32) ketika dia masih menjadi Uskup Agung Montreal dan Kanada. Dia menulis:

"Waktu akan memberi tahu apakah Gereja-gereja lokal lainnya akan mengadopsi resolusi kita tentang ekumenisme seperti tindakan Sepuluh Dewan Lokal, pada masanya, dimasukkan ke dalam Buku-Buku Kanon para Rasul Suci, Konsili Ekumenis Suci dan Bapa Gereja suci Gereja Universal. "

"Penting untuk dipahami bahwa sejak anathema tahun 1983 diumumkan secara resmi oleh Sinode para Uskup kita, kita sekarang memiliki dasar kanonik untuk berurusan dengan ekumenisme dan penganutnya di tengah-tengah kita. Tetapi seperti semua hukum lainnya, hukuman yang ditentukan oleh anathena tahun 1983 tidak dapat dijatuhkan kepada siapa pun tanpa proses yang layak. Dinyatakan, sebelum siapa pun dapat diekskomunikasi, maka harus ada penetapan kesalahan dalam persidangan kanonik atau penyelidikan sinode ....

"Karena itu, secara tegas, baik Patriarkh Konstantinopel maupun Patriarkh Yerusalem tidak diekskomunikasi oleh anathema tahun 1983 ... Lebih lanjut, Sinode para Uskup Gereja Orthodoks Rusia di Luar Negeri belum mengadakan pertemuan untuk menyelidiki tuduhan terhadap kedua Patriarkh tersebut, atau untuk meng-anathema mereka di bawah resolusi 1983 ... [Penekanan ditambahkan]

Sekali lagi, menurut Metropolitan Vitaly26 (setelah 1983):

Pada saat ini, sebagian besar Gereja Orthodoks lainnya telah diguncang oleh keberadaan mereka dengan dua pukulan berturut-turut: kalender gerejawi baru dan ekumenisme. Meskipun keadaan mereka yang menyedihkan, kita tidak menyatakan dan semoga Tuhan menyelamatkan kita dari keharusan menyatakan mereka telah kehilangan rahmat Allah.

Penting untuk dicatat bahwa tidak seorang pun uskup ROCOR pada waktu itu yang menentang Metropolitan mengenai interpretasinya terhadap anathema, yang sangat terbuka sehubungan dengan niat mereka secara keseluruhan. Apalagi mengutip seorang imam ROCOR27,

Mereka [anathema anathema] tadi tidak memaksakan diri pada mereka yang melanggarnya. Anathema adalah peringatan bagi umat beriman, dan individu atau Gereja lokal hanya dipisahkan dari Gereja oleh suatu anathema ketika sebuah Sinode para Uskup dengan wewenang untuk melakukannya, mengumumkan vonis semacam itu pada mereka. Tujuan dari anathema adalah keselamatan orang beriman, bukan kutukan atas mereka. Anathema menuntun kita pada kebenaran, dan menjauh dari kesalahan. Anathema bukan perangkap legalistik, yang dirancang untuk menangkap yang tidak sadar dalam bahaya dan mengirim mereka ke neraka. [Penekanan ditambahkan]

Bukti tambahan bahwa anathema itu disalahtafsirkan oleh orang-orang Zealot/fanatik adalah fakta bahwa ROCOR terus berdamai dengan yurisdiksi “Dunia Orthodoks” bahkan setelah pengumumannya, dan melakukan banyak tindakan lain yang tidak konsisten dengan pandangan bahwa ratusan juta penganut Orthodoks diusir dari Gereja pada suatu hari yang menentukan pada tahun 1983.

Meskipun demikian, mari kita periksa pandangan ROCOR sebelum anathema (ketika ekumenisme sinkretistis sudah diberitakan dengan terbuka lebar oleh hierarki di Konstantinopel dan di tempat lain). Tanpa berharap untuk melakukan analisis yang komprehensif, yang akan melampaui cakupan makalah ini, cukuplah bagi kita untuk mengutip surat-surat Romo Seraphim Rose yang mencerahkan, yang wafat pada tahun 198228:

“Ketika para uskup kami pada tahun 1971 mengutuk keputusan Kepatriarkhan Moscow karena memberikan komuni kepada umat Katolik Roma, mereka menggunakan bahasa yang kuat, menyebutnya sebagai tindakan“ sesat ”; tetapi mereka tidak memproklamirkan Kepatriarkhan Moscow telah kehilangan rahmat, atau sepenuhnya ditinggalkan dari Gereja. Para uskup, dalam berbagai kesempatan, secara khusus menolak untuk membuat proklamasi semacam itu; dan dalam pernyataan mereka di Sobor tahun 1976 mereka secara khusus berbicara kepada para imam yang tulus dan berjuang dari Kepatriarkhan Moscow dengan syarat hanya diperuntukkan bagi para imam yang memiliki dan memberikan rahmat Allah (sebagaimana disebutkan dalam artikel kami tentang Fr. Dimitry) ”[Surat 304; 28 Desember / Jan. 10, 1981]

"Jelas engkau [Dr. Johnstone] setuju dengan Fr. Michael Azkoul yang baru-baru ini menyatakan (Orthodox Christian Witness, 10 Agustus, 23) bahwa “bidat telah meniadakan tahta kuno ini. Tidak ada lagi ‘gereja,’ karena itu tidak ada Misteri ”di Gereja Moscow dan Konstantinopel. Saya harap engkau sadar bahwa Gereja Rusia kami di luar Rusia tidak pernah mengajar dan sekarang tidak mengajarkan ini; ini adalah pendapat yang telah diperkenalkan di tengah-tengah kita oleh beberapa petobat yang menganggap diri mereka lebih bijaksana daripada para uskup kita. Saya menyesal bahwa engkau tampaknya tidak melihat arti yang jelas dari Gereja kita yang tidak memiliki persekutuan dengan Gereja Soviet: dengan cara itu kita tetap bebas dari politik dan tidak mengikat diri kita sendiri dengan para uskup yang tidak bebas dan yang sering dipaksa untuk mengkhianati kebenaran. . Tetapi untuk menyatakan bahwa Gereja ini tidak memiliki rahmat adalah anggapan yang tidak pernah berani dibuat oleh para uskup kita. Pandangan ini, menurut saya, sama sekali bukan hasil dari eklesiologi yang sehat, tetapi merupakan hasil dari logika yang terlalu ketat (penyakit khas mentalitas Barat kita) yang diterapkan di tempat yang tidak sesuai. ”[Surat 311; 13/26 Agustus 1981]

“Bahkan hari ini para uskup kita menolak untuk“ mendefinisikan ”dengan cara ini dan menjadikan semuanya“ hitam dan putih ”; dan saya yakin bahwa, mungkin tanpa kecuali, para uskup kita tidak hanya menolak untuk mendeklarasikan mereka [Moskow dan Konstantinopel] tanpa rahmat, tetapi juga percaya secara positif (setidaknya dengan memberi manfaat keraguan) bahwa mereka memang memiliki rahmat. ”[Surat 207 ; 22 Mei / 4 Juni 1976]

“Baru-baru ini beberapa orang ingin melihat“ pembaptisan ulang”seperti itu dilakukan di keuskupan Amerika Barat kami, tetapi Uskup Agung kami Anthony dengan bijak menolak untuk mengizinkannya, di mana kami memberinya dukungan penuh — karena memang, itu sama saja dengan deklarasi terbuka dari tidak adanya Rahmat di Keuskupan Agung Yunani. Ngomong-ngomong, uskup kami (apakah di Sobor 1974 atau lebih baru, saya tidak tahu) secara eksplisit menolak untuk membuat pernyataan seperti itu ketika diminta untuk melakukannya oleh salah satu yurisdiksi Kalender Lama Yunani. ”[Surat 216; [18 April / 1 Mei 1976]

"... Gereja kami memiliki persekutuan terbuka dengan Gereja Serbia, Yerusalem, dan mungkin yang lainnya, dan membiarkan hierarki lainnya bebas untuk melayani bahkan dengan Konstantinopel jika mereka mau." [Surat 227; 30 Juni / 13 Juli 1976]

Di tempat lain, merujuk pada kaum Zealot/fanatik yang sangat ketat, Romo Seraphim membuat komentar berikut yang masih relevan di zaman kita, mengingat banyaknya kelompok sempalan “True Orthodox ”29:

... dia [orang fanatik] berada dalam persekutuan hanya dengan imamnya sendiri dan sepuluh biarawan lain dalam kelompoknya di Gunung Suci; dan menganggap semua Gereja Orthodoks lainnya tidak "murni." Mungkin hanya ada sepuluh atau dua belas orang yang tersisa di dunia yang "benar-benar ketat" dan "murni" dalam Orthodoksi mereka - ini saya benar-benar tidak tahu; tetapi secara sederhana dapat dipastikan bahwa hanya ada sepuluh atau dua belas orang Kristen Orthodoks yang tersisa di dunia yang dengannya seseorang dapat memiliki kesatuan iman yang sejati, yang diekspresikan dalam persekutuan bersama. Saya pikir engkau dapat melihat bahwa ada semacam jalan buntu spiritual di sini; bahkan jika kita harus mempercayai pandangan sempit tentang Orthodoksi menurut surat itu, hati orang Kristen yang beriman akan memberontak terhadapnya. Kita tidak bisa benar-benar hidup dengan ketat seperti itu; kita entah bagaimana harus kurang "benar" dan lebih dekat ke jantung Kekristenan Orthodoks. [Penekanan ditambahkan]

Dan lagi30:

… Gereja kita menderita serangan baik dari sisi kiri (dari kaum ekumenis yang menuduh kita tidak dapat ditebus, ketinggalan zaman, dan sejenisnya) dan dari sisi kanan (oleh kelompok -kelompok di Yunani yang menuntut agar kita memutuskan persekutuan dengan semua Gereja Orthodoks dan menyatakan mereka menjadi tanpa rahmat) ...

Beberapa tahun yang lalu salah satu dari kelompok [Kalender Lama] ini memutuskan persekutuan dengan Gereja Rusia kami di Luar Negeri karena para uskup kami menolak untuk menyatakan bahwa semua Gereja Orthodoks lainnya tidak memiliki rahmat; kelompok ini sekarang menyatakan bahwa mereka sendiri saja yang memiliki rahmat, hanya mereka yang Orthodoks. Baru-baru ini kelompok ini telah menarik beberapa petobat dari Gereja Rusia kami di Luar Negeri, dan kita harus menyadari bahwa sikap ini berbahaya bagi sebagian orang Amerika dan Eropa yang bertobat: dengan pikiran kita yang rasional dan penuh perhitungan, sangat mudah untuk berpikir kita terlalu bersemangat dan ketat, ketika sebenarnya kita sebenarnya memanjakan hasrat kita untuk pembenaran diri ... [Penekanan ditambahkan]

Komentar Romo Seraphim akan membuatnya dipecat/copot jubah di banyak yurisdiksi “True Orthodox”. Bagaimanapun, mari kita periksa situasi pasca-1983. Selain ucapan Metropolitan Vitaly yang disebutkan sebelumnya (yang, sekali lagi, tidak pernah diperdebatkan oleh sinode), mari kita perhatikan kesaksian seorang imam ROCOR31:

Saya ditahbiskan sebagai Imam di Keuskupan Agung Orthodoks Antiokhia di Amerika Serikat. Ketika saya meminta pembebasan kanonik untuk ditransfer ke ROCOR pada tahun 1983, permintaan itu diberikan oleh Metropolitan Philip, yang tidak mungkin melakukannya secara kanonik jika AA [Keuskupan Agung Antiokhia] tidak "bersekutu" dengan ROCOR.
Setelah melayani selama lebih dari 20 tahun sebagai seorang Imam di ROCOR, saya * selalu * diundang untuk melayani kapan pun saya mengunjungi paroki yurisdiksi Orthodox * di mana saja * ... terlepas dari kenyataan bahwa saya tidak dapat menerima undangan-undangan itu dalam beberapa kasus, tawaran itu selalu dibuat. Juga tidak ada umat paroki saya yang pernah ditolak Komuni Suci di Gereja Orthodoks yang mereka kunjungi, juga umat Kristiani Orthodoks (yang telah mempersiapkan dengan baik) ditolak Komuni Suci di paroki kami. Mungkin banyak dari kita dapat menceritakan pengalaman yang berlawanan di kedua sisi: ROCOR dan non-ROCOR. Itu adalah pengecualian yang menyedihkan dari praktik umum yang sesungguhnya.

Protopresbiter ROCOR, George Larin, dalam surat tertanggal 18/31 Agustus 1997 (kepada Romo Stefan Krasovitsky), menulis 32:

... kita bahkan tidak memiliki hak untuk melakukan Liturgi Ilahi di gereja-gereja di Tanah Suci tanpa berkat dari Yang Mulia Diodorus, Patriarkh Yerusalem, dan ... kita melakukan Liturgi Ilahi pada antimension yang dikuduskan oleh Patriarkh Yerusslem, ... kami berdoa untuknya dan memperingati dia di litani sebelum Hierarki Pertama kami ... Ketika hierarki dan imam dan diakon tiba berziarah di Tanah Suci, mereka tidak memiliki hak (sesuai dengan kanon Gereja Orthodoks) untuk melakukan Liturgi ilahi bahkan di gereja-gereja kita tanpa izin khusus Patriarkh Yerusalem, itulah sebabnya kita pergi dari bandara terlebih dahulu ke Patriarkh Yerusalem untuk menerima berkat!

Namun imam ROCOR lain memverifikasi kesaksian yang disebutkan di atas dan menambahkan beberapa komentar sejarah yang menarik33

Saya telah menjadi imam Gereja di Mancanegara sejak tahun1968. Saya adalah Kanselir Keuskupan Amerika-Timur di bawah Metropolitan Philaret selama enam tahun (1976-1982) dan bertindak sebagai sekretaris pribadinya selama waktu itu, melihatnya hampir setiap hari. Saya dapat memberi tahu Anda dengan tegas bahwa persekutuan dengan para klerus Kepatriarkhan Yerusalem dan Kepatriarkhan  Serbia terus berlanjut sebelum 1983-1986, selama 1983-1986 dan setelah waktu itu hingga hari ini.

Bahkan tidak pernah ada satu momen pun di mana imam (baik yang tetap maupun yang berkunjung, termasuk semua uskup dari ROCOR) tidak memperingati Patriarkh Yerusalem di semua Liturgi Ilahi, atau tidak melayani antimension yang diberikan Patriarkh. Tidak pernah ada satu momen pun ketika para imam Gereja di Mancanegara menarik diri dari menerima persekutuan di Makam Suci. Dan di semua keuskupan Gereja di Luar Negeri di mana konselebrasi dengan orang-orang Serbia (dan, dalam beberapa kasus, EP dan Antiokhia) terjadi, mereka terus berlangsung sepanjang seluruh periode ini hingga hari ini. Ini termasuk Keuskupan Amerika Barat, Syracuse dan Tritunggal Kudus, Washington dan Florida, Chicago dan Detroit, Australia dan semua Keuskupan Eropa.

Saya dan keluarga saya melakukan perjalanan lima minggu di seluruh Eropa dan Tanah Suci tepatnya pada musim panas tahun 1985, yaitu setelah Anathema tahun 1983, dan saya berpartisipasi dalam konselebrasi dengan imam Serbia dengan para Uskup kami di Keuskupan Eropa, dan di Keuskupan Jerman, serta dengan klerus Kepatriarkhan Yerusalem di Tanah Suci ... Dan klerus senior Gereja lainnya di Luar Negeri akan dengan senang hati menguatkan, dari pengalaman mereka sendiri, apa yang telah saya tulis.

Mengingat durasi dan ruang lingkup yang luas dari kegiatan-kegiatan pasca-1983 ini (mencakup setidaknya empat benua), mereka tentu saja tidak dapat dianggap sebagai "satu kali". Jelas, ROCOR (mengikuti sentimen yang tidak perlu dari Metropolitan Vitaly) tidak menafsirkan anathemanya sendiri dengan cara yang sama seperti para kaum Zealot/ fanatik. Anathema legislatif, sesuai dengan tulisan St Nikodemos, tidak bertindak secara mekanis. Sampai suatu waktu sebagai hierarki yang salah tunduk pada pengadilan sinodal, ia mempertahankan/ tetap memiliki keimamannya dan rahmat misterinya.

Ensiklik kelompok Kalender Lama

Penting juga untuk menganalisis secara singkat ensiklik kelompok Kalender Lama tahun 1935, 1950 dan 1974, yang oleh penulis “True Orthodox” kadang-kadang disebut sebagai “penghukuman sinodal.” Menariknya, dokumen-dokumen ini menyebut Gereja Yunani sebagai skismatik hanya karena penerapan penggunaan Kalender Baru pada tahun 1924, dan masalah ekumenisme sama sekali tidak disebut34, menimbulkan keraguan besar pada pembenaran awal dari mereka yang mendirikan badan-badan Gereja paralel. Tampaknya ensiklik bersandar pada klaim historis yang salah bahwa Kalender Julian yang Direvisi telah dianathema, dan juga anggapan eklesiologis yang keliru yang secara nyata salah bahwa tindakan yang tidak lazim entah bagaimana sama dengan tindakan skismatik. Apakah Gereja Rusia abad ke-17 membuat skisma/perpecahan karena memperkenalkan tanda salib dengan tiga jari (yang tampaknya telah dikutuk oleh Dewan Stoglav Rusia), dan karena menganiaya para Old Believer yang menentang perubahan? Bukankah simoniak dan pelanggar lainnya dari kanon sepanjang sejarah dianggap dalam perpecahan/skisma dan kehilangan rahmat bertentangan dengan pendapat St Nikodemos yang jelas tentang hukuman kanonik itu tidak berlaku otomatis?

Faktanya tetap bahwa Gereja Kalender Baru masih tetap dalam persekutuan dengan Gereja-gereja lokal yang mempertahankan Kalender Lama, dan tentu saja tidak dapat dianggap sebagai skismatik di bawah kanon pertama St Basilius. Gereja-gereja lokal yang mempertahankan penggunaan Kalender Lama (mis. Gereja Serbia) juga tidak menganggap saudara-saudara Kalender Baru mereka sebagai orang yang skismatik. Selain itu, tidak satu pun dari ensiklik yang disebutkan di atas dapat disebut sebagai persidangan sinodal - melainkan, dokumen yang hanya mengklaim bahwa Kalendar Baru membuat perpecahan karena penerimaan mereka atas Kalender Julian yang direvisi RJC, dan karenanya kehilangan semua rahmat (ini adalah pernyataan yang jelas-jelas tidak masuk akal).

Bahkan berbagai dokumen pasca-1974, yang akhirnya membahas masalah ekumenisme itu sendiri, secara eksplisit berpegang pada ensiklik yang salah sebelumnya, dan alih-alih memulai segala jenis persidangan atau pengusiran konsili, secara keliru menyatakan bahwa kaum ekumenis telah memisahkan diri mereka dari Gereja.34 Tentu saja, bahkan jika orang-orang fanatik telah berhati-hati untuk mengadakan persidangan yang sebenarnya (dengan jumlah uskup yang memadai secara kanonik), mereka tetap mengambil kesempatan sepenuhnya untuk "mengusir" kaum ekumenis karena mereka tidak hanya mendirikan hierarki paralel yang tidak dapat dibenarkan, tetapi juga menganggap semua Kalender Baru (salah) dan dalam perpecahan/ skisma. Bagaimana mereka secara sah dapat “mengusir” yang mereka anggap telah meninggalkan kesatuan Gereja? Ironisnya, jika "True Orthodox"/ "Orthodox Sejati" pernah mengadakan "pengusiran" konsili Gereja yang sebenarnya, mereka secara implisit akan mengakui bahwa dokumen pendiri mereka salah dan, memang, bahwa gerakan mereka sendiri telah memegang posisi eklesiologis yang salah selama. lebih dari setengah abad. Fakta bahwa "Bapa" kelompok Kalender Lama, Metropolitan Chrysostom dari Florina, tidak menganggap pernyataan fanatik kurangnya rahmat (yang dia tandatangani secara tidak konsisten) sudah mencukupi, dan terus menunggu Konsili Pan-Ortodoks2, jelas mengungkapkan. Memang, Metropolitan secara eksplisit merujuk pada kata-kata St. Nikodemos yang kami kutip sebelumnya dalam makalah ini, dan berkomentar tentang itu

... Kecuali jika itu benar-benar dilaksanakan oleh Sinode, kekuatan imperatif Kanon tetap tidak dapat dieksekusi dan tidak dapat bertindak dengan sendirinya, baik segera atau sebelum keputusan ... Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada imam yang menyimpang dari batas-batas Orthodoksi yang diperhitungkan sebagai benar-benar digulingkan/dicopot jubah ... Dengan demikian, dari sudut pandang kanonik, prinsip dan diktum hukum dasar berikut ini berlaku: "Tidak seorang pun bisa dikutuk tanpa pembelaan." Oleh karena itu, agar kita dapat mendeklarasikan hierarki skismatik yang inovatif dalam aktualitas, Para uskup yang menggagas tindakan ini dinyatakan sebagai telah melakukan secara sewenang-wenang dan tidak lazim, karena kita harus memiliki semua persyaratan gerejawi dan kanonik yang diperlukan untuk mendirikan suatu pengadilan gerejawi. Ini tidak dapat dilakukan, kecuali oleh Gereja yang diakui oleh semua Gereja Orthodoks lokal sebagai autocephalous dan diberkati dengan hak untuk secara sah mengutuk orang-orang klerusnya yang berdosa, baik dalam iman atau moral.

Pada akhirnya, alih-alih melakukan evaluasi konsili yang adil dan kompeten, para penulis ensiklik kelompok Kalender Lama yang disebutkan di atas berpegang pada eklesiologi yang naif dan sederhana yang sepenuhnya bertentangan dengan etos Orthodoks yang dipelajari dalam contoh-contoh di seluruh makalah ini. Seperti yang telah kita lihat, bahkan hieromonk Prochoros Kydones memiliki proses gerejawi yang sah dalam  melawannya, secara kanonik dipanggil dan diberi kesempatan untuk mempersiapkan pembelaan, dan akhirnya sinode para uskup menyampaikan hukuman terhadapnya9. Kalangan Kalender Lama, sebaliknya, merasa puas untuk memberi label pada seluruh Gereja lokal sebagai tidak memiliki rahmat (hanya berdasarkan perubahan Kalender) tanpa memulai satu pengadilanpun terhadap pembaharu-pembaharu tersebut.

Proto-ekumenisme di Yunani

Kembali ke meneliti keadaan kita dari sejarah Gereja, mungkin juga dicatat bahwa ekumenisme sebagai bidat eklesiologis muncul sebelum dimulainya gerakan Kalender Lama. Memang, ensiklik 1920 dari Kepatriarkhan Ekumenis, "Kepada Gereja-Gereja Kristus Di Mana Saja," menyatakan yang berikut tentang berbagai denominasi35 (hal 2):

bahwa mereka seharusnya tidak lagi menganggap satu sama lain sebagai orang asing dan berbeda, tetapi sebagai kerabat, dan sebagai bagian dari keluarga Kristus dan 'sesama ahli waris, anggota dari tubuh yang sama dan mendapat bagian dari janji Allah dalam Kristus' (Ef. 3: 6).

Metropolitan Germanos, editor utama dokumen, menafsirkannya sebagai berikut36 (hal 30):

Seberapa luas pemahaman yang diajarkan Ensiklik pada titik ini menjadi jelas karena konsep ini memperluas gagasan tentang hubungan antara anggota satu gereja - sebagai anggota satu tubuh menurut ajaran Paulus yang luar biasa - sehingga menerapkannya pada hubungan antara beberapa gereja.

Mengutip Romo Peter Heers37,

Pentingnya penafsiran ensiklik ini oleh penulis utamanya dan arsitek keterlibatan Kepatriarkhan ekumenis tidak dapat diremehkan. Inilah landasan kebijakan Kepatriarkhan ekumenis dan titik utama sinkronisasi dengan "eklesiologi ekumenis" yang berkembang di kalangan Protestan. Dalam memperluas gagasan gereja untuk memasukkan tubuh tidak secara gerejawi, sakramen, atau dogmatis dalam persekutuan dengan Gereja Orthodoks, Metropolitan Germanos berada dalam harmoni yang sempurna baik dengan "eklesiologi evangelikal" yang berbicara tentang "persekutuan gereja Kristus yang tak terlihat" tempat semua orang Kristen 'vital' berada, ”demikian pula “eklesiologi ekumenis ” yang walaupun sangat mirip dalam pengakuannya atas Tubuh Kristus yang“ mistis ”yang tidak kelihatan, mencari kesatuan nyata dalam Kristus. [Penekanan ditambahkan]

Menariknya, tidak ada perpecahan yang terjadi sebagai akibat dari ensiklik tahun 1920. Seperti yang telah kita lihat, itu adalah masalah kalender (dan banyak salah tafsir yang berasal darinya) empat tahun kemudian yang memicu skisma pertama Kalender Lama. Jika “pemisahan” adalah wajib dalam menghadapi bidat, atau jika rahmat segera hilang, maka 1920 adalah tahun yang harus dicatat dalam buku-buku sejarah. Namun, sumber-sumber Kalender Lama 38 (mungkin tidak mengakui implikasi potensial dari ini) mengakui bahwa, setidaknya 35 tahun sebelumnya, Kepatriarkhan Ekumenis membuat keputusan yang mengizinkan orang-orang Monofisit Armenia mengambil bagian dalam perjamuan kudus. Ini tampaknya didahului oleh suatu perjanjian mengakui imamat dan misteri mereka.

Tentu saja, tidak ada gereja lokal lain yang memutuskan persekutuan dengan Konstantinopel pada waktu itu sebagai tanggapan terhadap "uniatismenya". Apakah Gereja tidak ada sebelum munculnya perpecahan Kalender Lama? Perlu juga dicatat bahwa fenomena "proto-ekumenisme" meluas lebih jauh ke masa lalu dalam kasus Rusia, ketika Gereja Yunani masih berpegang pada eklesiologi yang benar (kita akan membahas ini pada bagian di bawah). Tetapi hendaknya juga diperjelas bahwa dalam masa-masa belakangan ini, para Orang Suci dipuji bahkan oleh kelompok Kalendar Lama - seperti Archimandrite Justin Popovich - yang tidak menutup diri dari kaum ekumenis ketika berhadapan dengan bidat.

Mengutip Uskup Athanasius Yevtich39 (hal.36-37),

Kami sangat akrab dengan Romo yang Terberkati Justin dan kami tahu bahwa ia tidak pernah memutuskan persekutuan dengan salah satu Gereja Orthodoks atau Uskup atau Patriarkh, bahkan dengan Patriarkh Serbia Germanos (1958-1990) - karena beberapa orang fanatik yang tidak tahu malu berbohong '- bahkan ketika Patriarkh Germanos menjadi salah satu dari' presiden WCC/ Dewan Gereja Dunia '(gelar formal dan kehormatan tanpa syarat atau kewajiban yang mengikat seperti halnya partisipasi Gereja Orthodoks Serbia di WCC). Sebagai anggota Gereja Kristus yang bebas dan bertanggung jawab, Justin bernubuat menegur dan, bila perlu, mengkritik dalam bentuk tertulis (setelah menulis beberapa surat kritik kepada Patriarkh Germanos dan Sinode, antara lain, surat-surat yang berkaitan dengan ekumenisme barat yang dangkal) . Tetapi tidak pernah dia membuat perpecahan, tetapi sebaliknya mengatakan: "Skisma mudah dibuat tetapi sangat sulit untuk disembuhkan" (oleh karena itu dia menentang 'Skisma Amerika' yang dibuat secara tidak bijaksana dan semakin memperdalam skisma, seperti halnya dia melawan 'Skisma Makedonia').

Apalagi menurut sumber lain40

Sedikit yang tahu bahwa, sementara secara terbuka mencela pengajaran Patriarkh Athenagoras sebagai bidat, dia [St. Justin] merasa bahwa karena Patriarkh Athenagoras tidak dikutuk oleh Gereja, maka dia, akibatnya, tetap menjadi bagian dari Gereja. Itulah sebabnya, ketika dia mengetahui kematian sang Patriarkh, St. Justin melayani ibadah pannikhida untuk jiwanya. [Penekanan ditambahkan]

Perlu juga disebutkan bahwa Elder agung Joseph sang Pertapa Hesikas (yang juga sangat dihargai oleh orang-orang Zealot/ fanatik) mengalami - bersama dengan seluruh persaudaraannya - curahan kasih karunia setelah meninggalkan Kalender Lama. Mengutip hanya satu dari murid-muridnya, Elder Charalambos41:

Setelah berpihak pada biara-biara [meninggalkan para fanatik], pada awalnya kami tidak memperingati Patriarkh. Setelah kami pindah ke Skete Baru, pada suatu hari perlu untuk melayani Liturgi di Biara St. Paul di mana ia diharuskan untuk memperingati Patriarkh. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanyaku pada Geronda. “Pergi dan ingatkan dia, dan ketika kamu kembali ceritakan apa yang kamu rasakan.” Saya melakukan apa yang dia katakan, dan jarang saya menerima begitu banyak rahmat selama Liturgi Ilahi seperti yang saya rasakan saat itu! Air mata mengalir seperti sungai di seluruh Liturgi. Saya hampir tidak bisa mengatakan petisi. Ketika saya kembali ke Geronda, dia berkata, "Tentunya engkau dibanjiri dengan rahmat." "Ya, Geronda," kataku, dan aku memberitahunya apa yang telah saya alami. “Tahukah kamu, anakku, bahwa kamu tidak berdosa dengan memperingati Patriarkh, tidak peduli apa yang dia katakan atau lakukan, karena dia belum dicopot jabatannya?” [Penekanan ditambahkan]

Ini adalah theologi berdasarkan pengalaman pada ketinggiannya yang paling agung. Andai saja kelompok Kalender Lama dapat memahami prinsip ini! Menghentikan peringatan memang diperbolehkan dalam beberapa keadaan, tetapi itu tidak wajib, dan tentu saja tidak melibatkan mengutuk semua orang yang tetap dalam persekutuan dengan bidat yang entah bagaimana kehilangan rahmat. Masalahnya tidak begitu sederhana. Perlu juga dicatat bahwa persaudaraan Elder Joseph menentang ekumenisme dan tentu saja Orthodoks dalam orientasinya. Sebagai contoh, Elder Ephraim dari Katounakia, yang wafat pada tahun 1998 (dalam persekutuan dengan Kepatriarkhan Ekumenis), pada suatu waktu menerima wahyu ilahi bahwa ekumenisme adalah roh najis42. Namun, dia menolak untuk membuat perpecahan/skisma, dan mengikuti jalan yang benar-benar cerdas.

Proto-ekumenisme di Rusia

Banyak sinode Old Calendarist dengan penuh semangat mengutuk kelompok-kelompok yang percaya bahwa “Dunia Orthodoksi” memiliki misteri yang dipenuhi rahmat. Oleh karena itu, akan menarik untuk memperhatikan fakta bahwa banyak imam di Gereja Rusia selama abad ke-19 menganggap sakramen Katolik Roma sebagai sah, dipenuhi rahmat, dan bahkan efektif untuk keselamatan. Dengan demikian, William Palmer mencatat bahwa dalam diskusinya dengan seorang Archpriest Rusia, pertanyaan tentang sakramen heterodoks muncul. Meskipun imam itu memang menegaskan bahwa Gereja Orthodoks adalah Gereja yang benar, dan bahwa mereka yang di luar batas-batasnya harus dirujuk secara lahiriah kepadanya, ia juga mengklaim bahwa 43 (hal.268-271)

meskipun kita keras hati mengenai Gereja Timur, yang kita yakini sepenuhnya benar, sementara yang lain telah jatuh, kita tetap tidak menerima Gereja-Gereja dan Masyarakat yang berdosa lainnya, tetapi berpikir bahwa, di mana pun ada baptisan sejati atas nama Tritunggal, maka di sana ada Rahmat anugerah Allah dan di sana ada orang Kristen yang baik, meskipun perkumpulan itu sendiri mungkin sesat ... Kristus adalah pusat dari semua; karena kepercayaan kepada-Nya dan kasih kepada-Nya adalah segalanya yang dengannya jiwa yang dilahirkan kembali dalam baptisan tumbuh dalam kehidupan, dan mencapai keadaan yang semakin sempurna, atau memperbaiki dengan penyesalan akan apa yang telah hilang karena dosa. Jadi, jika ada, karena ada banyak, yang di bawah kesulitan dan kekurangan, yang telah dilahirkan kembali dalam baptisan, telah mengembangkan kehidupan batin ini, tidak dengan sengaja atau dengan jahat merusak kesalahan masyarakat mereka, atau menjadikannya milik mereka sendiri, orang-orang seperti itu memang orang Kristen, dan kita dapat memupuk kasih amal persaudaraan bersama mereka dalam kesadaran akan kesatuan batin kita yang tak terlihat; meskipun kita masing-masing harus tetap dipisahkan secara lahiriah ... [Penekanan ditambahkan]

Sebagai tanggapan, Palmer menunjukkan hal itu

itu adalah doktrin yang berbahaya untuk dipopulerkan, karena hal itu dapat menyebabkan mereka yang keliru meremehkan pentingnya Orthodoksi dan kesesuaian dengan seluruh kehendak Allah ... Ketika terbukti bahwa Gereja dan masyarakat yang diekskomunikasi oleh Gereja Orthodoks telah berbuat salah dalam berbagai tingkatan, dan begitu banyak orang telah mencapai di dalamnya tingkat kasih karunia ilahi yang begitu tinggi, ketika kasih karunia Roh Kudus telah begitu bersinar dalam kehidupan dan perbuatan serta tulisan mereka; bagaimana kita bisa melakukan sebaliknya daripada mengakui mereka sebagai orang Kristen?

Archpriest menjawab:

Faktanya adalah bahwa ada yang berbuat salah lebih banyak, beberapa lebih sedikit, dan kasih karunia Allah tampaknya bekerja dalam semua sesuai dengan kebenaran yang telah mereka pertahankan, dan sesuai dengan kecenderungan setiap individu untuk mencari dan mencintai Allah. Bagiku itu seperti bola besar yang berputar mengelilingi matahari. Semua Gereja dan sekte yang berbeda tertarik ke pusat yang sama dan berputar di sekitar pusat yang sama, tetapi pada jarak yang berbeda, Gereja satu satunya yang Benar, Orthodoks, dan Katolik, yaitu, Gereja Timur, menjadi yang terdekat, dan bergabung dengan itu oleh hubungan yang lebih dekat dan sah: tetapi dari yang lain ada yang lebih jauh, ada yang lebih dekat, tanpa ada pemisahan atau perbedaan jenis yang berbeda. Dan karena bukan Orthodoksi formal dari pendapat dogmatis atau ritus yang membedakan Gereja Orthodoks dari semua yang lain, tetapi prinsip iman dan cinta itu, ketertarikan pada pusatnya, yang sama dengannya dengan semua yang lain, yang membentuk kekristenan yang esensial, karenanya , meskipun tidak pernah bisa bersahabat dengan siapa pun di antara mereka, namun di dalam tidak ada garis demarkasi yang pasti, tetapi beberapa yang tanpa warna pucat mungkin menjadi orang Kristen yang lebih baik daripada banyak dari mereka yang ada di dalam; satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka mencapai kesucian yang unggul dengan kerja keras tertentu, dan meskipun ada hambatan besar, sementara di Gereja sejati mereka memiliki fasilitas yang besar. [Penekanan ditambahkan]

Rahmat pengudusan / pengilahian / misteriologis secara eksplisit diakui untuk beroperasi di luar batas Gereja. Memang, terlepas dari manfaat dari jalan yang lebih mudah menuju kesucian, tampaknya ada sedikit perbedaan antara mereka yang tetap di dalam Gereja Orthodoks, dan mereka yang berada di luar batasnya - menurut pandangan ini.

Selain itu, sentimen serupa tidak jarang pada masa itu - dengan demikian, sedikit yang menyadari bahwa 44 (hal. 386)

Salah satu karya utama Rusia tentang Dogmatika pada abad ke-19 adalah karya M. Bulgakov yang menerapkan kriteria Barat untuk pengakuan sakramen heterodoks. Dalam berurusan dengan masalah baptisan, dia menerima bahwa bahkan baptisan bidat, jika dilakukan atas nama Tritunggal, dan menolak gagasan baptisan ulang, yang dia nyatakan bukan praktik Gereja mula-mula. N. Milas, kanonis agung Gereja Serbia, juga menerapkan kriteria Barat untuk penilaian keabsahan sakramen heterodoks.

Sangat menarik bahwa kelompok Kalender Lama sering mengutip (Uskup) Milas sebagai sumber otoritatif dalam mengklaim bahwa membentengi dari hierarki sesat adalah wajib, bukan opsional. Namun, mereka mengabaikan fakta bahwa jika mereka ingin memperlakukan kanonis khusus ini sebagai otoritas, maka mereka juga harus mengadopsi pemahaman Barat tentang misteri di mana misteri dapat terjadi di luar Gereja. Memang, Milas45 secara eksplisit bertentangan dengan pandangan "Yunani" dalam hal ini, dengan alasan (tidak konsisten) bahwa

jika ada kelompok-kelompok Kristen lain yang berada di luar Gereja Orthodoks dan yang memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk membawa orang yang baru dibaptis ke dalam Gereja Kristus (yaitu, mereka bermaksud untuk memberikan rahmat ilahi kepadanya melalui baptisan, yaitu dengan kuasa dari Roh Kudus ia akan menjadi anggota sejati Tubuh Kristus dan anak Allah yang dilahirkan kembali), maka baptisan yang diterima dalam kelompok seperti itu akan dianggap sah sejauh dilakukan karena berdasarkan iman kepada Tritunggal yang Kudus, dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus; karena ketika baptisan diberikan dan diterima dengan iman, itu harus efektif untuk memberikan kasih karunia dan pertolongan Kristus tidak akan gagal untuk dinyatakan. [Penekanan ditambahkan]

Ini belum lagi ketegangan yang ada antara pendekatan Milas dan tindakan para Jana Suci Gereja sepanjang milenium terakhir. Lebih lanjut, menurut penulis “True Orthodox” Vladimir Moss46 (hal. 61),

... pada tahun 1847, Kaisar Nicholas I menyimpulkan persetujuan dengan Paus Gregorius XVI yang mempertimbangkan bahwa Gereja Ortodoks Rusia akan memberikan semua sakramen dan kebutuhan bagi mereka yang datang meminta kepadanya bahkan dari umat Katolik yang diasingkan karena keikutsertaan mereka dalam pemberontakan Polandia melawan Rusia. , jika mereka tinggal di tempat-tempat di mana tidak ada gereja Katolik atau imam Katolik. Sesuai dengan makna konkordat ini dan perintah Kaisar, Sinode kemudian mengeluarkan perintah yang seperti ini, yang wajib bagi klerus Orthodoks Rusia, untuk memenuhi permintaan umat Katolik di pengasingan, jika permintaan semacam itu datang dari mereka. [Penekanan ditambahkan]

Jika ini terjadi di masa kini di Kepatriarkhan Ekumenis, klaim uniatisme dan ketiadaan rahmat akan muncul di lingkaran kelompok kalender lama. Mereka yang tersisa dalam persekutuan dengan Patriarkh tidak diragukan lagi akan dianggap bidat oleh mereka sendiri. Namun, secara tidak konsisten, Rusia pada abad ke-19 tetap kebal dari kritik. Gereja-gereja lokal yang tidak menutup diri dari Rusia (yaitu, seluruh dunia Orthodoks) tentu tidak berdosa karena tetap dalam persekutuan (dan jelas tidak secara otomatis "kehilangan rahmat"), karena kalau tidak, maka gerbang neraka telah benar- benar menang atas Gereja.

Melanjutkan ke contoh berikutnya, setelah 13.000 orang uniates bersatu kembali dengan Gereja Rusia pada tahun 1841, Uskup (pada waktu itu seorang Archimandrite) Porfiry47 (hal.173) mengatakan kepada Patriarkh Ekumenis bahwa “orang-orang Uniates, dengan keyakinan dan kepercayaan batin mereka, yang selalu bersatu dengan Gereja kita maka tidak perlu dibaptis ulang. ”Jelaslah, orang Rusia menerima validitas baptisan heterodoks, dan bukan karena alasan oikonomia. Namun demikian, Gereja Yunani, meskipun secara umum tidak setuju dengan posisi Rusia pada saat itu, dengan bijak tidak melakukan jalan perpecahan.

Mungkin contoh yang paling mencolok dari fenomena ini adalah St. Philaret dari Moscow48, yang, walaupun dengan benar menolak interkomuni, tampaknya sama sekali tidak setuju dengan theologi Kollyvades (diungkapkan oleh Constantine Ikonomos) sehubungan dengan validitas baptisan heterodoks, yang menulis bahwa

Jika Palmer bukan saksi yang dapat dipercaya, akan sulit untuk percaya bahwa Ikonomon yang terpelajar menganggap Baptisan Barat pada saat yang sama sah dan tidak sah, tergantung pada kehendak Gereja bahwa orang yang teraniaya dibaptiskan atau tidak dibaptis. Tentunya sahnya Baptisan adalah atas nama Tritunggal dan dalam rahmat sakramental yang diberikan kepadanya melalui tindakan pendirinya, Kristus Tuhan. Tentunya kehendak manusia, meskipun itu kehendak Gereja, tidak dapat membuat Baptisan menjadi bejana sederhana, atau bejana sederhana menjadi Baptisan. [Penekanan ditambahkan]

Ini bukan satu-satunya klaim yang dibuat oleh St Philaret dalam hal ini, yang juga menyatakan bahwa "seorang Kristen Orthodoks, dalam semangat kasih, untuk dengan gembira menemukan di luar Gereja Orthodox rahmat yang terpelihara" 49 (hal 29) dan, lebih dari itu, , bahwa “tidak ada gereja yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus yang akan saya sebut keliru50 (hal.24)” - sebuah klaim yang secara eksplisit ditolak oleh St. Hilarion Troitsky.

Meskipun penulis makalah ini setuju dengan St. Hilarion dan St. Nikodemos mengenai masalah eklesiologis, masalah ini menimbulkan pertanyaan penting - apakah banyak Gereja Rusia pada saat itu kehilangan rahmat karena mengakui misteri di antara para bidat sebagai sah dan dipenuhi rahmat? Apa yang membuat fakta bahwa sebuah dekrit sinode menganjurkan administrasi persekutuan dengan Katolik Roma? Jika "True Orthodox"/ "Ortodoks Sejati" hari ini hidup pada masa-masa itu, mereka pasti akan masuk ke dalam perpecahan dan dengan demikian memutuskan persekutuan dengan banyak orang kudus Gereja. Namun pada masa itu, perbedaan pandangan antara Gereja Rusia (dan mungkin Serbia) di satu sisi, dan berbagai Gereja lokal lainnya di sisi lain, tidak menghasilkan perpecahan/skisma - bahkan setelah sinode Konstantinopolitan tahun 1755 secara resmi menyatakan bahwa heterodox tidak memiliki rahmat misteri dan akibatnya sepenuhnya dianggap belum dibaptis (Baptisannya tidak diakui). Dekrit ini ditandatangani oleh Patriarkh Konstantinopel, Aleksandria, dan Yerusalem,51 dan didahului oleh Patriarkh Ekumenis yang menerbitkan "anathema terhadap orang-orang yang menerima sakramen kepausan," yang dibacakan dengan keras di gereja-gereja pada masa-masa itu.21 Selain itu, sebagai dikenal dengan baik, para Bapa Kollyvades dengan keras menolak validitas sakramen-sakramen Katolik Roma, dengan Rudder menyebut ritus pembaptisan mereka sebagai "pseudobaptisme [s]." kanon 2 dari Trullo dan kanon 1 dari Nicea II) 7 yang seperti telah kita lihat, memerintahkan dicopotnya imam yang mengakui misteri kelompok-kelompok bidat. Untuk ini, seseorang dapat menambahkan sinode awal dari Karthage dan Iconium (masing-masing dihadiri oleh St. Kiprianus dan St. Firmilian) yang juga dengan tegas menolak validitas dan keabsahan baptisan heterodoks7. Oleh karena itu, kita harus bertanya lagi: apakah para uskup Rusia pra-revolusioner secara otomatis dicopot dari Gereja karena mendukung suatu doktrin yang disetujui oleh semua kelompok Kalender Lama adalah bidat?

Penting juga untuk dicatat bahwa Patriarkh Anthimos dari Konstantinopel memahami dengan sangat baik perbedaan-perbedaan nyata yang ada di antara Gereja-gereja Yunani dan Rusia mengenai masalah ini pada masanya, serta signifikansinya yang sangat besar, dan akibatnya mengatur agar konsili diadakan di tahun 1853 sehingga masalah ini dapat didiskusikan. Dia menolak untuk dengan cepat mengutuk siapa pun, dan tidak membuat perpecahan, seperti yang dilakukan para kelompok Kalender Lama hari ini. Selain itu, menarik bahwa hierarki Rusia pada masa itu juga memahami bahwa ada perbedaan antara kedua Gereja, dan bahkan takut bahwa orang-orang Yunani akan menganggap mereka sesat.44 Namun demikian, karena berbagai faktor (termasuk timbulnya perang Krimea ) Konsili yang diinginkan tidak pernah terjadi44, dan sebagai pengganti segala kecaman sinode, Gereja Konstantinopel tetap berhubungan dengan Gereja Rusia. Apakah orang-orang Yunani (dan, memang, Gereja-gereja lokal lainnya) di bawah kutukan?

Sergianisme

Akhirnya, mungkin penting untuk secara singkat membahas masalah Sergianisme. Bagi banyak kelompok Kalender Lama, ketundukan hierarki Rusia abad ke-20 untuk kepentingan negara sekuler secara otomatis merampas Rahmat Gereja Rusia dan menjadikannya skismatik. Namun, jika ini masalahnya, Kalender Lama harus dipaksa mengakui bahwa Gereja Rusia kehilangan rahmat ilahi jauh lebih awal, pada abad ke-18. Ini disebabkan oleh fakta bahwa fenomena yang sangat mirip terjadi di Rusia pada masa-masa itu, khususnya di bawah pemerintahan Peter Agung. Mengutip satu Ahli sarjana. 52 (hal.216)

Tidak diragukan lagi bahwa reformasi Petrine mengarah pada kemenangan yang menentukan dari prinsip-prinsip sekuler atas prinsip-prinsip pengakuan dan agama ... transformasi Petrine tidak hanya penting untuk kecepatan dan ruang lingkup yang tak terlihat sebelumnya dalam transisi masyarakat ke yayasan sekuler, tetapi untuk konsekuensi yang berasal dari konversi agama. Gereja Orthodoks menjadi lembaga pemerintah ... Gereja mulai melayani rezim otokrasi dan mulai tunduk untuk menguduskan semua inisiatif yang terakhir. Perubahan gereja menjadi kantor urusan agama dan menundukkan semua nilai-nilainya untuk kebutuhan otokrasi menandakan bagi rakyat penghancuran alternatif spiritual bagi rezim dan ke ide-ide yang berasal dari negara dan memiliki sumber mereka dalam ilmu kenegaraan , konsep negara, dan otoritas sekuler. Gereja, dengan tradisi seribu tahun berkhotbah tentang moral dan membela yang tertindas dan mereka yang tunduk oleh negara ... menjadi alat penurut otoritas dan dengan demikian sebagian besar kehilangan rasa hormat masyarakat sebagai pemelihara prinsip-prinsip spiritual. [Penekanan ditambahkan].

Selain itu, Metropolitan Anthony (Khrapovitsky), dengan mengacu pada struktur sinode Gereja Rusia setelah abad ke-18 (yang masih ada pada saat tulisannya pada tahun 1912), mengamati bahwa : 53

Gereja kami [di Rusia] diperintah oleh orang awam, atau, untuk mengatakannya secara resmi, oleh lembaga kolegial yang tidak pernah dikenal oleh Gereja Kristus sebelumnya ... Gereja [Rusia] kehilangan kepala hukumnya dan diberikan kepada perbudakan oleh pejabat awam, yang bersembunyi di balik majelis enam atau tujuh hierarki yang diganti setiap setengah tahun, dan dua presbiter. Siapa yang tidak sadar bahwa institusi semacam itu tidak kanonik? Bahwa itu tidak disetujui pada saat permulaannya oleh dua Patriarkh; dan bahkan jika itu telah disetujui oleh keempatnya, ini hanya akan menunjukkan perbuatan melanggar hukum dari para Patriarkh dan bukan kanonisitas dari aturan sinode [Rusia], karena tidak ada Patriarkh yang dapat mendirikan dan memberi otorisasi sebuah lembaga yang tidak dikenal oleh Orthodoksi Suci dan yang diciptakan hanya untuk membawa kelemahan dan pembusukan ... [Penekanan ditambahkan]

Memang, juga penting untuk dicatat bahwa: 54 (A5053)

Penganiayaan agama dan genosida adalah bagian integral dari program Russifikasi yang diluncurkan oleh Peter Agung, Catherine Agung, dan Tzar Nicholas I. Program ini disempurnakan oleh Stalin dan murid-muridnya Khrushchev, Bulganin dan Molotov.

Catatan sejarah akhirnya memverifikasi pengamatan di atas. Intimidasi, eksekusi, penyiksaan dan pemenjaraan ditujukan pada: 55 (hal. 115, 111-112)

Membelokkan klerus dari segala bentuk pemikiran independen, untuk memaksa mereka melepaskan impian mereka tentang simfoni Bizantium atau dualisme kekuasaan. Teror mulai terjadi di bawah Peter, dan mencapai puncaknya di bawah permaisuri Anna (keponakan Peter: 1730-40), dan tidak berakhir bahkan di bawah Catherine II ... [Klerus] harus berjanji saat pentahbisan mereka untuk melaporkan kepada polisi siapa pun yang mengakui dosa atas segala tindakan yang dimaksudkan atau dilakukan terhadap Tsar atau pemerintahnya. Ini adalah pelanggaran skandal tradisi Gereja universal kerahasiaan pengakuan dosa... Pada bulan Januari 1721, semua uskup dipaksa untuk menjamin penerimaan mereka terhadap sistem baru dan memberikan sumpah kesetiaan, tidak hanya untuk Tsar tetapi untuk semua anggota-anggota dinasti, dengan penuh penghinaan mengakui Tsar sebagai hakim pamungkas mereka ... sumpah ini harus diulangi oleh setiap uskup yang dipanggil untuk masa jabatan di Sinode sampai tahun 1901, ketika para uskup memprotes kepada Tsar Nicholas II bahwa bahkan para senator pun tidak diharuskan memberikan sumpah seperti itu, sedangkan Hakim Terakhir untuk orang Kristen adalah Tuhan, bukan raja. Nicholas setuju dan kalimat itu dihapuskan. [Penekanan ditambahkan]

Pada akhirnya, pada abad ke-18 : 14 (hal. 30, 116)

negara Rusia totalis dan sekuler mendeklarasikan perang terhadap biara-biara, menghancurkan lebih dari setengahnya dan menyita harta benda dan harta mereka pada tahun 1800, sebuah preseden yang jelas karena pengaruh Bolshevik yang kemudian ... Tampaknya tidak ada perbedaan nyata antara era ini dan era kaum Bolshevik, meskipun berskala besar. [Penekanan ditambahkan]

Memang, bahkan ekumenisme yang dipaksakan di bawah Soviet bukanlah pertama kalinya negara memanipulasi Gereja dengan cara sesat, seperti yang kita amati sebelumnya dalam makalah ini. 46 (hal 61)

... pada tahun 1847, Kaisar Nicholas I menyimpulkan persetujuan dengan Paus Gregorius XVI yang mempertimbangkan Gereja Orthodoks Rusia untuk memberikan semua sakramen dan kebutuhan bagi mereka yang berpaling kepadanya dengan permintaan seperti itu dari umat Katolik yang diasingkan karena keikutsertaan mereka dalam pemberontakan Polandia melawan Rusia. , jika mereka tinggal di tempat-tempat di mana tidak ada gereja Katolik atau imam Katolik. Sesuai dengan makna konkordat ini dan perintah Kaisar, Sinode kemudian mengeluarkan perintah yang sesuai, yang mewajibkan bagi Klerus Orthodoks Rusia, untuk memenuhi permintaan umat Katolik di pengasingan, jika permintaan semacam itu datang dari mereka.

Gereja Rusia (berdasarkan logika Kalender Lama) seharusnya telah kehilangan rahmat ilahi berabad-abad yang lalu, yang berarti bahwa Gereja-gereja yang tetap bersekutu dengannya (yaitu setiap Kepatriarkhan lainnya), dan semua orang kudus yang menahan diri untuk mendirikan hierarki paralel, seharusnya juga telah kehilangan rahmat. Sekali lagi, kesimpulan yang tak terhindarkan adalah bahwa Gereja Allah di bumi telah  musnah.

Lebih jauh lagi, pernyataan radikal apa pun yang dibuat oleh imam secara individu di ROCOR tentang ketiadaan rahmat yang seharusnya dari Kepatriarkhan Moskow tidak pernah dikemukakan oleh sinode itu sendiri, juga oleh Js. Yohanes Maximovitch, sebagaimana diakui pada tahun 1979 oleh seorang Uskup Agung ROCOR. 56

Bagian bebas dari Gereja Rusia yang ada di luar negeri tidak pernah menganggap Kepatriarkhan Moskow, yang secara resmi diakui di Uni Soviet, tidak memiliki rahmat ... Dalam beberapa waktu terakhir kita telah dibimbing dalam hubungan kita dengan Kepatriarkhan dengan pendapat universal. Uskup Agung Yohanes [dari Shanghai] yang dihormati, yang mengatakan bahwa tentu saja misteri Gereja resmi di Uni Soviet adalah sah; Namun, ia menyatakan bahwa perilaku para pemimpinnya tidak dapat diterima.

Seperti yang diperlihatkan sebelumnya dalam makalah ini, sinode ROCOR, baik sebelum atau sesudah 1983, tidak menyangkal keberadaan rahmat di Kepatriarkhan Moskow atau yurisdiksi "Dunia Orthodoks" lainnya.

Terlebih lagi, karena ROCOR memelihara persekutuan dengan "Dunia Orthodoksi" (yang diyakini tanpa rahmat oleh sebagian besar kelompok Zelot/ fanatik Old Calendstist), ROCOR harusnya secara logis, tanpa rahmat dan skismatik - menurut eklesiologi kelompok Kalender Lama. Bagaimana, kemudian, kelompok- kelompok Kalender Lama itu justru melacak asal mereka hingga kepada ROCOR untuk membenarkan keberadaan mereka? Faktanya, pentahbisan beberapa hierarki Kalender Lama Yunani dilakukan secara luar biasa oleh sejumlah kecil uskup ROCOR (salah satunya ada dalam Kalender Baru, dan yang lain mengajarkan bahwa Ekaristi Gereja Katolik Roma sah sampai konsili Vatikan II). ), tanpa berkat dari Metropolitan Anastassy.57, 58 Sekali lagi, data historis menjadi saksi banyak kontradiksi yang mendasari gerakan Old Calendar/Kalender Lama secara keseluruhan.

Pada akhirnya, menurut alasan yang sederhana dari banyak orang yang menyatakan diri sendiri sebagai “Orthodoks Sejati,” Gereja Rusia seharusnya jatuh ke dalam uniatisme (belum lagi Barlaamisme dan Sergianisme) sejak lama dan dengan demikian tidak ada lagi. Hasil yang serupa harusnya berlaku untuk Gereja Yunani yang seperti telah kita catat, juga mengadopsi berbagai ajaran sesat pada waktu yang berbeda sebelum munculnya gerakan Kalender Lama. Sinode-sinode Palamite abad ke-14, serta contoh-contoh lain dari sejarah Gereja yang disajikan dalam makalah ini, juga akan dibuat tidak dapat dipahami oleh eklesiologi yang kasar dan kaku. Jika siapa pun yang tetap dalam persekutuan dengan hierarki yang sesat secara otomatis jatuh di bawah kutukan mereka, maka itu berarti bahwa kasih karunia/rahmat telah “meninggalkan” seluruh Gereja Orthodoks berabad-abad yang lalu. Maka semua kelompok Kalender Lama, akan melacak asal-usul mereka ke hierarki yang tidak valid.

Seperti contoh-contoh di seluruh makalah ini telah banyak menunjukkan, argumen “True Orthodox” yang tak terhitung jumlahnya, yang disebarluaskan secara luas, cukup sederhana tidak bertahan terhadap penelitian yang  cermat dan serius. Tampak bahwa fronema (pola pikir) dari banyak penganut Kalender Lama, meskipun mengaku patristik, sebenarnya cukup jauh dari sejarah Orthodoksi. Meskipun daya pikat zealotry/kekakuan mungkin kuat bagi sebagian orang, orang Kristen Orthodoks harus melawan semua godaan - tidak hanya dari "kiri", tetapi juga dari "kanan".

Panagiotis M.
24 Januari 2019

Referensi:

1. Cyprian B. The "Sigillion” of 1583 Against “the Calendar Innovation of the Latins”: Myth or Reality? Monastery of SS Cyprian and Justina. 2011.

Catatan: penjelasan sejarah yang menarik sehubungan dengan penerapan Kalender Baru adalah Gereja Ortodoks Finlandia, yang akhirnya merangkul Kalender Gregorian secara keseluruhan. Namun, faktanya tetap bahwa kelompok-kelompok Kalender Lama pada awalnya menciptakan perpecahan atas penggunaan Kalender Julian yang Direvisi oleh hierarki mereka sendiri (lihat bagian “The Old Calendarist Encyclicals” dalam makalah ini), tanpa merujuk pada situasi anomali Gereja Finlandia. Selain itu, sebagaimana sisa dari makalah ini akan menunjukkan secara meyakinkan, penghukuman sinodal tidak berlaku secara otomatis. Dengan demikian, bahkan jika setiap Kepatriarkhan Kalender Baru menggunakan Kalender Gregorian secara keseluruhan, ini sama sekali tidak akan menghasilkan pengusiran otomatis mereka dari tubuh Gereja.

2. Patapios H, Chrysostomos A. Resistance or Exclusion? The Alternative Ecclesiological Approaches of Metropolitan Chrysostomos of Florina and Bishop Matthew of Vresthene. Etna: Center for Traditionalist Orthodox Studies; 2000.

Catatan: Demikian pula, Metropolitan Chrysostomos mengklaim bahwa “… [S]etiap orang dan setiap Gereja lokal menjadi protestan atau menjadi latin ketika ia merampas atau mengambil hak prerogatif dari Sinode Pan-Orthodox dan menghasilkan keputusan yang tidak kanonik oleh keputusan sinode Gereja, untuk menyatakan kelompok itu skismatik dan Misteri-nya tidak valid! "(Hal.55)

3. Gregory A. Bishop Matthew’s Errors [Internet]. True Orthodoxy. Available from: http://www.trueorthodoxy.org/schismatics_matthewites_postings.shtml

4. Psarev A. The Development of Russian Orthodox Church Outside of Russia’s Attitude Toward Other Local Orthodox Churches and Non-Orthodox Christians [Internet]. The Russian Orthodox Church Outside Russia. Available from: https://www.synod.com/synod/eng2006/5endokladpsarev.html

5. Cited in: Larin V. The Ecclesiastical Principle of oikonomia and the ROCOR under Metropolitan Anastassy [Internet]. The Russian Orthodox Church Outside Russia; 2002. Available from:
https://www.russianorthodoxchurch.ws/01newstucture/pagesen/articles/vlarina.html

6. Cited in: Moss V. The Orthodox Church at the Crossroads. Guildford: The Orthodox Foundation of St. Michael; 1992.

7. Nicodemus M, Agapius H. The Rudder (Pedalion) of the Metaphorical Ship of the One Holy Catholic and Apostolic Church of the Orthodox Christians. Cummings D, translator. New York, N.Y: Orthodox Christian Educational Society; 1957.
8. Papadopoullos T. Studies and Documents relating to the History of the Greek Church and People under Turkish Domination. Brussels: Bibliotheca Graeca aevi posterioris; 1952.

9. Pelikan J, Hotchkiss V. Creeds & confessions of faith in the Christian tradition. New Haven: Yale University Press; 2003.

10. Grillaert N. Dostoevskij's Portrait of a “Pure, Ideal Christian”: Echoes of Nil Sorskij in the Elder Zosima. Russian Literature. 2010;67(2):185-216.

11. Tsurikov V. Metropolitan Antonii (Khrapovitskii): Archpastor of Russian Diaspora: Conference Proceedings. Jordanville, N.Y: Foundation of Russian History; 2014.

12. St. Barsanuphius of Optina: Talks with Spiritual Children. The Orthodox Word. 2013;49(3):105-142.

13. Romanides J. Patristic Theology. Trader A, translator. Thessaloniki: Uncut Mountain Press; 2008.

14. Johnson MR. Sobornosti: Essays on the Old Faith. Deipara Press; 2008.

15. Heers P, Gotsopoulos A. On the “Great and Holy Council” of Crete: A Response to E. Sotiropoulos [Internet]. Orthodox Ethos; 2017. Available from:

Catatan : sehubungan dengan Konsili Krete: Keputusan konsili bulat Gereja Yunani adalah untuk menolak penggunaan istilah "Gereja" dalam kaitannya dengan kaum heterodoks. Pembalikan keputusan ini oleh perwakilan tertentu di sinode Krete sama sekali tidak meniadakan pandangan eklesiologis keseluruhan dari hierarki Yunani, yang tidak cukup diwakili oleh delegasinya. Selain itu, dari 24 uskup yang merupakan delegasi Gereja Serbia, hanya 7 yang menandatangani teks kontroversial "Hubungan Gereja Ortodoks dengan Sisa Dunia Kristen lainnya," sementara 17 menolak untuk melakukan penandatanganan.

16. Mansi JD. Sacrorum conciliorum nova et amplissima collectio. Graz: Akademische Druck u. Verlagsanstalt; 1961.

17. Russell N. Prochoros Cydones and the fourteenth-century understanding of Orthodoxy. In: Louth A, Casiday A, editors. Byzantine Orthodoxies. Ashgate Variorum; 2006. p. 75-94.

18. Isiopili G. How Ss. Hypatius, Cyril of Alexandria and Celestine of Rome Confronted the Heresy of Nestorius [Internet]. Orthodox Ethos. Available from: 
https://orthodoxethos.com/post/how-ss-hypatius-cyril-of-alexandria-and-celestine-of-rome-confronted-the-heresy-of-nestorius

19. Runciman S. The Eastern schism: a study of the papacy and the Eastern Churches during the XIth and XIIth centuries. New York, NY: Oxford; 1955.

20. Nichols A. Rome and the Eastern Churches. San Francisco, Calif: Ignatius Press; 2010.

21. Metallinos G. I confess one baptism. Seraphim P, translator. Holy Mountain: St Paul’s Monastery; 1994.

22. Bathrellos D. The Byzantine Christ: Person, Nature, and Will in the Christology of Saint Maximus the Confessor. Oxford: Oxford University Press; 2004.

23. Kenworthy SM. Archbishop Nikon (Rozhdestvenskii) and Pavel Florenskii on Spiritual Experience, Theology, and the Name-Glorifiers Dispute. In: Kornblatt J, Michelson P. Thinking Orthodox in Modern Russia. Madison: University of Wisconsin Press; 2014. p. 85-107.

24. Senina TA. Palamism without Palamas: Concerning the sources for the doctrine of the Russian Imyaslavtsy monks in the early twentieth century. In: Meister Eckhart and St Gregory Palamas: the actuality of spiritual experience. St. Petersburg State University, Faculty of Philosophy; 2014.

25. Sinkewicz RE. Gregory Palamas. La théologie byzantine et sa tradition. 2002;2:131-182.

26. Vitaly M. 1986 Nativity Epistle. Pravoslavnaia Rus’ 1987; 1(1).

27. Whiteford J. Answers to Current Objections to Reconciliation [Internet]. Saint Jonah. Available from: http://www.saintjonah.org/articles/currentobjections.htm

28. Rose S. Letters of Fr. Seraphim Rose (1961-1982) [Internet]. Thoughts Intrusive; 2017. Available from: 
https://thoughtsintrusive.wordpress.com/2017/11/17/letters-of-fr-seraphim-rose-1961-1982

29. Rose S. Orthodoxy in America [Internet]. Orthodox Advices; 2018. Available from: 
https://www.sfaturiortodoxe.ro/orthodox/orthodox_advices_seraphim_rose_orthodoxy_in_america.htm

30. Rose S. Fr. Seraphim Rose Speaks: Excerpts from His Writings [Internet]. Orthodoxinfo. Available from: 

31. Anthony F. Is ROCOR in communion with the Orthodox Church? - Localities, jurisdictions and calendars [Online forum comment]. Monachos; 2005. Message posted to: 
http://www.monachos.net/conversation/topic/974-is-rocor-in-communion-with-the-orthodox-church/

32. Moss V. The Sergianist conquest of Jerusalem [Internet]. Orthodox Christian Books. Available from: www.orthodoxchristianbooks.com/articles/558/-sergianist-conquest-jerusalem/#_ftnref2

33. Lebedeff A. ROCOR communion w/ Jerusalem & Serbia [Online forum comment]. Orthodoxchristianity; 2003. Copy of message posted to: 
http://www.orthodoxchristianity.net/forum/index.php?topic=57158.0

34. Encyclicals [Internet]. Omologitis. 2017. Available from: 
http://www.omologitis.org/?page_id=513

35. Ecumenical Patriarchate. Unto the Churches of Christ Everywhere [Encyclical]. 1920.

36. Visser't Hooft WA. The Genesis and Formation of the World Council of Churches. Geneva: World Council of Churches; 1987.

37. Heers P. The missionary origins of modern ecumenism. Thessaloniki: Uncut Mountain Press; 2007.

38. Constantinople Attempted Union with Armenian Monophysites in 19th Century; Allowed Armenians to Take Communion in 1879 [Internet]. Notes From The Underground; 2016. 
Available from: http://nftu.net/constantinople-attempted-union-with-armenian-monophysites-in-19th-century-allowed-armenians-to-take-communion-in-1879/

39. Popovich J. Notes on ecumenism. Sebastian Press; 2013.

40. Le Caro B. True Orthodox or Arrogation? [Internet]. The Russian Orthodox Church Outside of Russia. Available from: 
https://www.synod.com/synod/engdocuments/enart_lekarolesna.html

41. Ephraim E. My Elder Joseph the Hesychast. Florence, AZ: Saint Anthony's Greek Orthodox Monastery; 2013. Kindle Locations 7972-7985.

42. Elder Ephraim of Katounakia, Holy Mountain: Ecumenism is dominated by unclean spirits [Internet]. Pantokratoras. Available from: 
https://www.impantokratoros.gr/C54EBF09.en.aspx

43. Palmer W. Notes of a Visit to the Russian Church in the years 1840, 1841. Newman C, editor. London: Kegan Paul Trench & Co; 1882.

44. Thomson FJ. Economy: An examination of the various theories of economy held within the Orthodox Church, with special reference to the economical recognition of the validity of non-orthodox sacraments. The Journal of Theological Studies. 1965;16(2):368-420.

45. Cited in: Grabbe G. Strictness and Economy: Resolution of the ROCA Synod of Bishops on the Reception of Converts [Internet]. Orthodoxinfo. Available from: 
http://orthodoxinfo.com/ecumenism/strictness.aspx

46. Moss V. New Zion in Babylon: The Orthodox Church in the Twentieth Century, Part I. 2014.

47. Uspensky P. Book of my life: Diaries and autobiographical notes of Bishop Porfiry Uspensky, Vol 1. St Petersburg; 1894.

48. Pis'ma Mitropolita moskovskago k Α Ν M. Kiev; 1869. p. 368. Cited in: Thomson FJ. Economy: An examination of the various theories of economy held within the Orthodox Church, with special reference to the economical recognition of the validity of non-orthodox sacraments. The Journal of Theological Studies. 1965:368-420. p.372.

49. Митр. Филарет Дроздов. Собрание мнений и отзывов Филарета ... по делам Православной Церкви на Востоке. Синодальная типография; 1886.

50. Cited in: Troitsky H. The Unity of the Church and the World Conference of Christian Communities. Montreal: Monastery Press; 1975.

51. Dragas GD. The manner of reception of Roman Catholic converts into the Orthodox church. Greek Orthodox Theological Review. 1999;44(1-4):235-271.

52. Anisimov E. The reforms of Peter the Great: Progress Through Coercion in Russia. Alexander J, translator. Armonk, New York: M.E Sharpe; 1993.

53. Khrapovitsky, A. Voice of the Church. 1912.

54. United States Congress. Congressional Record: Proceedings and Debates of the US Congress. Washington: U.S. Government Printing Office; 1984.

55. Pospielovsky D. The Orthodox Church in the history of Russia. Crestwood, NY: St. Vladimir's Seminary Press; 1998.

56. Opoveshchenie otdela vneshnikh snoshenii pri Arkhiereiskom Sinode Russkoi Pravoslavnoi Tserkvi Zagranitsei,” Pravoslavnaia Rus’ 21 (Nov. 14, 1979): 5.

57. Genuine Orthodox Church. History of the Florinite and Akakian consecrations [Internet]. Available from: 

58. Psarev A. Relations between the ROCOR and the Roman Catholic Church, 1920-1964 [Internet]. ROCOR Studies. Available from:
https://www.google.com/url?q=http://www.rocorstudies.org/2010/02/28/andrei-psarev-relations-between-the-rocor-and-the-roman-catholic-church-1920-1964/&source=gmail&ust=1546401770976000&usg=AFQjCNHnSGWHH04e6PKUprb-YKyomb29cA
https://indonesiaorthodoxia.blogspot.com/2020/01/kritik-eklesiologi-kelompok-old.html?m=1